
Kaisar Yun melangkah kan kakinya menuju kolam pemandiannya, tanpa disadari dia melewati Selir Mei begitu saja..
"Yang Mulia.."
Kaisar Yun menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang..
"Mei'er ada apa?" tanya Kaisar Yun.
"Hamba sangat bersyukur, Yang Mulia telah menghentikan bermain pedang. Hamba mohon Yang Mulia menjaga kesehatan nya." ucap Selir Mei dengan lembut.
"Ah, terimakasih. Mei'er.." ucapnya berlalu pergi..
Ada apa dengan Yang Mulia ? kenapa aku merasa aneh ? jangan bilang hati Yang Mulia mulai bergerak, tidak ! ini tidak boleh di biarkan batin Selir Mei ketika dia mengingat kejadian tadi.
Kaisar Yun yang mendengarkan bujukan dari Xio Lin langsung menghentikan aktivitasnya..
"Cici, awasi gerak gerik Selir Xio Lin dan laporkan pada ku.." perintah Selir Mei berlalu pergi..
Disisi lain..
Xio Lin menghabiskan waktunya di kediamannya dengan membaca buku. Hingga malam sudah 3 buku yang dia baca, mulai dari silsilah kerajaan, buku tentang obat-obatan dan pedang..
"Oh jadi Yang Mulia masih memiliki saudara dan itu anak Ibu Suri. Berarti kerajaan ini tidak memliki Selir, lalu kenapa Yang Mulia mengangkat Selir dan itu adalah aku.." gumam Xio Lin terheran-heran..
"Bahkan banyak yang membicarakan Yang Mulia, jika Yang Mulia sangat mencintai Selir Mei. Lalu...."
__ADS_1
Entah mengapa hati Xio Lin merasa curiga dan ada rasa kejanggalan di hatinya..
Xio Lin yang tidak ambil pusing, diapun keluar kedimannya mencari udara segar. Seperti biasa dia akan memandangi sang bulan.
"Selir Xio Lin.." sapa seseorang yang tegas tapi tidak menghilangkan kelembutannya.
Xio Lin menoleh, dia melihat laki-laki yang tersenyum padanya dan menghampirinya.
"Ada apa Yang Mulia kesini?" tanya Xio Lin tanpa melihat Kaisar Yun.
"Terimakasih atas saran yang tadi.."
"Maksudnya ?" tanya Xio Lin yang tidak mengerti pembicaraan Kaisar Yun.
"Di lapangan tadi kau membujuk ku, jadi aku berterimakasih.." jawab Kaisar Yun lembut, tanpa berhenti menatap Xio Lin yang sangat cantik baginya..
"Lin'er, bisakah kau memberikan hati mu, untuk ku ?" ucap Kaisar Yun, dia mengarahkan pandangannya menatap sang bulan..
Xio Lin tersenyum.
"Tidak bisa kau sudah memiliki istri dan aku tidak ingin merusak hubungan mu. Lagi pula..."
"Apa kau mencintai Jendral Chun ?" tanya Kaisar Yun, hatinya mulai curiga ketika mengingat Xio Lin menangis saat bertemu dengan Jendral Chun.
"Benar.." jawab Xio Lin, dia pun menghela nafas.
__ADS_1
Kaisar Yun mengepalkan tangannya, hatinya terasa sakit. Ketika Xio Lin mengatakan sebuah kejujuran.
"Tapi itu tidak mungkin, kau yang membuat kami berpisah. Mungkin Kakak sekarang sudah melupakan ku.." ucap Xio Lin..
"Benar, kau istriku dan selamanya akan menjadi istriku.." ucap Kaisar Yun, dia kembali menatap Xio Lin..
"Jika aku tidak bisa menjadi suami mu, bisakah aku menajadi Kakak mu ?" tanya Kaisar Yun, yang membuat Xio Lin menatapnya..
Xio Lin menatap Kaisar Yun begitu lekat, di matanya tidak ada kebohongan hanya ada rasa permohonan dan kelembutan..
Xio Lin tersenyum miring, kemudian dia berdiri berniat meninggalkan Kaisar Yun.
"Baiklah, kau menjadi Kakak ku, tapi bukan suamiku.." ucap Xio Lin datar dan berlalu pergi.
Kaisar Pun mengikuti langkah kaki Xio Lin menuju kediamannya..
Semenatara, seorang pelayan yang di utus Selir Mei segera melaporkan apa yang dia dengar barusan..
Di kediaman Selir Mei...
prank...
Suara vas bunga, pecah di lantai. Selir Mei yang mendengarkan perkataan pelayannya itu. Dia tidak bisa menahan emosinya. Darahnya mulai mendidih seketika..
"Sialan, seharusnya aku tidak mengizinkan dia menikah dengan Yang Mulia.." teriak Selir Mei, amarahnya mulai naik pitam..
__ADS_1
"Tenang Selir Agung, Yang Mulia tidak akan melupakan Selir Agung. Bahkan Yang Mulia sangat mencintai Selir.." ucap pelayan Cici dengan nada bergetar.
"Benar, aku harus membicarakan Yang Mulia. Yang Mulia tidak boleh mencintainya. Jika ****** itu berani melawan ku, aku akan membuat dia seperti putri Xi Lie.." ucap Selir Mei menatap tajam kedepan dan menggertakan giginya..