
Dev menggendong tubuh Debora yang terlelap dengan tenang dalam pangkuan Dev.
"Dasar gadis ini, bisa bisanya tidur disaat seperti ini, kau tak lihat mata Keluargamu sudah hampir keluar saat melihatku disini, kau memang pembuat onar!" batin Dev sambil menatap wajah Debora yang terlelap dengan damai.
"Silahkan lewat sini tuan," ajak tuan Beck menunjukkan rumah tempat Debora tinggal sendirian, tepat di samping gudang penyimpanan stok makanan untuk ternak.
"Jadi disini gadis ini tinggal," gumam Dev sambil menatap rumah kecil namun tertata dengan rapi dan apik itu, tampak disana Brian sedang duduk melamun bersama hewan hewan yang mengelilinginya.
Dev menatap Brian yang tampak sedih dan murung.
"Jadi dia kakaknya di pembuat onar ini?" ucap Dev sambil menatap Brian.
Louis langsung berlari menghampiri Brian yang melamun.
"Brian, Debora pulang!" ucap Louis yang menyadarkan Brian dari lamunannya.
"Ha!! Debora? Bora adikku pulang!!! dimana dia!!!" ucap Brian dengan rajah terkejut sekaligus senang, dia langsung beranjak berdiri.
Matanya tertuju pada pria yang tak asing baginya, pria yang menjadi salah satu orang terbesar di negeri itu, namun dia tidak peduli entah dia pria penting atau tidak.
"Debora!!" pekik Brian saat melihat Debora di gendong oleh Dev.
"Ssstt..." ucap Dev yang tak ingin tidur si pembuat onar terganggu dan Brian menurut.
"Mana kamarnya?" tanya Dev pelan.
"Masuklah kesini!" ajak Brian sambil membuka rumah kecil , Brian berjalan lebih dulu dan membukakan pintu kamar adiknya.
"Disini," ucap Brian pelan sambil membuka pintu kamar Debora.
Tampaklah sebuah Single Bed yang tidak terlalu besar dengan deretan buku buku yang tersusun rapi di sisi kamar itu serta deretan foto yang disusun oleh Debora.
Kamar yang sederhana namun ditata dengan rapi dan unik membuat siapa pun nyaman dalam kamar itu.
"Dia memang hebat dalam menata ruangan," gumam Dev yang masih bisa di dengar oleh Brian.
Dev meletakkan tubuh Debora di atas tempat tidur lalu menutupi tubuh gadis itu dengan selimut dan memastikan agar Debora nyaman dan tidur dengan nyenyak.
Setelah selesai, Dev keluar dan menemui keluarga Debora yang menunggunya di luar kamar itu.
"Apa dia tinggal sendirian disini?" tanya Dev dengan tatapan mata datarnya.
"I..iya tuan, sesekali dia akan tinggal di rumah kami yang ada di depan rumah besar ini tuan," jelas tuan Beck.
"Hmmm baiklah," ucap Dev.
__ADS_1
"Tuan bagaimana anda bisa bersama adik saya?" tanya Brian yang masih diselimuti oleh rasa khawatir, dia takut kalau adiknya yang sangat disayanginya dilukai oleh orang lain.
"Ahhh dia yang menemukanku, jadi aku membawanya ke tempat ini, dia baik baik saja selama bersamaku, jangan khawatir dia aman!" ucap Dev yang paham dan bisa melihat dnegan jelas kalau orang orang do depannya itu tampak khawatir dan bingung pastinya.
"Syukurlah, terimakasih banyak telah menyelamatkan Debora tuan muda Nolan," ucap Nyonya Beck sambil membungkuk hormat diikuti oleh suami dan anaknya.
Tak ada nada yang terdengar berlebihan dan mereka tulus berterimakasih pada Dev karena telah menyelamatkan Debora dan bahkan membawanya pulang ke rumah.
Dev tersenyum tipis, dia tau mereka berempat tulus dan inilah yang membuat Dev sedikit tenang, setidaknya ada orang yang menyayangi Debora disini.
"Bukan masalah besar Nyonya, dia justru yang menyelamatkanku!" ucap Dev dengan nada ambigu.
"Maksudnya tuan?" tanya tuan Beck.
"Ahh tak ada, bukan hal penting," ucap Dev.
"Lalu kalian siapanya gadis pembuat onar itu? Ekhmm... maksudku kalian siapa bagi Debora?" tanya Dev.
"Saya Brian Kakak laki lakinya, " ucao Brian memperkenalkan diri sebagai.
"Kami keluarga Pamannya, keluarga Beck, ini istriku dan dia putraku Louis," ucap Tuan Beck memperkenalkan diri mere pada Dev.
"Hmmm aku mengerti, lalu ketiga orang tadi siapa?" tanya Dev sambil menatap mereka dengan tatapan menelisik.
"Mereka... me.. mereka," Brian tergagap.
"Hmmm terserah, toh aku sudah tau siapa mereka," ucap Dev cuek.
"Tak apa kan jika aku ada di tempat ini untuk sementara waktu?" tanya Dev.
"Bu..bukan masalah tuan," jawab Tuan Beck.
"Baiklah," ucap Dev.
"Aku akan berkeliling sebentar, beritahu aku jika dia bangun," ucap Dev sambil keluar tanpa menunggu jawaban dari mereka.
Dev keluar menemui Frank dan para pengawalnya yang menunggunya.
"Tuan apa nona sudah bangun?" tanya Frank.
"Kenapa kau menanyakan itu?" tanya Dev.
"Saya hanya ingin merubah penampilan ini, saya tidak nyaman ditatap terus oleh perempuan aneh itu!" ucap Frank sambil menunjuk keluarga Miller yang tidak diperbolehkan masuk ke dalam area peternakan tanpa seizin Tuan Beck.
"Ck... kau ini ada ada saja,sudah ku bilang nikmati saja, dasar tidak tau bersyukur, dia bisa saja mengubah dirimu lagi tapi mungkin menjadi rupa yang menjijikkan, katak berlendir dengan lubang besar atau mungkin menjadi lintah, atau..." Dev berhenti saat Frank memotong perkataannya.
__ADS_1
"Baik tuan baik saya akan menerimanya dengan senang hati, saya tidak akan minta yang aneh aneh lagi," jawab Frank dengan sungguh sungguh.
Dev tersenyum tipis dia sangat tau kalau Frank sangat benci dengan rupa seperti itu. Pernah sekali Dev mengubah Frank menjadi seekor lalat, pria itu bahkan tidak mau keluar dari dalam kastil dan merengek siang malam karena rupanya diubah menjadi hewan menjijikkan.
Bayangkan saja dia diubah bukan hanya sebagai seekor lalat biasa, tetapi seekor kalau dengan tubuh besar, perut gemuk berbulu, mata besar berwarna oranye, kaki dan tangan yang tipis, punggungnya diisi dengan belatung dan sayapnya sangat jelek, mulutnya bagaikan bunga terompet yang sudah layu, jangan lupakan lubang lubang di atas kepalanya yang menjadi tempat keluar masuk belatung, sungguh menjijikkan.
"Nah kalau begitu kan bagus, sudahlah ayo berkeliling," ucap Dev sedikit terkekeh.
Sementara mereka berkeliling, keluarga Beck langsung memeriksa keadaan Debora di dalam kamar, mereka melihat Debora yang tidur dengan tenang dan tampak wajah gadis belia itu sangat sehat dan segar.
"Dia begitu tenang tidurnya, sepertinya dia baik baik saja," ucap Nyonya Beck yang menggenggam tangan Debora dengan perasaan lega karena gadis itu kini di dekat mereka.
"Syukurlah dia pulang dengan selamat, hanya saja aku bingung bagaimana bisa dia bertemu dengan tuan Nolan," ucap Louis.
"Sudah jangan banyak bertanya, yang penting Debora sudah pulang ke rumah itu poin utamanya, kita harus berterimakasih pada tuan Nolan karena sudah menyelamatkan Debora," ucap tuan Beck.
"Ya Paman Benar, apalagi ini berhubungan dengan tuan muda Nolan, tidak sembarang orang bisa bertemu dengannya, memang mengherankan bagaimana Debora bisa mengenal pria itu," ucap Brian.
"Dia seorang Cassanova, jangan sampai Debora dia permainkan juga, aku hanya khawatir dengan Debora," ucap Louis.
"Kita hanya bisa berharap kalau dia tidak menyakiti Debora, dari yang kulihat dia memperlakukan Debora dengan baik," ucap Tuan Beck yang dibalas anggukan oleh mereka semua.
Sementara itu di luar rumah, Dev dan Frank tengah berkeliling, tampak Keluarga Miller yang begitu penasaran menatap mereka dari pinggir pagar peternakan.
"Bagaimana bisa dia bertemu dengan si pembawa sial itu arhhhhh kenapa dia tidak mati saja!!!!" gerutu Gretta sambil mengacak acak rambutnya frustasi karena Debora kembali dnegan selamat bahkan bersama seorang Tuan muda Nolan yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis.
"Sial, bagaimana dia bisa kembali dnegan selamat!!"kesal Nyonya Miller.
"Kalian tidak melakukannya dengan benar, entah kesialan apa lagi yang akan menimpa kita dasar bodoh!" ketus tuan Miller sambil menatap kesal ke arah anak dan istrinya.
Si ujung peternakan itu, Dev tampak tersenyum tipis mendengar percakapan keluarga Miller yang begitu membenci kehadiran Debora di sekitar mereka.
"Kalian ini keluarga atau apa? sungguh menjijikkan!" ketus Dev sambil menatap tajam ke arah mereka bertiga.
Tiba-tiba salah seorang pengawalnya berlari menghampiri dirinya.
"Tuan, Nona Debora sudah bangun, dia mencari anda!" ucap Pengawal itu.
"Ayo kesana," ucap Dev dengan wajah datarnya itu.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😉😉 up to