
Dev menarik kerah baju Debora ke dalam kastilnya secara paksa, gadis itu pasrah saja, dia malah duduk meringsut ke lantai dan membiarkan dirinya di seret oleh Dev.
"Wohooo... lagi lagi lagi,tarik lagi pak tuaaaa!!" seru Debora sambil cengengesan seperti anak kecil yang sedang bermain perosotan hadeh tingkah Debora ini memang aneh.
Dev berhenti saat mendengar Debora malah bermain main di belakangnya.
"Grrrhhhhhh... siapa kau sebenarnyaaaaa!!!" teriak Dev menggelegar membuat seluruh kastil itu bergema dengan suara besar dan berat pria itu.
"Ck .. sepertinya pita suaramu akan rusak kalau selalu berteriak seperti itu," ucap Debora sambil bangkit berdiri dan menepuk-nepuk baju dan tangannya.
"Eghh... kalau begini kan terang, semuanya kelihatan," ucap Debora sambil melihat kastil yang begitu indah itu, sebenarnya dia sendiri tidak tau kenapa hal itu terjadi, dia hanya mengikuti suara di dalam kepalanya dan ya semua itu terjadi.
Dev mengeraskan rahangnya, sungguh bukan jawaban ini yang dimintanya. Dengan kemarahan, Dev langsung mencengkram leher Debora dan mengangkat tubuh gadis cantik itu dengan satu tangan di lehernya.
"Ehgghh... arhhh.. le..lepaskan..akh..aku," ucap Debora merintih kesakitan, nafasnya tersengal-sengal saat Dev dengan kuatnya mencengkram lehernya.
Dev menatap gadis itu dengan tatapan kemarahan, sungguh baru kali ini ada sosok yang benar benar berani menantangnya dan itu adalah seorang perempuan.
bughh...
bughh...
bughh...
Debora memukuli lengan Dev, pasokan oksigennya mulai habis hingga wakahnya memerah dan dia mulai sesak nafas.
Bruukkk
Dev melemparkan Debora ke atas lantai dengan kasar, matanya menatap tajam ke arah Debora, dia benar benar kesal dengan gadis itu.
Air mata Debora tumpah, dia ketakutan, tubuhnya bergetar saat melihat tatapan kemarahan di mata Dev.
"Ma...maafkan aku, eghh hah.. haahh..." lirih gadis itu sambil bernafas tersengal sengal.
Dev mendekati Debora yang menangis tersedu-sedu dengan nafasnya yang sesak.
"Beraninya manusia masuk ke tempat ini, apa kau tidak tau tempat apa ini bodoh!!" ucap Dev sambil berjongkok dan menatap tajam mata Debora.
"Hiks... hiks... hiks... aku mana tau tempat apaa ini pak Tuaaaaaa arhhhhh,aku saja di buang kesini kalau aku tau aku tidak akan sembarang masukk huaaaaaaaaaaa," Debora menangis sejadi jadinya di depan Dev, berusaha sok kuat ternyata tidak membuatnya menjadi betul betul kuat.
Debora menangis tersedu-sedu, jujur saja dia takut,panik dan ya bingung dengan keadaannya saat ini, tak ada manusia disana, yang ditemuinya hanya arwah, hewan dan makhluk mistis, tak ada yang benar benar bisa menolongnya.
"Berhenti menangis!!!" bentak Dev.
"Huaaaaaaa......." bukannya berhenti, tangis Debora malah semakin keras, dia menangis tersedu-sedu sambil duduk di atas lantai.
Swoossshhhh...
Dev berubah menjadi sosoknya sebagai manusia namun hanya tubuh sementara.
Dia memijit pelipisnya melihat Debora yang menangis dengan deraian air mata membasahi pipinya.
"Bisakah kau berhenti menangis?" tanya Dev pelan, telinganya hampir pecah mendengar tangisan gadis itu.
"Aku tak akan memarahi dirimu jadi berhentilah menangis nona!" titah Dev Lagi.
__ADS_1
"Huhhh... eghh.. arhh " Debora berhenti menangis, dia mengusap air matanya sambil memandang Dev dengan tatapan berbinar-binar.
"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Dev pelan mengantisipasi agar gadis itu tidak menangis lagi.
"Hemphhh... bisakah kita duduk di kursi atau semacamnya, aku kedinginan," ucap Debora dengan jujur, memang gadis itu tampak kedinginan apalagi ini di tengah hutan yang tak pernah di sentuh hangatnya sinar matahari.
Sreeettt...
Swingg...
Dev menarik kursi dan meja ke tempat mereka berada,
"Berdirilah, dan duduk di kursi itu," ucap Dev sambil bangkit berdiri dan beranjak menuju kursinya.
Debora menurut, dia tampak menggosok gosok kedua telapak tangannya karena cuaca sangat dingin.
Cletak...
Ptass... ptasss...
Dev menyalakan perapian yang berada di dekat mereka dan menggeser nya ke belakang Debora.
Pluk
Sebuah mantel bulu yang sangat hangat menutupi tubuh kecil Debora dan memberikan kehangatan bagi gadis itu.
"Terimakasih," cicit Debora pelan.
"Terserah, sekarang katakan apa yang terjadi padamu dan bagaimana kau bisa mengubah kastil ini menjadi sejelek ini," ucap Dev.
"Terserah, tapi menurutku ini jelek, cepat jelaskan!" ucap Dev dengan angkuh sambil menatap Debora.
"A.. aku juga tidak tau kenapa aku bisa melakukan ini, hanya saja aku mengikuti suara di kepalaku jadi aku melakukannya seperti sedang bermain, hal itu sudah sering terjadi padaku, kurasa kau sudah melihat bagaimana arwah Dolosus berakhir mengenaskan di tanganku kan?" ucap Debora dengan pelan.
"Dolosus? darimana kau tau!?" tanya Dev.
"Aku melihat rombongan penuntun roh waktu itu,dan ada kau disana Pak Tua, ja.. jadi aku tau dan mendengar percakapan kalian," ucap Debora jujur.
Brakkk
"Jadi kau perempuan yang mengacaukan rencana bersenang-senang ku waktu itu!" ucap Dev sambil menggebrak meja membuat Debora sedikit terkejut.
"Ck... akhirnya kita bertemu, lalu bagaimana bisa kau mengubah kastil ini, mana mungkin kau melakukan itu tanpa kekuatan apa pun!" tanya Dev mengintimidasi.
"Astaga pak tua, sudah kubilang kalau aku hanya mengikuti instingku!" ucap Debora mulai kesal karena sedari tadi dia terus disudutkan oleh pria yang disebutnya Pak Tua itu.
"Kalau begitu buktikan! dan jangan menyebutku Pak Tua!" ketus Dev yang ikutan kesal.
"Ck... bagaimana aku membuktikannya, aku tak mendengar suara apa pun lagi!" balas Debora tak kalah ketusnya, suasana yabg tadinya membuat Debora takut seketika berubah menjadi suasana yang mengesalkan.
"Ck... dasar pembuat onar!" kesal Dev.
"Haishhh..." Debora berdiri sambil memegang mantel bulu itu dan berjalan mendekati Dev lalu dia menggenggam tangan pria itu.
Swossshhhhhh....
__ADS_1
Angin berhembus padahal mereka di dalam kastil, seketika sesuatu yang sudah tertanam di dalam tubuh Dev bersinar terang begitu juga dengan tanda bintang di belakang leher Debora.
Mata mereka berdua berubah menjadi biru tua. Dev terkejut bukan main, kalung Dewi keselamatan bersinar untuk kedua kalinya setelah dua puluh tahun berlalu.
Dev langsung berdiri dan menatap Debora dengan tatapan mata tak percaya, tangannya masih menggenggam erat tangan gadis itu, ia menatap Debora begitu juga dengan gadis itu.
Ukiran berwarna biru yang sangat indah terlukis indah di pergelangan tangan mereka berdua serta simbol bintang yang sangat elegan dan mistis terukir dengan indah di leher mereka berdua.
Swoossshhhh.....
Mereka berdua dikelilingi cahaya biru, ungu dan putih dengan gemerlap indah.
"Eghhh.... haahh... haahhh" Debora melepaskan tangannya, dia merasa sesak saat pusaran angin itu mengelilingi mereka.
"Ka.. Kau adalah 'yang ditakdirkan' " batin Dev terperangah tak percaya dengan siapa yang ditemuinya.
"Pantas saja dengan mudahnya kau memasuki tempat terkutuk ini, Karena dirimu adalah ' yang ditakdirkan' dan akan datang pada 'yang dikutuk' " batin Dev.
"Astaga apa ini!!" pekik Debora saat melihat ukiran indah di lengannya.
"Loh di tanganmu juga ada Pak Tua!" ucap Debora sambil menunjuk pergelangan tangan Dev, pria itu mengangkat tangannya dan melihat simbol itu.
Matanya tertuju pada Leher Debora begitu juga dengan gadis itu.
"Itu bukannya gambar bintang!" celetuk Debora.
"Di lehermu juga ada!" ucap Dev.
"Kalau aku memang sudah ada sejak kecil!" ucap Debora.
"Bukan, kurasa itu gambar yang Sam dengan milikku," ucap Dev sambil menunjuk gambar bintang yang berada tepat di bawah telinga Debora.
"Hadeh apa lagi ini!!" ucap Debora kesal.
"Kau yang melakukan itu, jadi tanggung sendiri," ucap Dev sambil duduk santai di atas kursinya.
"Ck... arhhh, tapi yang tadi sangat indah," ucap Debora sambil duduk di kursinya.
" tunggu sejak kapan matamu berwarna biru?" ucap Debora saat melihat mata Dev.
"Milikmu juga Biru nona," ucap Dev.
"Haaa?" Debora terbelalak kaget.
"Huffft hal aneh apa ini, dan kau sebenarnya itu apa? manusia, siluman ,hantu atau apa? kenapa bentukmu berubah-ubah, dan ini kenapa semua ini terjadi arhhhh aku bingung!!!" ucap Debora.
Dev tersenyum tipis melihat tingkah Debora, namun dia berusaha tetap menjaga kharismanya.
"Jelaskan kenapa kau bisa berada disini?" tanya Dev, namun nadanya sudah tidak sekasar sebelumnya.
.
.
.
__ADS_1
jangan lupa, like vote dan komen 😉😉😉😉😉