
Dev dan Debora sama sama mematung dalam posisi itu, tak ada satu pun dari mereka yang bergerak.
Jantung mereka berdegup kencang, sentuhan Dev di pinggang Debora memberikan gelenyar aneh pada diri gadis itu, sentuhan bibir Debora memberikan gelenyar aneh di hati Dev.
Deg... deg... deg..
"Debora!!" panggil seseorang dari luar, keduanya tersadar dengan posisi ambigu mereka masih dengan bibir yang saling bersentuhan.
Dev dan Debora terbelalak, mereka langsung menjauhkan diri mere masing-masing. Debora sontak menarik wajahnya dan berjalan mundur bersamaan dengan Dev yang melepas pinggul Debora dan bangkit berdiri lalu menatap ke arah lain sambil menetralkan pikirannya.
Debora merona begitu juga dengan Dev namun disembunyikan oleh pria itu sambil menatap ke jendela luar dan menggaruk lehernya.
"Ekhmm.... maaf," cicit Debora yang hanya di balas anggukan oleh Dev.
rgil
"Deboraaaa..." panggil seseorang lagi dari luar.
"i..iya sebentar!" ucap Debora .
"A.. aku ke depan dulu," ucap Gadis itu tergagap berusaha menyembunyikan rasa gugupnya dari Dev.
"Pergilah!" jawab Dev tanpa menoleh.
Debora pergi sambil memegang dadanya yang terasa berdegup kencang. Ciuman pertamanya hilang begitu saja.
"Ahhhh apa itu, kenapa tiba tiba ada yang mendorongku, tiidaaakk itu ciuman pertama ku dan kuberikan pada roh itu arhhhh!!!" gerutu Debora sambil berjalan menuju pintu depan .
Sementara itu di dalam dapur, tampak Dev tertegun dia mengingat kejadian tadi saat tubuh Debora berada tepat di atasnya, dan bibir mungil itu menyentuh bibirnya.
"*Manis, wait apa??" Dev bergelut dengan dirinya sendiri.
"Ohh kau sudah gila Dev, ahh tapi bibirnya lembut sekali, dan kenyal ingin kucicipi... tidak tidak ck.. apa yang kau pikirkan dasar bodoh, dia itu bukan wanita murahan*!" Dev merutuki diri ya sendiri karena berani berpikir tidak tidak tentang Debora.
"Ahhhh disini kenapa terasa sangat nyata? seperti tubuhku kembali lagi, mata itu bersinar," ucapnya lagi sambil senyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi.
"oh tidak Apa yang kau pikirkan Dev, Jangan memikirkan hal yang tidak tidak, ahhh tapi rasanya sangat manis," lihat kembali bergelut dengan pikirannya sendiri.
Sementara itu di depan, Debora membukakan pintu untuk seseorang yang sangat dikenalinya, dia adalah Brian yang pulang untuk makan siang dan selalu minta di masakan oleh Debora.
Seperti perkataan Brian sebelumnya Dia benar-benar memutuskan hubungannya dengan keluarga Miller, Brian sekarang tidak tinggal lagi dalam rumah besar keluarga Miller.
Brian tinggal di rumah keluarga Beck bersama paman bibi dan sepupunya, jika butuh makan siang di akan datang ke tempat Debora seperti saat ini. Meski bibitnya sudah menyediakan makan siang di rumah, dia lebih senang menikmati makanan adiknya.
"Kak Brian, ayo masuk!" ajak Debora, wajah Gadis itu masih saja merona mengingat kejadian tadi.
"Ada apa denganmu Debora apakah kamu sakit?" tanya Brian yang mengkhawatirkan kondisi Debora.
__ADS_1
"Wajahmu merah sekali apakah kamu demam ?" tanya Brian lagi dengan raut wajah khawatir.
Brian meletakkan tangannya di kening Debora dan mengecek suhu tubuh gadis itu.
"A.. aku Tidak apa-apa Kak, hanya sedikit kepanasan saja tadi," kilah Debora sambil berusaha menetralkan pikirannya .
" kepanasan? memangnya Apa yang kau lakukan?" tanya Brian.
"Ahh aku tadi baru memasak jadi sedikit gerah," ucap Debora berbohong.
"Wah memasak? cepat sekali kakak sudah lapar, kakak masuk dulu ya Kakak mau makan," ucap Brian yang langsung masuk ke dalam rumah tanpa menunggu jawaban dari Debora.
"Eh... Kak tunggu dulu," panggil Debora. Namun semua sudah terlambat Bryan sudah terlebih dahulu masuk dan menyelonong kedalam dapurnya.
Brian melangkah dengan langkah penuh semangat menuju dapur Debora, dia sangat menyukai masakan garis itu karena rasanya sangat unik dan enak.
Brian masuk dengan senyum sumringah namun alangkah terkejutnya dia saat melihat sosok tuan muda Nolan sedang duduk di meja makan itu sambil memijit pelipisnya.
"Eh.. tu..tuan muda Nolan," ucap Brian yang langsung membuat Dev menoleh ke arahnya.
"Kita berjumpa lagi Brian," sapa Dev ramah yang dibalas anggukan oleh Brian.
"Ohh jadi ini yang buat Debora kepanasan?" batin Brian sambil menatap Dev.
"Debora kepanasan? hmm apa disini tidak ada AC, sekarang kan sudah canggih, harus ada AC agar doa tidak kepanasan," batin Dev yang mendengar suara batin Brian sambil menatap seluruh ruangan itu.
deg deg deg deg deg deg
Lagi Dan Lagi jantung keduanya berdegup kencang, bagaikan sedang lari maraton mengelilingi lapangan sampai 10 kali membuat mereka benar-benar gugup satu dengan yang lain apalagi setelah mengalami kejadian ambigu beberapa menit yang lalu.
"Kenapa tidak bilang ada tuan muda Nolan Deb?" tanya Brian yang membuyarkan tatapan keduanya.
"Ahh tadi mau bilang tapi kakak langsung pergi, jadinya udah ketemu dulu," jawab Debora dnegan suara yang benar benar gugup.
"Kamu kenapa sih, kok merah gitu wajahnya?" tanya Brian yang merasa aneh dengan sikap adiknya.
"Eh.. eng.. enggak apa apa kok Kak," kilah Debora sambil menggaruk tengkuknya.
"Apa mereka berciuman?" batin Ken yang sontak membuat Dev terbatuk saat mendengar batin Brian.
Dev memang bisa mendengar suara hati Debora, namun terkadang dia tak bisa mendengarnya seperti ada sesuatu yang menghalanginya untuk mendengar suara hati gadis itu.
"uhukk..uhuk.. " Dev terbatuk, cepat cepat Debora meraih gelas dan memberikannya pada Dev.
"Minum dulu," ucap Debora yang spontan menepuk-nepuk punggung Dev.
"Terimakasih," jawab Dev menerima gelas berisi air putih hangat itu.
__ADS_1
Brian terbelalak kaget melihat kedekatan mereka berdua, bahkan cara bicara Dev yang benar benar berbeda dengan caranya bicara dnegan lawan bisnis maupun orang lain.
"Sepertinya aku mengganggu waktu kalian, KA.. kalau begitu aku pergi dulu, Debora nanti Kaka makan malam ya, tuan saya permisi, bye bey!!" teriak Brian yang sudah lari kocar kacir meninggal mereka berdua yang menatap aneh pada pria itu.
Debora masih setia menepuk-nepuk punggung Dev sambil menatap kepergian kakaknya padahal Dev sudah tidak batuk lagi.
Dev melirik ke arah Debora yang melamun sambil menepuk nepuk punggungnya.
"Kenapa aku tak bisa mendengar apa isi pikirannya?" batin Dev.
"Ekhmm.... aku sudah baikan, apa kau akan terus menepuk punggung ku sampai memar hmm?" tanya Dev dengan suara serak serak basahnya.
Debora terkesiap, dia segera melepaskan tangannya dari punggung pria itu.
"Eh... ma..maaf," cicit Debora.
"Hmm... kalau begitu aku pergi dulu, terimakasih atas makanannya," ucap Dev sambil bangkit berdiri.
"Pergi? tak bisakah kau disini?" tanya Debora.
"Disini?" tanya Dev dan Debora mengangguk.
"Ahh berani sekali gadis ini, apa dia tidak berpikir kalau aku tetap saja seorang pria dan barusan kami, kami baru saja berciuman dan sekarang dia memintaku tinggal disini?" batin Dev yang benar benar pusing dengan sifat gadis di depannya itu.
"Kumohon jangan tinggalkan aku sendirian disini," ucap Debora sambil menarik narik lengan baju Dev.
"Apa kau tidak takut denganku Debora? tetap saja aku ini seorang pria!" ucap Dev sambil berkancah pinggang.
"A..aku yakin kau pria baik dan tidak akan macan macam padaku, buktinya kau menjagaku dengan baik saat di hutan hitam waktu itu," ucap Debora sambil menatap Dev dengan tatapan penuh harap kalau pria itu akan memenuhi permintaannya.
"kumohon, kau kan sudah berjanji waktu di hutan hitam," cicitnya lagi.
"Ck... arhhh baiklah, tapi biarkan aku menyelesaikan pekerjaan ku dulu!" ucap Dev.
"Yey," gadis itu berlonjak bahagia.
"Sepertinya dia punya alasan kuat untuk menahan ku disini," batin Dev.
"*Aku senang, aku tidak akan ketakutan lagi, Dev akan menemaniku, aku takut melihat monster seperti di kastil waktu itu, aku takut kawanannya akan mengikuti ku," batin Debora.
"Apa? jadi itu alasannya*," ucap Dev sambil menatap Debora.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😉😉😉😊😉