Oh My Dev-iil

Oh My Dev-iil
Kembali ( End)


__ADS_3

Seperti yang dikatakan Gretta semalam, Debora akan mengikuti kencan buta hari ini, dia berusaha untuk melupakan dev dengan mencoba untuk membuka hatinya meski tidak akan mungkin dia lakukan.


Ini adalah kencan butanya yang ke 10 kali, ya Gretta menghitung total waktu kencan buta yang dilakukan adiknya itu selama ini, untuk menemukan pelabuhan baru, namun tak ada satu pun yang bisa menarik hati debora.


Brian dan Gretta resah dengan kondisi mental adik mereka, sebisa mungkin mereka menghibur Debora yang terus menerus murung dan tidak bersemangat, dia benar benar patah hati.


Debora memakai pakaian yang diberikan oleh Gretta, dia ikut saja dengan semua yang dilakukan kakak perempuannya. Dia didandani sangat cantik hari ini, seperti sebuah hari spesial.


“Kau sangat cantik Debora,” puji Gretta yang puas dengan hasil kerjanya di wajah cantik Debora.


Gadis itu tersenyum paksa, hatinya benar benar tak berniat untuk melakukan hal ini, dia benar benar telah menutup hatinya.


“Ayo kita keluar, Mom dan Daddy pasti senang melihatmu cantik seperti ini,” ucap gretta dengan penuh semangat.


“Huh... baiklah,” jawabnya sambil mendesah berat.


Gretta tersenyum dia menggandeng lengan adiknya dengan lembut dan menariknya keluar.


Gadis itu keluar dari kamarnya, penampilannya begitu cantik hari ini, make up polos dan gaunnya yang begitu indah membalut tubuhnya dan membuat dirinya begitu elegan.


Mom dan Daddy mereka terkejut melihat penampilan Debora yang begitu cantik.


“Cantik sekali anak Mommy,” ucap Nyonya Miller sambil menggenggam tangan putrinya.


“Kamu terbaik sayang, mau kencan ya ? semoga berhasil sayang,” ucap tuan Miller seraya melemparkan senyumannya pada Debora.


“Ayo kita berangkat, “ ucap Brian yang juga telah menunggu mereka.


“Ayo kak,” ucap Gretta dan Debora menurut saja tanpa ada semangat dari dirinya.


“Mom kami pergi dulu, doakan semoga Bora bisa kemabli seperti dulu,” ucap brian sambil memeluk Mommynya dari belakang.


“Tolong bantu dia nak,” ucap nyonya Miller dengan wajah sedih.


Akhirnya mereka bertiga berangkat menuju sebuah restoran cina yang cukup terkena di daerah itu, restoran dengan sebuah kolam dan jembatan yang menghubungkan antara pintu masuk dengan restoran bergaya sejarah Cina itu.


Ketiganya melenggang masuk ke dalam restoran itu, tampak seorang pria duduk di sebuah meja yang sudah di pesan sebelumnya.


“Nah itu dia orangnya dek, kamu kesan gih samperin aja, dia udah kenal dan kamu juga kenal kok sama dia,” ucap Gretta.


Bora mengangguk pelan, dia benar benar malas hari ini, dia ingin segera mengakhiri pertemuan ini dan kembali ke rumah kekasihnya yang sudah kosong selama 6 bulan terakhir, bahkan perusahaan pria itu kini diurus oleh wakilnya yang tidak tau kemana tuan mereka pergi.


Brian dan Gretta meninggalkan adiknya disana setelah menunjuk seorang pria yang duduk membelakangi mereka. Keduanya pergi dan mengambil tempat duduk lain sembari mengawasi Bora dari tempat itu.

__ADS_1


Bora menghela nafas berat, setiap kali melihat pria lain, dai akan mengingat kekasihnya yang sudah lama pergi dan lagi hatinya akan sangat sakit jika mengingat hal itu.


Dia berjalan dengan pelan tanpa semangat,


Brukk


Seseorang menabrak bahunya membuatnya sedikit terhuyung, seorang pria dengan kacamata hitam dan masker tanpa sengaja menubruk bahu gadis itu.


Debora hanya menunduk sambil meminta maaf, bahkan suaranya terdengar begitu tidak bersemangat.


“Maaf,” ucapnya pelan lalu melanjutkan langkahnya menuju meja tadi.


Pria misterius itu juga ikut membungkuk, dia pergi dari sana.


Debora berjalan dengan lesu, dilihatnya kalender yang terletak di atas meja itu, sambil duduk di depan pria itu dia menatap tanggal di kalender itu.


“Ahhh ini bulan ke enam kau pergi,” gumam Bora dengan wajah murung.


“Hai Bora,” sapa seseorang yang suaranya terdengar akrab di telinga Debora, sekilas gadis itu menoleh dan melihat siapa yang ada di depannya.


“Ahh Max, ternyata kau, kupikir siapa,” ucap Bora sambil menatap kalender meja itu.


“kau terlihat sangat cantik hari ini,” cap Max sambil menggaruk garuk tengkuknya, Bora tak menanggapi dia benar benar berubah menjadi gadis yang dingin.


“Bora, bagaimana kabarmu? Kita sudah lama tak bertemu, aku pindah ke Inggris, Gretta menghubungiku untuk sekedar reuni teman sekampus, dan aku sudah mendengar cerita tentangmu, aku turut berduka,” ucap Max sambil menatap gadis itu.


“Ummm.... apa kau mau jalan jalan bersamaku, maksudku setidaknya kau bisa mengobati hatimu meski kurasa itu tidak akan...” Max berhenti bicara saat melihat Debora berdiri dan menatapnya dengan mata berkaca kaca.


“Maaf Max, aku tak bisa melanjutkan ini, aku... aku tidak bisa, maaf,” lirih gadis itu sambil menatap Max dengan tatapan Sendu.


Ya, Bora semakin kacau hari ini, semakin hari kondisinya semakin memburuk, Max yang sudah mendengar kondisi Bora dari Gretta pun paham dan tak berharap lebih meski sebenarnya menaruh hati pada gadis yang patah hati itu sejak pertemuan mereka di groceri waktu lalu.


“Loh Bora, mau kemana itu kak, Bora...”


Brian menahan tangan Gretta ,”beri dia waktu dek, ini sepertinya hari peringatan kematian pria itu, ahhkk kasihan dia,” ucap brian sambil menatap adik perempuannya yang sudah berjalan keluar dari restauran.


“Tapi kak,”


“Sudah tak apa, percaya padanya dan beri dia waktu,” ucap Brian yang di balas anggukan kepala oleh Gretta.


Debora berjalan sambil menundukkan kepalanya, dia menangis, hatinya kembali sakit, dia mengingat kekasihnya lagi, benar benar hancur sudah hati gadis itu.


“hiks hiks hiks.... dev.... kembalilah kumohon,” ucap Debora sambil berdiri di pinggir kolam restoran itu, air matanya membasahi pipinya, wajahnya memerah, bahunya naik turun, dia menangis sesenggukan di pinggir kolam itu meratapi nasib percintaannya yang malang.

__ADS_1


“Kenapa, ahhh aku tak bisa tanpamu, Deevvv hiks hiks hiks....” dia menangis tersedu sedu disana.


Tiba tiba ada tanagn seseorang yang menyodorkan sebuah sapu tanagn berwarna biru dengan lamabang kepala burung hantu.


“Pakailah,” ucap orang itu.


Debora melihat lambang itu, lambang yang lekat dengan ingatannya akan Dev.


“Terimaksih,” ucap gadis itu sambil menerima sapu tanagn itu tanpa menoleh, dia mengusap air matanya.


Tiba tiba tangan kekar seseorang melingkar di pinggangnya yang ramping membuat Debora terperanjat kaget, dia menoleh danmelihat seorang pria denagn kacamata dan masker, pria yang sama dengan pria yang menubruk bahunya tadi.


“Aku merindukanmu,” ucapnya sambil melepaskan masker dan kacamata hitam itu.


Mata Debora membulat, dia terbelalak melihat siapa yang meme,luknya dari belakang, dia adalah Dev kekasihnya yang sudah lama pergi.


“Dev? A... apa ini? Au tidak mungkin berhalusinasi, Dev.... hikshiks hiks... apa benar ini kau? Deevvvv..... huaaaaaaa......... hiks hiks hiks.....” Debor aseketika menangis histeris dia menghamburkan pelukannya pada pria yang benar benar dirindukannya itu.


Mata itu, wajah itu, suara, deru nafas bahkan aroma tubuh pria itu smeuanya dirindukan oleh Debora.


“kau jahat, hiks hiks hiks.... kenapa baru datang sekarang, kenapa baru tiba sekarang Dev, hiks hiks aku merindukanmu....” ucap Debora sambil memukul mukul dada Bidang Dev.


“Maaf aku lama sayang, ternyata Xavier masih memebrikanku kesempatan untuk hidup, ini semua untuk mu untuk makhluk cantik yang setiap hari menangis merindukan monster menyeramkan ini,” ucap Dev sambil memeluk Debor adengan erat.


Sama hanya dengan Debora, Dev juga merindukan kekasihnya, pagi tadi dia kembali setelah berkelana lama di antara dua dimensi, dia telah mengantarkan seluruh arwah orang mati yang terikat di pohon roh, dan roh iblis telah disegel di neraka untuk selamanya.


Tugasnya di akhirat telah selesai, kini dia mengemban tugas baru yaitu untuk hidup dengan bahagia bersama Debora.


Dev juga menangis, dia terharu, dia berpikir kalau dia tak akan bisa kembali lagi, namun nyatanya Xavier memberi hadiah yang begitu indah bagi mereka berdua.


Dev menatap wajah Debora yang masih menangis tersedu sedu, “ maaf sayang, husshh.... jangan menangis lagi, semua akan baik baik saja, aku akan mendampingimu sampai selamanya,” ucap Dev sambil tersenyum.


“Terimaksih sudah kemabli, terimakasih banyak, aku mencintaimu Dev benar ebnar mencintaimu,” ucap Debora.


“Aku juga mencintaimu sayang,” ucap Dev sebelum akhirnya dia mengecup bibir mungil itu menyalurkan kerinduan mereka selama ini.


Brian, Gretta dan Max menatap Bora dan Dev dari kejauhan, Tangan Max menggenggam tanagn Gretta.


“Aepertinya tugasku sudah selesai kan sayang, huh kau sampai mengorbankan perasaanmu sendiri,” ucap Max.


Meskipun Max pernah menyukai Debora, rasa suka itu hanya rasa suka dan kagum, hatinya justru memilih Gretta sebagai pasangannya, mereka telah menjain hubungan selama beberapa bulan.


“ahhh ku harap aku juga menemukan jodoh yang tepat untukku,” ucap Brian sambil emantap adik adiknya yang sudah bahagia dengan pria pilihan mereka.

__ADS_1


Ini bukan akhir bagi hubungan Dev dan debora, sebab mereka akan menjalani dunia baru bersama sama, dan kebahagiaan menanti mereka di masa depan nanti.


...- TAMAT -...


__ADS_2