
"Astaga, sayang. Kenapa kau menangis?"
Adrian meminggirkan asal mobilnya dan menarik tubuh bergetar Chika.
"Kau marah padaku, aku 'kan jadi takut," ungkapnya di sela-sela tangisannya.
"Maaf yah, Mas tadi hanya bercanda." Tangan laki-laki itu mengelus lembut punggung Chika.
"Benarkah, Mas bukannya benar-benar marah sama Chika?"
Tangis gadis itu mereda, Adrian melepaskan pelukannya dan mengusap kedua mata berair wanitanya lalu mengecup kedua mata itu bergantian.
"Benar, sayang. Mas minta maaf yah?" Suara laki-laki itu terdengar tulus.
"Chika udah maafin Mas, tapi lain kali jangan bercanda yang seperti itu yah Mas."
Tangan kanan Chika mengelus lembut pipi kekasihnya dengan senyum yang manis.
"Iya sayang, maaf yah" ucap laki-laki itu menyesal.
"Iya Mas, tapi bentar! Apa Chika beneran tinggal di rumah Mas?" tanya Chika takut-takut bahkan wajahnya ia tundukkan.
"Iya sayang, tapi ...."
"Tapi apa?" Gadis itu mengangkat kepalanya sehingga tatapan mereka bertemu. Tampak Adrian menyeringai kecil.
"Tapi kau tenang aja, sayang. Di rumah itu bukan hanya kita berdua, 'kan masih ada kak Evelyn sama Reyhan," jelas Adrian tersenyum sambil tangannya menyelipkan helayan rambut Chika di belakang telinga gadis itu yang tampak sedikit menghalangi wajah cantik kekasihnya.
"Oh, iya. Aku kok lupa yah." Kekehnya malu.
"Kamu terlihat cantik kalau lagi malu-malu gini." Jadi laki-laki itu menarik gemas ujung hidung Chika.
***
"Apa kau tidak mau?" Tangan gadis itu terulur ke hadapan lelaki yang sedari tadi diam memerhatikan gadis di hadapan ya yang makan ice cream.
Kepala lelaki itu menggeleng.
"Tidak Nona, saya tidak terlalu suka," ucap Jack dingin.
'Ch, dia dingin sekali. Ngapain aku tawar dia tadi,' batin Diyah geram.
Mata gadis itu menatap ke arah lain dengan tangan yang sibuk memasukkan ice cream ke dalam mulutnya dengan cepat.
"Pelan-pelan Nona, nanti Nona terse ...."
"uhuk ... uhuk ... uhuk" Dengan sigap tangan Jack mengambil air putih dan segera memberikannya pada Diyah.
'Tersedak,' lanjut Jack dalam hati.
Belum lagi sempat kalimat Jack selesai Nonanya sudah batuk duluan, senyum tipis terukur di bibir Jack namun bersamaan dengan Diyah yang tiba-tiba melihatnya membuat Jack sontak diam.
"Kau mentertawakanku?"
"Tidak Nona, saya tidak seberani itu."
"Tapi aku melihatnya!"
"Mungkin Nona salah lihat."
__ADS_1
"Terserahlah aku mau pulang!"
Gadis itu berdiri lalu tangannya mengambil tas selempang dan langsung memakainya.
"Bayar!" seru gadis itu tanpa melihat ke arah Jack dan langsung berlalu ke mobil Jack, meninggalkan Jack sendirian di toko ice cream.
'Dasar menyebalkan,' umpat gadis itu sambil menghentikan kakinya, terlihat kesal.
'Ini kali pertama aku di jauhi laki-laki, biasanya aku lah yang menjauhi mereka,' gumam Diyah dalam hati.
Ia masuk ke dalam mobil tanpa menunggu Jack terlebih dahulu dan dia duduk di samping bangku kemudi.
"Maaf Nona, saya membuat Nona menunggu,"
Jack membungkukkan badannya sedikit, tanda ia menghormati sekaligus menyesal pada nonanya.
"Kenapa Nona duduknya di depan?"
Alis gadis itu mengkerut parah, mendengarkan perkataan Jack seakan dia tidak suka dengan pertanyaan yang di lontarkan lelaki itu.
"Kenapa Emangnya, salah?"
"Bukan Nona, cuma saya merasa tidak pantas jika Nona duduknya di depan. Saya hanyalah seorang supir Nona itu ...."
"Apa? Aku itu kenapa? Apa karna aku anak atasan kamu, jadi kamu menganggap dirimu tak pantas begitu?"
"Saya ...."
"Aku benci mendengar cara bicara formalmu, aku benci sama cowok kurang percaya diri sepertimu."
"Nona ...."
"Antar aku pulang sekarang dan kau jangan berbicara lagi sebelum kebencianku bertambah besar."
Diyah memandang luar jendela mobil, matanya memanas dan detik kemudian air mata itu pun turun. Dia biarkan air bening yang mengalir deras, rasanya dadanya kini sesak.
'Mengapa harus dia? Apa aku bisa bersikap biasa saja setelah ini? Kenapa harus karna materi,apa materi itu penting. Aku tidak perduli siapa dia! Sungguh aku tak peduli. Meskipun dia pengemis, aku begitu mencintainya.' jeritnya dalam hati.
***
"Kak Chika!" seru Reyhan setelah Chika dan Adrian baru saja membuka pintu apartemen milik laki-laki itu dan Reyhan langsung histeris saat melihat Chika.
Senyum manis anak laki-laki itu me gembang lebar, dia berdiri dan berlari kencang ke arah Chika dan langsung memeluknya erat.
"Reyhan, apa kabar sayang?" Chika membalas pelukan Reyhan.
"Baik Kak, Kakak tahu. Aku sangat merindukan Kakak, setiap malam aku mimpiin Kakak," oceh anak itu, tanpa melepaskan pelukannya.
"Benarkah? Wah Kakak juga ...."
"Hey anak kecil!" Adrian memotong pembicaraan mereka sambil ia menarik pelan baju belakang Reyhan membuat pelukan mereka terlepas.
"Daddy, apa-apaan sih mengganggu aja!" teriak Reyhan dengan menatap tajam ke arah Adrian.
"Jangan sentuh pacar Daddy, Reyhan."
Tangan laki-laki itu membantu Chika berdiri dan memeluk pinggang ramping pacarnya dengan tangan kirinya.
"Pacar?" Mata Reyhan melotot dan menatap Chika seolah ingin minta penjelasan, sedangkan yang di tatap malah tersenyum saja seperti orang gila.
__ADS_1
"Iya," balas Adrian singkat dan mangkin mempererat pelukan tangannya.
"Mas jangan kayak gini," bisik Chika di telinga Adrian.
"Deddy jahat, kenapa Daddy pacaran sama calon istriku. Bukankah kemarin Daddy bilang mau menyerahkan kak Chika pada Reyhan."
"Iya itu kemaren, sekarang gak lagi," balas Adrian tak mau kalah.
Chika mencubit perut Adrian dengan wajah memerah, menahan malu.
"Biarkan saja, dia masih kecil jangan di gangguan Mas."
"Badannya aja kecil, otaknya sudah melebihi 25 tahun orang dewasa. Sayang,"
"Aku tidak perduli Daddy, yang penting sekarang kalian belum menikah dan aku akan merebut kak Chika darimu jika tiba waktunya nanti."
Anak kecil itu berlalu pergi kembali ke kamar, sebelumnya ia mengambil terlebih dahulu mobil remotnya.
"Dasar anak kecil menyebalkan!" seru Adrian terlihat seperti cemburu.
"Kau yang berlebihan, Mas. Seharusnya biar 'kan Reyhan memelukku."
"Aku tidak mau ada pria lain yang memelukmu, meski itu Reyhan," ucap Adrian serius.
Chika terkekeh, ia melepas pelukan Adrian dan berjalan masuk ke dalam apartemen lebih dulu.
"Eh, Chika!" seru Evelyn yang baru menuruni anak tangga yang terakhir.
Mendekati gadis itu dan langsung memeluknya erat.
"Maafin yang soal kemarin yah," ucap Evelyn, mengelus lembut bahu Chika.
"Iya Kak, gak usah pake minta maaf Kak. Karna jika Chika yang di posisi Kakak, mungkin Chika juga begitu," balas Chika jujur.
"Kau memang wanita baik."
Melepaskan pelukan dan menatap Chika hangat.
"Kakak berlebihan, Chika bukan wanita baik yang kakak bilang itu. Chika cuma wanita biasa," elak Chika sopan.
"Bagi kakak kau yang terbaik,
Evelyn mengusap rambut coklat Chika dan mereka saling tersenyum.
Tanpa mereka sadari jika Adrian tengah memperhatikan mereka sedari tadi, bibirnya tersenyum dengan tangan yang mengelus dadanya, terasa lega.
'Syukurlah, mereka bisa jadi sedekat ini,' ucapnya dalam hati.
Berjalan mendekati kedua gadis yang tengah asik mengobrol dari tadi.
"Dasar emak-emak penggosip!" seru Adrian dan setelah itu dia langsung lari cepat, sebelum kakaknya akan meneriakinya.
"Adrian beraninya kau!" jerit Evelyn menggema dengan keras dan Chika hanya terkekeh melihat kelakuan kakak beradik itu.
Bersambung....
Tetap dukung author yah, aku mau ngasih tau sama kalian kalau Om, Nikahi Aku?
Gak bisa UP tiap hari.
__ADS_1
Tapi tetap akan lanjut kok, tenang aja. 😊😁
Maaf yah.🙏