
Splasshhhh....
cahaya biru menyeruak diantara mereka berdua, bola mata keduanya berubah menjadi biru dan lurik leher dan pergelangan tangan mereka tampak bersinar.
Sesaat dalam posisi itu, Debora menatap dalam mata Dev begitu pun dengan pria itu.
Tanpa mereka sadari burung merpati putih kembali mengawasi mereka dan menatap keduanya dengan tatapan penuh makna.
"heeee... haaahhh," Debora menarik nafas panjang serasa dia kehilangan oksigen beberapa detik yang lalu.
"Sudah sembuh," ucap Debora dengan senyuman manis di wajahnya membuat hati Dev bergetar, tak pernah dia merasakan hal seperti ini, di masa hidupnya dulu dia adalah manusia tanpa hati yang tidak tau caranya mencintai orang lain bahkan selama seribu tahun tinggal di antara dua alam dia tak pernah merasakan hal seperti itu.
"Ahhh ada apa denganku? kenapa aku senang hanya dengan melihat senyumannya," Dev bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Dev sambil melihat tangan dan tubuhnya yang sudah tidak terluka lagi.
" Suara disini," ucap Debora sambil menunjuk kepalanya dengan senyuman manis dan lagi lagi berhasil membuat jantung Dev berdegup tak karuan.
Entah apa yang merasuki Dev, dia menarik tengkuk gadis itu dan langsung menyambar bibir manis gadis itu, memberikan sedikit Lum4tan di sela sela ciuman mereka.
Debora membulatkan matanya, dia tak percaya kali kedua dia berciuman dengan Dev, namun kali ini bukan ciuman singkat melainkan ciuman panjang yang membuat jantung Debora berdegup kencang tak karuan.
Debora berusaha melepaskan dirinya dari Dev, dia memukul-mukul dada pria itu namun dengan cepat Dev menggenggam dan menghentikan tangan Debora.
Dia meletakkan tangan itu di bahunya tanpa melepas ciuman mereka memberikan kelembutan kepada Debora agar gadis cantik itu tidak panik.
Dengan berani Dev menarik tubuh Debora agar semakin dekat sehingga mengikis jarak diantara mereka berdua. Tangan yang melingkar di pinggang Gadis itu memberikan belaian lembut di punggung Debora, sungguh sebuah pengalaman pertama yang tak pernah dirasakan sebelumnya.
"Dev...." Panggil Debora saat berhasil menarik bibirnya yang dilum4t oleh Dev dengan sangat lembut. Wajah keduanya merah padam, jantung Debora berdetak tak karuan begitu juga dengan Dev.
Dev menatap Debora sebentar, lalu segera dia melepaskan tangannya dan langsung merangkak tidur di atas kasur Debora.
"Maaf," hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Dev sebelum dia berbaring dan menutuo matanya.
Debora terbelalak kaget dengan apa yang terjadi barusan, dia tak mampur berkata-kata, bahkan tubuhnya diam membatu setelah kejadian itu.
"Kenapa aku merasa seperti gadis yang dicampakkan setelah resmi berpacaran?" batin Debora.
Wajahnya memerah, dia buru buru turun dari kasur dan berlari ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya yang masih terasa panas mengingat ciuman lembut tadi.
Dev tersenyum tipis tampak dari garis bibirnya yang terangkat sedikit saat mendengar suara hati gadis itu.
__ADS_1
"Manis," gumam Dev sambil membuka matanya dan menatap pintu kamar mandi.
"Tak pernah aku merasa seperti ini, ahhh kuharap cinta sejati itu tidak ada karena jika demikian maka sesuai perkataan Xavier, yang paling tersiksa adalah dia," ucap Dev sambil meletakkan tangannya di atas dadanya.
"Eh tapi kalau tidak ada, aku akan tetap seperti ini arhhhhh siaaallll...." gerutu Dev sambil mengacak acak Rambutnya.
Sementara itu di dalam kamar mandi, Debora membasuh wajahnya dengan air dingin berkali kali.
Gadis itu menatap wajahnya di cermin, dia memegang bibirnya dan jantung nya kembali berdegup kencang, seketika ingatan tentang beberapa menit yang lalu kembali menghantui pikirannya.
"Ahhh.. sadar sadar Debora, ada apa denganmu, huhhffhhh... tapi..." ucapnya sambil memainkan jari telunjuknya.
"Rasanya menyenangkan, bibirnya sangat lembut, nafasnya juga wangi," ucap Debora sambil senyum senyum sendiri mengingat kejadian tadi.
Namun sedetik kemudian dia terbelalak dengan apa yang baru saja dia ucapkan.
Plakkk
Debora memukul Pipinya sendiri,
"Sadar Bora, kalian tak ada hubungan apa apa, kenapa sepertinya kau sangat menikmati ciuman itu? Ahkkkk aku sudah gilaaaaa," teriak Debora dalam diam.
"Arhhh... shhhh wah sampai lecet begini haduhh, ada ada saja aku ini," gerutu Debora sambil mengusap wajahnya yang dia pukul sendiri sampai berbekas.
Pelan pelan gadis itu keluar dari kamar mandi, dia mengintip dari celah pintu memastikan apakah Dev tengah terlelap atau tidak, namun suara Dev menghentikan aksinya.
"Mau berapa lama kau mengintipku dari sana?" ucap Dev yang memejamkan matanya di atas kasur, membuat Debora terkesiap.
"Eh.. Ekhmm.. a.. aku tidak mengintip," kilah Debora sambil keluar dari kamar mandi berusaha untuk tetap tenang seperti tidak terjadi sesuatu diantara mereka berdua.
"Hmm terserah padamu, aku akan tidur disini, jangan ganggu aku," ucap Dev tanpa membuka matanya.
"Heh Pak tua itu tempat tidur ku, kalau kau tidur disana, bagaimana denganku??" gerutu Debora.
"Terserah kau tidur dimana," jawab Dev asal.
"Ck... ahhh Pak tua dasar semena mena, kau merebut ciuman pertama ku bahkan ciuman keduaku dan sekarang kau merebut tempat tidurku!!" gerutu Debora dengan wajah kesal.
Dev membuka matanya, dia menatap Debora, "Ohh... jadi ini karena ciuman pertamamu? heh masa iya itu ciuman pertama mu? ayolah pasti itu bukan yang pertama iya kan?" goda Dev sambil menatap Debora dengan tatapan menyelidik.
"Ck... itu yang pertama, kau mengambilnya dan yang kedua juga, awas sana aku mau tidur !!" ucap Debora kesal.
__ADS_1
"Ohh jadi kau mengusirku hanya karena masalah ciuman," ucap Dev sambil menatap Debora, pandangan mata mereka bertemu, segera Debora mengalihkan pandangan ke arah lain sambil menggaruk tengkuknya.
"Eh.. Bu.. bukan karna itu, ck.. ahhh aku butuh tidur Pak Tua, besok aku akan masuk kuliah pagi, aku tak mau terlambat, kau kan pernah bilang kalau kau tidak tidur, jadi biarkan aku tidur di sana pleasee," pinta Debora sambil terbata bata.
"Ya sudah tidur saja disini, apa susahnya sih?" ucap Dev sambil menepuk kasur di sebelahnya.
"Cih... kau pikir aku perempuan murahan," ucap Debora.
"Hei jangan berbicara seperti itu, apa aku memperlakukan mu seperti perempuan murahan?" tanya Dev yang langsung duduk di atas kasur sambil menatap tajam ke arah Debora.
"Iya, kau mendiamkan aku setelah..." Debora terdiam sambil menunduk.
"Pfftttthhh hahahhahaha, jadi karena itu ? hahahahah," Dev tertawa terbahak-bahak mendengar alasan Debora yang tidak masuk akal.
"Ck... sekarang kau malah menertawai ku, aku malu Dev, aku tak pernah dekat dengan lelaki lain selain kak Brian lalu kau tiba tiba muncul dan melakukan itu semua," ucap Debora dengan suara yang tadinya meninggi berubah menjadi sangat pelan.
Dev tersenyum, dia beranjak dari kasur lalu berdiri di depan Debora yang menunduk.
"Hey kalau tadi kulanjutkan, kurasa kau tidak akan bisa bangun besok pagi, aku ini dalam fisik manusia, otomatis segala yang berhubungan dengan fisik manusia melekat padaku, jika kulanjutkan aku takut aku malah akan merenggut sesuatu dari dirimu Debora, kau tau kan hubungan..." Dev berbisik di telinga Debora.
Mata Debora terbelalak, Dev benar walau bagaimanapun Dev dalam rupa manusia jadi bisa berbahaya untuk dirinya.
"Eh.... ba.. baiklah kalau begitu, emmm lalu aku harus tidur dimana?" tanya Debora.
"Tidur di sampingku, aku hanya akan menemanimu, kawanan mereka pasti akan mengganggumu lagi, kalau kau tidak mau ya terserah, pokoknya aku tidur disini, jangan salahkan aku kalau nant..."
"Iya iya dasar Bawel, pak Tua cerewet, kau benar Benar cerewet!!!" gerutu Debora sambil naik ke atas kasur dan membaringkan tubuhnya dengan tenang.
Dev tersenyum kecil melihat Debora menekuk wajahnya kesal.
Sementara itu, di rumah besar keluarga Miller, tampak Gretta mengeraskan rahangnya, dia menggertakkan giginya, sedari tadi dia berjalan kesana kemari mencari cara untuk menyingkirkan Debora dari kehidupan nya untuk selamanya.
"grrhhh kau harus pergi, jika tidak bisa akan kusiksa kau setiap hari!!!" geram Gretta yang berpikir keras untuk menyingkirkan Debora.
.
.
.
like, vote dan komen 😉😉😉😉
__ADS_1