
Debora mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, dia menunduk kala mengingat bagaimana orangtuanya membuangnya ke dalam hutan hitam.
Bagaimanapun Debora masih seorang gadis kecil yang tentu memiliki rasa takut apalagi terdampar di hutan belantara seperti ini.
Beruntung dia sudah biasa dengan pemandangan makhluk tak kasat mata sehingga dia bisa sedikit tenang karena memiliki teman bicara disana.
"Aku dibuang,"cicit gadis itu sambil menunduk menahan air matanya, ya Debora adlah gadis dengan perubahan mood yang ekstrim, terlalu sering memendam rasa takut dan rasa sedihnya membuat dia berubah menjadi orang dengan kepribadian yang sulit di tebak.
"Dari mana kau tau kalau dirimu dibuang?" tanya Dev.
"Dari para roh yang mengikutiku, mereka bilang kalau sekelompok pria berpakaian hitam menculik ku dan dalang dari semua ini adalah Mom dan kakak perempuanku," jawab gadis itu sambil menunduk menahan rasa sedihnya.
"Apa kau membuat masalah sampai kau dibuang jauh ke tempat yang konon katanya penuh dengan cerita seram ini?" tanya Dev.
"Bagi mereka aku selalu menjadi pembuat masalah, diam pun aku tetap dikatai sebagai pembawa sial lah,pembawa masalah lah , mereka membenciku," jawab Debora sambil menahan air matanya.
Hati anak mana yang tidak sakit saat seumur hidupnya selalu dibenci dan di tolak oleh keluarga kandungnya.
"Cih kurasa kau memang berbuat onar sampai mereka membencimu," ledek Dev.
Mendengar ejekan Dev, Debora benar benar kesal sekaligus sedih karena dia difitnah dengan sesuatu yang tak pernah dia lakukan.
"Ya aku memang aku pembuat onar, aku membuat masalah dengan lahir ke dunia ini, aku putri yang tidak diinginkan dalam keluarga ku, padahal jelas jelas aku darah daging mereka,tetapi karena aku tak sesuai dengan harapan, mereka dengan seenaknya membenciku!!! " teriak gadis itu, air matanya tumpah kala mengeluarkan segala sesak di dalam hatinya yang selama ini di pendamnya.
"Akhirnya aslinya keluar," gumam Dev tersenyum tipis.
"Apa salahku sampai mereka harus membuang ku seolah aku ini adalah sampah, di kampus semua orang menghinaku mereka mengataiku sebagai pembawa masalah, mereka mengejekku sebagai gadis hantu, apa salah kalua akur bermain dengan para hantu saat tak ada satu manusia pun yang mau bermain denganku!"
"Kenapa semua jahat padaku, apa salahku hiks hiks hiks,kalau mereka menolakku kenapa memilih melahirkanku waktu itu arhhhh.. hiks hiks hiks,"
"Aku juga manusia yang punya perasaan,aku juga mau dilimpahi kasih sayang dari orang tuaku arhhhh... kalian semua jahat hiks hiks hiks hiks," Debora menangis tersedu-sedu, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
Bahu gadis itu bergetar hebat,hatinya benar benar hancur dan sedih, selama 20 tahun dia terus berpura-pura kuat padahal dia sudah hancur hati.
Dev mengembuskan nafasnya kasar, dia tak tega melihat gadis kecil itu tampak bersedih hati di hadapannya.
Pria itu berdiri dia menghampiri Debora lalu dengan segala keberanian dia menepuk nepuk pundak gadis itu.
"Apa kau tak pernah mengatakannya pada mereka? kenapa kau tidak datang kepada mereka dan menangis seperti ini di hadapan keluargamu?" tanya Dev lembut.
Debora menatap Dev dengan mata berairnya itu,
"Kalau hal ini berhasil aku tidak akan ada di tempat ini sekarang tuan, melihatku saja mereka jijik," ucapnya masih menangis.
Dev melepaskan tangannya dari pundak Debora, dia tau pasti rasanya sedih karena tidak diinginkan oleh keluarga sendiri.
__ADS_1
"Lalu apa kau tidak takut masuk ke hutan belantara seperti ini?" tanya Dev sambil berdiri dan menatap Debora.
"Saat aku masuk aku hanya mengikuti suara di kepalaku, suara yang menuntunku sampai ke tempat ini, kalau kau tanya bagaimana dengan sekarang, tentu aku takut," ucapnya jujur sambil mengusap air matanya.
"Ck... ck... ck... kalau terjadi apa apa denganmu bagaimana? kau itu masih manusia yang bisa kapan saja mati di tangan hewan buas ataupun arwah arwah Legion yang terlepas di hutan ini!" ucap Dev berdecak kesal.
"Ya untung saja tidak terjadi apa apa kan," jawabnya dengan polos.
"Hemmm.. siapa namamu?" tanya Dev sambil duduk di kursinya.
"Debora, namaku Debora Miller," jawab gadis itu.
"Lalu namamu pak Tua?" tanya Debora sambil menatap Dev dengan mata bulatnya yang bersinar indah itu.
"Aku bukan Pak Tua dasar pembuat onar, namaku Devara Christopher Nolan!" ucap Dev dengan wajah kesal.
"Kau manusia paling mengesalkan yang pernah ku temui!" ketus pria itu.
"Heheheh maafkan aku, Pak Tua!" kekeh Debora sambil menggaruk tengkuknya.
"Ck... panggil aku Dev atau apalah asal jangan pak Tua, berasa aku sangat tua sampai kau harus memanggilku seperti itu, kau tak lihat wajahku ini hmm? apakah Pak Tua berpenampilan setampan ini?" ucap Dev dengan tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi.
"Pffftthhh hahahhahaha, kau ternyata sangat narsis, kau itu Pak Tua hahhaha, umurmu pasti sudah ratusan tahun atau mungkin ribuan tahun hahahhahaha, sok merasa muda dasar narsis!!" ledek Debora sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ck.. mimpi apa aku semalam sampai bertemu dengan manusia tengil seperti dirimu !" ketus Dev.
"Mimpi bertemu Malaikat cantik hahahhahahah," balas Debora tak kalah narsis sambil mengibaskan rambutnya ke belakang dengan gaya centilnya.
Dev menggelengkan kepalanya, Sifa perempuan yang ditemuinya ini benar benar aneh, sebentar menangis sebentar tertawa sungguh perempuan yang aneh, pikirnya.
"Berapa usiamu Pak Tua?" tanya Debora sambil meletakkan kedua tangannya di atas meja dan menatap Dev dengan mata berbinar-binar.
Deg.. Deg..
Tatapan mata Debora membuat jantung Dev berdetak tak karuan, baru kali ini dia merasakan sensasi gugup seperti ini.
"eghh ada apa denganku!" batin Dev.
"Hey Pak Tua kenapa melamun? aku tanya berapa usiamu? kenapa kau malah melamun, dasar Pak Tua!" ledek Debora.
"Mungkin 1000 tahun lebih, aku tidak terlalu menghitungnya," jawab Dev yang berusaha menghindari tatapan mata Debora yang sangat indah itu.
"Pfftttthhh hahahahhahahaha, tuh kan benar berarti kau itu bukan cuma Pak Tua tapi nenek moyang hahahahhahah hahahahhaha," Debora tertawa terbahak-bahak saat mendengar usia Dev lain halnya dengan Dev, pria itu malah kesal karena terus terusan si ledek oleh Debora.
"Ck... terus saja ledek!" ketus Dev.
__ADS_1
"Lalu apa rencanamu sekarang? apa kau tidak kembali ke rumahmu?" tanya Dev.
"Huffft... aku ingin kembali tapi bagaimana caranya, kota ini jauh dari kota Berlin masa iya aku harus jalan kaki," ucap Debora.
"Kalau begitu tinggal saja disini," ucap Dev.
Debora membelalakkan matanya mendengar tawaran Dev.
"Tinggal disini? wah tentu aku mau Pak Tua, tapi aku masih punya seorang kakak dan keluarga Paman yang peduli padaku, aku tak mau mereka khawatir," jelas Debora.
"Kalau begitu pergi sana!" balas Dev.
"Ck... kau pemarah sekali dasar Pak Tua!" ledek Debora.
"Hufff kalau begitu tidurlah disini malam ini, besok aku akan mengantarmu ke rumahmu," ucap Dev.
"Benarkah? wah baiklah hahahha terimakasih Dev yang tampan hahaha kalau kau baik kau jadi tampan tapi kalau kau marah marah kau jadi Pak Tua hahahhaha," tawa Debora terbahak-bahak.
Dev menggelengkan kepalanya melihat tingkah Debora yang benar benar membuatnya pusing.
"Apa benar gadis ini titisan Dewi keselamatan? emmm maksudku sifatnya itu sangat bertolak belakang dengan Bella yang dulu kukenal, arhhhhh... dasar gadis aneh!!" batin Dev.
"Hoaaammmm.... Tuan tampan yang baik hati, apa kau punya kamar? aku mengantuk erghh," ucap Debora sambil menguap dan meregangkan tangannya ke atas.
"Merepotkan!" ketus Dev sambil bangkit berdiri.
Swoossshhhh....
Dev memunculkan salah satu kamarnya yang sudah dilengkapi dengan fasilitas mewah di dalamnya, meski Dev berusia seribu tahun, dia tetap mengikuti perkembangan jaman dan teknologi jadi barang-barang miliknya juga adalah barang terbaik keluaran Jaman ini.
"Sana tidurlah, semua barang dalam kamar itu bisa kau pakai," ucap Dev.
"Benarkah?" ucap Debora dengan mata berbinar-binar, Dev mengangguk dengan malas.
"Yes hahahah terimakasih Tuan Devara Christopher Nolan yang tampan!" ucap Debora dengan senyuman indah menghiasi wajahnya.
"Arhhhh kurasa ini akan jadi malam yang panjang, pasti dia akan mengoceh lagi," ucap Dev dalam hati sambil menatap Debora yang berjalan dengan girang menuju kamar itu.
.
.
.
Like, vote dan komen 😉😉😉😊😉😊
__ADS_1