Om, Nikahi Aku?

Om, Nikahi Aku?
ONA?_15


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir bagi Chika dan Diyah kesekolah, setelah 2 jam kata pengantar dan segala nasehat sudah di sampaikan guru di depan kantor. Yang sebelumnya para murid tingkat akhir sudah berkumpul di depan kantor sekolah. Chika masih termenung di barisannya, ia belum menyangka jika dirinya akan lulus dengan tidak ada bantuan dari siapa pun kecuali Allah. Chika menatap tangannya sendiri, ya. Tangan ini yang selalu ia andalkan mencari uang dan tangan ini juga yang berdo'a, berharap Allah senantiasa memudahkan segala urusannya. Baik buat biaya sekolah kedua adiknya dan juga dirinya telah ia lalui, tapi beberapa detik kemudian wajah cantik Chika jadi murung.


Mau jadi apa aku kalau Cuma tamatan SMA? Gak ada kerjaan yang lebih ringan jika aku mengandalkan ijazah SMA SAJA. Chika mendengak, menatap langit yang lagi cerah-cerahnya.


Apa aku gak akan kaya, Tuhan? Apa takdirku Cuma menjadi miskin. Kenapa aku tidak bisa mendapatkan beasisiwa itu. Chika menghela napas kasar, mungkin ini memang jalan takdir yang sudah di tulis Tuhan. Pikirnya.


Diyah yang tengah sibuk sama ponselnya tersadar saat melihat ke depan para siswa/siswi yang tengah bersalaman secara bergiliran pada semua guru. Diyah menyikut bahu Chika saat melihat sahabatnya termenung. “Mikirin apa sih, lu?” Chika hanya menggeleng, namun detik kemudian Chika menutup mulutnya dan sontak menarik tangan Diyah.


“kenapa lu gak bilang kalau kita ada acara salam-salaman?” tanya Chika kesal pada sahabatnya.


“Mana gue tahu,” sahut Diyah cuek sambil memasukkan benda pipihnya ke dalam tas ranselnya.


Kini keduanya sudah ada pada barisan paling belakang sesuai barisan murid yang ingin bergiliran menyalam para-para guru, tanda perpisahan.


“Maafkan Chika buk, jika selama di sekolah ini pernah membuat Ibu kesal dan semacamnya dan terima kasih uda bersabar mengajari Chika,” ucap Chika tulus dengan menarik pelan tangan guru itu dan ia cium punggung tangannya. Begitulah seterusnya yang Chika ucapkan dan bermacam jawaban yang guru-guru berikan padanya lain halnya dengan Diyah, ia tidak mengucapkan apa pun hanya sekedar mencium punggung tangan guru-guru saja.


Chika mendekati guru terakhir pak Rian, guru ini lumayan tampan yang pernah di gosipkan bahwa pak Rian menyukainya namun tidak pernah dia tanggapi. Sama halnya dengan tadi, Chika mengucapkan maaf dan terima kasih. Lalu menunggu apa yang akan pak Rian sampaikan.


“Chika tidak pernah menyusahkan atau pun membuat kesalahan sama bapak, di mata bapak Chika murid yang sempurna dan masih tersisa hati ini untuk Chika.” Tunjuk pak Rian pada dadanya, Chika yang awalnya tertunduk kini memberanikan diri mendengak, melihat sang guru. Terukir senyum pak Rian tiba Chika menatapnya namun segera Chika mengalihkan pandangan. Entah kenapa ia merasa ingin muntah saat itu juga.


“Terima kasih kalau begitu, Pak.” Chika berlalu tanpa menyalam Pak Rian.


Gila tuh guru, gerutu Chika kesal.


“Ceile, embat aja kali Chik. Lumayan tajir, ganteng lagi,” ucap Diyah tertawa saat sudah berada di belakang Chika.


“Pala lu, najis malah liatnya. Gue bukan pelakor yang mengambil suami orang, apa lagi uda punya anak, gue gak sejahat itu,” balas Chika.


“Bercanda kali gue.”

__ADS_1


Chika diam ucapan yang ia bilang tadi seolah menyadarkannya tentang seseorang. Bukankah aku uda jadi pelakor sekarang, mencintai Adrian yang sudah jelas-jelas itu suami orang dan mereka sudah memiliki anak. Kalau begitu, apakah aku munafik? Terdohok dengan ucapannya sendiri, memukul dadanya yang tiba-tiba terasa sesak.


“Hey, kau kenapa Chika.” Diyah meraih tangan Chika yang terus memukul dadanya sendiri.


“Hahaha, tidak apa-apa Diyah. Gue seperti orang gila sekarang,” kata Chika tertawa paksa dan membiarkan dadanya yang terasa sesak.


“Orang gila? Mana ada orang gila secantik lo kali.” Memukul bahu Chika pelan, mencoba bercanda. Diyah tidak tahu ada masalah apa dengan sahabatnya, yang Diyah tahu Chika tidak akan semudah itu menceritakan semua masalahnya jika ia paksa. Diyah hanya menunggu nanti saatnya Chika bercerita sendiri.


“Karna itu, mau gue coba sekarang,” balas Chika masih dengan terus tertawa. “Uda selesai acaranya, kita pulang yuk. Gue mau tidur sepuasnya di rumah,” ajak Chika setelah tawa anehnya berhenti.


“Lo gak boleh pulang, ikut gue aja.” Diyah menarik tangan Chika, membawanya ke dalam mobil dan dia paksa saat Chika menolak masuk.


“Kita mau ke mana sih, Diyah?” tanya Chika di tengah mobil yang melaju, berlawanan dengan arah rumahnya.


“Lo tenang aja, gue gak akan bunuh lo kok,” jawab Diyah sedikit tertawa.


“Aduh, kepala gue. Lo kenapa sih, Diyah?” Bukannya menjawab tiba-tiba Diyah memeluk erat Chika.


“Lo ada masalah apa , Chik. Cerita ke gue, bukannya kita sahabat? Jangan di simpan sendiri, Chik. Gue ada di samping lo, terbuka sama gue. Lo tau 'kan gue sayang bnget sama lo.” Tanpa sadar air matanya mengalir. Begitu juga dengan Chika ia juga tengah menahan sesak dengan mata yang mulai basah oleh air mata.


“Boleh kasih gue waktu? Gue gak sanggup sekaramg ngomongnya Diyah.” Diyah mengangguk dan melepas dekapannya lalu menangkup pipi perempuan yang ia sayangi itu.


“Gue gak maksa, Chik. Sebenarnya gue mau nebak apa masalah lo, tapi gue masih ragu. Baiklah gue akan menunggu cerita lo aja.” Chika tersenyum, tangannya kini menghapus air mata jahat yang membasahi pipi halus Diyah. Ia bersyukur punya sahabat yang sangat pengertian seperti Diyah.


“Ternyata lo jelek juga kalau lagi nangis,” canda Chika tertawa, Diyah ikut tertawa juga. “Sial lo,” balas Diyah. Itulah sahabat, saling memahami. Jika sahabatmu belum mau menceritakan masalahnya, kau sebagai sahabatnya hanya menguatkan dirinya dan bilang jika dirimu ada untuk mendengarkannya semua keluh, kesah, sedihnya dan memahaminya, bila tibanya nanti pasti dia mau bercerita padamu.


“Untung yah kita gak di jalan raya berhentinya, kalau enggak....” Chika menggantung kalimatnya. “Udah mati kita,” sambung Diyah dengan tawa keduanya.


***

__ADS_1


“Ada yang bisa saya bantu, Nona?” tanya salah satu pegawai busana. Sekarang Diyah dan Chika sudah berada di toko baju termewah yang ada di kota A. Chika menyikut lengan sahabatnya. “Kita mau ngapain di sini?” Bingung karna Diyah membawanya pada baju trend branded yang belum pernah Chika punya sebelumnya.


“Tenang aja lo,” bisik Diyah. “Perlihatkan pada kami baju trend sekarang.” Perintah Diyah pada 4 orang yang siap melayani mereka.


“Baik Nona,” balas salah satu wanita yang terlihat rapi, Chika berpikir mungkin itu manajer-nya. Baru beberapa menit saja sudah ada 20 patung baju branded yang di sejajarkan berbaris di hadapan Chika dan Diyah. Chika menutup mulutnya, kagum dengan baju yang ia lihat saat ini.


"Pilih mana yang lo suka," ucap Diyah tanpa melihat ke arah sahabatnya itu, matanya terus menelusuri baju yang mana terlihat pas untuk Chika.


Wah, gila ne baju. Pada cantik semua, kira-kira Diyah belikan untuk siapa ya. Batin Chika terus melamun tanpa mengalihkan pandangannya dari baju yang berjajar di depannya itu.


"Kalau lo bingung, bisa lo ambil semua," lanjut Diyah yang kini mengalihkan pandangan menghadap Chika dan menepuk pelan lengan Chika yang tampak melamun.


"Eh, kenapa Diyah?" tanya Chika polos. Diyah menautkan alisnya. Ada dia tadi tidak mendengarku? "Kenapa Diyah?" tanya Chika mengulangi pertanyaannya.


"Pilih baju mana yang lo suka, baby," ucap Diyah menekankan kata baby, gemas akan Chika yang terlalu polos.


"Lo serius?" tanya Chika dengan mata berbinar, masih belum percaya kalau Diyah membelikannya baju.


"Apa gue pernah bercanda, sayang? Cepatlah pilih, sebelum gue berubah pikiran." Ucapnya sambil mendudukkan dirinya di sofa tunggu. Chika tidak membuang waktu, ia mendekati baju-baju yang belum pernah ia miliki. Melihat bal segel di dekat leher baju itu, matanya sontak membesar dan segera melihat Diyah yang tampat menaikkan alisnya sebelah, seperti bertanya. Ada apa?


Gila ini toko curang kayaknya, ambil keuntungan banyak banget. Harga satu baju aja sudah sampai 1 juta lebih. Chika menutup mulutnya dan mundur beberapa langkah.


"Gak ada yang gue pilih," ucap Chika akhirnya.


Bersambung....


Jangan lupa Vote, Like, Coment dan Favorit🤗 agar author-nya lebih semangat lagi.


Dan terima kasih atas segala dukungannya🙏💝😁

__ADS_1


__ADS_2