Om, Nikahi Aku?

Om, Nikahi Aku?
Lupakan semua tanpa tersisa


__ADS_3


“Aku belum pernah menikah,” ucap Adrian cepat dengan teriakan membuat Chika menutup mulutnya yang masih tidak percaya.


“Kau jangan bercanda,” teriak Chika diiringi tangisan.


“Jangan permainkan perasaanku lagi,” lanjutnya terisak.


“Aku tidak bohong, aku belum menikah. Reyhan adalah keponakanku dan Evelyn itu kakak kandungku,” jelas Adrian.


“Tapi kenapa Reyhan memanggilmu daddy?”


“Itu karna suami kak Evelyn meninggal saat Reyhan lahir dan dari situ aku selalu mengurus anaknya jadi dia menganggap aku daddy-nya. Apa kau tidak percaya juga?” tanya Adrian menatap Chika serius membuat Chika hanya diam.


“Ok, ini kau lihat semuanya.” Adrian meletakkan semua data dirinya serta lelaki itu juga memberikan KK (kartu keluarga) pada Chika.


Chika dengan segara membuka semuanya dan ia sontak terkejut.


“Om, ini benerankan?” tanya Chika memastikan. Adrian hanya menjawab pertanyaan Chika dengan anggukan cepat.


Chika memeluk erat Adrian, air matanya langsung jatuh.


“Syukurlah, aku senang kalau Om ternyata belum menikah."


“Kalau kau senang jadi jangan melepas cintamu dan jangan memanggil aku Om lagi."


“Aku tidak akan memanggil Om lagi, aku akan panggil Mas gimana?” tanya Chika bersemu.


Cup....


“Baiklah itu lebih baik dari pada Om,” ucap Adrian enteng setelah mengecup singkat bibir Chika membuat Chika masih diam.


“Kenapa diam?” tanya Adrian bingung.


“Apa Om menciumku?” tanya Chika dengan memegang bibirnya.


"Tidak, aku mencium anak di bawah umur tadi."


"Aku tidak di bawah umur, Om."


“Kau berbicara pada siapa? Sudahku bilang aku bukan Om-mu,” ucap Adrian menekankan kata Om dengan nada besar.


“Hahaha, maaf. Aku sudah terbiasa jadi jangan marah."


"Kali ini aku maafkan tapi tidak untuk kedua kalinya."


"Ok, Mas Adrian." Chika mengedipkan sebelah matanya.


"Ch, kau terlihat tidak seperti sedang mabuk?"


"Aku memang tidak mabuk, sudahlah aku senang karna Mas-ku bukan milik siapa-siapa sekarang."


"Iya Mas juga senang jadi sekarang kau harus tidur." Adrian membaringkan Chika dan menarik selimut menutupi tubuhnya.


"Kita gak tidur berdua?" tanya Chika dengan mengedipkan kedua matanya beberapa kali. Terlihat sangat lucu.

__ADS_1


Adrian menarik bibir atasnya, tersenyum tipis lalu menghela napas pelan.


"Tidak, tapi kalau kau mau di usia semuda ini mempunyai anak. Mas-mu ini gak masalah kayaknya,"


Tiba-tiba Chika terduduk membuat Adrian terlonjak. "Benarkah?" tanya gadis itu dengan berbinar.


"Aku suka anak-anak, apa cuma tidur berdua bisa langsung mendapatkan anak? Kalau gitu aku mau," lanjut Chika antusias. Adrian menggaruk tengkuknya.


'Ah, aku pasti bisa gila kalau kayak gini,' batinnya.


"Kenapa masih diam Mas, sinilah kita harus tidur berdua biar kita cepat dapat anak," racau Chika lagi.


"Chika Mas haus gimana kalau Mas minum dulu." Adrian berlalu keluar kamar sebelum menunggu persetujuan Chika. Kepala kini sangat pusing.


"Ok, akan aku tunggu. Cepatlah Mas, aku sudah tidak sabar," jerit Chika dari dalam kamar.


Adrian yang sudah sampai di dapur langsung membuka lemari pendingin, mengambil botol minuman dan ia teguk tanpa tersisa.


'Apa yang harus aku lakukan sekarang. Aih, gadis kecil itu.' geram Adrian dalam hati.


Otaknya buntu, pikirannya kini blank benar-benar payah untuk berpikir jernih. Adrian  berpikir kelas lagi. Ah, dia punya satu ide.


Adrian membuka laci bawah tv dan mengambil satu serbuk. Ia kembali ke dapur kemudain mengambil gelas lalu ia isi air putih di campur dengan satu serbuk tadi.


"Kenapa lama sekali aku sudah tidak sabar menunggumu tau," ucap Chika dengan nada marah. Wajah Adrian memerah dengan jantung yang berdetak 2 kali lipat lebih cepat.


"Maaf lama, minumlah ini sehabis itu kita tidur."


Tanpa banyak tanya Chika meraih gelas yang Adrian sodorkan dan meneguknya hingga tak tersisa.


"Apa kau tidak bisa pelan sedi ...." Kalimat Adrian terhenti saat menyadari posisi keduanya dengan Chika yang menatapnya sendu.


"Mas sangat tampan." Entah pujian atau apa sebelum mata Chika benar-benar tertutup kalimat itu yang Chika ucapkan.


"Cih," Adrian membaringkan tubuhnya di samping Chika yang sudah tidur. Serbuk yang Adrian campurkan di minuman tadi adalah obat tidur.


"Anak ini bisa membuatku jadi jahat sepertinya jika aku tidak menahannya."


Hampir setengah jam Adrian memandangi wajah cantik Chika. Kini kantuknya tiba-tiba datang dan detik berikutnya matanya sudah terpejam.


***


Chika menjambak rambutnya prustasi. Memandang horor pantulan dirinya di depan cermin.


"Apa kau sudah gila Chika, apa yang barus ku bilang padanya? Mas! Aku manggil dia Mas? Aih, ini tidak mungkin. Tapi! Dia belum menikah, apa itu benar?"


Chika mengintip dalam kamar, ia menarik napas lega. Adrian tidak ada di kamar lagi kemudain Chika keluar kamar mandi, membenarkan bajunya lalu keluar kamar.


"Siang Kak Chika," sapa Reyhan.


"Siang juga Reyhan tampan. Ah, kakak sampai gak sadar kalau udah sesiang ini."


"Gak perlu sungkan Chika," ucap Evelyn yang muncul dari arah dapur, sebelumnya Chika tersentak, kaget. Namun ia kontrol.


"Eh, kak Evelyn! Maaf kak, Chika baru bangun," ucap Chika kikuk.

__ADS_1


"Ah, kau ini. Sudah aku bilang jangan terlalu sungkan. Anggap rumah sendiri."


'Rumah sendiri? Mana mungkin, siapanya om itu aku,' batin Chika.


"Makasih Kak. Oh, ya. Om Adrian di mana Kak?" tanya Chika dengan kornea mata yang melirik seluruh ruangan.


"Dia keluar tadi. Kenapa? Apa kau sudah merindukannya?"


"Hah!" Jerit Chika dengan mulut terbuka.


"Kakak ini bercanda, 'kan? Masak iya suami sendiri...."


"Tunggu dulu! Suami sendiri? Hahaha, kau yang tengah bercanda sekarang Chika. Mana mungkin saudara kandung, sedarah bisa menikah."


Chika terpaku. 'Dia beneran belum menikah,' tanpa sadar ia melompat sangkin girangnya.


"Kau kepala Chika?"


"Gak papa Kak. Makasih ya Kak, atas tumpangannya tadi malam. Kalau gitu Chika pulang dulu Kak."


"Kau gak makan dulu?" Evelyn sudah menarik pergelangan tangan Chika yang sudah mau pergi.


"Enggak Kak. Maaf! Lain waktu aku akan makan disini lagi tapi tidak untuk sekarang."


"Kak Evelyn, Chika boleh tanya sesuatu gak?" tanya Chika.


***


Kembali ke Diyah dan Jack.


Diyah tidak bisa berkata apa-apa kepalanya kini semangkin pusing, dan bayangan kejadian tadi malam begitu menambah pusing kepalanya. Serasa kepalanya ingin pecah sekarang.


Diyah memukul kepalanya kuat berharap dengan itu membuat sakit di kepalanya berkurang.


‘Arrgg, kenapa kepalaku semangkin sakit,’ batin Diyah mencoba memukul kembali kepalanya dengan lebih kuat namun belum sampai tangannya melayang tangan seseorang mencegahnya menarik keras tangan itu, mengakibatkan tubuh Diyah ikut tertarik.


Diyah sedikit terkejut namun langsung diam saat orang itu memeluknya erat. Menyandarkan kepala Diyah di dada bidang itu.


“Maafkan saya Nona sudah lancang memeluk Nona, setelah ini saya tidak akan melakukannya lagi,”


Diyah diam mendengar ucapan Jack tidak berniat melarang atau pun protes.


Pelukan yang Jack berikan membuat pikirannya tenang, perlahan pusing di kepalanya mulai berkurang.


Perlahan Diyah melingkarkan tangannya di pinggang Jack, membalas pelukan lelaki itu.


‘Semoga ini bukan untuk yang terakhir,’ harap Diyah dalam hati.


“Nona.” Jack bersuara lagi.


“Lupakan kejadian tadi malam Nona, semuanya tanpa tersisa,”


Bersambung...


Maaf jika kurang menarik 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2