Om, Nikahi Aku?

Om, Nikahi Aku?
Apa bodyguard lo manusia?


__ADS_3

"Siapa kalian, lepaskan aku!" jerit Chika memberontak.


'Tidak-tidak, jangan culik aku. Aku belum sukses, aku belum menikah. Bagaimana ini,' batin Chika dan terus berontak, kini wajahnya juga sedikit pucat.


"Maaf Nona, kami bukan berniat jahat. Ini perintah langsung dari Nona muda, jadi kami terpaksa menahan Nona tetap di sini," ucap salah satu dari mereka. Chika mendengus kesal, tidak menyangka kalau Diyah menggunakan suruhannya demi ini tapi dia juga bersyukur karna mereka bukanlah penjahat yang ia takutkan tadi.


"Lepaskan aku kalau gitu, aku gak akan ke mana-mana," udah Chika mulai tidak berontak. Kedua pemuda kekar itu melepaskan Chika.


"Nona bisa duduk di sana kalau mau," ucap pemuda satunya yang memakai kaca mata hitam dengan menunjuk kursi dekat di belakang mobil Diyah, Chika menurut dari pada dia berdiri kecapean menunggu Diyah lebih baik dia bersantai pikirnya.


Baru beberapa langkah Chika berjalan kedua pemuda itu mengikutinya, Chika berhenti dan berbalik badan.


"Kenapa kalian mengikutiku?"


"Kami harus menjaga Nona dengan baik dan memastikan Nona tidak pergi ke mana pun," ucap pemuda yang berkaca mata itu lagi dan yah, hanya dia yang mau berbicara sedangkan yang satunya masih tetap diam.


Chika membiarkan mereka yang masih mengikutinya dan ia dududk dengan bersandar, rasa lelah kini menyelimutinya. Lagi-lagi Chika merasa seperti anak konglomerat yang harus di jaga dua bodyguard matanya terarah ke pemuda yang tidak memakai kaca mata. Tampan tapi cool, gumam Chika.


"Apa nona butuh sesuatu?" tanya pemuda yang berkaca mata. Chika berpikir sebentar.


'Ah, iya aku haus sekali. Apa mereka mau membelikannya, coba saja lah,' batin Chika.


"Aku haus, bisa belikan aku es kelapa?" tanya Chika sedikit ragu.


"Apa hanya itu saja, Nona?" tanya pemuda yang berkaca mata lagi.


'Kau menantangku, yah. Oh, ok kau akan menyesal nantinya tuan. Sepertinya seru nih kalau aku kerjain mereka,' gumam Chika menyeringai kilas.


"Ada lagi. Aku mau makanan cepat saji seperti hot dog, stick keju, burger, pizza, kebab, sushi, spageti dan siomay. Kalau makanan berkuah tomyam seafood, laksa, sup buntut dan bakso ayam. Minumannya king durian, es kelapa, es jeruk nipis, milkshake dan coffe milk boba. Gimana apa kalian bisa?" tanya Chika menyeringai. Ia masih mengingat semua menu yang belum pernah dia makan hanya pernah ia lihat di buku makanan Diyah yang pernah Chika baca.

__ADS_1


"Siap, Nona. Saya akan membelikannya," ucap pemuda yang tidak pakai kaca mata. Chika sedikit terkejut saat melihat wajah mereka terlihat sangat santai, padahal ia merasa pesanannya itu sangat gila tapi apa sekarang, dia menyanggupinya dengan begitu enteng.


Begitu pemuda yang tidak pakai kaca mata ingin pergi dengan cepat Chika cegah. "Tunggu," ucap Chika membuat pemuda itu memberhentikan langkahnya lalu berbalik.


"Apa ada lagi yang kurang, Nona?" tanyanya sopan.


Chika menggeleng. "Tidak ada, aku mau semua pesanan itu harus ada di sini dalam 10 menit," kata Chika menyeringai.


'Hahaha, gimana? Kau tidak sanggup bukan,' ucap Chika dalam hati dan ia menunggu ekspresi apa yang akan pemuda itu tunjukkan. Namun ekspresi pemuda itu sanagat santai dan tenang dengan sedikit tersenyum pada Chika pria itu mengangguk.


"Baik, Nona. Saya akan kembali dalam waktu kurang 10 menit, Nona tunggu saja." Setelah mengucapkan itu pemuda itu segera pergi.


'Hah, kau sangat sombong tuan. Kita lihat saja,' gumum Chika geram.


Chika melirih pemuda berkaca mata yang masih setia berdiri di sampinggnya. "Apa kau tidak membantu temanmu?" tanya Chika, sebab dia merasa pemuda tadi tidak sanggup membelikan makanan segitu banyaknya jika sendirian.


"Tidak, Nona," balasnya dengan tersenyum kilas lalu kembali menatap depan.


'Apa aku kalau jadi kaya akan seperti ini yah rasanya,' gumam Chika dengan senyum mengembang. 'Tinggal suruh orang aja kalau mau beli apa-apa lalu aku menunggu dengan tenang. Ah, nikmatnya,' lanjutnya lagi.


Waktu sudah berjalan 6 menit. Chika mengetuk meja menggunakan jarinya. 'Waktunya sangat cepat berlalu dan aku yakin pria tadi tidak akan sanggup. Hahaha,' tawa Chika dalam hati.


"Apa Nona bosan menunggu?" Mengambil sesuatu dan memberikannya pada Chika. "Apa ini?" tanya Chika heran.


"Apa Nona tidak bisa membacanya, biar saya yang akan membacakannya untuk Nona." Pemuda itu ingin mengambil buku di tangan Chika namun spontan ditepisnya.


"Aku bukan akan kecil, aku bisa membacanya sendiri," sanggahnya dan ia mengamati sampul komik yang membuatnya tidak tertarik sedikit pun, dengan malas ia membaca sinopsis di belakang komik. Saat akan membuka lembaran pertama tiba-tiba beberapa kantung pelastik sudah ada di atas mejanya. Chika tersentak dan sontak berdiri. Ada banyak kantung plastik di meja serta sisanya masih di tangan pria itu.


"Kau sudah datang?" Ia melirih jam dan menghitung sudah berapa menit. "8 menit!" jerit Chika tidak percaya, ia melihat begitu banyak kantung plastik dari restoran berbeda-beda. "Apa ini sesuia dengan pesanan saya?" Chika berpikir kalau pria tidak pakai kaca mata itu sembarang beli saja.

__ADS_1


"Lihatlah, Nona. Saya yakin itu semua benar pesanan, Nona," ucap pria tidak pakai kaca mata dan dengan cepat Chika periksa semua kantung pelastik itu.


Matanya membesar. 'Siapa mereka sebenarnya, kenapa semua yang aku bilang tadi sudah ada semua di sini dan yah aku cuma mengucapkannya satu kali dan dia menginggat semuanya.'


"Apa ada yang salah, Nona?" tanya pria pakai kaca mata.


"Tidak ada, kuakui kau memang hebat," pujinya seraya membuka tas dan mencatat di buku kecilnya lalu memberikannya pada pria tidak pakai kaca mata.


"Antarkan semua makanan ini ke alamat ini," ucap Chika dan pria itu mengangguk patuh. Sebelum pria tidak pakai kaca mata pergi Chika sudah mengambil beberapa makanan seperti pizza dan siomay dan juga ia meninggalkan milkshake dan es kelapa.


Sangat tidak mungkin jika Chika menghabiskan semuanya. Awalnya ingin mengerjain aja justru dia yang di buat tercengang. Chika sungguh pusing bila berhadapan dengan sahabatnya itu, hal yang belum pernah ia rasakan terjadi saat ini. Ini di luar dugaan Chika.


Chika melahap Milkshake, minuman berbahan dasar susu yang dikocok dengan es krim. Rasa minuman yang creamy dan manis membuat lidah tidak akan bosan menyentuhnya. Milkshake yang Chika makan sekarang porsinya super jumbo. Ini pertama kalinya juga bagi Chika. Bersamaan dengan itu ia memakan pizza juga yang berukuran jumbo.


"Kau tidak mau, Tuan?" celoteh Chika dengan mulut penuh pizza.


"Tidak, Nona," balasnya tanpa menoleh.


'Apa aku seperti orang yang tidak pernah makan?' tanya Chika dalam hati dan terus mengunyah. 'Tapi aku tidak perduli yang terpenting aku hari ini bisa makan, makanan yang aku belum pernah makan,' lanjutnya dalam hati.


Waktu sangat cepat berlalu Chika merenggangkan tangannya dangan mata yang ia paksa terbuka saat menyadari kini dia sudah di dalam mobil, sontak Chika terkejut.


"Gimana tidurnya, sudah puas Nona?" tanya Diyah tersenyum sambil memasukkan benda pipih yang sedari tadi ia pegang. Chika hanya mengangguk lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. Dia ingat sehabis memakan rakus semua makanan tadi ia langsung tidur karna kekenyangan dan tanpa sadar ia sudah ada di dalam mobil dengan dua bodyguard di depan mereka dan salah satu dari mereka menyetir.


"Lo marah sama gue?" Diyah memegang bahu Chika dan mengelusnya lembut. Chika menggeleng, dia bukan marah pada Diyah tapi yang dia pikirkan sekarang. Bagaimana cara bodyguard Diyah membelikan semua pesanannya dalam waktu 8 menit dan apa itu harus ia tanya pada Diyah?


"Diyah, apa bodyguard lo manusia?"


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa Vote, Like, Coment dan Favorit🤗 agar author-nya lebih semangat lagi.


Dan terima kasih atas segala dukungannya🙏💝


__ADS_2