
Masa libur sekolah telah berakhir, Chika lumayan banyak menabung karna ia sudah selalu lembur sampai malam. Membuatnya bisa mengumpulkan uang sisa makan mereka.
"Nella!" teriak Chika. Pagi ini Chika akan mengantar adiknya dulu ke sekolah barulah ia berangkat ke sekolahannya.
"Iya, Kak. Ini udah selesai." Nella setengah berlari, Chika dan Nella hampir sama mereka berdua susah sekali dibanguni jika sudah tidur. Lain dengan Nina, kadang malah dia yang membangunkan kedua kakaknya itu. Kalau bukan alarm yang selalu berisik, mungkin Chika gak bisa bangun pagi.
Chika memberikan uang jajan dua puluh ribu untuk Nella dan Nina. Nina kesenangan dikasih uang jajan lebih dari biasanya. Tapi tidak dengan Nella, ia malah mengangkat bahunya. Seperti bertanya, apa maksudnya ini, Kak?
"Nella, gak papa sekali-sekali kalian jajannya lebih," ucap Chika dengan tersenyum seraya mengelus lembut kepala adiknya. Mau tidak mau Nella menerima dengan berat hati. Ia tau selama ini kakaknya tidak pernah jajan di sekolah demi mereka, tapi Nella diam. Membantah pun percuma karna Chika sesalu membuat kata-kata yang menyejukkan, ia tidak mau membuat kakaknya tambah terbebani dengan ia yang selalu membantah.
***
Sampainya di sekolah Nina memeluk Chika erat, sama halnya dengan Nella juga memeluk Chika. Ini sudah tradisi mereka jika berpisah di sekolah. Nella dan Nina berdekatan sekolahnya tapi tidak dengan Chika ia harus naik bis terlebih dahulu agar sampai ke sekolahnya.
"Yang rajin ya, sayang. Belajarnya." Chika mengelus lembut rambut Nella dan Nina bergantian.
"Pasti," rempak keduanya.
Chika naik bis lagi dan melambaikan tanganya pada adik-adiknya, keduanya membalas lambayan kakaknya. Sampai bis yang Chika tumpangi sudah tidak tampak lagi barulah mereka masuk ke halaman sekolah masing-masing.
Chika melamun di sepanjang perjalanan menuju sekolah, yang paling menyita pikirannya adalah penasaran berapa umur omnya Diyah. Pemikirannya ini sudah hampir satu minggu lamanya dan pemikiran itu juga yang membuatnya belum hilangkan sampai sekarang. Chika merasa pesona Om-nya Diyah begitu kuat, sebab wajah tampan itu belum Chika lupakan sedikit pun walau hanya sekali pertemuan.
'Apa dia udah tua, yah? Tapi kok, terlihat muda sih wajahnya! Boleh gak ya, kalau aku suka masa om itu. Tunggu! Kok aku mikirnya ngawur sih.' Chika menepuk keningnnya, pikirannya yang gila ini harus dihapuskan.
__ADS_1
Tanpa sadar Chika sudah sampai di depan gerang sekolah elit itu. Pertanyaannya sekarang, kenapa Chika bisa masuk kedalam sekolah elif seperti ini? Beasiswa! Yah, itu karna beasiswa lah yng membuatnya bisa masuk kedalam sekolah ini. Walaupun banyak teman ceweknya yang menghinanya, tapi itu tidak terpengaruh pada Chika. Dengan senang hati dia akan melawan siapa pun yang menindasnya.
Bruk!
"Ah!" rintih Chika memegang bahunya yang di tabrak seseorang, karna Chika tertunduk tadi sambil berjalan mengakibatkan ia tak melihat arah depan.
"Maaf, ya. Gue gak sengaja," ucapnya lalu Chika mendengak, melihat siapa yang ia tabrak tadi.
'Ini bukannya Omnya Diyah?' tanyanya dalam hati dan Chika sedikit terkejut, walaupun Adrian memakai topi dan kaca mata hitam, Chika masih mengenali Omnya Diyah itu.
"Maaf ya, Om. Gak sengaja." Chika mengatupkan tangan dan membungkuk sedikit, Adrian yang dipanggil om malah terkejut.
"Gue bukan Om lo," balas Adrian datar, terlihat jelas dari balik matanya yang tertutup kaca mata hitam itu menatap tajam ke arah Chika.
'Gila, nih om-om. Udah tua kok nggak mau mengakui, lagian siapa juga yang mau jadi keponakan lo. Gue juga males kali. Gue tarik kata-kata gue tadi yang bilang suka sama lo. Dasar tua!' Maki Chika dalam hati.
"Aku terlambat, lagian aku udah minta maaf jadi gak ada salahnya lagi. Dah Om tua!" teriaknya sekaligus menekankan kata tua dengan segera berlari begitu cepat, sebelum mendengar makian om itu.
Adrian mengepal tangannya geram, ia menatap Chika yang terus berlari memasuki sekolah itu.
'Dasar tuh bocah, berani banget sama gue. Belum tau apa siapa gue? Awas aja kau bocah cilik.' gumamnya geram lalu Adrian berjalan mendekati mobil sport yang ia berikan pada Diyah. Adrian baru saja mengantar keponakannya sampai ke dalam kelas, banyak para siswi yang centil mencuri-curi pandang melihat tampang Adrian. Walaupun Adrian memakai topi dan kaca mata hitam, ketampanannya tidak bisa tertutupi.
***
__ADS_1
Chika masuk kelas dengan ngos-ngosan. Ia berbalik melihat ke arah belakang, takut kalau tiba-tiba omnya Diyah mengikutinya.
"Berisik kalian semua!" jerit Diyah geram, Chika terkejut. Apa penyebab sahabatnya berteriak seperti ini.
Semua yang awalnya berkumpul menanyakan banyak hal tentang siapa cowok yang bersama Diyah tadi, langsung bubar. Takut melihat Chika yang mendekati mereka.
"Ada apa ini?" tanya Chika memegang bahu Diyah.
"Mereka semua pengin tau siapa cowok yang ngantar gue tadi Chik."
Chika menggangguk paham. Oh, berarti tadi omnya Diyah mengantarkan Diyah sampai kelas dan membuat semua cewek di sini geger. 'Dasar sok ganteng,' batin Chika.
"Hahaha, om lo. Populer juga ya," ucap Chika dengan nada tinggi. Semua siswi wanita shok mendengarnya, Diyah yang seakan tau apa maksud Chika ngomong begitu dan sontak Ia menyeringai.
"Entah tuh, gue juga bingung. Padahal om gue udah punya anak dua masih aja populer." Ucapan Diyah membuat semua shok. sekarang bukan hanya para siswi wanita yang shok, Chika yang mendengarnya juga shok.
'Jadi dia beneran udah tua, punya anak dua? Iyu ... masak iya gue suka sama om tua itu. Enggak-enggak, itu gak boleh terjadi,' gumam Chika seakan jijik.
"Hahaha, iya." timpal Chika dengan tawa renyah, pura-pura tahu, kalau omnya Diyah emang punya dua anak.
Bersambung...
Jangan lupa Vote, Like, Coment dan Favorit🤗 agar author-nya lebih semangat lagi.
__ADS_1
Dan terima kasih atas segala dukungannya🙏💝😁
01-03-2020