
Debora melihat tatapan mata Dev, seketika waktu seolah berputar, cahaya biru menyelimuti diri mereka.
Debora terdiam, dia di tarik ke sebuah dimensi dimana Dev tinggal seribu tahun yang lalu.
Debora sekilas melihat kekacauan yang terjadi akibat serangan monster hitam, namun hanya sekilas, kemudian saat ibu Dev meninggal dan Dev menuntun dan menyegel roh Ibunya sendiri di hutan hitam.
Hidup bertahun-tahun lamanya dalam kesendirian sebagai penunggu hutan hitam, mengumpulkan dan melihat berbagai kematian yang menyedihkan.
Sendiri, kesepian, hancur hati ditutupinya dengan berubah menjadi sosok manusia dan berbaur dengan orang lain, namun dia tidak bisa merasakan perasaan apa yang dirasakan oleh manusia.
Sejauh apa pun dia mencoba, dia dan hatinya selalu merasa kosong dan hampa. Selama ratusan tahun hidup dalam sosok burung hantu membuatnya berusaha sekuat mungkin untuk mencari orang yang bisa meruntuhkan kutukannya.
Perjalanan hidup Dev berputar dalam penglihatan Debora.
klak
"Woi Deb, pembuat onar hey, kenapa.kau melamun heh!!!" panggil Dev yang masih memeluk Debora.
"haaahhh... "Debora terhenyak melihat hal itu berputar begitu saja di kepalanya, dia menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar.
"Ada apa denganmu?" tanya Dev bingung, dia melepaskan tangannya dari pinggul gadis itu dan menatap Debora dengan tatapan penuh pertanyaan, niatnya menggoda Debora malah batal karena melihat gadis itu terdiam sambil menatap dirinya dengan tatapan kosong.
"Kau terlalu tampan hahahhaah," jawab Debora berbohong sambil terkekeh.
"Jangan berbohong!" senggak Dev sambil menggetuk kepala Debora.
"Aku tidak berbohong, kau kan memang tampan pak Tua yang narsis hahahah,sudah ayo kita masuk, tolong bawakan belanjaannya, akan kumasakkan makanan paling enak di dunia, kau pasti lapar," ucap Debora dengan senyum sumringah.
"aku tidak akan merasa lapar Debora, makan bagiku hanya formalitas," ucap Dev .
"Terserah apa katamu, pokoknya aku akan memasak untukmu, " ucap Debora.
"Ya..ya terserah padamu!" ucap Dev yang mengikuti Debora masuk ke dalam rumah minimalis itu.
"Aku tau kau pasti melihatnya, kenapa kau tidak jujur? apa yang kau lihat? apa sebegitu menyedihkannya diriku sampai kau tidak mau membicarakan hal itu denganku?" batin Dev.
"Aku sedih melihat masa lalumu, kau terlihat sangat kesepian, ahhh kenapa aku begini? " batin Debora sambil melanjutkan pekerjaannya membersihkan bahan bahan makanan yang di belinya tadi.
"Emmm Pak Tua, sebenarnya makhluk apa dirimu?" tanya Debora tanpa menoleh, dia asik membasuh buah buahan yang di pilihnya tadi.
"Kenapa dia menanyakan hal itu?" pikir Dev yang tengah duduk manis di meja makan sambil memperhatikan Debora yang asik sendiri dengan pekerjaannya.
"Apa kau benar benar penasaran?" Dev berdiri di samping Debora sambil melipat lengan pakaiannya, dia sudah persis seperti manusia pada umumnya.
Debora menoleh sebentar lalu kembali fokus pada sayuran di tangannya," Ya aku sangat penasaran, apa yang sebenarnya terjadi padamu Pak Tua, karena belum pernah kutemui roh seusia dirimu, kalau pun aku menemukan roh roh lain yang sudah sangat tua usianya, mereka bukanlah arwah melainkan peri pelindung, dan dewa," ucap Debora.
"Aku dikutuk Debora, tanpa alasan yang benar benar kuat aku dikutuk oleh Dewa kematian dan menyimpan roh iblis dalam tubuh asliku yang tersimpan selama seribu tahun lebih di tengah-tengah hutan hitam," jelas Dev dengan raut wajah yang benar benar tidak bisa ditebak.
"Lalu apa kau hidup seperti ini selama seribu tahun belakangan ini?" tanya Debora.
"Ya, terkadang aku akan berbaur dengan manusia jika aku merasa bosan, saat berbaur dengan manusia aku membuat identitas palsu dan bergaul dengan manusia, hanya saja..." Dev berhenti.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Debora.
"Ahh tidak," jawab Dev, " Bagaimana denganmu sejak kapan kau bisa melihat roh?" tanya Dev mengalihkan pembicaraan mereka.
"Sebaiknya aku tidak memberitahukannya tentang hal itu," batin Dev.
"Apa yang disembunyikan Dev?" pikir Debora.
"Sejak aku dilahirkan aku sudah bisa melihat alam roh, bahkan dihari kelahiran ku aku melihat alam roh yang sangat indah," jelas Debora.
"Bagaimana kau tau?" tanya Dev.
"Aku memimpikannya hampir setiap malam, dan kau lihat tanda ini?" ucap Debora sambil mengangkat rambut panjangnya dan menunjuk simbol bintang di bagian belakang lehernya.
"Dewi Keselamatan, Dewa Perang dan Dewi Kehancuran!!!" batin Dev saat melihat tanda bintang di leher Rahel bukan sekedar tanda bintang biasa tetapi tanda bintang gaib sebagai stempel bahwa Rahel adalah anak spesial.
"Dari mana kau dapat tanda itu?" tanya Dev, Matanya terkejut saat melihat tanda itu bersinar dengan tiga warna yaitu merah, biru dan Oranye.
"Entah, sudah ada sejak aku lahir," jawab Debora dengan santai.
"Apa itu mengganggumu?" tanya Dev.
Debora menoleh,"Tidak sama sekali, justru aku bersyukur dengan adanya tanda ini, setidaknya aku tidak merasa sedih atau pun kesepian," jawabnya sambil tersenyum.
Mereka melanjutkan kegiatan mereka dengan banyak pembahasan, Dev berinisiatif membuat Debora semakin dekat padanya dan tidak canggung dengan dirinya.
"Entahlah apa cinta sejati itu ada, tetapi aku nyaman di dekat gadis ini, haahhh... menyedihkan sekali kau Dev," batin Dev sambil menatap Debora dengan tatapan sedih dan kesepian.
"Hmmm... harum," gumam Dev menatap masakan yang sudah ditata dengan rapi di atas meja.
Debora mengambilkan piring untuk Dev dan mengisi makanan ke atas piring itu.
"Ini cobalah," ucap Debora sambil meletakkan piring di depan Dev.
"Aku tidak makan Debora nikmatilah sendiri," ucap Dev.
Debora menatap kesal ke arah Dev yang terus saja menolak makanan dari dirinya.
"Ck... makanlah satu suap saja, ya please," mohon Debora sambil menatap Dev dengan tatapan memelas, "aku sudah lelah memasaknya untukmu, tetapi kau malah tidak mau memakannya, aku akan sangat sedih," ucapnya lagi sambil memasang wajah sedih di hadapan pria itu.
"Oh.. apa yang dilakukan gadis ini? benar benar aneh," ucap Dev .
"Baiklah baiklah, akan kumakan tapi jangan buat ekspresi anehmu itu Debora!" ucap Dev dengan wajah kesal.
"Heheheh, baiklah selamat malam semuanya!" ucap Debora sambil melirik kerumunan Roh yang mengintip mereka dari luar jendela dapur.
Dev ikut melirik ke arah mana Mata Debora.
Syuuuutttt.... swoossshhhh..
Roh roh itu segera menjauh dan terbang kesana kemari sebelum Dev menangkap mereka, sebab mereka belum mau di jemput dan memiliki masalah yang belum diselesaikan.
__ADS_1
Dev menyendokkan makanan itu ke dalam mulutnya, dia mengunyah makanan itu layaknya manusia biasa. Namun sesuatu yang sangat baru terjadi pada dirinya,
ctass.... ptass...
Bagaikan menyaksikan kembang api di malam tahun baru, Dev merasakan sensasi berbeda saat memakan masakan Debora, selama ini dia mencoba memakan makanan dari manusia namun tak ada satu pun yang cocok dengan lidahnya.
"Enak," Dev menyendokkan lagi makanan itu ke dalam mulutnya saat merasakan makanan itu begitu cocok untuknya.
"Hehehe sepertinya dia menyukainya," Debora bermonolog di dalam hatinya sambil menatap Dev yang makan dengan lahap.
"Bagaimana?" tanya Debora di sela sela makan mereka.
"Hmmm... ini biasa saja, sama saja dengan makanan lain," jawab Dev yang egonya cukup tinggi hanya untuk sekedar memuji masakan Debora.
"Ahhh benarkah? ck... kalau begitu tak usah di makan ini tidak enak, biar kita beli saja," ucap Debora sambil mengerucutkan bibirnya.
"Eh.. eh . gak usah, ini harus dimakan, kau ternyata sangat mudah menyerah, masa tidak percaya diri dengan masakanmu sendiri?" ledek Dev.
"Ck... kalau enak bilang saja, enak kan? jujur saja pasti enak kan?" goda Debora sambil bangkit berdiri dan menatap Dev dengan tatapan penasaran.
"Tidak, biasa saja, "jawabnya sambil terus mengunyah makanannya.
"Ayo lah jujur," ucap Debora sambil menunduk dan semakin mendekat pada Dev.
"Ck.. biasa saja Debora," Jawab Dev sambil memalingkan wajahnya dan...
Deg... deg... deg..
Wajah mereka sangat dekat, hanya berjarak beberapa centimeter saja.
Dev menatap mata Debora yang tepat berada di hadapannya.
Swoossshhhh....
Brukk...
Tubuh Debora terjatuh karena tiba tiba angin kencang mendorong nya hingga kedua bibir itu saling menempel dengan tangan Dev spontan menopang tubuh Debora dan memegangnya di pinggul gadis itu.
Keduanya terdiam dalam posisi saling berciuman itu.
"Upss....!!!! Hahahhahahah, awal yang baik untuk kalian berdua hahahahahah," seekor burung merpati dengan mahkota indah tertawa cekikikan di atas pintu dapur.
Oh ternyata ini ulah Xavier,
.
.
.
like, vote dan komen 😉😉😉😊
__ADS_1
hahahah cieee