
Debora dan Dev berjalan beriringan keluar dari peternakan, mata Gretta yang langsung cerah jika melihat Debora bersama pria tampan langsung terbuka dengan jelas saat melihat Dev berjalan bersama Debora, mereka terlihat sangat sempurna, belum lagi Dev tampak terlihat berbeda, dia begitu segar dan muda, membuat Gretta merasa kesal dengan Debora.
"Ck... mommmmm" pekik Gretta dengan wajah kesal.
"ada apa? Pagi pagi kamu udah ribut ribut aja, kenapa?" Tanya Nyonya Miller sambil menghampiri anaknya yang berdiri di depan taman depan.
"Lihat itu!!" Ucapnya sambil menunjuk Debora dan Dev.
Sama halnya dengan Gretta, Nyonya Miller terkejut bukan main saat melihat bagaimana Dev menggoda dan menggandeng tangan Debora dengan posesif, padahal seharusnya dia senang anaknya bisa bertemu dengan orang sebaik Dev tapi bukan nyonya Miller namanya kalau tidak benci pada anaknya sendiri.
"Ck... Sial gadis itu kenapa dia selalu mendapatkan semua yang terbaik, harusnya kamu yang mendapatkan pria itu, dia itu tuan muda Nolan, kenapa kamu tak bisa mendekatinya?" Ucap Nyonya Miller.
"ck.. Mom benar ahhh sial sekali, sebaiknya kucoba mendekati tuan muda Nolan, ahh pasti menyenangkan menjadi kekasih pria setampan itu, " ucap Gretta sambil tersenyum manis.
"Nah gitu dong, kamu harus bisa mendapatkan apa yang kamu mau, dia harus jadi milikmu!"ucap Nyonya Miller mendukung keinginan buruk anak gadisnya.
Gretta menatap ke arah Dev dan Debora yang berjalan Keluar.
"lihat saja aku yang akan memiliki pria itu hahahahahahhaah" Gretta tertawa terbahak-bahak menatap Debora, kabut hitam menyelimuti tempat dia berdiri, sesuatu yang sangat menyeramkan masuk ke dalam tubuh gadis itu, sejenak matanya berubah menjadi hitam lalu kembali normal lagi.
Gretta masuk ke dalam rumah, dia berjalan dengan anggun layaknya seorang ratu, raut wajahnya begitu sombong dan angkuh dia menatap tajam setiap pelayan di dalam ruangan itu.
"Aku adalah ratunya disini hahhahahahah" gadis itu tertawa terbahak-bahak di tengah tengah ruangan depan mansion besar itu, seketika para pelayan merinding ketakutan saat melihat aura hitam itu mencuat kemana mana, Seram ya itu lah yang dirasakan saat melihat gadis itu.
Sementara itu Dev terus menggandeng tangan Debora sambil berjalan,
Graaaahhhhhhhh...
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttttttt.......
Suara gaib yang memekakkan telinga menghentikan langkah mereka berdua, Debora bahkan sampai merasa kesakitan saat mendengar suara melengking dari dalam mansion keluarga Miller.
"Arhhgggg... Shhhh suara apa itu," desis Debora sambil menutup telinganya.
Dengan cepat Dev menutup telinga Debora, lebih tepat menutup pendengaran Debora untuk sementara.
Beberapa detik berlalu, suara itu menghilang dan asap hitam membumbung tinggi ke angkasa dan dapat Dev dan Debora lihat asap itu begitu tebal dan hitam pasti ada roh jahat yang sangat kuat di sekitar tempat itu.
"Apa itu Dev,?" Ucap Debora yang reflek memegang tangan Dev, dia merinding saat melihat hal mengerikan itu.
__ADS_1
"Sepertinya ada iblis di sekitar tempat ini BoRa, tapi tenang tempat ini sudah dilindungi, hanya saja aku tak tau dimana posisi iblis itu, dia sepertinya yang terkuat dan sangat pintar mengelabui manusia bahkan pra penuntun roh," jelas Dev yang menarik Debora ke dalam rangkulan nya, dia tidak mau gadis itu kenapa kenapa karena pasti roh itu akan mengincar Debora orang yang mata batinnya terbuka.
"Mulai sekarang aku akan ikut terus denganmu, kau tidak boleh sendiri, dia akan mengincar mu, aku tau itu dan kita garus berhati-hati" ucap Dev.
"aku?" Tanya Debora sambil menunjuk dirinya yang dibalas anggukan kepala oleh Dev membuat Debora menelan kasar Salivanya.
"Ke..kenapa harus aku?" Tanya Debora yang sedikit takut dan Dev bisa merasakan itu.
"Karena mata batinmu terbuka," jelas Dev.
"jangan takut aku akan menjagamu, dan ini..." Dev mengeluarkan sebuah kalung berbentuk kristal, dia mengalungkan ke leher Debora dan seketika itu benda itu menyatu dengan tubuh Debora.
"Dia tak akan mengganggumu, roh jahat lain juga tak akan mengganggumu," ucap Dev tepat pada saat itu setetes air dari langit jatuh tepat di atas kepala mereka dan mengeluarkan cahaya biru menyelimuti tubuh mereka berdua.
Kalung bintang di tubuh Dev dan kalung kristal di tubuh Debora berkilau dengan sanagt terang lalu tiba tiba menghilang.
"Kita juga dibantu oleh dia," ucap Dev sambil menunjuk ke atas namun Debora tak melihat apa apa.
"Sudahlah, ayo kita ke kampusmu!" Ucap Dev sambil menggenggam tangan Debora.
"Apa harus berpegangan tangan begini?" Tanya Debora.
"Ck... Ahhh baiklah," jawab gadis itu dengan wajah kesal.
Dua buah mobil sport berwarna hitam berhenti di depan mereka.
Frank keluar dari dalam mobil dengan stelan kasual khas anak muda sesuai dengan apa yang diperintahkan tuannya melalui telepati saat Bora bersiap siap di rumah tadi.
"Silahkan tuan," ucap Frank menyerahkan kunci mobil pada Dev dan diterima oleh pria itu.
"Wahh kau sangat tampan nenek moyang, wow keren sekali!" Celetuk Debora sambil mengangkat ibu jarinya ke arah Frank.
"Anda terlalu berlebihan nona," jawba Frank sambil menunduk hormat.
"Memang tampan kok, "ucap Debora sambil tersenyum lembut.
"Sudahlah, kau memang tampan Frank, ayo berangkat!" Ajak Dev sambil membuka pintu untuk Debora, dan Frank berpindah ke mobil di belakang mereka.
Mereka melaju menuju kampus Berlin dimana Debora mencari ilmu.
__ADS_1
"wah pak tua kau ternyata jago bawa mobil ya tak kusangka, kupikir kau akan jadi orang kolot secara kau kan manusia purba," celetuk Debora dengan mata berbinar-binar menatap mobil mewah milik Dev itu.
Dev merotasikan kedua bola matanya, bersama gadis itu memang harus setia mendengarkan ocehannya, inilah yang membuat Dev heran kenapa bahkan Tak ada yang mau berteman dengan Debora padahal jika dilihat dia adalah gadis ideal tiep semua orang.
"Debo, aku heran kenapa tak ada yang mau berteman denganmu padahal kamu itu orang yang asik," tanya Dev.
Debora menatap Dev Yang menanyakan hal itu.
"Mungkin karena aku dianggap aneh dan gila," jawab Debora sambil tersenyum kecut.
Dev sadar saat melihat perubahan ekspresi gadis itu, dia menggenggam tangan Bora, "Kau tidak aneh, mereka saja yang tidak tau cara memilih teman yang benar, mereka semua bodoh!" Ucap Dev sambil mencolek hidung Debora.
"Hahahah kau benar Dev mereka semua bodoh hehehehe" balas Debora sambil terkekeh geli.
"Nah tertawa begitu dong, kan cantiknya keluar, gak usah sedih sedih, hidup cuma sekali kita jalanan dengan bahagia oke!"seru Dev dengan senyuman manis.
"Ookeee hahaha" balas Debora tak kalah semangat nya.
"Eh tapi apa yang akan mereka katakan nanti kalau kamu ikut ke kampus, mereka pasti mengenali mu," ucap Debora.
"Tenang saja, mereka tak akan sadar siapa aku bahkan kakakmu itu akan berpikir kalau aku adalah orang yang berbeda dan melupakan identitas asliku, hanya kamu dan kakakmu yang bisa lihat parasku dan tahu siapa aku," jelas Dev.
"ahhh baiklah kalau begitu," jawab Debora.
"Lalu kau apa yang akan kau katakan kalau mereka menanyakan tentang kita?" Tanya Dev.
"Eh... Itu... Ummm aku akan katakan kau adalah kakek moyangku," ucap Debora sambil tertawa meledek Dev.
"Heh nenek moyang apaan? Kalau ditanya ya bilang aja, dia milikku jangan ada yang berani sentuh, senggol dikit bacok!" Ucap Dev dengan wajah serius.
"Pfftttthhh hahahhahaha hahaha kau sangat lucu," Debora malah tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Dev yang selalu bisa membuat nya tertawa
.
.
.
like, vote dan komen 😊😊
__ADS_1