
Seperti hari hari biasanya, Debora akan melanjutkan kuliahnya dan selau di dampingi oleh Dev.
Semenjak merasakan kehadiran iblis di sekitar Debora sejak sebulan lalu, Dev semakin posesif melindungi gadis itu. Sebab roh iblis yang mereka rasakan sangat kuat, bahkan terkadang Dev tidak sadar kalau roh itu sudah ada di dekat mereka dan menatap mereka dengan tatapan menyeramkan.
Dev selalu terlambat sekian detik sebelum sadar kalau iblis sudah ada di dekat Debora. Sampai saat ini, Dev belum merasakan pergerakan iblis itu, hal ini yang membuatnya khawatir kalau roh itu akan mengincar Diandra sebagai mangsa berikutnya.
Belum lagi roh iblis itu sangat licik, dia bisa memanipulasi pikiran manusia maupun roh dengan mengubah wujudnya sebagai orang lain.
Dev sangat menjaga Debora, dia selalu berada di dekat gadis itu tak peduli kapan pun dan dimana pun dia akan mendampingi gadisnya.
Para roh dan hantu gentayangan tak lagi mendekati Debora, sebab Dev menjauhkan mereka semua sebab dia takut salah satu dari mereka adalah jelmaan roh iblis yang sangat kuat.
Kekhawatiran Dev tidak hanay sampai disana, terkadang dia harus ektra hati hati bahkan dengan karyawannya sendiri, karena iblis itu bahkan bisa masuk tanpa terdeteksi, hanay Debora yang begitu peka merasakan kehadiran roh iblis di dekat mereka.
Debora bahkan lebih peka karena dia adalah anak khusus yang berhubungan dengan manusia dan roh.
Hubungannya dengan Debora semakin dekat, gadis itu semakin menempel saja pada Dev entah apa yang menyebabkan gadis itu selalu saja menempel pada Dev.
Seperti pagi ini, Debora baru saja bangun tidur, dia sudah tinggal di mansion Dev tentu sja setelah ijin pada paman dan kakaknya. Dia dan Dev terkadang tidur bersama kalau gadis itu merasa takut.
Hal yang pertama kali dicarinya adalah kekasihnya, gadis yang sudah magang di perusahaan Dev sejak dua minggu lalu itu berjalan keluar dari kamar masih dengan memakai piyama tidurnya, dia mencari cari Dev kesana kemari.
Mencari ke ruang kerja, mencari ke dapur, ruang depan, kamar pria itu bahkan semua tempat tapi dia tak menemukan Dev disana.
“Dev..... Dev dimana kau hiks hiks hiks.... Devvvv..... huaaaaaaa...... Deeeevvvv,” pekik gadis itu sambil menangis histeris karena tidak menemukan kekasihnya dimanapun dia mencari.
Tangisannya sampai membuat seluruh pelayan berlari terbirit birit karena khawatir jika terjadi apa apa dengan gadis baik, cantik dan ramah itu.
“Ada apa nona?” ucap seorang pelayan.
__ADS_1
Debora duduk di atas lantai sambil menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainannya, air matanya berhamburan, hidung dan matanya merah karena menangis.
“Hiks hiks hiks... kakak, Dimana Dev, dimana dia? Kenapa dia tidak ada disini? Apa dia pergi huaaaa.... Devvv....” teriak gadis itu lagi sambil menangis tersedu sedu entah apa yang membuatnya begitu sedih di pagi hari yang cerah ini, bahkan samapi membuat seisi mansion itu panik.
“Astaga segitu sedihnya kamu saat aku keluar sebentar saja?” ucap seorang pria yang tak lain adalah Dev yang sebenarnya baru saja dari atap mansionnya mengawasi hutan hitam dari kejauhan.
Debora menatap ke arah pria itu, dia takut kehilangan Dev, entahlah dia selalu merasa kalau dia akan berpisah dari kekasihnya itu, hal itu selalu menghantui pikirannya setiap hari membuat dirinya takut jauh dari Dev.
Debora bangkit berdiri dan langsung berlari menghamburkan pelukannya pada Dev, gadis itu menangis sesenggukan disana, bahunya tampak naik turun, dia benar benar panik dan sedih kalau semua yang dipikirannya itu benar benar terjadi, kalau Dev akan pergi meninggalkannya.
Dev terkejut melihat gadis itu seperti itu, dia tak bisa membaca isi hati Debora, sudah sejak beberapa hari lalu, dia tak bisa membaca isi hati dan pikiran Debora, Dev menggerakkan tangannya sebagai kode agar para pelayan meninggalkan mereka.
“Ada apa Debora? Kenapa menangis seperti ini? Apa kau mimpi buruk, ada apa sayang hmm?” tanya Dev lembut.
Debora menggelengkan kepalanya, dia hanya menangis dan memeluk Dev dengan erat seolah tak ingin kehilangan pria yang sudah sangat dicintainya itu meski dia belum mengungkapkan perasaannya karena takut akan kehilangan Dev.
Debora menatap Dev, dia memegang wajah pria itu dengan tangan kecilnya, air matanya masih mengalir. Dev mengusap air mata Debora dengan lembut.
“Katakan ada apa?” tanya Dev.
Gadis itu menatap wajah Dev dengan kesedihan mendalam, Dev dapat melihat kesedihan di balik tatapan mata itu, “ Hiks hiks hiks aku tidak mau kehilanganmu Dev..... aku tidak mau jauh darimu hiks hiks hiks, jangan pergi dariku ku mohon hiks hiks hiks, aku.... aku mencintaimu, aku menyayangimu, kumohon jangan tinggalkan aku,” tangis gadis itu sambil mengungkapkan perasaannya, air matanya tumpah begitu saja.
Dev terkejut sekaligus bahagia mendengar pengakuan gadis itu, akhirnya setelah sebulan menjalin hubungan, Dev mendengar balasan perasaannya dengan jelas dari mulut debora secara langsung.
Dev memeluk Debora, kabut abu abu kemerahan muncul di sekitar mereka membuat Dev menyunggingkan bibir tipisnya.
“Husshhhh jangan menangis, aku tau kau mencintaiku sayang, aku tak akan meninggalkan dirimu, aku tak akan pernah meninggalkanmu, apa pun yang terjadi,” ucap Dev memeluk kekasihnya dengan erat.
“Hiks hiks hiks, aku tak mau pisah darimu, menikahlah denganku Dev, ayo kita menikah, aku... aku tak mau kehilangan dirimu,” ucap Debora sambil menangis dan memohon pada Dev, entah apa yang membuat debora begitu risau.
__ADS_1
Dev terkejut mendengar ucapan Debora, menikah? Tentu hal yang diinginkan oleh dev, dia benar benar ingin bersama dengan kekasihnya itu, hanya saja dia takut kalau Debora belum siap.
Ternyata Debora yang malah melamarnya.
“Katakan padaku apa yang membuatmu risau sayang? Apa yang membuatmu khawatir?” tanya Dev pelan sambil menatap wajah itu dan mengusap wajah Debora dengan lembut dan tiba tiba....
Greepp.......
Cahaya merah dari api di tangan Dev membakar leher gadis itu, pria itu mencekik leher Debora dengan sangat keras sambil tersenyum jahat dan....
Swossssshhhhh........
Dev berubah menjadi sosok menyeramkan yang tak pernah dia tunjukkan sebelumnya, monster bertubuh hitam dan besar, dengan bulu bulu halus di sekujur tubuhnya, tiga buah tanduk di atas kepalanya, matanya ada empat dan giginya tajam seperti ribuan taring yang siap mencabik cabik mangsanya.
“Kau pikir aku akan tertipu?” ucap Dev menyeringai.
“Dev.... uhukk.... Dev apa yang kau lakukan hiks hiks hiks.... kau menyakitiku, Dev apa yang kau lakukan.... lepaskan hiks hiks hiks kenapa kau menyakitiku,” pekik Debora sambil menangis dan memukul mukul lengan Dev.
“Aku tak akan tertipu, bersiaplah menerima ajalmu roh setaaaannnn....” teriak Dev dengan suara melengking.
Dev mengeluarkan api abadi dari tangannya dan membakar kepala Debora namun tidak mempan karena Debora dalam wujud manusia dan api itu hanya untuk membakar roh.
“Dev apa kau tidak mengenaliku? Dev ada apa denganmu ini aku Dev hiks hiks hiks,” Debora menangis lagi membuat Dev terkejut, dia sempat meragu namun dia melihat ke bawah dan sekali lagi Dev menyeringai, jika api abadi tak mempan maka dia akan melakukan sesuatu yang mempan untuk mengikat roh.
.
.
.
__ADS_1
Like, Vote dan Komen ya