Om, Nikahi Aku?

Om, Nikahi Aku?
Tunggu pembalasanku


__ADS_3

Chika



"Aku tidak tahu setelah ini kita masih bisa seperti ini atau tidak, jangan bangun Mas tetaplah seperti ini." Mata gadis itu masih menatap wajah Adrian.


"Kenapa tidak bisa?"


Suara Adrian membuat Chika terkejut, tiba-tiba lelaki itu berbicara.


"Eh, Om udah bangun," cengir Chika mengalihkan pembicaraan, Adrian sudah membuka matanya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, Chika."


Gadis itu beranjak ingin bangkit dari tidurnya namun sebuah tangan menghalang kepalanya.


"Tetap seperti ini." Tangan Adrian memegang kepala Chika dan terdapat sedikit penekanan sebab gadis itu memberontak.


"Lepas Om, nanti ada yang melihat kita."


"Di sini sepi Chika, jangan mencari alasan. Lagian kita tidak ngapain-ngapain kenapa kau takut?"


'Aku bukan takut sama orang, aku takut denganmu,' balasnya dalam hati.


"Kenapa diam?" Mata laki-laki itu mengintimidasi.


"Tidak papa-papa, lepaskan tanganmu," protes Chika dengan memukul tangan Adrian yang masih di atas kepalanya.


"Tidak mau, nanti kau berpaling ke arah yang lain."


"Ya sukaku lah, wajah-wajahku,"


"Kalau gitu aku gak akan melepaskan tanganku,"


Mata Chika melotot.


"Aku tidak takut," ucap Adrian tidak melepaskan tangannya, justru ia mendekatkan wajahnya.


"Jangan macam-macam, Om."


"Cuma satu macam saja." Ia tersenyum.


"Aku akan teriak!" ancam gadis itu.


"Silahkan, lagian tidak akan ada yang mendengarnya." Wajah Adrian semangkin mendekati wajahnya Chika.


Buk!!!


"Aw ...."


Adrian memegang perutnya yang baru saja di tumbuk Chika.


"Sudah aku peringatkan, jangan macam-macam, kau tidak mendengarkannya." Chika sudah duduk, ia mengambil tasnya lalu berdiri.


"Ayo antar aku ke kafe xxxxx."


Gadis itu sudah berjalan lebih dahulu, merasa Adrian tidak mengukutinya dan menjawabnya. Ia berbalik dan terkejut saat dilihatnya Adrian meringkuk kesakitan.


"Apa segitu sakitnya?" tanyanya panik, ia memegang tangan Adrian yang memegang perutnya.


Laki-laki itu hanya meringis tanpa berniat menjawab, ia menunduk dengan senyum kilasnya.


"Om, jangan buat aku khwatir, apa perlu ke rumah sakit?"


Laki-laki itu menggeleng lalu tiba-tiba tubuhnya jatuh terhempas di depan Chika membuat wanita itu histeris.

__ADS_1


"Mas, kenapa? Bangun Mas," jeritnya memukul pipi Adrian, namum tidak ada tanda-tanda pergerakan dari laki-laki itu.


Chika merogoh handphone-nya dan menelpon Diyah.


"Hallo, Chika ...."


"Bantu gue, cepat datang ke sini Diyah," ucapnya terisak.


"Emang ada apa bilang gue." Terdengar dari sebrang sana tampak ikut panik.


"Cepatlah ke sini Diyah, nanti gue jelaskan." Suara gadis itu mangkin pelan dengan isak tangisnya yang terdengar jelas dan kini tangannya bergetar memegang tangan Adrian.


"Tolong aku," ucapnya terus menangis.


Tit!!


Gadis itu meletakkan asal benda pipihnya, kini tangannya terus mengguncang tubuh Adrian.


"Jangan buat aku takut, Mas. Hiks ...."


Gadis itu memeluk lututnya sendiri dan ia benamkan wajahnya di lutut yang ia peluk dengan tubuh yang bergetar, ketakutan.


Kejadian ini terulang lagi, ketakutan ini datang lagi. Chika semangkin terisak saat bersamaan bayang kejadian papanya yang tertabrak mobil.


Adrian membuka matanya, merasa tidak tega dengan Chika yang terlihat histeris bersamaan dengan Jack dan Diyah yang baru saja mencagakkan motornya, terlihat Diyah memegang benda pipihnya.


Rupanya Diyah mengecek lokasi keberadaan sahabatnya dan dia di antar Jack.


"Chika, aku gak papa," ucap Adrian memegang kepala tertunduk Chika.


"Kenapa ini, Om." Diyah ikut panik dia sudah terduduk dengan napas ngos-ngosan.


"Chika!" Diyah mengguncang tubuh sahabatnya.


"Diyah, dia ...."


Gadis itu tidak melanjutkan kalimatnya ia langsung memeluk Adrian dengan begitu erat.


"Om, beneran gak papa?" tanya Chika menangkup pipi Adrian dengan wajah yang tempak berantakan, mata merah dan air matanya yang masih terlihat sangat jelas.


"Maaf," ucap Adrian menyesal.


"Kenapa Om minta maaf?" Diyah yang bertanya.


"Apa Om, cuma pura-pura?" tanya Diyah, menebak. 


Adrian tidak menjawab, Chika melepaskan tangannya yang masih menangkup pipi laki-laki itu.


"Apa itu benar?" tanyanya sambil menghapus kasar air matanya.


Adrian menunduk, ia menyesal sekarang seharusnya ia tidak melakukan ini.


"JAWAB!" teriak Chika, dengan perlahan laki-laki itu mengangguk.


"Hah!" Chika membuang napas kasar.


"Aku gak nyangka Om lakukan ini," ucap Diyah, ikut kecewa dengan om-nya sendiri.


"Aku cuma main-main aja Diyah." Laki-laki itu bersuara.


"Tapi bukan permainan yang seperti ini."


"Cukup Diyah, biarkan aja. Sekarang aku tahu, kalau dia cuma nganggap aku mainan."


"Bukan begitu, Chika!"

__ADS_1


"Lalu apa?"


"Senang liat aku menangis?" Laki-laki itu menggeleng.


"Senang liat aku ketakutan?" Lagi-lagi dia menggeleng


"Senang liat aku kayak orang gila yang takut kehilangan orang yang di cintainya." Adrian menggeleng lagi.


"LALU APA?" teriaknya, terisak.


Kemudian gadis itu berdiri, mengambil handphone-nya dan tasnya.


"Diyah, antar aku pulang," pinta Chika pelan, suaranya seolah ingin hilang sekarang.


"Chika dengarkan dulu penjelasanku," cegah Adrian yang sudah berdiri.


"Biarkan Chika tenang dulu, Om," ucap Diyah.


"Tapi ...."


"Please,"


Adrian diam, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Air matanya kini jatuh tanpa di perintah. Diyah sudah merangkul sahabatnya.


"Kau sama orang itu aja, aku sama Chika," ucap Diyah pada Jack.


"Baik, Nona."


***


"Chika udah dong nangisnya," ucap Diyah sudah entah yang keberapa kalinya.


Gadis itu sudah hampir 4 jam di rumah sahabatnya namun Chika masih menangis walaupun suara tangisnya tidak terdengar tapi, dia sangat khawatir.


"Gue sangat takut Diyah, apa gue lebay?"


Diyah menggeleng.


"Lo tau pas liat dia tadi gak bergerak, seolah jantung gue berhenti. Gue takut itu terjadi lagi, gue gak mau itu. Cukup gue langsung menyaksikan papa yang meninggal di depan gue. Gue gak mau lihat itu lagi," jelasnya di sela-sela tangisnya.


Jangan anggap Chika lebay, sebab kalian tidak di posisi dia. Sang papa, yang jadi pahlawan baginya meninggal di depan matanya sendiri dan itu sangat menyakitkan rasanya.


Apalagi sekarang cintanya pada Adrian sangatlah besar, sehingga membuat gadis itu seperti ini sekarang. Tapi laki-laki itu dengan teganya mempermainkannya. Chika tidak bisa terima itu dengan mudah.


"Gue tau Chik, gue juga marah sama dia. Udah dong nangisnya."


"Gue gak nangis lagi kok Diyah." Gadis itu bangun dari berbaringnya, menghapus kasar air matanya, membuat Diyah mengerutkan kening.


"Mau ke mana?" tanya Diyah penasaran.


"Mau makan, laper." cengirnya.


"Sadar juganya lo, gue pikir lo kenyang makan nangis," ejek Diyah, bercanda.


Chika memukul paha sahabatnya. "Ya gak mungkinlah," balasnya.


'Tunggu pembalasan gue, om gila,' batin gadis itu menyeringai.


Bersambung....


***Maaf kalau kelanjutannya sedikit.


Tetap dukung author yah. Jangan bosan yah.


Dan comment jika ada yang tidak kalian sukai sama cerita aku. Justru aku senang kalau kalian comment yang banyak, sehingga aku semangkin semangat. Tapi kalau gak ada yang respon ceritaku rasanya aku malas untuk melanjutkan.

__ADS_1


Maaf juga kalau cerita ini tidak sesuai dengan harapan kalian. 🙏🙏***


__ADS_2