
"Jika kau butuh seseorang, jangan sungkan. Aku bisa menemanimu jika kau mau," Laki-laki itu tersenyum.
"Gak perlu, gue gak butuh." Chika berdiri, laki-laki itu juga ikut berdiri dan ia tersadar jarak mereka agak terlalu dekat.
"Lo kenapa sih." Kesal laki-laki itu.
"Lo yang kenapa, ngapain lo disini. Lo ngikuti gue yah," tuduh Chika sedikit emosi.
"Jangan gr deh lo, gue juga lagi ziarah kali," kilah laki-laki itu.
Dukk!!
"Minggir lo, jangan dekat-dekat gue."
Juan yang terdorong kebelakang hanya diam dan menatap datar gadis di depannya.
Ya, Juan si murid terpintar di sekolah Chika dan Diyah.
"Gak tau terima kasih lo," ucap Juan berbalik dan melangkah pergi.
"Gue gak butuh belas kasian lo," jerit gadis itu kesal. Ia berjongkok lagi di samping gundukan tanah kedua orang tuanya dan tidak melihat lagi Juan yang sudah pergi.
Saat dia di sibukkan dengan memandang gundukan tanah papanya. Juan berbalik lagi dan dengan tergesa menghampiri Chika.
"Ikut gue sekarang." Juan menarik tangan Chika.
"Apaan sih lo, lepas gak." Berontak gadis itu namun tenaganya kalah kuat dengan Juan.
"Lepas, gue bilang," bentak Chika melepas tautan Juan dengan paksa. Mereka sudah di luar pemakaman.
"Lo gila ya, seenaknya aja lo bawa-bawa gue."
"Lo gak liat bentar lagi hujan,"
"Apa peduli lo," bentak gadis itu.
Juan terdiam, ia memalingkan wajah ke arah lain. "Gue gak mau aja liat lo kehujanan," ujar Juan pelan.
"Basi," balas Chika kesal, ia melangkah pergi meninggalkan Juan begitu saja.
"Ayo biar gue antar," seru laki-laki itu memgikuti Chika dengan motornya yang ia dorong.
"Gue gak butuh, pergi aja lo sono," usir gadis itu masih terlihat kesal lalu ia mempercepat jalannya.
Chika sedikit heran, ada apa dengan Juan sebenarnya. Bukankah mereka selama di sekolah tidak pernah dekat atau bahkan jarang bersitatap tapi kenapa laki-laki itu sangat peduli sekarang.
"Gue bukan penjahat Chika, cepatlah naik," titah Juan masih mengikuti gadis itu dari belakang.
Chika menghentakkan kakinya kesal, ia berbalik menatap laki-laki tampan yang lebih tinggi darinya dengan emosi matanya memancarkan kemarahan.
"Apa mau lo sebenarnya?" Ia merasa muak dengan sikap Juan yang sok akrab menurutnya.
"Gue mau ngantar lo pulang, apa masih kurang jelas?"
"Sejak kapan kita dekat? Biarkan gue pulang sendiri dan lo pulang aja duluan."
"Gue gak mau!"
"Juan," geramnya, mengeraskan rahangnya, kesal.
__ADS_1
"Iya Chika," balas Juan santai, ia justru menatap Chika lembut.
'Cowok sinting,' umpat Chika dalam hati, kemudian ia kembali berbalik dan melangkahkan kakinya pergi tidak menghiraukan Juan yang terus mengikutinya.
Gadis itu menghentikan langkahnya saat beberapa menit kemudian mobil sport yang ia kenali menghadangnya di depan. Ia sedikit kaget sama halnya dengan Juan juga ikut kaget.
'Aih, ada apa hari ini. Mengapa aku harus bertemu dia sih,'
"Chika sebentar," tahan laki-laki yang mempunyai mobil mewah itu dengan menahan tangan Chika yang melewatinya begitu saja.
Juan mencagak motornya, kemudian mendekati Chika dan berdiri tepat di samping gadis itu dengan menatap tajam laki-laki yang mempunyai mobil mewah itu.
"Aku mau pulang, Om. Biarkan aku pulang," ucapnya dingin.
"Biarku antar,"
"Gue yang antar dia," Juan bersuara.
Gadis itu berdecih. "Aku punya kaki yang masih berpungsi," Mata gadis itu menatap kedua laki-laki yang membuat harinya kacau.
Kemudian ia berlalu dari hadapan kedua laki-laki itu.
'Mereka berdua menyebalkan,' umpatnya melangkah lebih cepat.
Adrian mengikuti Chika berniat ingin mencegahnya namun tangan laki-laki yang ia tidak kenal itu menariknya.
"Jangan kejar pacarku bang, kau ini siapa?" Juan emosi.
Adrian menghempas tangan Juan, menatap tajam Juan seolah ingin membunuhnya sekarang juga.
"Aku tunangannya, kau jangan seenaknya bilang dia itu pacarmu," Adrian mengeraskan rahangnya dan tangannya sudah terkepal.
"Kau masih muda, tapi tidak bisa bersopan santun yang baik," Adrian menahan emosinya. Akan sangat gila kalau dia menghadapi anak di bawah umur.
Dia masuk ke dalam mobil saat sebelumnya ia lihat Chika menaiki angkutan umum.
Menurunkan kaca mobil. "Jaga bicaramu lain kali, kalau tidak hidupmu akan sensara nantinya."
Entah ancaman atau apa, tapi itu membuat Juan geram ia menendang daun kering di depannya dengan geram. Adrian sudah pergi.
"Kau pikir kau siapa," jerit Juan, kesal.
***
'Hari ini benar-benar sial,' umpat gadis itu saat tiba di kamarnya. Menjatuhkan tubuhnya di atas kasur dan memejamkan mata. Mencoba untuk tidur, dan berusaha menenangkan pikirannya.
Perlahan alam bawah sadar menghampirinya.
"Jauhi Adrian jika kau ingin selamat." Tatapan mata wanita di depannya itu sangat mengintimidasi.
Matanya melihat sekeliling, mereka sekarang berada di sebuah ruangan tertutup serba putih. Seorang wanita cantik yang tidak ia kenal kini seperti mengancamnya.
"Kau tidak pantas untuknya," lanjut wanita itu, Chika masih diam dadanya terasa sesak mendengar ucapan wanita itu, namun mulutnya terasa terkunci, tidak sanggup membalas ucapan wanita di depannya itu.
"Plis, jangan ambil Adrian dariku." Suara wanita itu berubah sendu, dan Chika tercekat saat air mata wanita yang tidak ia kenali itu jatuh. Ia berjongkok memegang kaki Chika, terlihat seperti memohon.
"Jangan ambil dia."
"Aku miliknya bukan kau, Adrian milikku." Wanita itu terisak, dengan posisi yang sama.
__ADS_1
"Adrian milikku."
.
.
"Hahh!!"
Kedua mata Chika terbuka lebar dengan tubuh yang seketika terduduk, dengan dahi yang telah di banjiri oleh keringat. Dengan napas tersengal, ia mengusap wajahnya frustasi.
"Mimpi apa itu, wanita itu siapa?"
Ini kali pertama dia di datangi dalam mimpi oleh seorang gadis yang sangat cantik dengan wajah pucat, meminta untuk menjauhi Adrian, laki-laki yang ia cintai.
Dia jambak rambut kecoklatannya dengan frustasi kemudian ia berusaha menormalkan nafasnya dan menetralisir kepalanya yang terasa pusing.
"Chika, kamu sudah bangun?"
Dia menoleh dengan cepat ke arah pintu. Wanita dalam mimpinya tadi yang memohon untuk menjauhi Adrian dan kini laki-laki itu sudah masuk ke kamarnya dengan membawa nampan yang berisi makanan.
"Kamu masih gadis tapi tidur sudah kayak kebo aja." Senyumnya terukir dan laki-laki itu duduk di tepi kasur dan meletakkan nampan di tengah mereka.
Ah, sekarang sudah malam rupanya dan Chika baru sadar bahwa dia sudah tidur 6 jam lebih, matanya melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 20:02.
"Sejak kapan Om di sini?" tanya Chika begitu dingin. Bayangan mimpi tadi terlintas di kepalanya, ia harus berwaspada pada laki-laki yang ada di depannya ini.
"Apa itu penting, makan dulu. Nanti aku jawab," titah Adrian, memajukan nampan itu lebih dekat dengan Chika.
Gadis itu masih diam, dengan sorot mata yang terlihat tidak suka menatap Adrian. "Pulang sana, Om. Aku gak mau liat wajah Om untuk sekarang ini."
"Kenapa?"
"Gak papa, pulang sana."
"Gak mau," ucap Adrian, dia masih diam di tempatnya dan tidak ingin beranjak.
"Aku bilang pulang, ya pulang."
"Aku bilang enggak, ya enggak."
"Jangan buat aku emosi, ya."
"Jangan buat aku juga emosi, ya."
Mata gadis itu melotot dengan emosi yang sudah diubun-ubun.
"Ok-ok, aku keluar. Kamu makanlah, setelahnya aku akan pulang." Adrian keluar dari kamar dan menutup kembali pintu kamar gadis itu.
Setelah Adrian sudah menutup pintu, Chika menggeser jauh nampan itu. Lalu ia sembunyikan wajahnya di antara kedua kakinya yang ia peluk.
"Kenapa harus dia yang aku jauhi, kenapa gak orang lain. Aku gak bisa melakukannya.' Air matanya jatuh tanpa di perintah.
'Tolong jangan dia,' Gadis itu terisak.
Bersambung....
Terus dukung Author ya!
Vote & Koment-nya. 😊😊
__ADS_1