Om, Nikahi Aku?

Om, Nikahi Aku?
Tidak menyangka


__ADS_3

Happy Reading....


"Apa sih Om, saya mau cepat pulang. Adik-adik saya pasti nungguin saya sekarang."


"Ya udah, ayok." Adrian berdiri dan menarik tangan Chika menuju mobilnya.


"Ayok apaan, Om. Om mau bawa saya ke mana?" tanya Chika panik.


"Om, jangan macam-macam ya. Saya bisa lompat ini." Ancam Chika yang sudah berada di dalam mobil Adrian yang tengah melaju, keluar dari halaman rumah Diyah.


"Lompat aja kalau berani,"


Chika menekan pintu mobil Adrian berniat membuka pintu mobil itu, tapi tidak bisa karna Adrian mengunci pintunya.


"Kayak mana mau lompat kalau pintunya dikunci," gumam Chika pelan.


"Kenapa tidak jadi lompat?" tanya Adrian seraya tersenyum tipis.


"Nyawa saya masih dibutuhkan," jawab Chika ngasal.


***


Adrian memparkirkan mobilnya di luar halaman rumah reot Chika, Adrian miris melihat rumah kecil yang Chika tempati sekarang.


"Apa ini rumah lo?" tanya Adrian penasaran.


"Bukan, Om," Adrian bernapas lega. Entah kenapa ia bersyukur ternyata itu bukan rumah Chika. "Ini rumah peninggalan orang tua saya, Om," lanjut Chika dengan santainya membuat Adrian terkejut.


Adrian tidak menyangka jika Chika ternyata orang yang tidak mampu, saat pertama bertemu Chika, Adrian berpikir kalau Chika orang yang mampu. Terlihat saat Chika selalu ceria tanpa beban.


"Woy, tunggu Bocil!" teriak Adrian, menyadari Chika yang sudah masuk ke rumahnya.


"Kurang ajar kau ya Bocil, asal main tinggal aja. Gak tau apa kalau nanti gue diculik tante-tante bagaimana, ih ... amit-amit," Adrian bergidik ngeri saat membayangkan yang ia ucapkan tadi.


"Kak, Nina lapar. Biasanya Kakak bawa sayur saat pulang, ini kenapa tidak?" tanya adik Chika yang bernama Nina dengan polosnya.


Adrian tersentuh saat mendengarnya lalu melangkah mundur tidak jadi Adrian masuk ke rumah Chika dan pergi begitu saja.


"Sayang, maafin Kakak ya. Tadi Kakak mau membelinya tapi Kakak segan minta berhenti, karna Kakak diantar teman," balas Chika lembut. Nella acuh, ia malah melanjutkan mengerjakan PR-nya yang belom selesai. Sebenarnya Nella juga lapar tapi ia memilih diam.

__ADS_1


"Eh, bukankah kita masih ada stok telur Dek?" Chika teringat tadi pagi masih ada 2 telur di rak cabai yang ia sisakan dan bertanya pada Nella.


Nella menggeleng. "Sudah habis, Kak. Tadi siang kami goreng keduannya, maaf Kak," ucap Nella menyesal karna menurutnya ia boros.


"Sayang, kenapa minta maaf. Gak masah kok kalau kalian masak keduanya. Ya sudah, Kakak mau ke kedai ya, sekalian mau nyuruh teman Kakak pulang," ujar Chika dengan lembut. Kedua adiknya mengangguk.


Chika ke luar dan melihat Adrian yang sudah tidak ada lagi.


"Ck, apa dia jijik saat tau aku orang miskin? Dan langsung pergi begitu saja, apa semua orang kaya seperti dia?" Chika membuang napasnya berat. Tidak menyangka kalau om-nya Diyah seperti itu.


'Lupakan tentang kau yang suka padanya Chika, ingat dia orang kaya yang jijik sama kuman sepertimu,' batin Chika seraya berlari cepat menuju kedai yang tidak jauh di belakang rumahnya.


"Bik, beli telurnya 10.000," ucap Chika pada bik Atun pemilik kedai.


"Ini Nak." Bik Atun mengasih telur yang Chika pinta dengan senyum ramahnya dan dibalas senyum balik oleh Chika. Chika memberi uangnya.


"Terima kasih, Bik," Bi Atun mengangguk dengan masih tersenyum.


Setelah membeli telur Chika berlari menuju rumahnya, ia tidak mau adiknya mangkin kelaparan karna ia terlalu lama.


"Assalamu ... alaikum," ucap Chika dengan suara salamnya yang mangkin pelan, terkejut melihat Adrian yang sudah duduk bersama kedua adiknya.


"Sini, Kak. Kenapa diam di depan pintu, entar jodoh Kakak balik lagi lo. Gak jadi lamar Kakak, pamali tau Kak," ucap Nella antusias.


Belum pernah Chika melihat Nella terbuka seperti ini. Apalagi pada orang luar yang belum ia kenal, lain halnya dengan Nina, dengan siapa saja selalu cepat bisa akrab. Chika melangkah pelan, tangannya masih menjinjing telur yang ia beli tadi dan matanya menatap semua makanan di depan kedua adiknya itu.


Beragam makanan yang belum pernah mereka makan sudah ada di hadapan mereka bahkan sekarang sudah dimakan kedua adiknya. Dapat Chika rasakan kalau kedua adiknya sangat bahagia mendapatkan makanan yang begitu lezat.


"Duduklah, nanti kaki lo keram lagi terlalu lama berdiri," ucap Adrian membuat Chika terkejut.


"Bukannya tadi Om udah pulang?" tanya Chika heran, sembari duduk di tengah-tengah Nella dan Adrian yang masih kosong.


Belum sempat Adrian menjawab, Nina sudah menjerit menatap Chika tidak suka.


"Kakak! Kenapa manggil Bang Adrian, Om?" tanya Nina jengkel, Chika menatap adiknya tidak percaya.


'Abang Adrian? Hello Nella sayang, kenapa kau memanggil om tua ini Abang? Dia sudah punya istri dan anaknya dua,' jerit Chika dalam hati. Tidak berani mengeluarkan ucapannya itu, karna tahu kalau Nina tidak bisa dilawan jika dia suka sama orang itu.


"Iya, kok Kakak manggil Bang Adrian, Om?" Satu lagi adiknya Nella bertanya, Adrian yang mendengarnya hanya bisa terkekeh geli.

__ADS_1


"Hehehe, Kakak lupa." Chika menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Tadi Kakak ketemu Om-om genit, jadi Kakak terbawa sampai ke rumah deh," ucap Chika ngasal sembari menatap Adrian tidak suka.


"Maafin Kak Chika ya Bang, orangnya emang kadang aneh," ujar Nina dengan mendekatkan tubuhnya pada Adrian.


"Iya gak papa, sayang. Lanjut gih makannya," pinta Adrian seraya mengelus rambut panjang Nina.


'Om, mesum. Jangan kau perhatian pada adik-adikku yang polos-polos ini,' batin Chika geram, melihat Adrian yamg menurutnya hanya pura-pura baik.


"Ehm, Kakak boleh berbicara pada Bang Adrian?" tanya Chika melihat persetujuan kedua adiknya dengan menyebutkan Bang pakai nada penekanan.


"Jangan marahi Bang Adrian, Kak. Kalau Kakak cuma mau marahi Bang Adrian, mending gak usah," balas Nella dengan menatap kakaknya tidak suka.


'What, sebenarnya yang Kakak kalian aku apa om gila ini sih,' batin Chika semangkin geram.


"Tidak kok Adik Kakak yang cantiknya menurun dari Kakak ini." Chika mengelus rambut ikal Nella dengan penuh kasih sayang.


Mungkin kebaikan yang Adrian tunjukkan pada mereka membuat Nella dan Nina tersentuh, merasa mereka seperti mempunyai ayah.


Chika melirih Adrian dengan menggunakan matanya dengan mengarahmenatap pintu, seperti mengisaratkan untuk keluar duluan.


"Abang keluar sebentar, ya. Kalian habis 'kan makannya, entar kalau tidak habis nasinya nangis lo," ucap Adrian menakuti kedua adiknya Chika. Nella dan Nina terkejut.


"Beneran, Bang?" tanya keduanya nyaris bersamaan. Adrian mengangguk dan terkekeh. Lalu bangkit keluar rumah Chika.


"Apa maksud Om datang lagi ke sini? bukannya tadi sudah hilang gitu aja," ucap Chika jengkel sembari ikut duduk di samping Adrian dengan jarak berjauhan. Adrian menatap wajah imut Chika.


"Lo berarti tadi nyari gue?" Chika menatap Adrian geram, bukannya menjawab pertanyaannya malah balik bertanya.


"Jangan marah-marah, lo gak takut di usia muda sudah terlihat tua," canda Adrian terkekeh melihat Chika yang masih memasang wajah marahnya.


"apa maksud Om sebenarnya!" bentak Chika tanpa sadar.


Bersambung...


Jangan lupa Like, Coment and Favorit-nya ya.🤗


Agar authornya semangat untuk melanjutkan cerita ini. 😁🙏


Stop or next?

__ADS_1


__ADS_2