Oh, Kaisar Ku

Oh, Kaisar Ku
merajuk


__ADS_3

Hingga ke esokan pagi, Xio Lin masih tetap berjaga menemani Kaisar Yun yang mengeluarkan keringat dan sering mengigau namanya..


"Lin'er.."


Xio Lin lagi-lagi mengelus pipi Kaisar Yun.


"Yang Mulia tenanglah hamba ada disini." ucapnya berbisik di telinga Kaisar Yun, kemudian dia tenang kembali.


Kaisar Yun ingin sekali membuka matanya, namun rasanya begitu berat membuka kelopak matanya.


"Lu, panggil Jendral Chun. Aku ingin menemuinya.." perintah Xio Lin datar, dia harus menemukan siapa dalang yang ingin membunuhnya. Ia tidak bisa tenang mengingat pembunuh itu masih berkeliaran dengan senangnya..


"Hormat hamba, Yang Mulia.." ucap Jendra Chun dengan tegas dan menunduk hormat.


Xio Lin menyingkapi kelambu ranjanganya, ia turun dari ranjangnya dan menatap Jendral Chun.


"Kakak apa kau sudah menemukan siapa dalangnya ?" tanya Xio Lin..


Deg...


Lin'er aku merindukan panggilan itu, andaikan saja aku memperjuangkan cinta kita batin Jendral Chun..


Xio Lin yang merasa tidak di jawab, ia memanggil Jendral Chun kembali.


"Kakak.."


Jendral Chun langsung tersadar, ketika mendengarkan panggilan namanya..


"Hamba mohon, Yang Mulia jangan khawatir. Menurut dugaan hamba. Orang itu juga berasal dari istana. Jika kita lihat dari panah itu berasal dari seorang pejabat.." tutur Jendral Chun yang masih menunduk hormat.


"Sialan !" Xio Lin mengepalkan tangannya.


"Kakak aku mohon, secepatnya tuntas kan kasus ini. Aku tidak mau lama-lama menunggu.." ucap Xio Lin dengan tegas..

__ADS_1


"Baik, Yang Mulia." ucap Jendral Chun beranjak pergi.


"Kakak, aku Adik mu. Jika hanya berdua, tolong jangan formal.." lirih Xio Lin, ia tidak ingin hubungan antara Adik dan Kakak semakin menjauh. Biarkan saja hubungan lebihnya menghilangkan asalkan jangan hubungan saudara.


Jendral Chun tersenyum, kemudian dia membalikkan badannya.


"Baiklah, Adik.." ucapnya..


Sementara di ranjang, sejak tadi Kaisar Yun sudah sadar. Dia mendengarkan percakapan Xio Lin dan Jendral Chun yang membuat hatinya terbakar dengan api cemburu..


"Tidak bisakah, kau tidak lembut padanya ? bahkan kau melupakan jika ada orang sakit disini.." gumam Kaisar Yun..


"Yang Mulia," ucap Xio Lin tersenyum, melihat Kaisar Yun yang sudah sadar.


Kaisar Yun hanya melirik Xio Lin, kemudian dia memalingkan wajahnya..


Ada apa dengan Yang Mulia ? kenapa lirikannya dingin ? apakah dia amnesia ? batin Xio Lin yang mulai menerka-nerka..


"Yang Mulia.."


Sedangkan Kaisar Yun hanya diam saja dan sebagai jawabannya dia hanya melirik Xio Lin dengan lirikan dingin..


Sabar, dia orang sakit. Kau tidak boleh berdebat dengannya Kania..


Selama beberapa saat Xio Lin dan Kaisar Yun hanya diam saja. Hingga Tabib istana pun datang.


"Hormat hamba, Yang Mulia."


"Cepat periksa Yang Mulia.." ucap Xio Lin dengan tegas.


Tabib itu pun memeriksa denyut nadi Kaisar Yun dan tersenyum.


"Syukurlah, Yang Mulia telah melewati masa kritisnya.." ucap sang Tabib. Dia pun meracik obat dan menumbuknya. Setelah selesai dia memberikannya pada pelayan Lu..

__ADS_1


"Hamba mohon undur diri Yang Mulia.."


Xio Lin hanya mengangguk sebagai jawabannya. Kemudian ia mengambil semangkok obat itu di tangan pelayan Lu.


"Kalian keluarlah.." ucapnya..


Para pelayan pun menunduk hormat dan berlalu pergi..


"Yang Mulia, silahkan diminum obatnya.." ucap Xio Lin dengan lembut.


Kaisar Yun hanya melirik saja. "Biarkan saja, aku akan meminumnya nanti.." balas Kaisar Yun dan membelakangi Xio Lin.


"Astagah, ada apa dengan Yang Mulia.." ucap Xio Lin yang merasa keheranan.


Xio Lin pun menaruk semangkok obat itu di meja di samping ranjangnya..


"Yang Mulia ada apa dengan mu, apa aku punya salah?" tanya Xio Lin menatap Kaisar Yun yang masih membelakanginya..


Karna tidak ada jawaban, Xio Lin mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Kaisar Yun.


"Berhentilah menggoda ku, kenapa kau tidak merayu saja Jendral Chun.." ucapnya..


Astagah, apa Yang Mulia merak karna Jendral Chun batin Xio Lin..


"Apa Yang Mulia sudah mendengarkannya ?" tanya Xio Lin, dia memberanikan diri membaringkan tubuhnya di samping Kaisar Yun dan mengelus kepala Kaisar Yun.


Kaisar Yun yang mendapatkan kelembutan Xio Lin, dia pun membalikkan badannya dan menatap Xio Lin.


"Bahkan kau bersikap lembut padanya." jawab Kaisar Yun dengan nada kecewa..


Xio Lin terkekeh, dia pun mendaratkan ciumannya di kening Kaisar Yun.


"Jangan merajuk, Jendral Chun hanyalah Kakak ku.." ucapnya dengan lembut.

__ADS_1


__ADS_2