
Debora dan Dev sudah siap dengan pakaian mereka masing-masing. Mereka sekarang berada di meja makan dan makan berdua dengan tenang sesuai harapan Dev nun semua itu hancur setelah Debora mulai mengoceh.
"Emmm kenapa Frank tidak ikut makan?" tanya Debora sambil mengunyah makana makanan enak yang dihidangkan di atas meja makan itu.
"Dia roh, dia tidak akan makan, minum atau merasa lapar dan haus," ucap Dev sambil melanjutkan memotong steaknya.
"Bagaimana dengan burung hantu yang lain, apa mereka tak makan?" tanya Debora lagi.
"Tidak mereka juga sama seperti Frank mereka hanya roh dan nama mereka roh penuntun arwah!" jelas Dev sambil dengan serius memotong-motong steaknya.
"Emmm... begitu ya," gumam Debora.
Dev hanya mengangguk dan memasukkan steak daging ke dalam mulutnya.
"Lalu kenapa kau makan?!!" tanya Debora yang langsung membuat Dev tersedak makanannya sendiri.
"uhukk...uhukkk... eghh," Dev terbatuk mendengar pertanyaan Debora.
"Hanya formalitas, aku menemanimu makan, anggap saja sebagai teman makan di pagi hari, aku sama dengan mereka tidak lapar, haus dan tidak butuh hak hal yang diperlukan manusia," ucap Dev sambil meletakkan pisau dan garpunya.
"Kenapa begitu?" tanya Debora lagi.
"Ck... jangan banyak bertanya makan saja makananmu dasar cerewet!" ketus Dev.
"Heheheh, iya iya, jangan marah ya pak Tua,"kekeh Debora sambil melanjutkan makannya.
"Emm... Pak tu... iya iya aku makan," ucap Debora, dia tak melanjutkan perkataannya saat melihat Dev memberinya tatapan tajam dengan maksud supaya tetap diam dan makan dengan tenang.
"Dasar pria tua, padahal aku ingin bertanya darimana munculnya makanan makanan mahal dan enak ini," gerutu Debora dalam hati.
"Ck... dasar pembuat onar," gumam Dev.
Tak lama Debora selesai makan,dia melihat masih banyak makanan yang tersisa dan merasa sayang jika itu dibuang.
"Pak tua ini masih banyak sisa, mau dikemanakan?" tanya Debora.
"Mau kukemanakan juga terserahku Debora," jawab Dev.
"Ckk.... kan sayang kalau dibuang begitu aja, ke apa tidak diberikan pada yang lebih membutuhkan, kurasa banyak yang butuh makanan ini,"jelas Debora.
"Kalau begitu kubawa saja untuk dibagikan pada yang membutuhkan, kamu sih sekalinya ngeluarin makanan cukup untuk ngasih makan 50 orang, boros banget," ledek Debora .
"Astaga, wanita ini benar-benar tidak takut denganku ya,sudah. di tengah hutan begini masih sempat memikirkan orang lain,kau itu bodoh atau tolol sih?" ketus Dev.
"Heheheh, aku tau kau orang baik Pak Tua,lagian ini makanannya sayang banget kalau dibuang gitu aja," ucap Debora.
Klaakk
Dev menjentikkan jarinya, seketika makanan makanan itu menghilang begitu saja dari hadapan mereka.
"Loh hilang kemana Pak Tua, jangan bilang kalau di buang semua,itu sayang banget tauuu!!" gerutu Debora.
Dev memutar malas kedua bola matanya.
Swooshhhh
Dev mengayunkan tangannya dan menunjukkan kemana makanan makanan itu dikirim.
__ADS_1
"Lihat dengan jelas," ucap Dev.
Debora menatap dinding kastil yang bagaikan layar lebar di bioskop itu, disana tergambar jelas kemana makanan itu dikirim oleh Dev.
Makanan makanan itu dibungkus dalam kotak makan bahkan jumlahnya cukup banyak dan disumbangkan pada korban kebanjiran di salah satu negara. Semua orang mendapatkan menu makanan yang sama dan tentunya akan membuat mereka kenyang dengan kekuatan sihir di dalamnya sehingga mereka bisa bertahan sampai banjir reda.
Debora tersenyum puas, dia senang melihat korban kebanjiran itu bisa mendapatkan makanan disaat tak ada pertolongan.
Swoooossshhhh....
Dev menghilangkan proyeksi itu.
"Bagaimana puas sekarang Debora?" tanya Dev sambil menaikkan sebelah alisnya.
Debora mengangguk dengan cepat, dia benar-benar senang dengan cara Dev membagikan makanan itu bahkan melipatgandakan jumlahnya hingga semua orang kebagian.
"Kau hebat Dev Nolan;" celetuk Debora sambil tersenyum bahagia.
"Cih... sudahlah, ayo kau mau tetap disini atau bagaimana!" tanya Dev.
"Aku mau pulang," cicit Debora.
"Baiklah, ayo!" Ajak Dev.
Mereka berdua keluar dari dalam kastil itu, Debora tersenyum melihat kastil itu kini lebih cerah dan tampak sagat menakjubkan berbeda dengan apa yang digambarkan orang orang tentang kastil itu.
"Selamat pagi tuan!" sapa Frank dan para penuntun roh yang sudah berbaris dengan rapi di depan kastil.
"Selamat pagi Nona," sapa mereka lagi menyambut Debora.
"Selamat pagi menjelang siang semuanya," balas Debora dengan senyum manis di wajahnya.
"Besar sekali pohon itu!" ucap Debora sambil menatap Pohon Pneu'ma pertama dan yang terbesar di hutan hitam.
"Dev itu pohon apa? kenapa cahayanya indah sekali, sepertinya ada seseorang disana dia sedang melambai dan tersenyum kepadaku," ucap Debora sambil menatap pohon besar itu.
"Cahaya? melambai? ada seseorang? dimana?" tanya Dev sambil menggaruk keningnya bingung.
"Kau tak bisa melihatnya?" tanya Debora dan dijawab gelengan kepala oleh Dev.
Debora memegang tangan Dev, "Sekarang coba lihat ke pohon itu lebih jelas lagi!"ucap Debora tanpa melepaskan tangan Dev.
Dev mengikuti perkataan Debora dan melihat pohon Pneu'ma yabg pertama kali di buatnya di dalam hutan itu, pohon Pneu'ma mendiang Ibunya.
Di dalam pohon besar itu tampak seorang wanita cantik dengan pakaian serba putih tengah melambai sambil tersenyum ke arah Dev bahkan terlihat raut kerinduan di mata arwah Pneu'ma yang sudah di segel disana.
"I.. ibu!!" ucap Dev dengan suara lirih, dia benar-benar terkejut dia bisa melihat Pneu'ma Ibunya setelah seribu tahun berlalu.
Debora menatap Dev dengan tatapan terkejut, dia tetap memegang tangan Dev agar pria itu bisa melihat arwah ibunya.
"Ibuuuu...." Panggil Dev, tak terasa dia menangis, air mata yang keluar dari kelopak matanya tampak seperti butiran kristal yang sangat halus dan berkilau, tak pernah ada air mata seindah itu tentu saja hal ini hanya terjadi pada Dev.
"Bagaimana bisa?" ucap Dev terbata, dia begitu merindukan Ibunya, dia tak bisa melihat arwah yang sudah dikurung kecuali dia menggunakan sihirnya seperti saat roh Dolosus ditangkap.
Selama ini dia memang bisa melihat sosok arwah itu namun roh Pneu'ma tidak menyadari keberadaan Dev sehingga saat Dev melihat, mereka selalu dalam keadaan tidur.
Namun saat ini berbeda, roh Pneu'ma dan roh Legion yang disegel dalam pohon itu mengetahui keberadaan Dev dan yabg lainnya melalui Debora.
__ADS_1
"Ibu aku merindukanmu," gumam Dev sambil menangis, tampak roh Pneu'ma Ibunya tersenyum di dalam pohon besar itu.
"Ahhh senyuman itu akhirnya kulihat lagi, terimakasih Debora," ucap Dev sambil melihat Debora.
"Ini tidak gratis Pak Tua hahhahaha," kekeh Debora.
Grepp
Dev memeluk Debora saat gadis itu tertawa, membuat Debora terbelalak kaget dengan apa yang dilakukan oleh Dev.
"Aku bilang aku berterimakasih," ucap Dev yang benar-benar terharu dia bisa melihat senyuman Ibunya lagi setelah selama seribu tahun hanya bisa melihat ibunya tidur dengan damai dalam pohon Pneu'ma itu.
Debora tersenyum manis.
"Iya Pak Tua,sudah kubilang ini tidak gratis heheh,"kekeh Debora sambil membalas pelukan Dev.
"Cih dasar pembuat onar, aku akan memberi harga terbaik untuk ini!" ucap Dev.
"Wah baiklah hahahhaha," kekeh Debora.
Akhirnya mereka pun pergi berjalan menyusuri hutan hitam itu.
Swooshhhh,
Dev berubah menjadi seekor kuda putih dengan tanduk di ujung kepalanya alias menjadi seekor unicorn berwarna putih bersih dan sangat indah.
"Ayo naik, akan kutunjukkan sesuatu padamu!" ajak Dev.
"Benarkah, wahhh baiklah!" ucap Debora.
"Frank bantu dia," ucap Dev.
"Baik tuan," jawab Frank.
Hap
Frank mengangkat tubuh Debora ke atas Unicorn itu.
"Terimakasih Frank!" seru Debora yang dianggukkan oleh Frank.
"Siap?" tanya Dev.
"Siap!!" seru Debora sambil mengacungkan tangannya ke atas.
Swoooossshhhh....
Tak..tak..tuk tak tuk tak
Dev berlari dengan Debora di atas tubuh nya.
"Waahhhhhhhh wohoooooooo....." teriak Debora.
.
.
.
__ADS_1
jangan lupa, like, vote dan komen 😊😊😉
wah pengen dong naik unicorn huhuh