Oh My Dev-iil

Oh My Dev-iil
Rumah Kecil


__ADS_3

Dev dan Frank berjalan menuju rumah kecil dimana Debora si pembuat onar tinggal.


Mata Keluarga Miller terus menatap Dev dan Frank yang bahkan tak melirik sedikit pun ke arah mereka.


"Tampan sekali," gumam Gretta yang berdecak kagum dengan pahatan sempurna di wajah pria itu.


Drap... Drap.. drapp.. drap...


Mereka berjalan dengan irama yang mengikuti hembusan angin yang menerpa kulit mereka.


Sampai di rumah kecil itu, Deb segera masuk ke dalam kamar dimana Debora tidur.


"Pak Tuaaaaa!!" Pekik Debora tepat pada saat Dev masuk ke dalam kamar itu, membuat mereka semua yang mendengar teriakan Debora terbelalak kaget dengan sebutan gadis itu pada seorang tuan muda Nolan yang terhormat.


"Bora, jangan biacara seperti itu, dia punya nama, kenapa kamu tidak sopan!" Tegur Nyonya Beck.


"kan memang dia Pak tua Bibi ku yang cantik," seloroh Debora sambil duduk bersila di atas tempat tidurnya.


"Ck.. ck.. maafkan keponakan kami tuan Nolan, dia memang terkadang bisa aneh seperti ini, cepat minta maaf Bora," ucap tuan Beck yang merasa tidak enak pada Dev karena tingkah Debora.


"Ck.. justru dia yang minta maaf karena tidak membangunkanku saat sampia tadi," ketus Debora.


"Cih dasar kau ini memang pembuat onar, kau terlalu lelap tidur, aku mana tega membangunkanmu, kau tau kan aku jenis pria yang punya tata Krama dengan perempuan," ucap Dev sambil menaikkan satu alisnya.


"wah dia benar-benar seorang cassanova," batin Louis yang menatap takjub ke arah Dev.


"Terserahlah, tapi terimakasih sudah membawaku kesini pak tua," ucap Debora.


"Aku sangat merindukan kasurku!!" Ucap Debora.


"Apa kasur yang ada di..hemphh..." Belum selesai Dev berbicara, Debora langsung melompat dan berjinjit menutup mulut Dev agar tidak melanjutkan perkataannya yang bisa membuat dirinya habis diinterogasi oleh keluarga Beck dan kakaknya Brian.


Mereka semua terbelalak melihat kedekatan Debora dan Dev.


"Debora tidak sopan seperti itu!" Ucap Brian yang benar benar kaget dengan kelakuan adiknya.


"Heheheh, Debo hanya mau menutup mulut tuan Nolan ini agar tidak terlalu banyak berbicara, takutnya ada lalat yang masuk,heheheh," kekeh Debora sambil nyengir kuda masih dengan posisi berjinjit menutup mulut Dev.


Dev menatap datar pada Debora yang tidak ada takutnya sama sekali pada dirinya.

__ADS_1


Dev menarik tangan Debora pelan lalu dalam sekali angkat dia menggendong tubuh gadis itu di depan keluarga Debora dan meletakkannya di atas tempat tidur.


"Kau terlalu banyak bicara dasar pembuat onar!" Ucap Dev sambil menunjuk kening Debora.


"Heheheh maaf," kekeh Debora sambil tersenyum manis.


Dev kembali ke posisinya tadi, keluarga Beck dan Brian benar benar terbelalak melihat interaksi mereka berdua, sungguh sebuah interaksi yang tidak disangka sangka.


"Nah karena Debora sudah sampai di sini, maka dari itu saya pamit," ucap Dev pada mereka semua.


"Tapi kau bilang..." Debora berhenti saat Dev menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya.


"Ck... " Debora hanya berdecak sambil menekuk wajahnya.


"Kalau begitu sampai jumpa pembuat onar, tuan,Nyonya saya undur diri," ucap Dev sambil menunduk hormat di hadapan mereka.


"Sampai jumpa lagi tuan muda Nolan!" Ucap mereka sambil membungkuk hormat dengan satu tangan mereka di atas dada persis seperti yang dilakukan oleh Dev.


"Bye bye Pak Tua, bye bye Frank, titip salam pada semuanya, " ucap Debora dengan wajah sedih, meski hanya satu malam di dalam hutan hitam, Debora merasa sangat bahagia karena disana banyak yang bisa diajak bercanda bicara, dan dia punya banyak teman disana.


"Akan saya sampaikan nona," ucap Frank sambil menunduk.


Dev dan Frank keluar dari kamar dan pergi melanjutkan misi mereka mengumpulkan para hantu yang siap di jemput, hantu yang siap di jemput adalah mereka yang sudah siap dengan semua urusan di dunia ini dan berkumpul di titik penjemputan, namun ada peraturan khusus untuk roh jahat.


Jika Pneu'ma akan di jemput dengan cara normal sesuai aturan hutan hitam dimana mereka akan berkumpul secara otomatis di ttitik titik penjemputan maka Legion akan di jemput secara paksa tepat setelah manusia yang menjadi inang mereka meninggal.


Roh Pneu'ma akan dengan senang hati di jemput oleh para penuntun roh namun roh Legion akan berusaha lari dan menghindar dari penuntun roh, bahkan mereka akan pergi jauh dari tempat tempat yang sering terjadi kecelakaan.


Roh Legion akan hinggap atau menempel pada inang baru sehingga mereka akan sulit dideteksi oleh penuntun roh dan mereka akan melakukan kekacauan baru.


Namun beberapa hari terakhir, Dev dan para penuntun roh merasa sangat mudah menemukan arwah arwah yang siap di jemput, biasanya yang siap di jemput adalah mereka yang sudah meninggal setelah 30 hari dan berkumpul pada titik Penjemputan yang biasa disebut sebagai Pneution.


Sementara Dev melanjutkan tugasnya memburu para Legion yang mengacaukan kehidupan manusia dan merusak tatanan kehidupan yang sudah diatur oleh sang Dewa kehidupan alias Xavier, Di rumah kecil tempat Debora tinggal tampak gadis itu sedang duduk di hadapan paman, Bibi , dan kedua kakaknya.


"Apa yang terjadi padamu kemarin Bora? Kamu tau tidak kalau kami sangat khawatir? " Ucap Nyonya Beck.


"Apa yang terjadi Ra,kenap kamu bisa menghilang semalam? Apa mereka melakukan sesuatu padamu?" Tanya Brian.


Debora tersenyum, dia tau kalau mereka memang benar benar khawatir pada dirinya, sebab semalam dia mengawasi keluarga Paman dan kakaknya Brian melalui sihir si kurcaci di dalam hutan hitam.

__ADS_1


"Bora baik baik saja, Bora hanya tersesat semalam," ucap Debora tidak memberitahukan kebenaran bahwa Nyonya Miller dan Gretta lah yang membuangnya karena menurutnya hal itu tidak perlu diperjelas, tanpa dia beritau pun mereka sudah tau siapa dalang di balik hilangnya Debora semalam.


"lalu bagaimana kamu bisa kenal dengan tuan muda Nolan, apa kamu tidak tau siapa pria itu?" Tanya Brian.


"Tuan muda Nolan? Oh si Pak Tua itu," seloroh Debora.


"Dia yang menyelamatkan Debora semalam, dan yah begitulah Bora menginap di tempatnya dan dia mengantar Bora kesini dengan selamat dan lengkap tanpa kekurangan apa pun," jawab Bora.


"tapi kenapa kalian bisa sedekat itu, setau paman Tuan Muda Nolan bukan orang yang mudah didekati," ucap tuan Beck penasaran.


"Pfftttthhh hahahhahaha, dia sangat mudah di dekati," kekeh Debora dalam hati.


"Yah begitulah, mungkin karena Debora cantik hahhaah," kekeh Debora sambil tertawa jahil membuat mereka geleng-geleng kepala dengan sifat gadis itu.


"Lalu kalian kenal dia dari mana? Kok bisa kalian menyebutnya sebagai tuan muda Nolan? Kalian tau darimana namanya?" Tanya Debora penasaran.


Tuan Beck, nyonya Beck, Brian dan Louis saing memandang, mereka benar benar heran bagaimana bisa seorang Debora tidak mengenal siapa pria berpengaruh di negeri Jerman itu.


"Apa kamu benar benar gak tau Bora?" Tanya Louis sambil mengangakan mulutnya. Debora mengangguk dengan polosnya.


"Dia tuan muda Dev Nolan yang terkenal itu, dia pewaris tunggal dari Ralph Rolex III boraaa!" Jelas Louis yang sampai menggoyang-goyang bahu Debora agar gadis itu tau siapa sosok pria yang menggendongnya tadi.


"Lalu?" Tanya Debora dengan santai.


"Ck.. ck... Ck... Itu berarti kamu beruntung bisa bertemu seorang berpengaruh yang bahkan tak tersentuh orang lain, ini sebuah kehormatan besar Boraa," ucap Brian.


"hmmm biasa aja tuh, mau dia artis, orang berpengaruh, presiden, raja atau apa pun itu, bagiku dia hanya seorang Pak tua heheheheh," kekeh Debora yang membuat mereka semua tepuk jidat akibat jawaban gadis itu.


"Pak Tua yang kesepian," lanjut Debora dalam hatinya.


.


.


.


Like, vote dan komen 😉😉😉😊😉


Bora kayaknya tau sesuatu,

__ADS_1


Eh Jangan lupa likenya, jangan jadi pembaca gaib ya guys 😉


__ADS_2