
Bruk....
Debora bertubrukan dengan seorang pria tinggi yang tampan dengan wajah khas Eropanya.
"Maaf maafkan saya nona," ucap Pria itu.
"Ahh saya juga minta maaf tuan, saya tidak hati hati tadi," ucap Debora.
"Loh bukannya kamu Debora? mahasiswa kampus Berlin kan?" ucap Pria yang ternyata mengenali Debora.
"Ahh i..iya? bagaimana kamu mengenalku?" tanya Debora.
"Aku juga satu kampus denganmu hanya saja beda jurusan, aku jurusan musik," ucap pria itu.
"Perkenalkan namaku Max Baylor, " ucap pria tinggi itu sambil menjabat tangan Debora.
"Ahh salam kenal, pantas wajahmu tidak asing," ucap Debora.
"Apa kau pernah melihatku?" tanya Max.
"Sesekali jika di kampus," jawab Debora singkat.
"Hmmm kalau begitu salam kenal ya, mau ke groceri juga?" tanya Max yang dijawab anggukan kepala oleh Debora.
Max membukakan pintu untuk Debora, "Ladies first!" ucapnya sambil mempersilahkan Debora masuk.
"Thanks Max!" balas Debora sambil tersenyum ramah.
"Ternyata dia gadis yang ramah, tapi rumor tentang dirinya di kampus sangat buruk, hmmm ini akan menarik," batin Max sambil menatap punggung Debora yang berjalan mendahuluinya.
Burung merpati alias Xavier menatap tajam ke arah Max yang sedari tadi memandangi Debora.
"Bora aku pergi dulu, sampai jumpa lagi," ucap Xavier yang di balas anggukan oleh Debora.
Xavier terbang dengan cepat di atas kepala Max dan dengan sengaja mematuk Kepala pria itu.
"Awhh... awh... arhhh burung sialan!" umpat Max saat tatanan rambutnya dirusak oleh Xavier.
"Debora apa hewan itu bersamamu tadi?" tanya Max yang sudah masuk ke dalam Groceri dan berdiri di samping Debora yang sedang telepon apa ganti nomor memilih bahan bahan makanan.
"Hmm? ahhh merpati itu? ya dia bersamaku tadi," ucap Debora santai sambil mengambil barang barang yang dia butuhkan.
"Ahhh aku mengerti," ucap Max sambil mengangguk.
Debora dan Max melanjutkan aktivitas mereka, sesekali tampak Max bertanya pada Bora mengenai bahan makanan yang akan di pilihnya dan tampak mereka saling melempar canda satu sama lain.
Dari luar Groceri itu, seekor burung hantu bertengger di atas atap Gazebo yang terdapat di depan Groceri itu, dia menatap Debora dan Max yang tampak sangat serasi dan cocok satu sama lain.
"Cihh... sepertinya kau punya saingan Dev, kulihat dia pria yang cukup baik untuk bersama dengan Debora, apalagi dia dilahirkan dari keluarga bangsawan Jerman, kau akan kalah saing," ledek Xavier yang kini berubah rupa menjadi seorang pria muda yang tampan yang duduk di bawah atap Gazebo itu.
Dev memutar malas kedua bola matanya, dia turun dari atap dan...
__ADS_1
Swooshhhh
Seketika dia berubah menjadi sosok Dev dalam rupa manusia, pria tampan berkharisma dengan sejuta pesonanya.
"Aku kalah saing dengan pria jelek itu? heh apa kau tak melihat rupaku ini Xavier?" ucap Dev sambil duduk di kursi di bawah gazebo itu.
"Ck... ini bukan soal rupa Dev ini bagaimana cara memperlakukan wanita dengan baik seperti ya g dilakukan pria muda itu, cih dia pasti akan memenangkan hati Debora dan aku tidak akan menemukan cinta sejatimu," ejek Xavier.
"Grrhhhh dia sudah ditakdirkan untuk melepaskan kutukanku, dia hanya boleh jatuh cinta padaku!!!" geram Dev.
"Ck .. ck... ck... kau akan membuatnya jatuh cinta padamu tanpa membalas cintanya? naif sekali dirimu Dev, kau pikir itu ya g dinamakan cinta sejati, cih itu cinta sepihak bodoh!!" ejek Xavier.
"Ck.. tau apa kau tentang cinta !" ketus Dev.
"Aku tau banyak Dev, dan kau tau tidak cinta yang kau harapkan itu adalah cinta yang menyakitkan, dia akan tersiksa seumur hidup jika kau melakukan itu!" ucap Xavier.
"Ck... kau tau aku tidak punya perasaan itu, bagaimana aku bisa membalasnya!" ucap Dev marah.
"Terserah padamu, cih sok sudah dicintai, dasar pria bodoh, mendekati seorang wanita saja kau tak bisa," ejek Xavier lalu dia berbuah menjadi merpati dan terbang tinggi ke angkasa.
"Belajarlah untuk mencintai Dev, sudah terlalu lama kau melihat kematian sampai kau melupakan bagaimana mencintai seseorang, ahhh kenapa kau bodoh sekali, "batin Xavier sambil menatap Dev dari atas langit.
Dev duduk termenung di bawah Gazebo itu, dia memikirkan perkataan Xavier.
"Apa susahnya mencintai seseorang kenapa aku tidak bisa? ck .. sungguh konyol hidupmu Dev," ucapnya merutuki diri ya sendiri.
Dev berdiri dia melihat Debora yang sedang asik memilih bahan masakan di dalam Groceri itu.
"Ada apa tuan?" tanya Frank sambil keluar dari dalam mobil.
"Kalian pergilah terlebih dahulu, aku akan menemani gadis itu, jika kupanggil baru kau datang," ucap Dev.
"Baik tuan," ucapnya sambil menunduk hormat.
Dev berjalan menuju Groceri itu dan menghampiri Debora, dia mengenakan masker dan kacamata agar tidak dikenali oleh orang-orang karena akan sangat merepotkan jika orang lain tau siapa dirinya.
Debora sedang asik memilih buah buahan dengan Max yang ikut berdiri di sampingnya.
"Hmmm kurasa ini akan enak jika di buat menjadi es buah," gumam Debora sambil mengangkat sebuah Melon yang sudah matang dan aromanya sangat harum.
Tiba-tiba seseorang mengambil melon itu dari tangannya membuat Debora dan Max menoleh pada sosok itu.
"Ini cocok dimakan langsung, sangat segar, buat apa di tambah Es kau akan batuk kalau kebanyakan Es," ucap pria yang tak lain adalah Dev itu.
Debora menatap pria itu, Max yang merasa dirinya dan Debora diganggu langsung mengambil kembali buah itu dari tangan Dev.
"Anda siapa? kenapa tiba tiba mengganggu kami!" ucap Max dengan tatapan kesal.
"Hai pembuat onar!" sapa Dev sambil membuka kacamatanya dan menatap Debora namun dia tidak melepas maskernya.
Mata Debora terbelalak saat melihat pria yang ditunggunya sejak tiba di rumah ternyata menemuinya di Groceri.
__ADS_1
"Hai Dev!!!!" ucap Debora dengan senyum sumringah di wajahnya, dia langsung menghamburkan pelukannya pada Dev saking bahagianya melihat Dev kembali dan menemui dirinya.
"Heheheh apa kau merindukanku?" tanya Dev sambil membalas pelukan Debora dan tersenyum smirk sambil menatap Max yang tampak tidak suka dengan Dev dan Bora yabg tengah berpelukan itu.
"Dia milikku,dan tak akan kubiarkan siapa pun menyentuh gadis ini, aku akan belajar mencintainya!! Kau tak boleh mendekati nya!" batin Dev.
"Tentu saja, aku tida sabar ingin bermain lagi denganmu hahahahha," kekeh Debora sambil melepaskan pelukannya.
"Wah kau ini ternyata nakal ya," ledek Dev.
"Cihhh...mana Frank, kenapa dia tidak ikut?" tanya Debora.
"Dia malu dengan wajah tampannya, terakhir kali dia diserang gerombolan gadis gadis karena mengira dirinya artis," ucap Dev.
"Pfftttthhh hahahhahaha,aku tak bisa membayangkan bagaimana wajah pria itu saat itu, dia pasti syok hahahahha," kekeh Debora.
"Ya kau benar dia sangat kesal!" ucap Dev sambil melemparkan tatapan menantang ke arah Max tang sudah berwajah masam karena sejak tadi dia terus dicueki oleh Debora.
"Siapa dia?" tanya Dev.
"Ahhh perkenalkan dia Max, satu kampus denganku, Max perkenalkan dia Ummm harus kupanggil apa kau Pak Tua?" ucap Debora dengan tatapan jahil.
"Ck... panggil Dev dasar kau ini!" ketus Dev sambil mengacak-acak pucuk kepala Debora.
"Heheh,dia Dev Max," ucap Debora.
"Salam kenal Max," sapa Dev sambil tersenyum ramah.
"Cih pencitraan!" umpat Max dengan wajah kesal
"Rasakan kau hahahaha,"Dev tertawa di dalam hatinya.
"Salam kenal Dev, ahh kalau kau memakai masker aku tak akan mengenalimu, bolehkah buka maskernya?" tanya Max.
"Dengan senang hati," ucap Dev sambil membuka maskernya dan tampaklah wajah penuh kharisma yang sangat tampan dan elegan.
"Siapa pria ini, kenapa dia begitu mendominasi,"batin Max yang sempat terpukau dengan wajah Dev.
"Wah kau semakin tampan hahhaha," kekeh Debora.
"Tentu saja," jawab Dev.
"Aku menang telak Max hahahah," ucapnya dalam hati.
.
.
.
like, vote dan komen 😉😉😉
__ADS_1