Om, Nikahi Aku?

Om, Nikahi Aku?
Om, Gila?


__ADS_3

Pernah tidak kalian berpikir akan mendatangi rumah mewah, seperti di film-film. Secara sederhananya, jika kita melihat dengan kasat mata, rumah mewah pasti akan terlihat lebih elegan, lebih besar, dan juga lebih menarik. Ah, sudahlah Lupakan itu.


Saat ini Chika tengah termenung memandangi rumah mewah keluarga Diyah, walaupun Diyah teman baik Chika. Bukan berarti Chika sesuka hati masuk ke rumah mewah Diyah. Sering Chika diajak Diyah datang ke rumahnya, tapi Chika tidak pernah mau.


Rumah Diyah terlihat sangat mewah, bagi Chika ini pertama kalinya melihat rumah semewah ini. Chika menatap dengan kagum.


'Kapan ya gue punya rumah kayak gini? Hiks ... miris banget hidup gue.'


Ekhem...!


Chika tersentak dan menoleh ke belakang di mana sumber suara yang berdehem tadi.


"Om?" Mata Chika terbelalak ingin keluar dari tempatnya. Adrian berdiri di belakangnya dengan alis berkerut.


"Biasa aja kali gak usah sekaget itu, lo pikir gue hantu," ucap Adrian datar, menatap Chika yang masih terkejut.


Awalnya Adrian yang baru pulang dari kantor sedikit terkejut melihat teman keponakannya yang malah berdiri di depan rumah pamannya, ayah Diyah.


Adrian melewati Chika saat merasa ditatap aneh oleh Chika.


'Nih anak gila kali ya, kayak tidak pernah lihat orang saja,' ucap Adrian dalam hati.


Chika yang dilewati Adrian langsung tersadar dari lamunannya yang dari tadi menatap Adrian kagum, ganteng? Pasti dong.


"Eh, Om. Tunggu dong," teriak Chika mengikuti langkah Adrian. Adrian yang diikuti cuek aja. Berjalan dengan langkah cepat dan membuka kunci pintu kamarnya. Adrian masuk, melepas sepatunya dan membung ke rak sepatu dengan asal.


'Eh, kok ini kamar sih. Ah, mungkin pertamanya kamar kali ya,' gumam Chika tanpa ragu ikut masuk juga.


Mengamati semua sudut kamar Adrian, terlihat poto Adrian dengan wanita di sampingnya serta anak kecil yang digendong Adrian. Anak itu terlihat berumur tujuh tahun atau bahkan lebih.


'Cih, ternyata benar dia sudah menikah. Tapi tunggu! Bukankah Diyah mengatakan anaknya 2 yah?' Chika mengerutkan alisnya, mencari jawaban.


Adrian membuka baju atasnya dengan cepat, berniat ingin cepat mandi dan lekas tidur. Chika yang masih berpikir lalu menoleh ke belakang dan melihat adrian membuka bajunya, terkejut.


"Stop Om, kanapa Om membuka baju di depan saya, saya masih kecil, Om," ucap Chika panik dan menutup tubuh kecilnya dengan tas rensel miliknya.


Adrian yang melihat itu ingin tertawa tapi ia urungkan. Mendekati Chika dengan seringai menggoda.


"Gue gak masalah kalau lo masih kecil, nanti akan gue ajari biar lo pintar, bagaimana?" Sudah mendekati Chika dengan bertelanjang dada, Chika mudur beberapa langkah dan terpojokkan dengan meja kerja yang ada di belakangnya.

__ADS_1


"Om, saya akan laporkan Om sudah berbuat asusila pada anak dibawah umur!" ancam Chika dengan gemetar.


Adrian melangkah menjauhi Chika dengan tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya, lucu melihat wajah pucat Chika.


"Bocil-bocil ... elo sih ngapain masuk ke kamar gue?"


"Kamar, Om?" Bertanya dengan bingung, sebab Chika yang tidak tahu pintu depan di mana dan mengikuti Adrian berpikir kalau Adrian masuk ke pintu utama.


"Iya ini kamar gue, lo apa gak liat tadi 'kan gue belok dari pintu utama. Ini jalan kamar tercepat gue dan lo ngapain ngikuti gue, badoh!" celetuk Adrian, sudah duduk di pinggir kasur.


Chika berpikir sejenak, menginggat apa yang Adrian bilang. Benar! Sangkin buru-burunya tidak mau ditinggal Adrian, tanpa sadar Chika tidak memperhatikan pintu utama yang besar dwngan tidak sengaja ia lewati tadi.


"Maafkan saya Om, karna kebodohan saya tidak melihat pintu depannya. Kalau begitu saya keluar," pamit Chika. Berusah kabur dari om mesum itu. Chika Berbalik dan menekan knop pintu sebelum keluar sebuah suara menghentikan langkahnya yang ingin segera keluar kamar.


"Bagaimana kalau kita lanjutkan saja, sayang. Tenang saja mereka yang di ruang tamu tidak akan mendengarnya, karna kamar ini kedap suara," ucap Adrian dengan suara menggoda.


Jantung Chika berdebar, bukan karna jatuh cinta. Jijik! Dengan perkataan Adrian barusan.


"Jangan harap," balas Chika penuh penekanan lalu dengan segera keluar, membanting kuat pintu kamar Adrian dengan perasaan jengkel.


Setelah Chika keluar, Adrian tertawa terbahak-bahak, membaringkan tubuhnya yang lelah, masih terbayang wajah imut Chika yang ia panggil bocil itu.


***


Chika menghentakkan kakinya dengan kesal, masih terngiyang ucapan omnya Diyah. Tanpa sadar Chika sudah berada di ruang tamu dan di perhatikan Diyah dari kejauhan dengan raut wajah kesal itu.


"Chik, Sini. Elo kenapa sih? Jelek amat muka lo," ucap Diyah, sudah berkumpul dengan dua teman kelompok lainnya.


"Diputusin kali," tuduh Nana yang bermulut asal ceplos.


"Emang dia laku!" pekik Diyah disambut gelak tawa Nana dan Dewi.


Chika mentap jengkel semua teman sekelompoknya terutama Diyah.


"Maleh ah, belajar sama kalian. Gue pulang aja deh." Berbalik ingin pergi.


"Eh, jangan dong baby. Nanti tugas kita jelek lagi hasilnya kalau gak ada elo, ya gak?" tanya Diyah yang sudah memasang wajah memelasnya.


"Bener tuh, maafin kita ya. Tadi bercanda kok, lu 'kan pintar, entar kita dapat nilai jelek lo. 'Kan elo yang rugi juga Chik." Timpal Nana.

__ADS_1


"Jangan ya," Dewi ikut-ikut. Mereka memasang wajah memelas pada Chika yang masih berdiri.


"Baiklah, normalkan wajah kalain. Jijik gue liatnya," ucap Chika sambil duduk dengan tenangnya.


"Orang pintar berkuasa," ucap Diyah menyindir kesombongan Chika.


Gelak tawa mereka menggema di ruang tamu dan terhenti tatkala datang minuman dan kue yang dibawakan pembantu Diyah.


"Silahkan, Nona-nona." Menata di meja dengan rapi.


"Terima kasih, Bi," balas semuanya nyaris bersamaan.


***


Kini hari sudah menjelang sore Chika berpamit pulang saat semua tugas mereka telah selesai. Diyah yang ingin mengantarkan Chika pulang tidak jadi karna Chika menolak dengan tegas. Mengatakan bahwa ia bisa pulang sendiri.


Dengan langkah gontai Chika melewati halaman depan rumah Diyah yang luasnya minta ampun. Adrian yang tidak ada kerjaan tengah duduk di kursi dekat jalan dan ekor matanya tiba-tiba melihat Chika yang berjalan dengan lesu.


Huh, nyesel gue gak terima tawaran Diyah. Setidaknya 'kan gue bisa ngirit ongkos, bodoh lo Chika. Gerutu Chika.


"Woy!" Teriakan Adrian membuat Chika mendengak. Chika yang awalnya menunduk lesu, kecapean berjalan keluar halaman rumah Diyah.


Ih, ngapain sih itu tua bangka. Gue punya nama kali, Om! Ah, mana dengar dia kalau gue ngomongnya dalam hati.


"Apaan," balas Chika datar. Tidak menghentikan jalannya dan melewati Adrian begitu saja.


"Woy! Gue ngomong sama lo kali."


Chika berbalik dan menatap Adrian lesu.


"Apa sih Om, aku mau cepat pulang. Adik-adik aku pasti nungguin aku sekarang."


"Ya udah, ayok." Adrian berdiri dan menarik tangan Chika menuju mobilnya.


Bersambung....


Jangan lupa Vote, Like, Coment dan Favorit🤗 agar author-nya lebih semangat lagi.


Dan terima kasih atas segala dukungannya🙏💝😁

__ADS_1


10.03.2020


__ADS_2