
Selama di perjalan pulang, sepasang manusia yang kini berada di dalam mobil sport mewah yang tengah melaju. Mereka terus membisu, tidak ada yang memulai untuk berbicara. Baik itu dari Chika atau pun Adrian, sama-sama diam dengan pikiran masing-masing. Tampak sekilas Adrian melirih Chika yang masih asik menatap keluar jendela mobil. Adrian menarik garis bibirnya. Terlihat wajah Chika masih merona.
Bisakah kau diam jantung, jangan buat aku mati di usia muda! Gumam Chika dengan tangan kiri masih memegang pipinya yang memanas serta jantungnya yang terus berdegup kencang.
Kejadian beberapa menit lalu membuat kepalanya terus terbayang. Ah! Kenapa aku tidak bisa melupakannya. Bibir sialan. Chika menepuk pelan bibirnya dan masih menggunakan tangan kiri. Ia tidak mau kalau Adrian melihat tingkah konyolnya jika dia menggunakan tangan kanannya. Tangan kirinya masih bisa Chika tutup dengan tubuh munggilnya tapi tidak dengan tangan kanannya, akan mudah Adrian melihatnya jika saja ia melakukan sesuatu.
***
4 menit yang lalu.
"Iya aku ikut!" teriak Chika yang sudah ketakutan saat Adrian mulai menjalankan mobilnya. Adrian tersenyum kilas.
Buang rasa kecewamu untuk sekarang, Chika. Karna itu tidak berlaku. Ucap Chika dalam hati.
Membuka pintu mobil dan langsung duduk tanpa menoleh sedikit pun pada Adrian. Adrian menghela nafas berat, berpikir kalau Chika masih marah atau bahkan kecewa.
Kau akan tahu suatu saat nanti. Pikir Adrian.
Ini nyaman sekali, baru kali ini aku naik mobil semewah ini. Aduh, empuk lagi. Dua kali Chika menghentakkan pantatnya, dan itu tidak luput dari tatapan Adrian. Adrian menahan tawanya, sesaat Chika menyadari kelakuan konyolnya itu. Dan langsung menatap tajam pada Adrian.
"Ini terpaksa, jika ada pilihan lain aku tidak akan naik mobil ini," ucap Chika tanpa menatap Adrian, ia memutar tubuhnya melihat keluar jendela, tanpa Chika sadari secara tidak langsung Chika memberi tahu bahwa ia masih marah sekarang.
"Tidak apa jika kau masih marah padaku, tapi setidaknya kau pakai dulu Seat belt-nya," kata Adrian yang melihat Chika tidak juga memakai Seat belt di sampingnya, bagaimana Adrian akan menjalankan mobilnya jika wanita di sampingnya tidak memakai Seat belt-nya.
"Apa Seat belt?" tanya Chika kebingungan dengan mata menatap Adrian.
"Itu sabuk pengaman yang ada di sampingmu." Menunjuk Seat belt dengan menahan tawa.
Kenapa kau sangat polos, Bocil, gumam Adrian, gemas akan wajah bingung Chika.
Chika menarik Seat belt itu dengan kuat tapi seoalah Seat belt itu menyangkut dan tidak mau di tarik.
"Benda apa ini? Dan bagaimana menggunakannya," ucap Chika geram dan melepas Seat belt itu. "Aku tidak mau menggunakannya," lanjutnya lagi. Adrian menggeleng, lagi-lagi ia gemas akan kepolosan yang Chika punya. Lalu ia melepas Seat belt-nya dan mendekatkan tubuhnya pada Chika.
"Begini cara pakainya, segini saja kau tidak bisa," ucap Adrian tanpa ia sadari wajahnya kini sudah berada sangat dekat dengan wajah Chika bahkan Chika sudah bisa merasan deru napas Adrian yang menerpa dagunya.
__ADS_1
Chika masih diam terpaku dengan jantung yang sudah berdegup sangat kencang dan masih terus menatap wajah sempurna Adrian yang tidak ada cacat sedikit pun. Selesai Adrian memakaikan Seat belt Chika, Adrian mendengak sedikit dan kini mata mereka saling bertabrakan. Chika menelan ludahnya dengan susah payah. Dan ...
Cup.
Tanpa sadar Chika mencium kilas bibir merah maron Adrian dan itu membuat mata Adrian melebar. Chika tersadar dan langsung mendorong dada Adrian sambil menutup bibirnya.
Blussss! Pipi Chika langsung merona dan ia membuang pandangannya langsung menatap keluar jendela agar Adrian tidak melihatnya.
Apa kau sudah gila, Chika. Merutuki kebodohannya yang tanpa sadar mencium Adrian.
Adrian mengontrol tubunya yang mulai entah ke mana berpikir.
Sial, kenapa dia selalu membuatku tergoda. Batin Adrian menahan gelora yang tiba-tiba meningkat, namun ia kontrol. Sangat gila jika dia berbuat hal yang merusak batin gadis balia itu.
Adrian menghirup napas dalam, mencairkan pikiran gilanya ini dan membuangnya perlahan lalu menghidupkan mobil dan melaju dengan kecepatan sedang. Bersikap santai seperti tidak terjadi sesuatu padanya.
***
"Apa kau masih memikirkan soal ..."
"Kenapa kau tersenyum, apa kau begitu menyukai ciuman itu?" pertanyaan gila yang keluar dari bibir Chika membuat empunya merona sendiri.
'Kau benar-benar gila Chika menanyakan hal yang membuat dirimu sendiri malu.' Merutuki kebodohannya sendiri.
"Sangat. Dan kalau bisa setiap hari, jam, menit atau bahkan setiap detik," ucap Adrian santai.
"Ck, ternyata kau pria mesum Tuan Ansell Adrian Rendra," ucap Chika dengan penuh penekanan. Jangan terkejut mengapa Chika sangat lantang menyebut nama lengkap Adrian, sebab dirinya yang menggali informasi tentang Adrian lewat internet. Sesekali ia sempatkan saat istirahat kerja, ia meminjam leptop bosnya. Untuk apa lagi kalau bukan mencari tahu semua tentang Adrian. Cinta yang ia punya membuatnya gila. Bukankah cinta memang gila? Tapi yang membuat jadi misteri. Tidak ada pemberitahuan yang mengatakan bahwa Adrian sudah menikah justru status yang ia dapat Adrian masih lajang. Dan itu membuatnya gila, jelas-jelas keponakannya sendiri yang mengucapkan bahwa omnya sudah mempunyai 2 anak. Sangat tidak mungkin jika Diyah bohong, waupun Chika tidak menanyakan langsung pada sahabatnya sendiri.
"Tidak Nona, itu bukan mesum. Ciuman itu bagaikan air yang tidak akan kita lupakan dalam 1 hari hanya untuk meminumnya." Tidak terlalu kaget bagaimana Chika bisa tahu nama lengkapnya, sebab ia percaya di kota A yang ia tempati ini, semua mengenalnya. Siapa yang tidak kenal pengusaha tampan dan sukses ini. Pikir Adrian percaya diri.
"Pemikiran gila," balas Chika kesal.
"Lupakan soal ciuman, kalau kau butuh ciuman datang langsung ke rumahku dan dengan senang hati aku akan melakukannya," ujar Adrian santai membuat Chika melebarkan matanya, itu tidak luput dari tatapan Adrian. Ia senang melihat Chika yang marah, akan bertambah imut wajahnya dengan mengkrucutkan bibirnya yang terlihat kesal.
"Jangan berpikir terlalu panjang, Om. Karna hal itu tidak akan terjadi," tegas Chika dengan sorot mata yang membunuh menatap tajam mata sipit Adrian.
__ADS_1
"Kita lihat saja, Nona," balas Adrian santai. "Kau tidak akan kuat melihat ketampanan yang aku punya ini," lanjut Adrian percaya diri membuat Chika mendegus kuat dan tidak lagi menanggapi ucapan Adrian, bisa gila dia jika terlalu lama berbicara pada lelaki dengan jenggot tipis yang menempel rapi di dagu indah itu.
Adrian merasa bangga pada dirinya sendiri yang telah menang melawan perkataan Chika.
'Kau yang mendekatiku Bocil, jangan harap kau bisa lepas dariku dengan begitu mudah.' Batin Adrian.
"Cepatlah sedikit Om, aku khawatir dengan adik-adikku. Ini sudah terlalu sore," ucap Chika yang kini menjadi gelisah, dia teringat akan perasaan yang tadi tidak enak pada adik-adiknya itu.
"Sebentar lagi kita sampai. Apa ada yang mau di bawa?"
"Tidak ada, kita langsung pulang saja," balas Chika cepat. Rasa khawatir ini menyeliputi dirinya.
Kenapa aku bisa melupankan adikku, Nina, Nella. Maafin kakak.
"Apa adik-adikmu sudah makan jika kau pulang agak sorean kayak gini?" tanya Adrian, ingat akan kejadian kemarin Chika yang lupa menyisakan lauk untuk dimakan adiknya.
"Astaga, aku lupa. Tidak ada apa-apa di rumah yang bisa dimakan adik-adikku." Menyesal, Chika sudah tampak berkaca-kaca. Bagaimana ia melupakan hal sepenting ini.
"Bodohnya!" gerutu Chika dengan memukul kuat kepala. Saat Chika ingin memukul kedua kali kepalanya tangan Adrian spontan mencegahnya.
"Tenanglah! Jangan kau siksa dirimu sendiri," Masih memegang tangan Chika.
"Aku merasa gagal menjadi kakak," ucap Chika yang kini sudah menangis.
"Hey! Dengan kau lupa meninggalkan sayur, bukan berarti kau gagal jadi kakak." Menenangkan Chika yang semangkin menangis, Adrian membelai lembut tangan kanan Chika yang belum ia lepas dengan tangan kirinya dan tangan sebelah kananya masih mengemudi dengan cepat.
Selang beberapa menit Adrian memberhentikan mobilnya di depan restoran yang terletak tidak jauh dari rumahnya, Chika yang masih menangis menatap bingung ke depan.
"Kita mau ngapain?" tanya Chika di sela-sela tangisnya. Adrian menarik garis bibirnya kuat dengan menimbulkan suara desisan, menahan diri agar tidak berbuat macam-macam akibat tidak kuat melihat Chika yang begitu menggemaskan walaupun wanita itu tengah menangis.
"Kita mau tidur, sayang," kata Adrian dengan santainya.
Jangan lupa Vote, Like, Coment dan Favorit🤗 agar author-nya lebih semangat lagi.
Dan terima kasih atas segala dukungannya🙏💝😁
__ADS_1