Oh My Dev-iil

Oh My Dev-iil
Pelukan


__ADS_3

Matahari kembali berkuasa atas langit, berkas berkas sinarnya merambat memasuki celah celah dinding kayu kamar Debora.


Gadis itu menyerngitkan keningnya saat merasakan sapuan lembut dari matahari menyapa wajahnya.


Dia menggerakkan tubuhnya memeluk sesuatu yang sangat nyaman baginya, dia mendengus mencium aroma yang menenangkan dari benda yang dipeluknya, tangannya mempererat pelukannya dan kakinya ikut melilit sesuatu di depannya itu.


"Emm... Harum heheh, hangat sekali," gumam Debora.


Lama dia memeluk benda itu namun sesuatu membuatnya berpikir keras.


"Tunggu sebentar ini apa? Kalau Black gak mungkin sampai sebesar ini? Dan Balck itu bau, Lalu aku tak punya boneka sebesar manusia, " gumam Debora yang masih enggan membuka matanya.


"Tunggu ma.. manusia?" Ucapnya sambil membuka matanya dan...


Jeng...jeng..jrengg.....


Dia menatap sesuatu berwarna putih di depannya, tangannya bergerak menusuk nusuk benda itu.


"Ummmm? Lembek," gumam Debora.


Hampir saja seseorang disana tergelak mendengar celetukan gadis itu.


"Eh.. tunggu i.. ini siapa..... " Ucap Debora sambil menurunkan tangannya dan mendongakkan kepalanya menatap sosok yang di peluk dan memeluknya itu.


"Arhhhkkkkkkk" pekik Debora menggelegar ke atas udara membuat para hewan ternak terbangun dari tidur nyenyak mereka, bahkan para mahluk tak kasat mata sampai terkejut dnegan teriakan maut gadis itu.


Debora mencoba melepaskan pelukan Dev dari tubuhnya namun tak bisa dia lakukan, pria itu memeluk nya dengan erat.


"Egh... Lepas Deevvvv" ucap Debora panik.


"Heh lepas? Bukannya kamu yang mulai memelukku terlebih dahulu hah?" Ucap Dev sambil menyentil kening Debora dengan jari telunjuknya.


"I..iya ma maaf refleks, kupikir tadi Anjjng peliharaan ku," cicit Debora sambil menatap Dev dengan tatapan gugup.


Mendengar ucapan Debora, Dev pura pura terbelalak karena dia sudah mendengar ucapan gadis itu tadi.


Dev memutar tubuh mereka dan kini Debora ada di bawah Kungkungan nya. Dia menatap wajah lembut Debora yang tampak gugup di bawah sana.


Dev tersenyum kecil, dia sangat suka menggoda gadis itu.


" Jadi aku anjing peliharaan mu hmmm?" Ucap Dev sambil mengusap wajah Debora.


"Eh.. Bu..bukan begitu Dev, kan ku bilang tadi kupikir, karena biasanya yang kupeluk kalau tidur itu pasti Si Black,," jawab Debora tanpa menatap mata Dev yang membuat jantungnya berdegup kencang tak karuan.


"Hemm lalu apa kau menyesal telah memeluk ku?" Tanya Dev lagi, kali ini wajah pria itu semakin mendekat, tubuhnya menindih Debora di bawah nya membuat Debora semakin gugup tak karuan.


"Eh... A... Aku... Erhhh... Ck... Terpaksa harus pakai cara ini," ucap Debora yang langsung mengecup bibir Dev membuat Pria itu terdiam karena terkejut.


Dengan cepat Debora mendorong tubuh Dev yang menindihnya, dan beranjak dari kasur itu meloloskan diri dari Dev pria tampan yang membuat jantungnya berdegup kencang tak karuan.

__ADS_1


"A.. aku mau bersiap siap, aku akan ke kampus," ucap Debora buru buru mengambil pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Dev tersenyum tipis dia menyentuh bibir yang dikecup oleh Debora tadi, tangannya turun ke dadanya merasakan debaran jantung yang membuat hatinya berbunga-bunga.


"Dia yang mulai duluan, kalau begitu akan kuladeni, " ucap Dev sambil tersenyum.


"Ahhh disini berdegup kencang, tunggu dulu...." Ucap Dev sambil tersadar akan sesuatu yang benar benar bis aterjadi pada dirinya.


"A.. aku bahagia? Se.. seperti inikah perasaan bahagia? Ahh ini ...ini benar benar menyenangkan!!!!" Ucap Dev sambil tersenyum memegang dadanya yang masih berdegup kencang.


Tanpa dia sadari dua ekor burung merpati mengamatinya dari atas pintu.


"Mau sampai kapan kau bermain main dengan mereka? Cukup putuskan saja kutukan itu, dia sudah melakukan tugasnya dengan baik seribu tahun belakangan ini," ucap salah satu burung merpati berwarna biru dengan Tiara indah di atas kepalanya.


"Tenang dulu Dewi perang, apa kau mau langsung kehilangan gadis itu? Kita masih bisa memakai mereka berdua untuk menaklukkan iblis itu, dia masih belum tertangkap, jika tugas Dev kuakhiri saat ini, maka cerita ini akan selesai," jelas Xavier pada Dewi Perang.


"Ck...tapi jangan berlama-lama, kau tidak lihat betapa bahagianya dia biar dia sekiranya merasakan apa itu bahagia, kau senang melihat ciptaanmu menderita? Dasar aneh! " Ejek Dewi perang.


"Aria, biar aku mengurus urusan ku sendiri kenapa kau cerewet sekali!" Balas Xavier.


"Ck.. terserah kau saja, jangan sampai mereka mati sia sia karena ulahmu," ketus Aria sambil terbang meninggalkan Xavier disana.


Xavier menatap Dev, " Temukan dulu iblis itu, maka tugas kalian akan berakhir," ucap Xavier sebelum dia akhirnya menghilang.


Debora sudah bersiap-siap menuju kampus, dia hanya sarapan roti, gadis itu menguncir rambutnya ke atas memakai kaos putih dengan blazer hitam sederhana dipadukan dengan jeans ketat dan sepatu flas Shoes berwarna hitam.


"Apa kau hanya akan makan roti yang ada di mulutmu itu?" Tanya Dev yang sedang duduk manis di meja makan sambil menatap Debora yang bolak balik kesana kemari menyiapkan barang barangnya.


"Ck.. ck... Ck.. manusia sekarang memang ingin cepat cepat mati ya, makan pagi malas, tidak kau lihat tubuhmu itu sangat kurus seperti triplek saja bahkan bagian depanmu itu rata, " ejek Dev yang membuat Debora terbelalak, gadis itu menyilangkan kedua tangannya didepan dadanya sambil menatap Dev dengan tatapan kesal.


"Cih Pak Tua mesumm!!!!" Pekik Debora.


"Pfftttthhh hahahhahaha, kan aku benar, kau itu rata," ucap Dev sambil menggerakkan tangannya.


"Haisshhh dasar pak tua mesum!!! " Gerutu Debora dengan wajah kesal sambil menghentakkan kaki nya di atas lantai.


"Hahhahahah, kau lucu hahahahah" Dev tertawa terbahak-bahak.


"Jadi seperti ini rasanya tertawa dan bahagia, sangat menyenangkan!" Ucap Dev di dalam hati.


Debora terdiam, dia menatap Dev dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Ck... Pak Tua jangan mengejekku, sudahlah aku mau ke kampus dulu, " ucap Debora sambil mengambil ransel dan ponselnya kakinya beranjak keluar meninggalkan Dev di dalam ruangan itu sendirian.


"Hahahah, haaahh... Kau membuatku tertawa Bora, aku tak akan melepaskan dirimu, kau milikku sekarang!!" Ucap Dev dengan senyuman bahagia yang tak pernah dia rasakan selama ini.


Kalau pun dia tertawa, tampak bahagia atau tampak seperti merasakan belas kasihanitu semua hanya kepalsuan untuk menutupi identitasnya.


Dev berjalan keluar dari dapur dan

__ADS_1


Sringg.....


Pakaian Dev berubah, bahkan wajahnya tampak lebih muda sbeut saja Dev versi muda kini kembali, dia tampak seperti anak kuliahan dengan pakaian keren dan modis, wajahnya juga tampan dan pasti menarik hati siapapun yang melihatnya.


"Debora," ucap Dev sambil menggenggam tangan Debora yang baru akan keluar dari dalam rumah.


"Arhhhhh .... " Pekik Debora saat melihat rupa Dev yang benar benar tampan dan segar.


"Astaga kau membuatku terkejut dengan rupa mu itu, kenapa kau jadi anak anak!??" Ejek Debora sambil menatap penampilan Dev dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Apa jelek?" Tanya Dev dnegan polosnya.


"He.. em... Jangan berpenampilan seperti itu kau seperti anak nakal saja," ucap Debora.


"Hadehh..." Dev menghela nafas, dia masuk ke rumah dan...


Cringgg.....


Dev berubah menjadi lebih kalem dengan pakaian lebih teduh tidak membuat sakit mata seperti beberapa saat lalu.


Klakk


"Nah ini baru tampan!" Seru Debora.


"Benarkah? Baiklah aku akan seperti ini setiap hari," ucap Dev sambil menggandeng tangan Debora.


"Eh .. mau ngapain pegang pegang," ucap Bora berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Dev.


"Ssstttt.... Kita adalah sepasang kekasih mulai hari ini, kau ingat kan kita sudah ciuman tiga kali dan tidur bersama sebanyak dua kali dan makan malam, jalan jalan, dan sebagainya, kau adalah kekasihku dan aku adalah kekasihmu!!" Ucap Dev sambil menatap Debora dengan tatapan serius.


"Ma..mana Bisa begitu!!" Protes Debora.


Dev menatap mata itu, seketika cahaya ungu berkilau di mata keduanya.


"Bagaimana, kau mau kan jadi kekasihku?" Tanya Dev pelan sambil tersenyum.


Debora mengangguk, " mau" dan saat itu juga cahaya ungu itu hilang.


"Baiklah kau sudah bilang mau," ucap Dev tersenyum sumringah.


"Apa.. ehh tidak.. kau beraninya kau, ahhh apa yang kukatakan tadi kenapa aku haru jadi... Hemphh"


Debora berhenti bicara saat Dev membungkam bibirnya dengan sebuah ciuman dan memberikan sedikit lum4t4n membuat jantung Debora berdegup kencang lagi dan lagi.


"Kalau kau bicara akan kulanjutkan lagi," ucap Dev.


.


.

__ADS_1


.


Like, vote dan komen 😊😉😊


__ADS_2