
Kaisar Yun dengan setianya mendekap tubuh Xio Lin, bahkan dia enggan melepaskan tubuh mungil itu.
"Katakan ! siapa yang membawa hidangan itu.." teriak Kaisar Yun menatap tajam para pelayan yang duduk gemetar.
"Ampun Yang Mulia, hamba yang membawanya. Tapi hamba sungguh, tidak meracuni Selir.." ucap salah satu pelayan yang memasak sayur tersebut..
"Pengawal, bawa semua pelayan dan hukum mati mereka.." teriak Kaisar Yun..
Xio Lin pun melepaskan pelukannya dan menatap pelayan itu.
"Tunggu, Yang Mulia. Mungkin orang itu hanya menjebaknya." ucap Xio Lin menatap Kaisar Yun.
"Tidak ! pelayan itu sudah berani mencelakai mu.." ucap Kaisar Yun, dia mengelus pipi Xio Lin.
"Tunggu, Yang Mulia. Hamba akan menanyakannya.."
"Kau, katakan apa yang terjadi sebenarnya ?" tanya Xio Lin menatap pelayan itu..
"Ta,, tadi hamba memasak sayur itu, karna hamba akan menghidangkannya. Jadi hamba mencuci tangan hamba lebih dulu, Yang Mulia.." jawab pelayan itu di sela-sela tangisnya..
"Berarti, bukan dia Yang Mulia." ucap Xio Lin, dia melembutkan suaranya. Agar Kaisar Yun lebih tenang.
"Kau percaya ?" ucap Kaisar Yun.
"Yang Mulia, jika pelayan itu berniat meracuni hamba. Sudah dari dulu dia meracuni hamba. Semenjak hamba datang kesini. Sebaiknya Yang Mulia selidiki lebih dulu.." ucap Xio Lin menatap Kaisar Yun.
Xio Lin melihat Kaisar Yun, merasa keheranan melihat Kaisar Yun keluar keringat dingin..
Seketika Kaisar Yun memegang dadanya dan wajahnya berubah menjadi pucat pasi.
"Yang Mulia, anda kenapa ?" tanya Xio Lin memegang tangan Kaisar Yun..
"Cepat panggilkan Tabib.." ucap sang Kasim, Kaisar Yun.
Xio Lin langsung panik, dia pun memapah tubuh Kaisar Yun ke atas kasurnya..
"Yang Mulia, anda kenapa ?" tanya Xio Lin, dia memegang tangan Kaisar Yun.
"Jangan khawatir.." lirih Kaisar Yun dan tersenyum menatap Xio Lin.
Selang beberapa saat...
Datanglah Tabib istana, diapun memeriksa pergelangan tangan Kaisar Yun.
__ADS_1
"Bagaimana Tabib ?" tanya Xio Lin yang sangat khawatir.
"Hamba Selir, Yang Mulia tidak boleh terlalu banyak fikiran dan tertekan. Itu bisa membahayakan jantung Yang Mulia. Hamba harap Yang Mulia bisa menjaga kesehatannya." ucap Tabib istana.
"Baiklah, cepat berikan obatnya.." ucap Xio Lin dengan tegas.
"Dan kalian pergilah." Xio Lin menatap para pelayan dan pengawal.
Merekapun menunduk hormat, berlalu pergi.
"Baik Selir. Hamba, undur diri Yang Mulia. Hamba akan membuat obatnya." ucap Tabib istana, membungkuk hormat dan berlalu pergi.
Xio Lin menatap Kaisar Yun, yang masih tersenyum menatapnya, dia duduk di tepi ranjangnya sambil menggenggam tangan Kaisar Yun.
"Yang Mulia, harus menjaga kesehatannya."
"Jika mau, aku ingin sakit dan dirawat oleh mu Lin'er.." ucap Kaisar Yun.
"Yang Mulia, jangan membuat hamba khawatir.." ucap Xio Lin.
"Lin'er, aku mencintai mu.."
Deg ..
"Berjanjilah, Yang Mulia tidak akan mengecewakan hamba. Hamba akan menyayangi Yang Mulia dengan tulus.." ucap Xio Lin yang membuat Kaisar Yun bangun dari tidurnya dan memeluk Xio Lin.
"Benarkah ? jangan pernah tinggalkan aku Lin'er.." ucap Kaisar Yun dan mencium lembut Xio Lin.
Xio Lin yang mendapatkan serangan dadakan, dia pun membalas ciuman Kaisar Yun.
Setelah puas berciuman, Xio Lin melepaskan ciuman itu dan mencium Kening Kaisar Yun.
Cupp..
"Baiklah, Yang Mulia istirahatlah.." ucap Xio Lin tersenyum.
"Lin'er temani aku.." ucap Kaisar Yun dengan nada manja..
Dari arah pintu, Selir Mei mengepalkan tangannya. Melihat Kaisar Yun dan Xio Lin saling melempar senyuman.
Dia pun melangkah kan kakinya menuju ke arah mereka..
"Hormat hamba Yang Mulia.." ucap Selir Mei menunduk hormat..
__ADS_1
Xio Lin bangun dari duduknya, dia pun memberi hormat pada Selir Mei.
"Yang Mulia, bagaimana keadaan Yang Mulia ?" tanya Selir Mei dia memegang tangan Kaisar Yun.
"Aku tidak apa-apa Mei'er.." jawab Kaisar Yun lembut..
Selir Mei menatap tajam Xio Lin.
"Apa yang kau lakukan ? hingga membuat Yang Mulia sakit. Kau istri Yang Mulia. Seharusnya kau bisa menjaga kesehatan Yang Mulia." ucap Selir Mei dengan nada dingin.
Aku yakin Yang Mulia tidak akan membela mu batin Selir Mei tersenyum licik..
Xio Lin menjatuhkan dirinya ke lantai dengan menunduk.
"Selir Agung, hamba mohon ampuni semua kelalaian hamba. Hamba pantas di hukum.." ucap Xio Lin mengeluarkan air matanya..
Cih, kita lihat saja batin Xio Lin..
"Mei'er apa yang kau lakukan ? Lin'er tidak salah. Ada seseorang yang berniat meracuninya. Aku hanya khawatir dengannya. Jadi jangan memarahinya !" bentak Kaisar Yun menatap tajam lalu turun dari kasurnya dan membantu Xio Lin berdiri.
Selir Mei terkejut, dia tidak pernah mendapatkan bentakan dari Kaisar Yun selama menikah. Namun apa yang terjadi hari ini, membuatnya menambah kebenciannya pada Xio Lin.
"Yang Mulia tapi..."
"Cukup, jangan membuat keributan. Keluarlah !" ucap Kaisar Yun..
Selir Mei menahan amarahnya, dia menatap tajam Xio Lin yang menunduk sambil menangis.
Lihat saja, Aku akan membuat mu menderita Yang Mulia tidak pernah membentak ku, tapi karna kau..
Selir Mei menunduk hormat, dia menahan kemarahannya yang mencapai ubun-ubun dan berlalu pergi..
Sementara Xio Lin tersenyum licik..
"Lin'er maaf tadi.."
Xio Lin mendongakkan wajahnya
"Tidak apa-apa Yang Mulia. Sebaiknya Yang Mulia istirahat.." ucap Xio Lin, dia membantu Kaisar Yun membaringkan tubuhnya.
"Kau harus menemaniku.."
Xio Lin mengangguk, kemudian membaringkan tubuhnya..
__ADS_1
Kaisar Yun tersenyum, dia menenggelamkan kepalanya di dada Xio Lin dan memeluknya.