Oh, Kaisar Ku

Oh, Kaisar Ku
pertemuan


__ADS_3

Di ruang kerja, Kaisar Yun menulis sebuah surat perintah jika malam ini akan menemui putri Militer, putri Lan Yu.


"Kasim Yan berikan ini pada Jendral Chun dan suruh ia antarkan surat ini ke kediaman Menteri Militer." ucap Kaisar Yun dengan tegas.


"Baik Yang Mulia."


Sedangkan di kediaman Xio Lin..


Xio Lin sangat terkejut, ketika mendengarkan kabar jika Kaisar Yun akan mengambil Selir lagi. Dadanya sunggu sangat sesak, bernafas sangat sulit. Ia sungguh tidak menyangka janji Kaisar Yun yang kini ia ingkari sendiri.


"Pelayan Lu, malam ini aku akan menemui Yang Mulia." ucap Xio Lin mengepalkan tangannya..


"Hormat hamba, Yang Mulia. Hamba mengantarkan obat." ucap Tabib istana..


Xio Lin menoleh ke arah nampan itu yang di bawa oleh seorang pelayan.


"Buang obat itu."


"Tapi Yang Mulia."


"Buang obat itu ! apa kau tidak paham ?" bentak Xio Lin membuat para pelayan dan Tabib nyalinya menciut seketika..


"Ba-baik Yang Mulia.." ucap Tabib istana membungkuk hormat di ikuti pelayan yang membawa obat itu.


"Aku hanya butuh penjelasan mu Yang Mulia.."


Tak terasa malam telah tiba.


Kini Xio Lin hanya menggunakan riasan sederhana dan tidak memakai apa pun untuk menghiasi rambutnya. Di biarkan terurai begitu saja.

__ADS_1


Setelah selesai Xio Lin menuju kediaman Kaisar Yun di ikuti para pelayan.


Sampailah ia disana dan menatap pelayan yang terasa asing baginya.


Saat Kasim ingin memberi tau kedatangannya, Xio Lin memberikan kode mengangkat telapak tangannya, agar tidak mengumumkan kedatangannya.


Xio Lin langsung masuk ke kediaman Kaisar Yun, betapa terkejutnya, ia melihat Kaisar Yun merbincang-bincang dengan putri Lan Yu di kursi dan tertawa lepas..


Xio Lin menggerakkan kakinya yang terasa berat. Namun ia terus melangkah hanya ingin meminta sebuah penjelasan.


Saat Xio Lin menghampiri mereka, Seketika Kaisar Yun menoleh.


"Per-permaisuri.."


Kaisar Yun di buat gelagapan dengan kedatangan Xio Lin yang menatap tajam ke arahnya dan putri Lan Yu.


"Hormat hamba, Yang Mulia.." ucap gadis itu.


Sementara Xio Lin hanya diam, tanpa memberikan jawaban. Ia sungguh kecewa akan sikap Kaisar Yun.


"Apa Yang Mulia puas ?"


"Ya aku puas.." jawabnya datar, hatinya sungguh sakit. Ia tidak ingin seperti ini. Baginya Xio Lin adalah wanita satu-satunya, dambaan hatinya. Sungguh, saat ini ia ingin memeluk Xio Lin dan bermanja dengannya. Tertawa bersama, tapi rasanya kini telah sirna dalam sekejap. Melihat mata Xio Lin yang penuh amarah dan kekecewaan.


"Apa Yang Mulia pikirkan ?" tanya Xio Lin menatap tajam Kaisar Yun.


"Lalu aku harus melakukan apa ?"


"Kenapa Yang Mulia mengingkarinya ?"

__ADS_1


"Aku harus memikirkan perasaan mu, tapi kau tidak memikirkan perasaan ku.."


"Tapi ini adalah anak Yang Mulia.."


"Lalu apa artinya aku? hah !" bentak Kaisar Yun yang mulai berkaca-kaca. "Lebih baik begini saja, aku tidak ingin kehilangan mu. Tapi kau justru ingin menjauh dariku. Bagiku apa arti hidupku."


"Seharusnya kau memikirkan cara lain, hanya satu keinginan terakhirku. Carilah kebenaran putri Xi Lie.." ucap Xio Lin berlalu pergi..


Setelah kepergian Xio Lin. Kaisar Yun jatuh duduk ke lantai. Tatapannya kosong, ia mulai memukul dadanya. dan berteriak..


"Lin'er .."


Di sepanjang perjalan, Xio Lin tak mampu membendungkan air matanya yang turun membasahi pipinya tanpa seijinnya.


"Yang Mulia.."


Xio Lin menoleh dan buru-buru menghapus air matanya.


"Bolehkah hamba berbicara dengan Yang Mulia ?" tanya gadis itu yang tak lain putri Lan Yu. Saat meninggalkan kediaman Kaisar Yun. Putri Lan Yu tak langsung pulang karna ia ingin membahas hal penting dengan Xio Lin.


"Ada apa ? kenapa kau tidak pulang ?" tanya Xio Lin datar.


"Ada hal penting yang hamba ingin beritaukan.."


"Ikuti aku.." ucap Xio Lin melewati putri Lan Yu.


Selang beberapa saat, mereka telah sampai di kediaman Xio Lin.


Xio Lin duduk lebih dulu dan menatap putri Lan Yu yang menunduk.

__ADS_1


"Ada apa ? jika kau ingin membahas masalah harem, tidak perlu khawatir. Aku akan memberikan kediaman yang lebih baik untuk mu.."


"Maaf Yang Mulia, bukan masalah itu yang hamba bahas. Tapi masalah Yang Mulia."


__ADS_2