Oh, Kaisar Ku

Oh, Kaisar Ku
pertemuan


__ADS_3

Sementara Xio Lin yang melihat Jendral Chun tanpa mengkedipkan matanya, dia hanya mengangkat salah satu alisnya..


"Kakak.."


"Ah iya, kenapa kau ada disini ?"


"Aku bosan, jadi aku hanya ingin menghirup udara segar.."


"Kaka sedang apa ?" tanya Xio Lin melihat ke arah kuda..


"Besok Kakak akan melakukan perburuan.." jawabnya sambil tersenyum.


"Oh,, bolehkan Lin'er ikut ??"


Jenderal Chun mengelus lembut rambut Xio Lin, dia tersenyum. "Tidak boleh, Lin'er baru sembuh.."


Xio Lin memegang lengan Jenderal Chun, dia menggerucutkan bibirnya. "Ayolah, Lin'er bosan disini. Lin'er hanya ikut bersama Kakak.." ucpnya sambil menggeliat manja..


drg,, deg,,


Seketika Jenderal Chun memalingkan wajahnya,, rona merah terlihat jelas di wajahnya yang semakin merah seperti tomat.


"Ekhem, baiklah.. Kau boleh ikut. Ta,, tapi harus bersama ku, dan jangan menghilangkan kemana pun.." ucap Jenderal Chun sambil melirik Xio Lin..


"Hahah.." Xio Lin mendonggak kan kepalanya..


"Baiklah Kak, aku akan menyiapkan semua keperluan ku.." ucap Xio Lin, dia tertawa kegiranganga. Karna besok dia akan melihat hutan di zaman kuno, tanpa harus melihat di tv.


Jenderal Chun melihat punggung Xio Lin yang sudah menjauh, dia memegang dadanya yang teras akan meledak..


Keesokan paginya..


Setelah selesai membersihkan diri, Xio Lin langsung menuju ruang makan di ikuti pelayan Lu..


Tuan Xio dan Jendral Chun tersenyum, menatap Xio Lin yang berjalan ke arahnya..


Ya menurut Jendral Chun Xio Lin keluhiatan sangat cantik dengan rambut yang di biarkan terurai tanpa perhiasan rambut..

__ADS_1


"Duduklah, Ayah tau hari ini. Lin'er akan ikut Kakak berburu.." ucap Tuan Xio, dia mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk putrinya. Seperti biasa Tuan Xio akan melakukan hal yang sama pada Xio Lin, Tuan Xio setiap makan bersama dialah yang akan mengambilkan nasi, sayur dan lauk pauk untuk Putranya, Jendral Chun. Semenjak kematian istrinya saat melahirkan. Tuan Xio berperan sebagai seorang Ibu dan Ayah untuk putranya..


"Sebenarnya, Ayah tidak mengijinkan mu. Mengingat dirimu belum sehat betul.." ucapnya sambil menaruh piring di depan Xio Lin..


"Ayah, jangan khawatir. Lin'er akan menjaga diri Lin'er baik-baik. Lagi pula ada Kakak.." balasnya..


Setelah selesai makan, Xio Lin, Tuan Xio dan Jendral Chun bergegas menuju luar kediaman. Disana sudah terlihat sebuah kereta dan kuda..


"Baiklah, kalian berhati-hatilah, Ayah juga masih ada urusan di istana." ucap Tuan Xio membantu Xio Lin naik ke kereta..


"Tenang saja Ayah, Chun'er akan menjaga nya dengan baik.."


Perjalan yang dia tempuh hanya setengah jam, karna letak dari hutan tidak jauh dari kediaman Menteri Xio..


Jendral Chun turun dari kudanya dan membantu Xio Lin turun..


"Pengawal akan membuatkan tenda, Lin'er tunggu disini."


"Tapi Kakak, Lin'er ingin ikut dan melihat Kakak memanah.."


"Hah, kau ini. Baiklah, jangan jauh-jauh dari Kakak.." ucapnya..


Selang beberapa saat terlihat sebuah rusa berjalan di depan mereka..


"Lin'er tunggu disini, jangan kemana-mana.."


"Siap Kak.." ucapnya..


Setelah kepergian Jendral Chun, Xio Lin menatap sekeliling hutan, terlihat pohon yang sangat rindang. Bahkan sinar matahari sangat sulit menebus ke dalam hutan..


"Nona, mau kemana ? Jendral menyuruh kita menunggu disini.." ucap pelayan Lu...


"Hais, aku hanya ingin melihat-lihat hutan ini.."


Kapan lagi aku bisa melihat hutan dunia kuno..


"Nona, jangan ! bagaimana jika kita kesasar.."

__ADS_1


"Tidak akan, ayo ikut.."


Xio Lin menggerakkan kakinya, dia melihat lihat hutan dan se ekor induk burung yang sedang memberi makan anak-anaknya..


Tanpa sadar, sebuah anak panah menuju ke arahnya, tapi anak panah itu hanya meleset di samping kepala Xio Lin dan menancap ke pohon di depannya..


"Sontoloyoo.." ucap Xio Lin yang tersentak kaget, dia memegang dadanya.


"Nona, nona tidak apa-apa?" tanya pelayan Lu, dia terkesiap saat melihat sebuah panah menancap di depan Xio Lin..


drap,, drap...


Xio Lin menoleh, dia melihat seorang laki-laki bertubuh kekar dengan tatapan dingin..


Sialan ! berani sekali dia membuat ku terkena serangan jantung batin Xio Lin mendengus kesal...


Sementara laki-laki yang ditatap tajam oleh Xio Lin, malah tidak berkedip melihat Xio Lin, dengan rambut yang terurai di terpa angin. membuatnya terpana..


Dia langsung sadar dan kembali ke titik awal.


"Hem, apa kau yang membuat buruan ku lari.." ucap laki-laki itu dengan suara tegas dan dingin..


"Tuan, apa tuan tidak melihat ? jelas tadi saya hanya berdiri disini, sedangkan panah tuan menyosor ke arah saya. Bukannya malah minta maaf, malah menuduh.." ucap Xio Lin sambil melipatkan kedua tangannya di dadanya..


"Nona, bicaralah yang sopan. Apa kau tidak tau siapa..."


Seketika laki-laki itu menggerakkan tangannya, agar menghentikan pembicaraan bawahannya..


"Tidak peduli, yang jelas dia salah.." ucap Xio Lin berlalu pergi dan menggandeng lengan pelayan Lu..


Sementara laki-laki itu tersenyum, melihat lirikan Xio Lin yang sangat marah..


Baru kali ini, tidak ada wanita yang terpana dengan ketampanan ku batinnya..


"Yang Mulia dia,,"


"Biarkan saja.."

__ADS_1


Apa Yang Mulia sudah berubah, bukankah dia hanya mencintai Selir Mei..


Dia bahkan tidak pernah tersenyum melihat wanita selain Selir Mei.. batin pemgawal itu keheran heranan


__ADS_2