
Debora berjalan dengan santai, dia memakai Hoodie berwarna merah, celana jeans hitam dan kaos putih dipadukan dengan sneaker putih membuat penampilannya begitu sempurna.
Rambut pirangnya di gerai, sambil memakan permen lollipop dia berjalan sepanjang jalan komplek perumahan itu menuju halte bus.
Biasanya dia akan berpamitan pada orangtuanya, tapi kali ini setelah kejadian dua hari yang lalu, hubungan Debora dengan kedua orang tua dan Saudarinya menjadi dingin.
Debora tak lagi menggubris mereka setelah sadar sepenuhnya kalau mereka memang benar benar tidak menginginkan dirinya.
Tinn... Tinn
Terdengar bunyi klakson mobil seseorang yang berhenti tepat di samping Debora.
Debora menoleh, wajah datarnya berubah menjadi bahagia kala melihat paman dan Bibinya serta kakak sepupunya di mobil itu.
"Debora masuk!" Ajak mereka.
"Siap bos!!" Seru Debora sambil tersenyum manis lalu berjalan memasuki mobil itu dan duduk di kursi penumpang bersama kakak sepupu nya.
Mereka tersenyum melihat wajah ceria gadis itu, keluarga Beck bukannya tidak tau kalau Debora dihina bahkan ditolak mentah-mentah oleh keluarga Miller, hanya saja mereka menghormati keputusan Debora yang tetap bertahan di rumah itu karena ada Brian yang menjaganya.
"Bagaimana tidurmu Debo?" Tanya nyonya Beck.
"Tidurku sangat nyenyak Bi, semalaman teman temanku bernyanyi dan menemani tidurku," ucap Debora.
"Wahh aku jadi iri denganmu Ra, kau bisa melihat mereka dan berbicara dengan mereka, aku juga ingin!" Ucap kakak sepupu Debora yang beda lima tahun dengannya.
"Hahahah, kurasa kau tidak akan menyukainya jika sudah mendapatkan kemampuan itu kak Louis," ucap Bora.
"Kau benar Bora, dia itu penakut hahahah," ledek tuan Beck dengan suara tawa besar dan menggemanya yang khas.
"Ck...Dad sekali setahun aku pulang tapi Dad selalu mengejekku," keluh Louis.
"Hahahaha, kapan kakak kembali ke tempat kerja kakak?" Tanya Debora.
"Kenapa? Apa kau mau ikut?" Canda Louis.
Debora mengangguk pelan.
Mereka semua terkejut dengan tanggapan Debora.
"Kau benar-benar mau ikut kakak ke Finlandia?" Tanya Louis sekali lagi dan jawaban yang sama di terima mereka.
"Bora, huffft... Mereka tidak menerima Bora, mereka benar-benar membenci Bora," ucap gadis itu sambil menunduk dan menahan air matanya.
Tuan Beck meminggirkan mobilnya, agar mereka bisa berbicara dengan tenang.
"Tahan air matamu nak, jangan menangis, jika itu keputusanmu, maka kami akan membawamu, kita pindah ke Finlandia dan memulai hidup baru disana," ucap Tuan Beck sambil menatap Debora.
Louis menepuk pundak Debora, nyonya Beck menatap sedih pada Bora yang benar-benar berjuang agar di sukai oleh keluarga kandungnya sendiri.
__ADS_1
"Hiks.. hiks... Hiks.. ma..maafkan Bora menangis, Bora hanya terlalu sedih, Bora.. Bora arrhh arhhhh... Hiks hiks hiks," Debora menumpahkan air matanya di hadapan keluarga Beck.
Louis memeluk Bora seperti seorang kakak yang menyayangi adiknya.
"Hushhh jangan menangis Ra, jangan menangisi mereka, ada kami disini,ada kami yang menyayangi mu," ucap Louis.
Tuan Beck mengepalkan tangannya, dia benar-benar geram dengan adiknya itu. Bagaimana bisa orang tua kandung menolak darah dagingnya sendiri hanya karena tidak sesuai dengan harapan mereka?
Lama dia menangis hingga akhirnya gadis itu berhenti dan menetralkan perasaannya.
"Maaf Bora cengeng," ucapnya sambil mengusap air matanya.
Louis menepuk kepala Bora sambil tersenyum.
"Tak apa, menangislah jika dengan cara itu perasaanmu bisa lega nak," ucap Nyonya Beck sambil tersenyum menatap Bora dengan lembut.
"Terimakasih Bi, Paman, dan Kak Louis,Bora menyayangi kalian," ucap Bora yang kini bisa tersenyum manis karena merasakan bagaimana dicintai dan disayangi meski bukan dari orangtua kandungnya.
"Sama sama Bora cantik!" Ucap mereka bertiga bersamaan hingga membuat Debora tersenyum manis.
"Lalu kapan kita pindah?" Tanya Bora.
"Wah kau sudah tidak sabar ya," goda Louis sambil mencolek hidung Debora.
"Heheh, tentu saja, Bora ingin jadi orang besar dan sukses," seru Debora.
"Ha? Orang besar?" Ucap tuan Beck sambil menatap Bora dengan kedua bola matanya yang besar dan kumis tebal serta janggut panjang yang menutupi bibir tipis pria itu.
"Kalau begitu kamu harus makan banyak biar jadi orang BESEESAAAARRR.. Hemphhk... " Celetuk tuan Beck sambil mengangkat kedua tangannya ke atas mempraktekkan orang Gemuk.
"Hahahhah, bukan orang besar yang begitu Paman, maksudnya orang berpengaruh," seru Debora sambil tertawa melihat wajah tuan Beck yang begitu serius dengan lawakan bapak bapaknya.
"Tau nih Dad, orang besar bukan orang gendut hahahahah," tawa Nyonya Beck sambil menepuk lengan suaminya dengan lembut.
"Dad, sepertinya Dad sudah mulai pikun," celetuk Louis.
"Pfftttthhh hahahhahaha," Bora dan Nyonya Beck terkikik dengan ucapan Louis lain halnya dengan tuan Beck yang malah cemberut.
"Ck.. aku tidak setua itu, dasar anak nakal!" Ketus tuan Beck.
"Hahahah," mereka semua tertawa, keluarga Beck bersyukur setidaknya gadis itu memiliki semangat hidup dan masih bisa tertawa dengan keadaan hidupnya yang menyedihkan.
"Jadi kapan kita akan berangkat?" Tanya Bora yang tidak sabaran.
"Seminggu lagi, setelah paman mengurus kepindahan kita oke," ucap Paman Beck.
"Oke Paman!" Seru Bora.
"Lalu bagaimana dengan Brian?" Tanya Nyon Beck.
__ADS_1
"Kak Brian, huhh, kurasa lebih baik kak Brian tinggal disini, aku takut Dan dan Mom akan membenci Kak Brian juga, beberapa hari yang lalu saja, kak Brian di pukul oleh Dad karena bermain dengan Bora,"
Gadis pirang itu tampak sedih kala mengingat kejadian di peternakan hari itu.
"Hmmm, kamu bicarakanlah dengan Brian, jika dia mau ikut maka akan lebih baik, biar mereka mengurus si centil dan cengeng itu sendiri,"ketus Louis.
" Baik kak," ucap Bora.
Mereka pun melaju menuju kampus Debora, tentu dengan canda tawa bagaikan saudara kandung yang saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain.
Sementara itu di hutan hitam, Dev sedang mengomeli para penuntun roh karena bisa kehilangan salah satu roh saat membawanya ke hutan hitam.
"Ck... Bagaimana bisa kalian kehilangan roh itu!!!" Bentak Dev dengan wajah kesal, dia berubah menjadi rupa manusia setengah burung hantu.
"Maaf atas kelalaian kami tuan!" Ucap Frank memohon maaf pada tuan mereka.
"Ck.. arhhh, dimana kalian kehilangan roh itu?" Tanya Dev sambil menatap mereka dengan tatapan kesal.
"Di pinggir hutan hitam tuan, dia melarikan diri!" Ucap Frank.
"Bagaimana bisa!!!!!" Teriaknya dengan oejuh amarah.
"Sepertinya dia salah satu bagian dari roh Dolosus tuan!" Ucap Frank.
"Ahhh Dolosus Spiritus , hmm setelah sekian lama muncul lagi roh paling mengesalkan ini, roh orang mati yang selama hidupnya selalu menipu dan berbuat tidak benar mulai dari dia dilahirkan ke bumi sampai dia mati," ucap Dev dengan seringai di wajah berkharismanya.
"Ini akan menajadi pencarian yang menarik, Frank siapkan pasukan khusus untuk mencari roh nakal ini, jangan sampai dia berkeliaran di sekitar manusia dan malah menempel di tubuh mereka," ucap Dev.
"Baik tuan!" Ucap Frank.
Frank menyiapkan pasukan khusus untuk mencari roh penipu yang paling meresahkan di antara semua roh yang mereka tangani selama ini.
Roh penipu ini senang menempel di tubuh manusia yang juga suka menipu atau di tubuh manusia yang bisa melihatnya.
"Sepertinya pekerjaan di tahun ini akan menyenangkan karena ada roh Dolosus, hahahha aku tidak sabar menyaksikan aksinya, hmm kali ini roh ini akan melakukan cara apa?" Gumam Dev.
"Arhhh terserahlah, aku ingin tidur," ucap Dev.
Dia melangkahkan kakinya dan...
Wossh......
seketika dia berubah menjadi burung hantu berkharisma dan masuk ke dalam kastil gaibnya.
.
.
.
__ADS_1
Like, vote dan komen 😉😉😊