Om, Nikahi Aku?

Om, Nikahi Aku?
Siapa wanita ini?


__ADS_3

Lantunan musik pop berdering nyaring di atas nakas, di samping tempat tidur gadis berambut coklat yang tengah melamun membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.


Tangannya terulur mengambil benda pipihnya, tertera nama sahabat kecilnya yang menelepon.


"Apa Diyah?" tanya gadis itu langsung saat panggilan ia angkat.


"Chika lo di mana?" tanya Diyah di sebrang sana.


"Gue di rumah Om, lo. Kenapa emang?"


"Gak ada sih, gue bosen. Mau ngobrol sama lo, tapi gak jadi lah. Gue kira lo di rumah lo tadi."


"Ngomong apa sih, masalah si dingin itu?" Tebak Chika langsung ada nada tidak suka di situ, si dingin yang Chika maksud adalah Jack. Yah, sahabat Diyah itu sangat tidak menyukai Jack tapi dia tetap mendukung sahabatnya itu.


"Iya, kok lo tau?"


"Apa yang enggak gue tau tentang lo sih."


"Ah, lo memang sahabat terbaik deh. Chika, apa gue lupakan dia aja yah. Udah capek gue suka gini sama dia tapi dia liat balik ke gue aja enggak ...."


Terdengar Diyah membuang napas besarnya, sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Tapi gue gak bisa Chika ... hiks ...." Diyah menangis membuat Chika sontak berdiri dari duduknya.


"Diyah lo ...."


"Apa setatus itu penting, Chik?" tanya Diyah di sela-sela tangisnya. Chika diam.


'Apa yang harusku jawab,' batinnya bingung.


"Gue gak perduli Chika, gue terima dia apa adanya. Kenapa dia bilang gak pantas, apa status itu terlalu penting?"


"Kenapa kisah cinta gue seperti ini, gue nyesel di lahirkan di keluarga kaya," lanjutnya lagi.


Isak Diyah semangkin terdengar. Chika memegang dadanya, seolah ia juga merasakan sakit yang sahabatnya rasakan.


"Diyah lo sabar, jangan ngomong kayak gitu Diyah ini takdir lo. Lo harus hadapi ini. Apa gue ke rumah lo. Biar lo bisa tenang?" Dia memegang tas selempangnya.


"Iya Chik, gue gak akan nyerah. Gak usah Chika, gue gak papa. Cuma itu yang ingin gue ceritakan. Makasih yah, udah mau dengerin gue."


Diyah menahan isaknya.


"Itu baru Diyah gue. Diyah dengerin gue, gue akan jadi nomor satu yang selalu ada buat lo. Jangan terlalu di pikirkan, kalau lo jodoh dengannya pasti kalian akan di satuan kok, Tuhan itu gak tidur," ucap Chika, dia kembali duduk di pinggir kasurnya.


"Makasih baby, ya udah yah. Gue tutup dulu, salam buat Om, tante dan Reyhan."


"Iya Diyah, da."


Panggilan tertutup, dia meletakkan benda pipihnya ke atas nakas. Mengambil catatan kecil yang sudah terlihat kusam, berwarna Pink muda. Dengan tulisan depannya adalah.


ADRIANKU


Chika sesak melihat tulisan tangan yang cantik itu, ia belum membukanya. Tangannya masih menelusuri pahatan tulisan Adrianku itu.

__ADS_1


Beberapa jam yang lalu, Evelyn membawa ia ke kamar samping Adrian. Kamarnya cantik dan ada pigura besar di atas tempat tidur. Dan Chika sempat shok saat mengingat pigura itu, tangannya menghapus kasar wajahnya.


'Bukannya dia yang waktu itu ....' Chika menutup mulutnya, kaget.


'Itu dia! Tidak mungkin.' Gadis itu mundur beberapa langkah.


"Ada apa Chika?" tanya Evelyn bingung.


"Ah, gak papa Kak," jawabnya gugup sambil memaksa untuk tersenyum.


"Oh, pikir kakak kamu kenapa. Ya udah kamu istirahat yah, kakak keluar," pamit Evelyn.


"Iya Kak," balas Chika sopan.


Setelah kepergian Evelyn, dia menaiki tempat tidur itu dan memegang pigura wanita cantik dengan rambut hitam lurus dan berkulit putih terlihat sangat cantik.


"Siapa dia?"


Gadis itu mendekatkan wajahnya lebih dekat lagi, tampak di tangan sebelah kiri wanita cantik itu seperti ada tato tulisan.


Chika menajamkan matanya, tato itu tertulis nama Adrian. Apa dia salah liat? Merasa kurang yakin, Chika mengambil pigura besar itu dan meletakkannya di atas tempat.


'Astaga!' Gadis itu menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


Benar, itu adalah nama Adrian. Terlihat kecil namun tampak sangat jelas.


"Siapa wanita ini?" Lagi-lagi pertanyaan itu yang keluar dari mulut Chika, dadanya kini terasa sesak.


"Apa dia mantan pacar mas, kalau mantan kenapa potonya masih di pajang." Suara gadis itu terdengar sendu, matanya mulai berkaca-kaca dengan jantung yang terasa nyeri.


Gadis itu bangkit, tangan kanannya mengambil handphone-nya di saku celana dan tangan kiri satunya membuka laci kecil di samping tempat tidurnya.


Namun gerakan tangan kiri itu terhenti saat ia memegang sesuatu dan matanya langsung melihat buku kecil Pink, kusam yang nyaris seperti diary.


***


"Chika kau sudah turun, kenapa? Apa kau butuh sesuatu?" tanya Evelyn saat Chika menuruni anak tangga terakhir dan langkah gadis itu menuju Evelyn yang tengah menata makanan.


Ia paksakan untuk tersenyum.


"Enggak ada Kak, kok Kakak gak banguni Chika, 'kan Chika bisa bantu Kakak."


Tangan gadis itu mengambil alih sayur yang Evelyn bawa dari dapur lalu ia letakkan di atas meja makan.


"Makasih sayang, tapi itu gak perlu Dek. Dengan kau ada di sini aja usah buat kakak seneng," Evelyn mengelus lembut rambut coklat Chika.


"Tapi 'kan, kak ...."


"Gak ada tapi-Tapin," potong Evelyn cepat.


"Kau sangat berarti bagi Adrian sama halnya denganku kau juga berarti bagiku," lanjutnya membuat Chika hanya terdiam dengan menatap Evelyn serius.


"Setelah Chika mengetahui masa lalu Adrian. Kakak mohon, jangan pergi tinggalkan Adrian, teruslah bersamanya. Kakak mohon Chika, apa kau mau berjanji?" Wajah Evelyn terlihat serius.

__ADS_1


"Masa lalu seperti apa Kak?" tanya Chika penasaran.


Bukan maksud Chika tidak menjawab pertanyaan Evelyn hanya saja dia terlalu penasaran, dari tadi jantungnya tidak berdetak seperti biasa dan itu membuat Chika was-was. Matanya sudah menahan air bening yang siap mau terjatuh dari bola mata bulat yang terlihat indah jika di pandang dan entah kenapa perasaannya jadi sendu serasa ingin menangis saja.


Terdengar Evelyn membuang napas berat, mulutnya masih terkunci namun kepalanya bergerak ke samping dengan mata menatap taman yang mempunyai mainan air mancur mungil yang sangat cantik. Mata Chika mengikuti arah mata kakak pacarnya itu.


'Taman itu.' batin Chika.


Evelyn kembali menatap Chika, yang masih menatap taman yang membuat jantungnya bergetar.


"Apa kau sudah melihat poto besar yang ada di kamarmu?"


DEG!!!


Dengan cepat Chika menatap Evelyn ada rasa penasaran dan rasa sakit di dalam mata Chika saat ini.


Menarik napas berat, Chika mengangguk lemah. Mempersiapkan jantungnya yang sudah tidak karuan lagi dengan tangannya yang terkepal.


"Dia itu ...."


"Mommy!" jerit Reyhan dari arah ruang tamu.


"Iya sayang," balas Evelyn mulai melangkah.


"Kita lanjutkan nanti yah." Evelyn menepuk pelan bahu Chika saat melewati gadis itu, dia hanya mengangguk dengan memaksa untuk tersenyum tipis.


Gadis itu mendudukkan dirinya di kursi makan dengan lemas, entah apa yang membuatnya begini. Di satu sisi ada rasa lega saat Evelyn tidak melanjutkan kalimatnya, takut kenyataan pahit yang akan ia telan mentah-mentah, tapi di sisi lain ia masih penasaran tentang masa lalu Adrian dengan wanita cantik di mimpi yang mirip dengan di poto kamar ujung itu.


"Kenapa aku seperti orang gila sekarang." Memukul kepalanya yang terasa berat.


"Apa semua ini."


"Ah, peduli amat." Tangannya mengambil benda pipihnya di dalam kantong celana ya berniat menghubungi adiknya.


Ah, iya. Nina dan Nella adiknya Chika, sekarang satu rumah dengan Diyah dan itu atas permintaan mami Diyah.


Chika tidak bisa berbuat apa-apa saat Viona meminta Nina dan Nella untuk ia rawat dan membiayai sekolah kedua adiknya adalah Viona yang bayar sampai mereka sukses, itulah yang Voina janjikan. Chika ingin menolak. Namun Viona bersujud di depannya membuat Chika tidak biasa berbuat apa-apa, pasrah dan justru marasa bersyukur sebab kedua adiknya terjamin kehidupannya.


"Ngapain ya, Nina sama Nella?"


Tangan gadis itu mengotak-atik benda pipihnya mencari nama mami dan saat jumpa nama mami-nya. Tangannya bergerak ingin menekan tanda panggil namun terhalang dengan tangan besar seseorang yang mencegahnya dengan menggenggam tangan mungil itu.


Kepala gadis itu menoleh ke samping dan tampaklah wajah Adrian di sampingnya, bukan hanya di sampingnya bahkan Adrian sudah menempel di tubuh kursi belakang Chika membuat paha Adrian menempel di bahu Chika.


"Apa kau siap mendengarkan cerita di masa laluku?"


Bersambung ....


Hallo guys, lama yah UP-nya?


Maaf yo. 😁😁


Aku sibuk guys, maklum yah.

__ADS_1


Jangan lupa vote-nya yah. 😘😁😘


__ADS_2