Oh My Dev-iil

Oh My Dev-iil
Kasar


__ADS_3

Gretta menarik tangan Debora dan menyeretnya dengan kasar serta menyandarkan tubuh Debora ke dinding rumah sehingga membuat gadis itu sedikit tersentak kaget dengan apa yang dilakukan oleh Gretta pada dirinya.


"Kemari kau dasar tidak tau diri, beraninya kau kembali ke rumah ini!!" bentak Gretta sambil mencengkram tangan Debora dengan kuat sehingga membuat gadis itu meringis kesakitan.


"Kak, le.. lepas," ucap Debora sambil mencoba menarik tangannya dengan paksa hingga terlepas dari genggaman tangan Gretta.


"Eghh... apa maumu kak!!" ucap Debora kesal karena selalu diperlakukan tidak baik oleh saudari perempuannya itu.


"Aku mau kau pergi dari kehidupanku, aku tidak menyukaimu,kenapa kau harus kembali ke sini hah!!" geram Gretta sambil menarik rambut Debora dan menatapnya dengan tatapan kemarahan.


"Arhhh sakit kak, lepaskan akuuu, aku tidak kembali ke rumah mu ini, aku hanya kembali ke tempat dimana selama ini aku besar dan tumbuh tanpa kasih sayang orangtua dan saudara, bahkan hidup seperti orang asing padahal aku punya yang namanya keluarga !!!!" balas Debora.


Plaaakkkk


Plaakkk


"Diam kau,karena mu kak Brian pergi dari rumah, karena mu paman dan bibi Beck membenciku, karena mu kak Louis tidak menyukai diriku!!! " bentak Gretta sambil menampar wajah Debora sebanyak dua kali hingga memberikan bekas kemerahan di wajah gadis itu.


Debora menatap Gretta dengan mata yang mulai menganak sungai, sekuat apa pun dia menahan dirinya, Debora hanya seorang gadis kecil yang butuh perhatian dan kasih sayang dari orangtua dan saudaranya, namun dia tak pernah mendapatkan itu dari keluarga kandungnya sendiri, sungguh miris.


"Lalu apa maumu hah? aku bahkan tidak pernah menginjakkan kakiku ke rumah besar mu ini, aku tinggal di peternakan bersama hewan ternak sampai kalian mengataiku gila karena berbicara dengan mereka, apa belum cukup mengucilkan ku?" balas Debora, air matanya lolos begitu saja membasahi pipi gadis itu.


"CUKUP ANGGAP AKU TIDAK ADA MAKA KEHIDUPAN MEWAHMU TIDAK AKAN TERGANGGU NONA MILLER YANG TERHORMAT!!!!!" Teriak Debora sambil menekankan kata katanya lalu pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari Gretta.


Gretta menatap punggung Debora.


"Tunggu saja sampai aku benar benar mneyingkirkanmu dari dunia ini!!!!" gumam Gretta.


Api hitam yang menyala nyala muncul di kepalanya, sejenak matanya berbuah menjadi hitam lalu kembali normal lagi.


Gretta masuk ke dalam rumah nya, tanpa dia sadari seekor burung hantu putih menatapnya dari atas atap rumah, api abadi muncul di sekitar tempat burung hantu itu hingga membuat api hitam di kepala Gretta surut lalu menghilang.


Swooshhhh..


pak...


pak...


pak..


Burung hantu putih itu pergi meninggalkan kediaman rumah Miller namun sebelumnya dia menaburkan serbuk emas di atas lahan peternakan bahkan di kepala Brian yang kala itu baru tiba tepat setelah Debora pergi.


Sementara itu Debora berjalan dengan wajah sendu, dia mengelus pipinya yang masih terasa panas akibat pukulan dari Gretta.

__ADS_1


"Malang sekali nasibmu Debora, miris tak ada yang mencintaimu dengan tulus, mereka hanya membutuhkan kehadiranmu untuk kepentingan mereka, semua sama hiks hiks hiks," lirih gadis itu, dia berjalan menunduk sambil menangis meratapi nasibnya yang begitu menyedihkan.


"Apa salahku? aku hanya kembali ke peternakan dimana aku tumbuh dan besar disana, bahkan masuk ke rumah besar Miller pun aku tak pernah, kenapa mereka selalu mengusikku hiks hiks hiks," lirih gadis itu.


Debora berjalan membawa segala kesedihan di dalam hati dan pikirannya.


Dari atas langit, tampak sosok burung hantu yang tak lain adalah Dev menatap gadis malang yang tengah bersedih hati itu.


"Kau lihat kan bagaimana kehidupan gadis itu?" ucap Xavier yang ikut terbang di atas langit dengan rupa burung merpati putih dengan mahkota yang sangat indah.


"Lalu?" tanya Dev.


"Sshhhh... kau memang tak punya perasaan dasar roh bodoh!!" ketus Xavier.


"Aku tak mengerti coba jelaskan!" ucap Dev yang tak mau kalah dengan Xavier, mereka berdua memang akan selalu berdebat dalam situasi apa pun itu.


"Ck.... kalau kau memaksanya mencintaimu lalu setelah mendapatkan apa yang kau inginkan kau pergi apa yang akan terjadi pada gadis itu? menurutmu apa dia bisa bertahan? dia butuh sandaran Dev!!!" ucap Xavier.


"Bersandar sah ke dinding kan bisa?" ucap Dev dengan gamblangnya.


Pletakk


Sebuah alat pemukul menghantam kepala Dev.


"Hei pak Tua, aku bukan manusia!!!" teriak Dev namun tak dihiraukan oleh Xavier.


"Ck... kau pikir aku tidak tau hal itu Pak Tua? oleh karena itu aku menghindar untuk sementara, bagaimana jika aku kembali ke wujudku dan aku meninggalkan dia jika dia sudah jatuh cinta padaku, pasti akan sakit, arhhh kenapa si dewa kematian bodoh itu membuat hal seperti ini!!!!" gerutu Dev sambil terbang menukik ke atas angkasa raya.


"Untuk membalas cintanya mungkin aku tak bisa, tapi untuk menjaganya aku pasti bisa, huffft aku tak tau cara mencintai benar kata Xavier aku... ahhh sudahlah!!!" ucapnya lagi.


Debora berjalan menuju Groceri terdekat di sekitar rumahnya. Seekor burung merpati putih yang indah hinggap di bahu gadis itu saat dia berjalan sambil menunduk di jalanan kota Berlin.


"Hai," sapa burung merpati itu, Debora menoleh, dia tersenyum melihat burung merpati yang sangat cantik itu.


"Hai tuan merpati? wah kau sangat cantik, kupikir tadi roh ternyata merpati betulan, " ucap Debora sambil mencolek kepala burung.


"Kau juga sangat cantik, siapa namamu?" tanya burung merpati itu.


"Namaku Debora, panggil saja Bora, bagaimana denganmu? siapa namamu?" tanya Debora sambil menyusuri jalanan itu.


"Aku Xavier," ucap merpati putih itu.


"Wah nama yang indah seindah dirimu," ucap Debora.

__ADS_1


"Terimakasih Debora, mau kemana?" tanya Xavier.


"Membeli bahan masakan, mau ikut ke groceri itu?" tanya Bora sambil menunjuk sebuah groceri penjual bahan makanan yang cukup lengkap sehingga dia tidak harus pergi ke supermarket yang jaraknya lebih jauh.


"Boleh, tapi apa kau tidak takut dengan mereka?"tanya Xavier sambil melirik arwah arwah yang berjalan di belakangnya dan mengikuti Debora sejak tadi.


Debora menoleh, dia terkejut melihat ada sekitar sepuluh arwah mengikutinya dari belakang namun tidak berbicara dengannya atau mengganggu nya seperti biasanya.


"Wah sejak kapan kalian disana?" ucap Debora bingung.


"Sejak tadi," jawab para arwah.


"Kenapa tidak menyapaku? biasa kalian ribut sekali," ucap Debora.


"Heheheh, kau sedang sedih kami memilih diam saja," jawab salah satu roh itu.


"Ohh begitu, " jawabnya.


Debora berjalan menuju Groceri yang tertata rapi sesuai dengan gaya anak muda jaman sekarang.


Para Arwah yang mengikutinya berhenti saat menemukan portal Pneution alias titik penjemputan roh, mereka semua sudah menyelesaikan urusan mereka dengan dunia ini dan siap di jemput oleh roh penuntun menuju tempat persinggahan.


"Kalian akan di jemput?" ucap Debora dan mereka mengangguk.


"Sampai jumpa di lain waktu, semoga kalian beristirahat dengan tenang," ucap Debora sambil menunduk memberi penghormatan pada mereka semua.


"Sampai jumpa lagi Debora," ucap mereka.


Debora berjalan masuk ke dalam Groceri dan......


Bruk


Dia menabrak seseorang yang juga akan masuk ke dalam Groceri itu.


.


.


.


like, vote dan komen 😉😉😉😊😉


hati siapa nih???

__ADS_1


__ADS_2