Om, Nikahi Aku?

Om, Nikahi Aku?
Yatim piatu


__ADS_3

"Apa maksud Om sebenarnya!" bentak Chika tanpa sadar. Membuat Adrian tersentak dan juga kedua adiknya ikut keluar melihat apa yang terjadi pada Kakaknya.


"Kami gak perlu dikasihani, kami bisa hidup tanpa belas kasihan dari siapa pun. Aku tau apa maksud kamu baik pada adik-adikku, kau mau memanfaatkan kepolosan mereka 'kan?" tebak Chika dengan tangisan yang entah sejak kapan membasahi pipinya.


Nina dan Nella masih terpaku diambang pintu menatap Kakaknya yang menangis dan menatap Adrian curiga. Sebenarnya mereka tidak merasa kalau Adrian punya tujuan jahat, mereka merasa kalau Adrian tulus membelikan mereka makanan.


"Apa segitu hinanya gue di mata lo?" tanya Adrian yang sudah berdiri, Chika yang masih sesenggukan menatap Adrian. Chika melihat mata Adrian yang menatapnya kecewa.


'Apa aku salah paham?' batin Chika bertanya pada dirinya sendiri.


"Baiklah kalau lo berpikir begitu, gue pulang." Adrian berlalu dengan langkah cepat, setelah memasuki mobilnya ia menancap gas dengan tekanan tinggi jauh meninggalkan rumah Chika.


"Hiks... apa aku salah? Kenapa aku marasa kecewa setelah mengucapkan itu." Chika terus menangis, ia hanya tidak mau dikasihani sama orang lain. Bagi Chika ia bisa menghidupi kedua adiknya adalah suatu kebanggan tersendiri baginya.


Nina dan Nella menghampiri Kakaknya, keduanya memeluk Kakaknya erat. Chika menghapus cepat air matanya dan tersenyum manis pada kedua adiknya.


“Kakak, kenapa Kakak berbicara sekasar itu pada Bang Adrian? Bang Adrian gak ada maksud untuk mengkasihani kita, Kak. Bang Adrian tulus membelikan kita makan dan gak lebih. Nella tau kalau Kakak paling benci orang meremehkan kita, Tapi beda dengan Bang Adrian, Kak,” ucap Nella dengan mata yang sudah sembab. Chika menghapus air mata adiknya dengan sayang, baru kali ini Nella menangis seperti ini.


Seinget Chika terakhir kali Nella nangis saat mama mereka meninggal dan saat itu Chika sudah tidak pernah melihat Nella menangis lagi dan ini apa? Nella yang cuek kini menangis karna orang yang baru beberapa menit ia kenal?


Apa ini! Apa aku salah sangka padanya? Om, maafin Chika.


“Sayang, Kakak minta maaf kalau Kakak salah menilai,” ucap Chika penuh sesal.


Nina memegang tangan Chika membuat Chika kini melirih adik bungsunya penuh sayang. “Kak, jangan minta maafnya pada Kak Nella, seharusnya Kakak minta maafnya sama Bang Adrian,” ujar Nina sembari tersenyum senang dengan mata yang sudah berbinar.


Chika membalas senyuman adiknya dengan semanis mungkin. “Baiklah, Kakak akan minta maaf pada Om Adrian.” Kedua mata Nina dan Nella terbelalak.


“Om? Bang Adrian, bukan Om,” ucap Nella dengan penuh penekanan dikalimat Kak Adrian. Sama halnya dengan Nina yang memandang Kakaknya sinis.


“Ok-ok. Bang Adrian! Kakak akan minta maaf pada Bang Adrian besok.” Menyerah akhirnya dari pada kedua adiknya memusuhinya itu lebih menyakitkan, bukan?


Pesonamu sungguh luar biasa, Om!


“Gitu dong, Kak. Itu baru Kakaknya Nina,” ucap Nina girang sambil memeluk Chika erat, Nella juga ikut memeluk Chika. Chika membalas pelukan kedua adiknya kedua dengan sayang. Bagi Chika membuat adiknya bahagia saja sudah lebih dari cukup, walaupun hatinya terasa berat harus bertemu Adrian besok.


***

__ADS_1


"Diyah!" panggil Chika dari arah belakang. Diyah yang ingin masuk ke dalam kelas tidak jadi dan langsung berbalik.


"Chika," ucap Diyah seraya memegang bahu Chika saat sahabatnya itu telah ada didekatnya.


"Habis pulang sekolah lo mau ke mana, Yah?" tanya Chika sembari menggoyang-goyangkan badannya dengan senyum malu-malu.


Diyah menautkan alisnya, heran dengan sikap sahabatnya ini. "Lo ke sambet, ya Chik?" Memegang kening Chika. Dengan cepat Chika menepis tangan Diyah.


"Apaan sih lo, gue 'kan cuma nanyak aja kali."


"Iya nanya, tapi kayak ada maunya gitu lo," tuduh Diyah agak curiga.


Chika memukul pelan bahu Diyah. "Hehehe, tau aja lo," balas Chika dengan senyum malu.


"Huh, tuh 'kan. Udah kecium kali watak licik lo," kata Diyah dengan nada mengejek membuat Chika mengerutkan bibir mungilnya.


Chika yang awalnya ingin meminta tolong Diyah, mengurungkan niatnya. Chika memasang muka kecewa.


"Ya udah deh gue gak jadi." Chika memasang langkah lebar ingin masuk ke dalam kelas. Dengan sigap Diyah menarik tangan Chika.


"Ya ellah, gitu aja lo marah."


"Apa sih yang enggak buat lo," balas Diyah dengan bangga. Chika memeluk Diyah dengan gemas, senang karna sahabatnya selalu membantunya.


"Jangan lebay deh lo." Melepas pelukan Chika. "Yuk masuk, nanti datang guru lagi," kata Diyah berjalan memasuki kelas dengan diikuti Chika di belakangnya.


Waktu menunjukkan pukul 07:15. Para murid berhamburan masuk ke dalam kelas sama halnya dengan Chika dan Diyah yang sudah duduk beberapa menit yang lalu.


"Lo mau minta bantuan apa, Chik?" Meletakkan buku tulis di atas mejanya. Chika menepuk pelan pahanya, takut kalau Diyah curiga padanya.


"Ini loh Yah, om Adrian tinggal di rumah lo, ya?" Diyah menggeleng.


"Jadi?" tanya Chika binggung.


"Lo kenapa sih nanyain om gue?" tanya Diyah balik.


"Gak papa sih cuma gue punya hutang sama dia. Kalau om lo gak tinggal di rumah lo, jadi dia di mana?"

__ADS_1


"Ya di rumahnya lah," jawab Diyah cepat.


Oh, pasti rumahnya dan istrinya 'kan?


Chika menarik napas berat.


"Kenapa muka lo? Jelek amat," kata Diyah tertawa.


"Bodoh amat. Eh, pulang sekolah antarkan gue ke rumahnya ya," pinta Chika memelas. Dengan malas Diyah mengangguk membuat Chika langsung tersenyum senang.


"Lo punya hutang apa sih, segitunya kali mau ketemu om gue. Apa lo suka ya sama om gue?" Chika melotot.


"Gue ... suka sama om-om?" Tawa Chika meledak membuat beberapa siswa melirih Chika.


"Eh, gitu-gitu om gue masih ...." Diyah tidak melanjutkan kalimatnya saat tiba-tiba guru matematika masuk membuat para siswa diam membisu. Guru matematika yang masuk itu terkenal kejam dalam mengajar.


Chika yang tadinya tertawa langsung terdiam menutup mulutnya dan dengan sigap menghadap arah depan.


***


"Temen-temen," ucap Ririn dengan tampang soknya. Semua mata menatap Ririn termaksud Nina yang juga was-was akan apa yang akan Ririn sampaikan.


"Aku ada informasi penting untuk kalian semua. Ada lo anak yatim piatu di kelas kita," ucap Ririn dengan suara menggema membuat semua siswa saling bertanya satu sama lain, lain halnya dengan Nina yang sudah pucat pasi. Dia tau siapa yang Ririn maksud.


"Siapa Rin?" tanya salah satu temannya. Ririn menarik sudut bibirnya, puas akan informasi yang ia dapat beberapa menit yang lalu.


Nindi sahabat Nina menggenggam tangan Nina erat, seakan menguatkan sahabatnya itu.


"Dia adalah ...." ucap Ririn sengaja menggantung kalimatnya membuat semua siswa diam menunggu kalimat selanjutnya yang akan Ririn ucapkan.


Bersambung...


*Hay teman-teman....


Terima kasih buat kalian yang mau membaca cerita aneh aku, jangan lupa di vote ya. Biar aku tambah semangat dan maaf jika ceritanya lama di-up.


Salam sayang buat kalian. 😘😍

__ADS_1


Vote-nya ya. 😁😁*


__ADS_2