
Dev menatap Debora yang tertawa dengan sangat manis, dia juga ikut tersenyum. Beberapa menit kemudian mereka tiba di kampus Debora.
Langsung saja dua mobil sport super mewah dan langka itu menjadi pusat perhatian para mahasiswa.
Banyak yang bergunjing tentang mobil mewah yang jumlahnya bisa dihitung di seluruh dunia itu, bukan hanya satu tapi dua sekaligus tentu membuat mereka bertanya tanya siapa kiranya orang penting yang datang ke kampus itu.
Pintu mobil di buka, tampak tiga pria tampan keluar dari mobil yang satu, penampilan anak buah Dev sungguh mumpuni, mereka berpenampilan layaknya anak muda yang kaya raya dengan pakaian branded yang melekat di tubuh mereka.
Mobil yang satu lagi juga di buka...
Tap...
Sepatu hitam mengkilat terlebih dahulu tampak menapakkan kaki di atas jalan itu, Dev keluar dari dalam mobil, tentu saja penampilannya membuat semua orang menatap terpana ke arah pria itu.
Wajah dengan kharisma dan pahatan yang indah terpatri di depan mata mereka. Melihat Dev bagaikan melihat sebuah karya seni yang indah namun tak bisa dimiliki.
"Wow.... Tampan sekali," ucap para mahasiswa.
"Kyyaaaakkk.... Dia dia sangat tampan, siapa ituuu???"
Dev berjalan ke sisi mobil yang lain, dia membukakan pintu mobil untuk Debora.
"Terimakasih Pak tua," ucap Debora dengan senyuman manisnya.
"Ayo," ajak Dev sambil menggandeng tangan Debora.
Mata para mahasiswa terbelalak saat melihat siapa gadis yang digandeng oleh pria tampan nan mempesona itu.
"Gadis hantu!!" Ucap mereka dengan mata membulat dan mulut menganga tak percaya dengan apa yang ada di depan mata mereka.
Seorang Debora yang tidak mempunyai teman dan terkenal aneh serta menakutkan justru datang ke kampus bersama empat orang pria tampan yang jika dilihat mereka pasti anak konglomerat.
Dev menggandeng tangan Debora, ketiga bawahannya berjalan di belakang mereka, tentu saja kehadiran mereka menjadi pusat perhatian para mahasiswa.
"Eh bukannya dia si gadis hantu ya?" Ucap seorang mahasiswa yang tengah duduk di kursi lorong kampus bersama beberapa temannya.
" Kalau Iya emang kenapa?" Tanya temannya yang lain.
"Ya nggak kenapa kenapa sih, cuma heran aja kenapa ada orang mau berteman sama cewe aneh itu, mana cowok ganteng semua lagu," ujarnya.
"Heh jangan ngomongin orang, mau dia aneh atau nggak itu mah urusan dia," balas seorang pria yang berjalan menghampiri mereka.
"Eh Max dah nyampe, "
"Ngomongin siapa sih Sherly?" Tanya Max.
__ADS_1
"Itu si gadis hantu," ucap perempuan bernama Sherly sambil menunjuk Debora.
"What the... Ma..mau ngapain me..mereka ke kampus " ucap Max terbelalak saat melihat Dev sebagai seorang tuan muda Nolan berjalan bersama Debora ke kampus itu.
"Kamu kenal?" Tanya temannya.
"Di...dia kan...eghh siapa itu loh pebisnis aduh kok tiba tiba lupa namanya, eghh.. Joel, Noel atau apa ya??" Ucap Max mengingat ingat siapa gerangan pria yang ditemuinya saat di Groceri waktu itu.
Sementara di jalan sana, Dev tersenyum tipis, sebenarnya dia membuat Max tau siapa dirinya hanya saja membuat pria itu melupakan namanya agar tidak membuat heboh.
"Rasakan, jangan berharap bisa mendekati Debora!" Batin Dev.
Mereka berjalan beriringan, Dev dengan posesif memegang tangan Debora.
Debora yang biasanya diabaikan kini menjadi pusat perhatian membuat gadis itu sedikit gugup, dia memilih berjalan sambil menundukkan kepalanya tak berani melihat tatapan orang orang pada dirinya.
"Jangan menunduk," bisik Dev membuat Debora menatap Dev.
"Mereka melihatku seakan akan mereka akan memakanku, entah apa maksud mereka," ucap Debora.
" Hei ayolah percaya diri saja, buat mereka iri padamu, buat mereka menyesal telah mengasingkan dirimu, dengan cara itu kamu udah balas dendam sama semua orang bodoh itu!" Ucap Dev sambil merangkul bahu gadis yang resmi menjadi kekasihnya.
"Apa itu tidak terlalu berlebihan Dev? Maksudku mereka pasti akan membuat gosip baru lagi, " ucap Debora.
"Mereka buat gosip kita buat rumor baru, apa susahnya, jangan malu dan takut, mereka itu bukan apa apa, " ucap Dev.
Mereka terus berjalan, hingga tiba-tiba seseorang menghentikan langkah kaki mereka, siapa lagi kalau bukan gengnya Gretta, tapi Gretta belum tiba di kampus, yang menghadang Debora adalah Febi dan teman Gretta yang lain.
"Wahh... Wah wah, tuan apa Anda tidak takut berteman dengan gadis ini, dia itu perempuan aneh, dia pembawa sial di sekolah ini, jangan dekat dekat dengannya, nanti kau bisa kena sial juga," ucap Faby sambil menatap Debora dengan tatapan benci.
Tanpa menghiraukan Faby mereka terus berjalan dan menganggap Faby sebagai tong kosong yang nyaring bunyinya, sebenarnya lumayan kalau nyaring ini bunyinya cempreng malah bikin sakit telinga.
"wahhh berani sekali gadis itu meninggalkan kita Feb, perlu dilapor sama Gretta nih," ucap Fani temannya yang lain.
"Cihhh heh Debora, mentang mentang dapat pacar kaya raya kok jadi songong hah!!" Teriak Faby kesal.
Debora berjalan terus tanpa mendengarkan panggilan gadis itu.
"Gadis Gila!" Umpat Dev dengan wajah kesal, Karena pagi pagi dia harus menghadapi wanita secerewet Faby.
"Kau benar dia memang gila, " ucap Debora.
"apa kau takut,?" Tanya Dev.
"Sedikit," gumam Debora.
__ADS_1
"apa yang mereka lakukan padamu? Apa kau dipukul? Atau apa kau disiksa disini?" Tanya Dev yang mulai emosi.
"Sudahlah biarkan saja, pokoknya temani aku, selama kau bersamaku mereka tak akan berani mengganggu ku," ucap Debora sambil menggenggam tangan Dev dengan erat.
"Baiklah," jawab Dev singkat
Sementara itu Frank berhenti untuk meladeni gadis gila itu, dia menatap Faby dengan tatapan menyeramkan, dia tak suka kalau tuannya diganggu.
"Jangan mendekat jika ingin hidupmu selamat!" Ancam Frank.
Mereka menenggak Saliva mereka sendiri saat melihat betapa menyeramkan wajah Frank.
Setelah memberi gertakan pada Faby dan temannya mereka pergi mengikuti Dev.
"Siapa mereka, kenapa begitu melindungi gadis hantu itu? Gretta akan marah jika tau kalau gadis itu di lindungi seperti itu" ucap Eva teman mereka yang lain.
"ya kau benar," ucap Faby.
Sementara itu Dev dan Debora masuk ke dalam kelas Debora dan mengikuti pembelajaran seperti biasanya, Dev juga ikut masuk begitu pun dengan ketika anak buahnya.
"Apa kalian tidak masalah jika masuk ke kelas?" Bisik Debora pada Dev yang duduk santai di sampingnya.
"Tentu tidak, kami kan mahasiswa disini" ucap Dev dan...
Pusshhh
Beberapa buku dan pulpen muncul di meja mereka begitu juga dengan anak buah Dev.
Mata Debora terbelalak, dia menoleh ke kanan dan ke kiri apakah ada yang melihat atau tidak, bisa masalah kalau sampai mereka dilihat oleh para mahasiswa.
"Tenang saja tak akan ada yang tau," ucap Dev sambil menepuk pucuk kepala Dev.
"Haisshhh, lain kali lakukan di tempat lain jangan di tempat seperti ini, kalau sampai ada yang lihat bisa gawat," bisik Debora.
"Baiklah baiklah, akan kuturuti heheh," kekeh Dev.
Kehadiran mereka menjadi sorotan para mahasiswa, mereka terpana dengan paras tampan Dev dan bawahannya yang terlihat seperti mahasiswa tulen.
"Siapa mereka, sepertinya pria itu punya kekuatan," seseorang mengintip mereka dari balik pintu, matanya hitam dan kulitnya putih pucat dengan pembuluh darah yang terlihat jelas di kulit pucatnya.
Swoossshhhh.... Cahaya ungu dari jari Dev menyerang matanya membuatnya tersentak dan kembali menjadi normal.
.
.
__ADS_1
.
Like, vote dan komen 😉😉😉