Om, Nikahi Aku?

Om, Nikahi Aku?
Part_38


__ADS_3

Saat dirinya sampai di dapur, matanya langsung melihat wanita cantik berumur 30 tahun yang tengah memasak. Dengan cepat gadis itu menurunkan tangannya, ia tidak mau ada yang khawatir.


"Kau sudah bangun sayang?"


Gadis itu memaksakan garis bibirnya terangkat dan membentuk senyuman.


"Udah Kak, Aw!!" rintihnya memegang perut bagian bawahnya. Rasa sakitnya benar-benar tidak bisa ia tahan.


"Ada apa Chika?" tanya Evelyn khawatir, ia sudah mendekati Chika dan kini memegang bahu gadis itu.


"Perut Chika sakit Kak, kayaknya Chika mens deh," jawab Chika sambil tersenyum.


"Astaga, Kakak kira kamu kenapa. Bagaimana kalau Kakak buatkan jamu penghilang nyerinya."


"Apa mempan, Kak?"


"Mempan, Kakak dulu sering minum itu. Kamu duduk di sana dulu yah." Evelyn menuntun Chika ke meja makan.


"Makasih Kak," ucapnya tulus saat dirinya sudah duduk di kursi makan.


"Kau seperti sama siapa saja, kita ini sudah seperti keluarga jadi jangan terlalu sungkan," balas Evelyn sambil ia berjalan mengarah ke dapur yang tak jauh dari meja makan.


'Bagaimana pun Chika masih orang lain Kak, jika Chika dan Adrian sudah....' Gadis itu menarik napas berat, ia tak sanggup meneruskan ucapan dalam hatinya itu. Melipat tangan di atas meja lalu membenarkan wajahnya di tumpukan tangan kecil itu.


'Aku berharap lebih, apa boleh?' batin gadis itu lagi.


20 menik kemudian, jamu buatan Evelyn sudah jadi lalu ia mengantar dan meletakkan di depan Chika yang terlihat pucat.


"Palan-palan minumnya ini masih terlalu panas." Evelyn duduk di depan kekasih adiknya itu.


"Makasih Kak,"


"Kakak tinggal yah, mau membangunkan Reyhan," Evelyn berdiri.


"Iya Kak."


Setelah itu Evelyn pergi. Dengan perlahan gadis itu menenggak sedikit jamu buatan Evelyn.


"Ah, pahit." Tangannya menjauhkan jamu itu dari hadapannya.


"Tapi kalau tidak aku minum, sakit ini tidak akan hilang." Dia tampak berpikir dan dengan keberanian penuh ia mendengak habis jamu itu.


"Hah, memang. Ini rasanya pahit sekali tapi aromanya sangat wangi." Gadis itu terus berbicara tanpa ia sadari sakit yang di perutnya telah hilang.


Dan juga gadis itu tidak sadar ada seseorang yang tengah memandangnya penuh kagum dengan bibir yang terus tersenyum lebar.


Perlahan namun pasti seseorang itu mendekati Chika, setelah sudah benar-benar sampai di belakang kekasihnya ia membungkuk dengan cepat lantas segera meraup bibir ranum Chika dengan gemas. Repleks tangan Chika ingin mendorong namun belum sempat tangan itu bertindak mendorongย  orang yang menciumnya.


Tiba-tiba orang itu melepas cepat bibirnya dari bibir Chika dan melangkah mundur.


"Pahit, kenapa rasanya pahit," ucap laki-laki itu sambil menyapu bibirnya yang basah.


"Suruh siapa asal cium," kata Chika terkekeh, ia ingat saat tadi dirinya minum jamu yang di berikan kakaknya Adrian.


"Kenapa bibirmu pahit?" tanya laki-laki itu sembari kakinya melangkah mendekati Chika.


"Aku minum jamu tadi," balasnya acuh seperti merasa tidak terjadi apa-apa tadi. Ia berdiri dan membelakangi Adrian yang sudah sampai di belakangnya lagi.


Tangan gadis itu mengangkat gelas, berniat ingin membawanya ke wastafel namun gerakan tangannya berhenti bersamaan saat ia merasa tengkuknya di sentuh dengan benda kenyal.

__ADS_1


Adrian menempelkan bibirnya di tengkuk Chika dan menghirup aroma wangi tubuh wanitanya itu.


"Hey, kau apa-apaan!" benak Chika terkejut, gadis itu berbalik dan tanpa ia sadari tangannya mendorong kuat dada Adrian mengakibatkan Adrian terhuyung ke belakang.


"Kau mendorongku?" tanya nya laki-laki itu dingin, ia tidak terima atas dorongan yang Chika lakukan.


Chika menunduk, ia merasa kakinya kini dingin karna ketakutan. Suara dingin Adrian terdengar sangat menakutkan.


"Maaf," kata gadis itu pelan, sangat pelan dan nyaris tak terdengar. Gadis itu tertunduk.


Adrian mengkulum bibirnya.


'Dia lucu sekali,' batin laki-laki itu.


"Kenapa minta maaf?" Laki-laki itu mengulang nada suaranya yang terdengar dingin lagi, ia sengaja ingin mengerjain pacarnya yang polos ini. Masih dengan posisi menunduk.


Dan kaki Adrian bergerak, mendekati Chika yang belum menjawabnya pertanyaannya.


"Karna mendorong Mas tadi." Suara Chika masih pelan, tapi Adrian bisa mendengarnya.


Dia menautkan kedua tangannya dan meramasnya kuat saat matanya melihat sepasang kaki Adrian sudah sampai di depannya dan badan gadis itu mulai bergetar.


"Tegakkan kepalamu!"


"Ini sudah!" teriak Chika tanpa sadar dan bersamaan dengan kepalanya yang spontan langsung terangkat.


"Maaf," ucapnya pelan saat menyadari suaranya yang terlalu besar.


"Apa maaf cukup?" Maju beberapa langkah membuat Chika ikut mundur otomatis dengan kedua tangan yang terangkat di atas dada lalu terhenti saat kakinya menyentuh meja makan membuatnya tidak bisa mundur lagi.


"Jawab!" bentak Adrian.


"Jadi aku harus apa!" bentaknya tanpa sadar bersamaan dengan air mata yang mengalir di kedua sudut matanya, ia terkejut dengan suara besar kekasihnya.


"Aku gak papa, aku mau ke kamar," ucapnya cepat dan badannya berbalik ingin pergi tapi tiba-tiba tangan kekar Adrian memeluk pinggang Chika dari belakang.


"Maaf, kalau Mas bentak adek tadi," bisik Adrian lembut.


"Seharusnya Chika yang minta maaf, Chika gak seng...."


"Sttt ... Mas tau itu sayang."


"Apa Mas masih marah sama Chika?"


"Enggak, Mas gak bisa marah lama-lama sama pacar Mas yang cantik ini," jawabnya sambil mempererat pelukannya.


Pipi Chika memanas, ia mencubit pelan tangan Adrian.


"Apaan sih, cantik dari mana," kilahnya salah tingkah.


"Ini cantik," ucap Adrian yang sudah membalikkan badan kekasihnya menghadap ke arahnya dan tangannya menghapus sisa air mata wanitanya.


"Dan lebih cantik lagi kalau adekku ini gak nangis kayak tadi."


"Chika nangis yang buat 'kan, Mas."


"Mas minta maaf."


"Karna?"

__ADS_1


"Karna buat adek Chika yang cantik ini menangis." Tangannya mengelus lembut pipi merona Chika.


"Ah, ngibul aja."


"Apa ngibul, sayang?"


"Masak Mas gak tau ngibul, ngibul itu ...."


"Jangan sentuh pacar Reyhan!" terik anak kecil tiba-tiba dari arah ruang tamu membuat Adrian sontak melepaskan tangannya dari pinggang Chika.


"Eh, sayang. Sudah bangun," ucap Chika saat bocah itu berlari kecil ke arahnya.


Wajah Adrian tampak kesal.


'bocah ingusan, pengganggu!' jerit ya dalam hati.


"Jangan lari-lari sayang, nanti jatuh," ucap Evelyn dari belakang Reyhan, mengikuti putranya yang semata wayang itu.


"Jangan sentuh pacar Reyhan, Daddy," ucapnya sambil memegang tangan Chika dan mata anak itu menatap Adrian marah.


"Dia bukan pacarmu, dia istriku," balas Adrian asal sembari tangan sebelah kanannya ia selipkan di pinggang ramping Chika.


Mata Chika membesar mendengar ucapan Adrian itu, kaget. Tapi lain halnya dengan Reyhan, anak itu menangis.


Ia dudukkan badannya di lantai.


"Reyhan bukan pria sejati," ucapnya sembari terus menangis.


Evelyn, Chika dan Adrian terbengong, dengan Reyhan yang terlihat hitres namun detik kemudian mereka ikut panik.


"Ada apa nak? Kenapa bilangnya begitu," ucap Evelyn sudah berjongkok di dekat putranya.


"Mommy," rintihnya menangis seraya wajahnya tertunduk menatap lantai.


"Apa kakak ada salah, sayang?" imbuh Chika ikut berjongkok di dekat anak itu juga.


Anak tampan itu menggeleng.


"Apa Daddy yang punya salah, Nak?" Kini Adrian yang bertanya sama halnya dengan yang di lakukan dua wanita kesayangannya, ia ikut berjongkok juga namun tepat di depan keponakan yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.


Lagi-lagi anak itu menggeleng.


"Reyhan gak bisa dapatkan kak Chika sepenuhnya, apa namanya itu? Bukankah Reyhan bukan pria sejati .... hiks ...."


Tangis anak itu pecah sambil ia menekuk kedua kakinya lalu ia benamkan wajahnya yang tampan itu ke kedua lutut mungilnya.


Bukannya terharu atau berusaha menenangkan anak kecil yang sedang menangis itu, justru 3 orang yang mendengarnya lantas tertawa sampai-sampai Adrian memegang perutnya. Bukannya apa, Adrian merasa ingin muntah sekaligus geli.


"Reyhan-Reyhan ...." ucap Chika sambil menggelengkan kepalanya.


Sedangkan sang ibu hanya bisa tertawa sembari mengelus lembut putranya itu.


Bersambung....


Maaf teman-teman aku baru bisa UP.


Aku mungkin akan jarang UP, jadi aku mohon kalian bisa mengerti. Dan yang masih menunggu cerita aku UP, terima kasih ya.


Lope-lope deh buat kalian yang masih setia menunggu cerita aku.

__ADS_1


Maaf jika ceritanya tidak menarik....


Mohon dukungannya. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜๐Ÿ˜š๐Ÿ˜š


__ADS_2