
Tukk.. Takk... Tukk.. Takk
suara tapak kaki unicorn terdengar menggema di seluruh hutan hitam, Unicorn itu berlari dnegan kecepatan sedang diantara pepohonan dimana legion dan Pneu'ma di segel untuk sementara waktu.
"Wohooo!!!" teriak Debora kegirangan, dia merasa semilir angin yang menyapa kulitnya dengan lembut.
swooshhhh..
Dev membawa Debora menuju sisi hutan yang dipenuhi dnegan bunga yang sedang mekar dan sangat cantik. Ada sebuah air terjun dnegan pelangi di depannya membuatnya sangat indah, aliran air yang menenangkan dan rindangnya pepohonan membuat Debora tersenyum bahagia.
"Ini sangat indah Dev!" seru Debora sambil merentangkan kedua tangannya menghirup dalam dalam udara segar yang sangat bersih itu.
"Kau menyukainya?" tanya Dev.
"Tentu saja, ini sangat indah!!" seru Debora sambil tersenyum.
"Ingin mencoba bermain di bawah?" tanya Dev sambil melirik muara di bawah air terjun itu.
"Tidak, nanti pakaianku basah," ucap Debora.
"kalau begitu kita bermain di atas, pegangan Bora!" seru Dev sambil berlari menuju tebing.
"Deeeevvvvv itu juraaaanngggg!!!!" teriak Debora histeris saat melihat jurang di depan mereka.
Dev tersenyum tipis.
Drapp... drapp... drapp
Swoossshhhh....
Dev berubah menjadi seekor Phoenix legendaris dengan bulu bulu berwarna perpaduan emas dan merah menyala, dia menukik terbang tinggi ke angkasa sambil membawa Debora di atas tubuhnya.
"Uwaaahhhhhh..... indah sekali!!!" teriak Debora saat melihat pemandangan hutan hitam yang begitu indah dan menakjubkan dari atas langit.
Debora dapat melihat dengan jelas para Pneu'ma yang melambai dengan senyuman kepada mereka dan tentu saja wajah murung dan marah dari para Legion.
"Wohoooooo...." teriak Debora.
Bersama dengan terbangnya mereka ke angkasa, burung burung juga mengikuti mereka di belakang sayap Dev yang besar dan lebar dengan bulu bulu emas yang menjuntai dan di terpa angin.
"Hai pak elang,hai Bu Pipit hahahahah ini menyenangkan!!" teriak Debora dengan senyum sumringah di wajahnya.
Mereka terbang kesana kemari,
wooosshhhhhh...
__ADS_1
wosshhhh.....
Debora melihat hamparan hutan yang hijau dan rindang, terbentang sejauh mata memandang, menyuguhkan pemandangan yang menyehatkan mata dan pikiran serta menenangkan hati.
Mereka menikmati pagi mereka dengan terbang kesana kemari. Setelah puas berkeliling, Dev membawa Debora turun ke perbatasan hutan hitam, disana sudah ada Frank dan tiga mobil sedan hitam menunggu mereka di temani oleh enam pria berpakaian hitam dengan kacamata hitam, tubuh tinggi dan tegap dengan simbol burung hantu di pergelangan tangan mereka.
Swoossshhhh...
Dev mendarat dengan aman, Frank membantu Debora turun dari punggung Dev.
"Wahhh ternyata kau tau mode ya Pak Tua," ledek Debora.
Swinggg..
Dev mengganti rupanya menjadi manusia, dia berjalan menghampiri Debora dengan tatapan sebal karena selalu saja diledek oleh perempuan cantik itu.
"Jangan berdebat denganku Debora, ayo masuk, kita pulang ke rumahmu," ucap Dev sambil menarik tangan Debora dengan lembut.
"Emm... Dev bisakah kau disisiku terus? aku takut dengan mereka," lirih Debora yang menahan tangan Dev sebelum mereka masuk ke dalam mobil.
"Cih pada manusia kau takut, pada hantu dan monster menyeramkan kau tidak takut sama sekali dasar manusia aneh!!" ejek Dev.
"Ck... terserah apa katamu, tapi kumohon kalian temani aku, ya ya please!!" pinta Debora sambil menggoyang goyangkan lengan Dev seperti anak kecil yang minta dibelikan boneka oleh ayahnya.
" lagi pula siapa yang ingin meninggalkanmu, kau adalah satu satunya cara agar aku bisa kembali, tak mungkin kubiarkan kau disakiti orang lain gadis bodoh!"batin Dev.
"Masuk Bora," ucap Dev.
"Terimakasih Dev," ucap Debora sambil tersenyum manis.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Frank sebagai supir mereka dan diikuti oleh dua mobil pengawal.
Sementara mereka dalam perjalanan sihir mereka, di kediaman keluarga Miller lebih tepatnya di peternakan milik keluarga Beck, tampak Keluarga Beck dan Brian duduk termenung di teras rumah dimana Debora tinggal sendiri selama ini.
"Bagaimana ini Dad, Debora belum juga kemabli dari kemarin, Mommy khawatir," Ucap Nyonya Beck yang duduk diantara tuan Beck dan putranya Louis sedangkan Brian duduk di sisi lain tuan Beck.
"Kita tunggu saja sayang, Dad juga khawatir dengan Bora," ucap Tuan Beck sambil merangkul bahu istrinya yang tampak sangat khawatir saat mendengar berita bahwa Bora hilang dan tak pulang ke peternakan.
"Dad ini semua ulah mereka, Debora begini karena ulah mereka!!" ucap Louis kesal, dia mengepalkan tangannya dan menatap kediaman Miller dengan tajam.
"Brian apa kau tidak tau dimana mereka membuang Debora? apa kita tidak bisa melakukan sesuatu? apa kau yakin dia akan kembali? sudah semalaman lebih tapi tak ada tanda tanda kalau Debora akan kembali, bagaimana ini? " ucap Louis mulai panik.
"Aku juga tidak tau kak, tapi aku yakin Bora pasti akan segera kembali, kita tunggu saja dulu," pinta Brian, dia menatap para hewan yang sedari tadi memberi tatapan serius pada dirinya membuat dia paham maksud tatapan mereka.
"Arhhhhh kasihan dia brai!!!" kesal Louis, dia berdiri sambil berkancah pinggang.
__ADS_1
Mereka benar-benar tidak habis pikir dengan kelakuan keluarga Miller yang begitu membenci Debora hanya karena dia lahir sebagai seorang perempuan, sungguh sebuah alasan yang menggelikan.
"Arhhhhh toolonggg ada hantuuu!!!" pekik Nyonya Miller yang berlarian keluar dari pintu belakang, rambutnya acak acakan, pakaiannya terangkat kesana kemari akibat ulah para hantu yang kesal dengan perbuatan mereka.
"Cihh lihatlah, apa lagi ulah mereka kali ini, mereka sudah seperti orang gila berlarian seperti itu!!" ledek Tuan Beck saat melihat adiknya dan adik iparnya berlarian seperti orang gila keluar dari dalam rumah.
"Tttoooolooonngggg ada hantu garpu, tidakkkk sana pergi jangan sentuh rambutkuuuu!!!" teriak Gretta yang rambutnya di acak acak dnegan menggunakan sendok dar garpu seperti sedang memakan spaghetti.
Kalau Debora melihat hal ini, mungkin dia sudah tertawa terbahak-bahak Karena di leher Gretta duduk arwah seorang bocah Lima tahun yang meninggal karena penyakit kanker sedang duduk santai menikmati pastanya, dia meninggal saat makan pasta sehingga dia mengacak acak rambut Gretta yang menurutnya mirip dengan pasta terakhir yang dia makan.
Kenapa mirip? tentu karena warna rambut Gretta kuning seperti warna pasta yang membuat roh itu tertarik nangkring di bahu Gretta.
"Astaga apa apaan ini, siapa pun tolong hentikan garpu itu, dia menusuk pantatku toolonggg !!!!" teriak Tuan Miller yang berlari terbirit-birit di halaman di samping rumahnya karena dikejar sendok garpu yang menusuk nusuk pantatnya membuatnya kesakitan.
Padahal kalau dilihat, itu hanya seorang nenek tua yang bermain main dnegan garpu dan mengejar bokong Tuan Miller yang tampak enak untuk di tusuk , ada ada saja.
Nyonya Miller berlari kesana kemari karena arwah anak anak dan para remaja mengangkat dan mentik pakaiannya kesana kemari membuat wanita itu panik setengah mati.
"Pfftttthhh hahahhahaha hahahahah," Keluarga Beck dan Brian tertawa terbahak-bahak melihat keluarga Miller diserang oleh para arwah belum lagi wajah panik mereka sangat menyenangkan dilihat.
"Hahahahah sudah sering aku melihat benda benda itu beterbangan jika ada Debora tapi yang ini yang paling lucu hahahahah, lihatlah si tua Miller itu hahahah dia melompat kesana kemari, pantatnya di tusuk dnegan garpu hahahahh," Tuan Beck tertawa terbahak-bahak.
"hahahaha Dad benar, lihat Gretta dan Momnya hahhahaha mereka sudah seperti orang gila hahahah, ini menyenangkan !!" seru nyonya Beck sambil tertawa terbahak-bahak.
"Akhirnya mereka merasakan gangguan arwah arwah itu hahahhah,"kekeh Louis.
Brian hanya geleng-geleng kepala, dia melirik para hewan yang tampak asik menikmati pertunjukan di depan mereka.
"Pasti ini ulah para arwah itu," batin Brian.
Keluarga Beck dan Brian tidak lagi takut dengan hantu, walau saat pertamanya kali mendengar Debora bercerita tentang mereka sempat membuat mereka ketakutan, namun seiring berlalunya waktu mereka terbiasa dengan hal itu, bahkan tak jarang mereka bercanda dnegan para arwah yang menemani mereka.
Saat mereka sedang melihat keluarga Miller yang di serang para arwah tak kasat mata, tiba tiba tiga buah mobil sedan hitam memasuki area rumah keluarga Miller dan masuk hingga ke depan gerbang peternakan.
Tepat saat mobil itu tiba, para arwah tak lagi mengganggu keluarga Miller.
"Siapa itu?" ucap mereka.
.
.
.
like, vote dan komen 😉😊
__ADS_1