
Sampailah Kaisar Yun di kediaman Xio Lin..
Dengan tangan gemetar, Kaisar Yun masuk ke dalam. Dia melihat Xio Lin yang memandang keluar di jendelanya..
Kaisar Yun melangkah kan kakinya ke arah Xio Lin.
"Berhenti di sana.." ucap Xio Lin datar.
Kaisar Yun menghentikan langkahnya..
"Lin'er.." lirihnya..
Xio Lin membalikkan badannya menatap Kaisar Yun. Sedari tadi dia memikirkan hal itu dengan sangat matang..
Dia tidak ingin di tipu, kedua kalinya..
"Bagaimana jika kita buat kesepakatan ?" ucap Xio Lin menatap Kaisar Yun datar..
"Lin'er aku bisa menjelaskan semuanya." ucap Kaisar Yun dengan tatapan mengiba. Dia melangkahkan kakinya ke arah Xio Lin..
"Berhenti disana, jangan mendekatiku.." teriak Xio Lin..
"Aku akan melahirkan putra untuk mu tapi aku ingin kita bercerai.." ucap Xio Lin dengan nada dingin dan tajam yang mampu meruntuhkan hati Kaisar Yun seketika.
Deg..
Kaisar Yun berhenti membatu. Ini lah yang di takutkan oleh dirinya selama ini.
"Lin'er, aku bisa menjelaskan semuanya. Benar dulu aku memiliki pemikiran seperti itu, tapi sekarang itu tidak lagi.." tuturnya..
Xio Lin tertawa yang membuat Kaisar Yun semakin ketakutan..
"Aku sungguh kecewa dengan mu Yang Mulia. Jika pun sekarang berubah. Tapi kenyataan tetap lah kenyataan. Kepahitan tetaplah kepahitan."
Xio Lin memalingkan wajahnya, dia memandang ke sembarang arah..
"Pergilah !" ucap Xio Lin dan membalikkan badannya..
__ADS_1
Kaisar Yun berlari, dia memeluk erat tubuh Xio Lin yang menahan amarahnya..
"Lin'er aku minta maaf, aku mohon maafkan aku. Aku tau aku salah.."
"Pergilah ! jika tidak, aku bisa lebih membenci mu." ucap Xio Lin dengan nada dingin.
Kaisar Yun merasa lesu, dia tidak tau harus melakukan apa ? agar mau memaafkan kesalahannya..
"Aku memang pantas di perlakukan seperti ini, tapi aku tidak akan menceraikan mu bahkan sampai aku mati. Kau akan tetap menjadi istriku." lirih Kaisar Yun dan menghela nafas.
Dia pun melepaskan pelukannya dan melangkah kan kakinya keluar kediaman Xio Lin. Sejenak Kaisar Yun berhenti dan menoleh ke belakang. Berharap Xio Lin mau menghentikannya. Namun tidak sesuai yang dia harapkan..
"Maafkan aku Yang Mulia, aku tidak bisa mempercayai mu lagi. Walaupun aku mencintai mu." gumam Xio Lin sambil menatap ke arah luar jendela..
Sementara Kaisar Yun melangkah kan kakinya ke kediamannya tampak gusar. Takut, takut dan takut, itulah yang dia rasakan saat ini.
Kaisar Yun hanya mondar mandir memikirkan cara, bagaiman ia bisa di maafkan oleh Xio Lin..
"Arghhhh.."
Karna ingin menemui Xio Lin, Kaisar Yun mengubah menjadi bayangan hitam yang pernah menemui Xio Lin pertama kalinya..
Kaisar Yun melepaskan hanfunya dan berpakain hitam. Tak lupa juga dia menggunakan penutup wajah. Setelah itu Kaisar Yun meleset pergi menuju kediaman Xio Lin.
Sraakk...
Xio Lin hanya menatap seseorang yang yang turun dari atas pohon.
Dia yang sudah tau siapa yang datang, dan memalingkan wajahnya menatap ke arah lain.
"Hay nona." ucapnya, menghampiri Xio Lin yang menatap ke arah lain.
"Kau sendirian, sepertinya kau memiliki masalah.." ucap Kaisar Yun selembut mungkin. Namun Kaisar Yun menahan kuat hatinya yang ingin memeluk Lin'ernya itu.
"Untuk apa kau datang kesini ? aku tidak membutuhkan mu.." ucap Xio Lin dengan ketus.
"Tentu saja aku merindukan mu nona. Semenjak kau menikah dengan sang penguasa, tampaknya kau bahagia dan tidak merindukan ku.."
__ADS_1
"Cih, bahagia apanya ? rasanya aku ingin pergi dari sini.." balas Xio Lin..
Deg,
Lagi-lagi Kaisar Yun yang mendengarkannya, dia mengepalkan tangannya..
"Kenapa kau ingin pergi ?" tanya menatap Xio Lin.
"Aku tidak suka di permainkan." jawabnya datar.
"Pasti hanya sebuah kesalah pahaman saja.."
"Kau tau apa ? apa semua laki-laki hanya bisa memanfaatkan seorang wanita. Jika pun aku membuat pilihan, dia pasti memilih Selirnya.." ucap Xio Lin menatap tajam orang di depannya dan langsung menutup jendelanya.
"Aku tau, aku egois tapi aku tidak bisa memilih di antara kalian. Kau tau aku pernah berhutang nyawa pada Ayahnya dan berjanji akan menjaganya.." gumam Kaisar Yun menatap ke arah bulan..
Kaisar Yun kembali mengingat kejadian 7 tahun silam dimana ia masih baru menggantikan Ayahandanya yang telah wafat.
*flasback...
Seorang laki-laki paruh baya, tergelatak dengan tubuh yang lemas. Setelah merebut minuman Kaisar Yun*.
"*Yang Mulia, huk, huk. Syukurlah Yang Mulia tidak apa-apa. Hamba bersyukur.." ucap salah satu pejabat istana yang tak lain adalah Ayah Selir Mei..
"Kenapa, kenapa kau melakukan ini ?" tanya Kaisar Yun. Dia memapah tubuh laki-laki itu dan duduk dengan bersandaran lengan Kaisar Yun.
"Sudah kewajiban hamba menjaga Yang Mulia. Tadi hamba tidak mendengarkan seorang pelayan yang berniat membunuh Yang Mulia. Maafkan hamba. Mengacaukan pesta Yang Mulia.."
"Ayah.." ucap Selir Mei yang menangis tersedu-sedu. Dia menghampiri Ayahnya dan menangis yang mulai lemah.
"Yang Mulia hamba mohon, jagalah anak hamba dan jadikan dia istri Yang Mulia. Sayangilah dia.." ucap Ayah Selir Mei hingga menghembuskan nafas terakhirnya*.
Kaisar Yun yang mengingatnya, entah dia harus melakukan apa lagi. Apakah dia harus menjelaskannya. Sementara Xio Lin tidak ingin bertemu dengannya dan berniat meninggalkannya.
"Lin'er ketahuilah, aku sangat mencintai mu, tapi aku tidak bisa memilih. Namun jika Selir Mei berbuat ulah padamu lagi, aku tidak akan segan-segan menghukumnya. Percayalah, aku akan menjaga mu. Hati ini sudah sepenuhnya milik mu." lirih Kaisar Yun meneteskan air matanya..
Kaisar Yun menoleh, menatap ke arah jendela tadi dan berlalu pergi.
__ADS_1