
Mereka bertiga telah selesai berbelanja, Dev terus mengikuti Debora kemanapun gadis itu berjalan. Dia tak membiarkan Max mendekati Debora sedikitpun.
"Ummm Max aku balik duluan ya, udah selesai nih belanjanya," ucap Debora yang berdiri di samping Dev yang membantunya menenteng tas belanjaan.
"Kita pulang bareng aja, aku bawa mobil biar ku antar aja," usul Max yang membuat Dev menatap tajam ke arah Max.
"Emmm.. gak usah deh Max, aku jalan aja, lagian ada Dia kok yang nemenin aku," ucap Debora sambil menunjuk Dev yang tersenyum manis ke arahnya namun seketika itu juga berubah menjadi kucing garong saat menatap wajah Max.
"Masa iya kalian jalan kaki?" ucap Max seraya menyindir Dev.
"Gak masalah sih, udah biasa juga, ya udah kami pergi dulu ya Max" ucap Debora sambil tersenyum.
"Baiklah, sampai jumpa di kampus Debora!" ucap Max yang dibalas lambaian tangan oleh Debora.
Debora dan Dev berjalan bersama menuju peternakan tempat Debora tinggal.
Max menatap kepergian mereka.
"Siapa pria itu, kenapa dia seperti tidak suka denganku?" gumam Max sebelum dia masuk ke dalam mobilnya.
Namun betapa terkejutnya dia saat melihat ban mobilnya kempes, bukan cuma satu tetapi keempatnya kempes secara bersamaan.
"Haiishhhh sial, kenapa bisa begini sih!!" gerutu Max sambil menendang ban mobilnya yang kempes itu.
"Hahahah rasakan kau, berani beraninya mencoba merebut milikku!!" geram Dev.
Debora dan Dev berjalan beriringan, banyak orang yang menatap ke arah Dev Karena wajahnya yang pasti di kenali oleh beberapa orang khususnya pebisnis sehingga membuat dirinya kurang nyaman.
"Ada apa Dev?" tanya Debora saat melihat pria itu tampak tidak nyaman dengan tatapan orang orang.
"Aku boleh pakai masker dan kacamata kan? aku tidak nyaman dengan cara orang melihatku, itu cukup mengganggu," ucap Dev.
"Hahaah apa wajah tampanmu itu mengganggumu? kalau begitu pakailah akan merepotkan kalau sampai ada paparazi yang mengikuti kit," ucap Debora.
Dev memakai masker dan kacamatanya untuk menghindari tatapan orang orang pada dirinya yang menurutnya sangat mengganggu.
"Apa kau biasanya berbelanja ke tempat itu? kenapa tidak naik kendaraan?" tanya Dev.
"Aku sudah biasa membeli perlengkapan dapur ke tempat itu, dan biasa sih jalan kaki, lumayan kan hitung hitung olahraga," jawab Debora sambil tersenyum.
"Apa kau bisa memasak?" tanya Dev.
"Tentu saja, 21 tahun hidup mandiri membuatku hebat dalam segala hal heheheh," kekeh Debora.
__ADS_1
"Cih hebat apanya, melawan gadis itu saja kau tidak mampu, dasar gadis lemah," ledek Dev.
"Ck... aku memang tak bisa melawan, lalu apa yang harus kulakukan, lebih baik aku menghindari mereka sebisa mungkin, dan milih berteman dengan hantu dan hewan, itu lebih menyenangkan," jawabnya sambil menatap lurus ke arah jalanan di depannya.
"Kenapa mereka membencimu?" tanya Dev, mereka berhenti di persimpangan jalan menunggu lampu merah agar kendaraan berhenti dan mereka bisa menyeberang.
"Karena aku lahir sebagai seorang perempuan, bukan anak laki laki yang mereka dambakan," jawab Debora, dia menunduk sedih dengan kenyataan hidupnya, "dan mereka selalu mengatakan bahwa aku adalah pembawa kesialan di rumah mereka," tambahnya lagi.
"Hanya karena itu kau di tolak? wah sungguh keluarga yang aneh!" ucap Dev sambil menatap langit dimana ada Xavier yang tengah mengawasi mereka dengan sosok naga putih yang bersembunyi di balik awan.
"Apa pasanganku harus tersiksa dulu Xavier, kau memang tidak bisa mengatur kehidupan dengan baik," ejek Dev sambil menatap langit.
"Tcihhh... diam saja kau dasar roh kematian bodoh, ikuti saja alurku, " ketus Xavier sambil melayangkan tatapan tajam ke arah Dev.
Dev memalingkan wajahnya lalu kembali menatap Debora. Mereka kembali berjalan saat mobil sudah berhenti.
"Lalu bagaimana dengan kehidupanmu selama ini? apa kau tidak punya teman?" tanya Dev yang benar benar penasaran dengan gadis cantik di sampingnya itu.
"Teman? aku punya, kau, kau kan temanku !" celetuk Debora.
"Ck.... aku tak.mau jadi temanmu," ketus Dev.
"Haisshh siapa juga yang mau berteman denganmu, " balas Debora tak kalah ketus.
Pria itu terdiam, sepertinya rasa kesepian gadis itu benar benar dalam. Lehernya seperti tercekik menahan tangisannya.
"Maaf sudah mengingatkan dirimu," ucap Dev.
"huffft... fuuhhhh.... ahh.. tak apa ,aku sudah biasa," ucap Debora menelan air matanya sendiri yang kini diganti dengan senyuman manis yang selalu dia tunjukkan.
Mereka berjalan dengan santai tanpa ada perbincangan lain. Dev sesekali melirik Debora yang berjalan dengan tatapan lurus ke depan. Tak ada arwah yang berani mengikuti mereka, tentu saja karena ada Dev di Roh kematian penunggu hutan hitam.
Sebuah mobil berjalan dengan kecepatan tinggi dari arah depan mereka, mata Dev terbelalak saat melihat mobil itu tiba tiba saja mendekat dengan kecepatan tinggi dan berada tepat di depan Debora.
Bruuummm... brummmmm....
Skiiittttt.... Ctaarrrrrrr.....
Tiba tiba semuanya berhenti, tak ada yang bergerak, waktu berhenti setelah Dev mengeluarkan sihirnya, langit dipenuhi dengan kabut keunguan menandakan sihir Dev memenuhi tempat itu.
Dev menatap tajam ke arah mobil yang berhenti dengan bagian belakang yang terangkat ke atas akibat rem mendadak yang dilakukan pengemudi mobil itu, tampak pengemudinya syok dengan apa yang terjadi padanya.
Sebuah makhluk seperti seekor laba laba dengan ukuran besar keluar dari kepala pria itu, wajahnya menyerupai wajah manusia, kakinya ada delapan dan cukup panjang, tubuhnya seperti laba laba ukurannya sekitar 1 meter dengan warna merah menyala dilengkapi dengan api hitam yang menyala nyala di seluruh permukaan tubuhnya.
__ADS_1
"Ck.... sialan kau, berani sekali kau mengusik kehidupan manusia dasar roh Dolosus sialan!!!" teriak Dev dengan kemarahan.
Dev menatap ke atas langit.
"Apa kau mengatur agar para arwah sialan itu mendekati gadis ini? jika begitu jadinya dia bisa mati bahkan sebelum melakukan tugasnya Xavier!!!" ucap Dev dengan nada kemarahan.
"Selain didekati para arwah,dia juga akan dikejar kejar kematian selama dia belum melaksanakan tugasnya untuk menghilangkan kutukanmu," batin Xavier yang hanya menatap Dev dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Dev mengeluarkan panah api biru nya dan mengarahkannya ke roh Dolosus yang merasuki tubuh pengemudi mobil hitam itu.
Roh Dolosus itu berlari kesana kemari, berusaha mencari inang baru untuk dihinggapi, namun kekuatan Dev melingkupi seluruh area itu sehingga dia tidak bisa menemukan tempat baru untuk singgah.
Ptassss... crakkkk...
Satu tembakan anak panah api biru Dev, menghujam kepala roh Dolosus membuatnya tak bisa lagi berkutik karena seluruh tubuhnya terbakar api biru yang sangat panas.
Graahhhhhh..... arhhhhh....
"Swwiiuuuttttt....." Dev bersiul memanggil roh penuntun untuk menyeret roh Dolosus menuju hutan hitam.
Setelah roh itu dibereskan, Dev menarik Debora ke pinggir jalan menghindari mobil itu.
Sebentar dia mengedipkan matanya dan...
Wosshhhhh
Semuanya kembali berjalan dengan normal.
Brakkk..
Mobil itu manabrak pohon di depannya membuat semua orang terkejut.
"Astaga,Dev apa yang terjadi!!" pekik Debora terkejut.
"Dia dirasuki roh, sudah ayo pergi, biar mereka yang membereskan itu!" ucap Dev sambil memegang tangan Debora.
"Sebenarnya dia ini apa?" batin Debora.
.
.
like, vote dan komen 😉😉😊
__ADS_1