
Benar saja apa yang dikatakan Dev, Debora bukannya tidur dia malah melihat lihat isi kamar itu sambil tersenyum manis dan berjalan kesana kemari melihat lihat isi kamar.
Debora keluar dari kamar dan menemui Dev yang menatap Debora, "Emmm bagaimana kau mendapatkan semua barang-barang itu?" tanya Debora dengan penuh semangat.
"Aku bisa mendapatkannya dengan berbagai cara, itu bukan urusanmu," ucap Dev.
"Cih dasar pelit, lalu kastil ini bagaimana caranya kau membangunnya? " tanya Debora lagi.
"Wohhh dan ini bukankah ini guci dari jaman besi? wah ini pasti akan sangat mahal jika dijual!!" ucap Debora sambil mengangkat sebuah guci antik membuat Dev terbelalak Karena salah sedikit saja guci kesayangannya itu bisa hancur berantakan.
"Letakkan Deboraaaaaaa!!" ucap Dev panik.
"Ahhh apa ini guci kesayangan tuan tampan, baik baik akan ku letakkan," ucap Debora sambil meletakkan guci itu dengan berhati-hati ke tempatnya semula.
"huffft, jangan menyentuh yang bukan milikmu Debora," ucap Dev sambil memutar malas kedua bola matanya.
"Baiklah, aku hanya penasaran saja," ucap Debora sambil berjalan ke arah Dev.
Ptaarrrrr... Sraakk... Ptaarrrrr...
Suara petir tiba tiba menggelegar di atas langit, Spontan Debora melompat ke pelukan Dev dan memeluk pria itu dnegan erat sambil bergetar ketakutan.
"Ternyata dia punya kelemahan juga, kupikir gadis ini tak punya sisi lemah, hadehh," batin Dev yang di peluk dengan erat oleh Debora.
"Hiks hiks hiks... to... tolong... aku arhhh.... to tolong... hiks hiks hiks," Debora menangis tersedu-sedu sambil bersembunyi di balik dada Dev yang bidang itu.
Mendengar tangisan Debora, Dev cukup terkejut dia pikir Debora hanya takut tetapi dia lebih dari takut.
"Hey Gadis sadar ada apa denganmu? itu hanya petir mungkin para penuntun roh menemukan Roh Pemerkosa, ini selalu terjadi jika roh itu ditemukan, langit benar benar marah dengan jenis roh ini, kenapa kau ketakutan?" tanya Dev yang juga khawatir melihat Debora malah menangis tersedu-sedu dalam pelukannya.
"A.. aku takut, kumohon jangan pergi, temani aku, kumohon, ja.. jangan tinggalkanlah aku hiks hiks hiks," tangis Debora semakin kencang.
Dev membalas pelukan gadis itu lalu menepuk punggungnya dengan lembut.
Dev menarik wajah Debora dan menatap mata gadis itu yang kini berubah menjadi biru tua yang sangat indah sama dengan mata milik Dev.
Saat Dev menatap mata itu, seketika ingatan Debora sekitar tiga tahun lalu bisa ditelusuri oleh Dev, sebab Dev bisa melihat masa lalu namun masa depan hanya Sang Guru Agung yang tau.
Beberapa tahun lalu, Debora masih berusia tujuh belas tahun. Dia dibawa berlibur oleh keluarganya, entah kerasukan setan apa, keluarga Miller membawanya ikut serta berlibur, ini membuat dia dan kakaknya Brian sangat senang karena mereka berpikir bahwa ketiga orang yang paling membenci Bora di rumah itu akhirnya mau menerima Debora.
Mereka kala itu berlibur ke pulau Hawai untuk merayakan ulang tahun Gretta. Pada awalnya semua berjalan lancar dan mereka menikmati perjalanan mereka.
tiba-tiba, Brian mendapatkan panggilan dari kampus yang mengharuskannya untuk pulang terlebih dahulu ke Indonesia.
"Mom, Dad, Brian ke Indo duluan ya, ada urusan kampus, "ucapnya pada tuan dan nyonya Miller yang sedang menikmati keindahan pantai Hawai di bawah Gezebo warna warni itu.
"Hmmm... pergilah, kami akan pulang besok," ucap Tuan Miller tanpa menolah ke arah putranya.
"Bora, kakak duluan ke Indo ya, kamu disini bareng Mom dan Dad serta kak Gretta," ucap Brian pada adik kesayangannya itu.
"Baik kak," jawab Bora sambil tersenyum manis, dia sedang duduk di atas pasir sambil membuat istana pasir, permainan yang sering dimainkannya bersama kakak sepupunya dan juga kakaknya Brian.
"Gretta jaga adikmu," ucap Brian pada Gretta yang sedang duduk manis sambil berselfie ria dengan berbagai gaya.
Mendengar ucapan kakaknya, Gretta memutar malas kedua bola matanya.
"Apa kak? menjaga si dungu itu? hah... yang benar saja, dia bisa menjaga dirinya sendiri!" ketus Gretta sambil beranjak pergi menuju pinggir pantai.
"Sudahlah kak," ucap Debora.
__ADS_1
"Hmm... ya sudah, kakak pergi dulu ya, kamu baik-baik disini," ucap Brian.
Cup
Brian mengecup Kepala adiknya lalu berpamitan dan pergi meninggalkan mereka di pulau itu.
Setelah kepergian Brian, suasananya menjadi sangat tegang dan dingin, tatapan tajam dan dingin dari tuan dan nyonya Miller seolah menghujam jantung Debora.
"Mom, Dad boleh kita foto bersama? " tanya Bora yang sudah mengeluarkan ponsel yang di berikan tuan Beck padanya.
"Sana kau jangan mengganggu kami!" bentak Nyonya Miller yang membuat Debora tersentak.
"Tapi Mom Bora ada tugas dari sekolah untuk memberikan foto liburan keluarga, kita gak punya foto bareng, boleh ya," pinta Debora dengan mata berkaca-kaca.
"Sekali lagi ku dengar omong kosong dari mulutmu itu, ku tenggelamkan kau ke lautan sana dasar pembawa sial!!" bentak Tuan Miller sambil menatap tajam ka arah Debora.
Deghh
Hancur sekali hati gadis itu saat mendengar ucapan ayahnya, penolakan mentah mentah dari kedua orangtuanya memberikan goresan yang sangat dalam di hati gadis remaja itu.
Debora berjalan sambil menunduk dan menahan air matanya, dia berjalan mendekati Gretta yang sedang asik berfoto ria di pinggir pantai.
"Kak, boleh kita foto sebentar?" tanya Debora membuat Gretta terkejut hingga dia menjatuhkan ponselnya ke dalam air.
"Booraaaaaaaa...." teriak Gretta marah.
Plaakk
Brukk
Debora di tampar dengan kuat dan di dorong hingga terjerembab ke atas tanah.
"Ada apa sayang??kamu kenapa??" tanya Nyonya Miller panik saat melihat putri kesayangannya menangis padahal anak bungsunya sendiri jatuh ke atas pasir yang kasar sampai tangannya berdarah.
"Dia mom... hiks hiks hiks, dia buat ponsel Gretta jatuh ke air arhhh kesel aku Mom, dia buat Gretta terkejut, arhhhh Ponsel Gretta," rengek gadis itu sambil memeluk Momnya.
Plaakkk
Satu tamparan hebat turun dari tangan tuan Miller dan mendarat di pipi gadis itu.
"Dasar perempuan kurang ajar!!!" teriak tuan Miller marah membuart Debora menangis tersedu-sedu.
"Bukan salah Bora, kak Grett..."
Plakkk
Satu pukulan telak mendarat lagi di pipi gadis itu, kali ini pukulan dari Nyonya Miller sendiri.
"Diam kau dasar pembawa sial, semua yang berhubungan denganmu selalu menjadi kekacauan besar, " kesal Nyonya Miller.
"Hiks hiks hiks apa salahku Mom, dad," tangis Debora tersedu-sedu.
"Salahmu Karena lahir ke dunia ini!" ucap Tuan Miller.
"Ayo nak, kita pergi tinggalkan dia disana, kau tidak boleh masuk ke dalam villa sampai besok pagi, kau tidur di luar!!" ucap tuan Miller.
Mereka semua meninggalkan Debora di sana padahal hari mulai menjelang malam, Gretta menoleh dan menjulurkan lidahnya ke arah Debora yang menangis tersedu-sedu di pinggir pantai.
"Hiks hiks hiks, apa salah kalau aku lahir ke dunia ini, kalian yang memilih melahirkan ku arhhh.... kak Briaaaaaannnn," tangsi Debora.
__ADS_1
Lama dia duduk di bibir pantai, tiba tiba awan gelap menutupi langit, petir menyambar kesana kemari, angin berhembus dengan kencang. Bulu kuduk Debora tiba tiba merinding, dia merasakan hawa dingin di balik punggungnya.
"Aku tak bisa bergerak, apa ini roh apa ini kenapa langitnya menyeramkan, tolong aku siapapun tolong aku..." lirih Debora yang tiba tiba diam mematung.
Ctaarrrr.... ptaaarrr.... sraaakkkk
Petir menyambar pohon pohon kelapa di sekitar pantai itu.
Pyarrrr
teak jauh dari tempat Debora mematung sebuah perahu kecil terbakar akibat pedang langit yang menyambar perahu itu.
Tiba-tiba ada sosok hitam berjalan dari arah laut, Debora tau itu adalah roh jahat, wajahnya menyeramkan, tubuhnya berlendir dan dipenuhi dengan benda benda menjijikkan.
Srrhhhhhhh...
"Kau akan jadi mangsaku hari ini hahahhaahh," bisik roh yang ternyata sudah berada di belakang telinga Debora.
Debora mengepalkan tangannya, dia menutup matanya.
Roh jahat itu berdiri di depan Debora sambil tersenyum menyeringai, wajahnya hitam dan dipenuhi lendir mera.
"Pergi kau jangan ganggu akuuuuuu!!!" tariak Debora menangis ketakutan.
"Tidak akan sayang," ucapnya sambil berdiri dan....
Sringgghhg
Dia merasuki tubuh seorang pria yang baru saja kembali dari laut karen cuaca ekstrem.
Debora terbelalak, dia masih belum bisa bergerak seperti ada yang menahan tubuhnya untuk tetap duduk disana.
"Hahahhah, tubuh ini lumayan juga, aku akan memuaskanmu sayang, mari berc***a denganku hahhahah!" ucapnya sambil mendekati Debora dengan media tubuh manusia yang dirasukinya.
"Tiiiidaakkk pergis saanaaaaaa!!" teriak Debora menangis ketakutan.
"Tutup matamu, jangan pandang matanya, genggam pasir lalu lemparkan ke wajahnya tanpa melihat matanya!" entah suara dari mana datangnya Debora mendengarkan itu, dia melakukan hal yang diucapkan suara misterius itu.
manusia itu semakin dekat dan kini dia berjongkok di tubuh Debora, jari telunjuknya menyentuh kulit Debora namun seketika itu tangannya terasa terbakar.
Dengan cepat Debora melemparkan pasir itu ke mata manusia itu, dan dia bisa bangkit berdiri lalu berlari sekencang-kencangnya meninggalkan roh itu disana.
Swoooossshhhh.....
Seekor burung hantu yang sangat besar dan tua terbang ke arah manusia itu, kabut ungu memenuhi tempat itu dan roh jahat itu tercabut dari tubuh korbannya.
Burung hantu besar itu mencengkram roh jahat itu dnegan kakinya dan membawanya terbang tinggi ke angkasa lalu menghilang bersama meredanya badai besar di pantai itu.
Dev terkejut saat melihat ingatan Debora.
Dia memeluk gadis itu dengan erat, dia tau pasti Debora trauma dengan kejadian itu.
"Jadi kau hampir menjadi korban si penghuni neraka itu!" gumam Dev.
.
.
.
__ADS_1
like, vote dan komen 😉😉😊😊