
Kukuruyuuuukkk.....
Ayam berkokok pertanda sang matahari akan memimpin perjalan hari ini
Di kediaman keluarga Miller, di sebuah kamar yang diletakkan di bagian paling belakang rumah besar itu, kamar yang ditempatkan di dekat gudang penyimpanan makanan ternak tampak Debora atau gadis yang lebih akrab disapa Bora tengah meregangkan tubuhnya setelah tidur semalaman.
Kamarnya sangat sederhana tetapi tertata dengan rapi dan apik, buku-buku berjejer di lemari, pakaiannya tersusun rapi dalam lemari cokelat, foto foto bersama Paman, Bibi, kakak sepupu laki lakinya dan kakaknya Brian berjejer rapi di meja hias dalam kamarnya.
Fasilitas nya lengkap dan semua itu disediakan oleh keluarga pamannya yang tinggal di seberang rumah itu.
Keluarga nya ? Jangan ditanya mereka tidak menganggap Bira sebagai bagian dari keluarga Miller.
Di rumah keluarga Pamannya yang sering disapa Paman Beck, Debora memiliki kamarnya sendiri, sehingga gadis cantik itu bebas memilih akan tinggal dimana.
Meski diperlakukan tidak baik oleh keluarga kandungnya sendiri, kakaknya Brian adalah alasan Debora untuk tetap tinggal dan bertahan di rumah itu.
Sudah berkali kali Paman Beck meminta Bora tinggal di rumah mereka untuk selamanya daripada harus tinggal bersama orangtua dan saudara yang tidak pernah menyukai dan menyayangi dirinya.
Akhirnya Bora memutuskan untuk berpindah pindah tempat tinggal, terkadang dia akan tidur di peternakan di belakang rumah keluarga Miller dan terkadang dia akan tinggal di rumah keluarga Beck.
Meski di tolak kedua orangtuanya, Debora tetap menghormati dan menyayangi orangtuanya, setidaknya dia bersyukur karena sudah dilahirkan ke dunia ini.
Di rumah keluarga Miller, Bora menghabiskan waktunya bersama hewan hewan ternak, anjing mereka si Black, dan tentunya arwah arwah yang belum di jemput oleh penjaga hutan hitam.
Bora bangun dari tidurnya, dia melakukan rutinitas pagi, jam 12 nanti dia ada kuliah jadi tidak perlu terlalu terburu-buru untuk bersiap-siap.
Bora memakai kaos putih yang dipadukan dengan celana kodok berwarna biru muda, rambut pirangnya dikuncir dua, bedak tipis, dengan lip gloss merah muda, jam tangan berwarna hitam hadiah ulang tahun dari kakaknya Brian selalu di pakai untuk melengkapi penampilannya.
Dengan senyum sumringah, Bora keluar dari kamarnya lalu berjalan menuju gudang penyimpanan makanan ternak.
"Selamat pagi cantik," sapa seseorang.
Bora membalikkan tubuhnya melihat siapa gerangan yang menyapa dirinya di pagi hari yang cerah ini.
"Eh... Pagi kak Brian!" Sapa Bora sambil berlari kecil menghampiri kakak laki-lakinya yang tampan dan mempesona.
Brian merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum menyambut sang adik.
Grepp
Bora memeluk kakaknya dengan erat,
"Selamat pagi Kak," balas Bora dengan senyuman manisnya.
"Gimana tidur kamu, jangan tidur di kamar itu lagi dong, kan kamar rumah depan di lantai dua ada," ucap Brian masih dalam posisi memeluk adiknya.
"Gak mau kak, kak Gretta nanti marah," ucap Bora jujur.
__ADS_1
"Huffft..." Brian mendesah kesal, Gretta memang sangat membenci Bora, selain karen paras cantik gadis itu dia juga iri dengan kepintaran, serta kedekatan Bora dengan Brian dan keluarga Pamannya.
"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi, kamu mau ngapain hmm?" Ucap Brian.
Bora mendongak menatap kakaknya sambil tersenyum.
"Mau ngasih makan ternak," ucap Bora.
"Ya udah, Ayuk!" Ajak Brian sambil menggandeng tangan adiknya.
"Kakak ikut?" Tanya Bora.
"Iya dong," ucap Brian.
Brian dan Bora sambil bersenda gurau memberikan pangan pada ternak yang dipelihara di belakang rumah besar itu.
"Hahahahha, ihk kakak jorok ihk,"
"Hahahah ini nih buat kamu hahahhahah," ucap Brian sambil mengejar Bora dengan membawa kotoran sapi yang di ambilnya dengan sarung tangannya dan mengejar Bora.
"Arhhhh ... Kakak ihkkk!" Teriak Bora sambil berlari kesana kemari darimkejaran kakaknya.
Sementara itu dari arah lain tepat di pintu belakang rumah besar keluarga Miller tampak Gretta mengepalkan tangannya melihat kedekatan Brian dan Bora.
Gretta tidak segitu dekatnya dengan Brian, mungkin karena perangai buruknya sendiri membuat Brian seolah jauh dari dirinya.
"Dasar gadis sialan! Kau mengambil kakakku, harusnya hanya aku yang disayangi kak Brian, harusnya kau mati, harusnya hanya aku anak perempuan di rumah ini!!!" Geram Gretta sambil menatap tajam ke arah Bora dan Brian.
Gretta menggerutu dia masuk ke dalam rumah sambil menghentak hentakkan kakinya.
"Sayang ada apa denganmu?" Tanya tuan Miller yang baru tiba di rumah setelah melakukan olah raga pagi seperti biasa bersama nyonya Miller, mereka sudah biasa lari pagi bersama seperti hari ini.
"Dad... Kak Brian hiks hiks hiks," rengek Gretta dengan air mata buayanya sambil menghampiri tuan dan nyonya Miller.
"Kenapa sayang, jangan menangis," ucap nyonya Miller sambil mengelus kepala putrinya.
" Kak Brian gak mau main sama Gretta, Kak Brian cuma main sama Bora, hiks hiks hiks, Kak Brian gak sayang sama Gretta," rengek gadis itu.
"Ck... Dimana anak itu?" Tanya Tuan Miller dengan wajah datarnya yang menyeramkan, Tuan Miller memiliki rambut pirang yang diturunkan pada Bora, mata biru, wajah tegas, dan kumis tebal namun tidak mengurangi kharisma pria berusia 49 tahun itu.
"Kak Brian di peternakan, " ucap Gretta.
"Peternakan? Ck... Sudahlah biarkan saja dia, Dad malas ke tempat itu, kalian tau kan Paman kalian akan marah kalau sampai Dad mengusik gadis itu," ucap Tuan Miller.
Peternakan di belakang rumah mereka adalah peternakan milik tuan Beck yang sengaja di beli tuan Beck dari tuan Miller sebagai tempat untuk Bora bermain, oleh karena bitu tuan Miller tidak boleh mengusik Bora.
"Ahh... Dad juga sama, Dad gak sayang sama Gretta hiks hiks hiks," tangis Gretta.
__ADS_1
"Sayang, Dad menyayangi kamu, sudah jangan menangis, huhh... Ya sudah ayo kita temui mereka, Dad akan minta kakakmu Brian menemanimu," ucap Tuan Miller.
Gretta langsung tersenyum saat mendengar tuan Miller akan mendatangi Bora dan Brian.
Meski peternakan itu ada di belakang rumahnya, tuan Miller dan Nyonya Miller tidak diperbolehkan sembarangan masuk ke area itu, sebab tuan Beck menegaskan bahwa peternakan itu miliknya dan tidak boleh disentuh oleh keluarga Miller.
Jika sampai tuan Miller dan Nyonya Miller melakukan sesuatu pada Bora maka tuan Beck tidak segan-segan menghancurkan perusahaan keluarga Miller.
Inilah yang membuat Gretta semakin iri dengan Bora, sebab Bora memiliki pendukung yang kuat di belakangnya.
Mereka sampai di belakang rumah lalu menatap ke arah areal peternakan yang cukup luas, bahkan disana juga ditempatkan sepuluh pengawal untuk menjaga Bora dari haknyang tidak diinginkan.
Brian sendiri bisa bebas keluar masuk ke tempat itu tetapi tidak untuk, tuan dan nyonya Miller serta Gretta.
Tampak mereka melihat Bora dan Brian yang asik memberi makan pada Domba, Sapi dan heman hewan lain di peternakan itu.
Tuan Miller berjalan menuju pagar masuk peternakan diikuti Nyonya Miller dan Gretta.
"Ada yang bisa kami bantu tuan?" Tanya penjaga yang berdiri di depan pagar masuk itu, disana ditempatkan dua penjaga dan yang lainnya berada disisi lain.
"Aku ingin menemui Bora dan Brian tolong sampaikan pesan itu pada mereka," ucap Tuan Miller.
"Baik tuan!" Ucap si penjaga lalu masuk ke dalam menemui Bora dan Brian.
"Cih... Entah apa yang merasuki kakak ipar sampai mereka begitu menjaga gadis bodoh itu," ucap nyonya Miller.
"Iya Mom, berasa tuan putri dia, aku tidak menyukainya, " ketus Gretta.
"Oh iya, Dad Mom, kemarin Gretta diusili sama Bora, dia hampir membuat Bora terluka, sepertinya dia berbicara dengan hantu hantu sialan itu," gerutu Gretta.
"Apa yang dilakukannya?" Tanya Tuan Miller.
"Pokoknya kacau Dad, kelas kami jadi menyeramkan, Dad harus menghukumnya!" Ucap Gretta.
"Tenanglah, akan Dad urus," ucap tuan Miller sambil mengelus kepala anaknya.
Gretta tersenyum menyeringai, hari ini dia akan melihat Debora dimarahi habis habisan oleh tuan Miller.
"Ck... Kalau boleh kau mati saja, atau pergi saja ke hutan hitam, tempat itu lebih cocok untukmu!" Batin Gretta.
.
.
.
Like, vote dan komen 😉😉😊
__ADS_1