
"Gak ada yang gue pilih," ucap Chika akhirnya membuat Diyah sontak berdiri dan mencegah Chika yang ingin pergi dengan memegang pergelangan tangannya.
"Kenapa? Apa gak ada yang lo suka, kalau gak ada kita cari ke toko sebelah yah." Diyah sudah mau menarik tangan Chika menuju pintu keluar namun yang ditarik menahan tubuhnya agar tetap diam di tempat dan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. "Kenapa sih, Chik. Tadi katanya lo gak suka semua baju itu,"
"Bukannya gue gak suka, cuma ...." Chika menggantung kalimatnya dan matanya melirih pegawai yang masih memperhatikan mereka. Diyah semangkin bingung dibuatnya dan dengan perlahan Chika mendekatkan mulutnya di telinga sahabatnya. "Gila, bajunya pada mahal-mahal semua," bisik Chika dan nyaris tidak terdengar sangkin pelannya. Yang di bisikin bukannya menanggapi justru tertawa.
"Astaga, cuma karna mahal lo gak .... emm" Chika membungkam mulut Diyah yang akan membuatnya malu sendiri nantinya. "Sakit tau," ucap Diyah saat ia paksa tangan Chika untuk melepaskan tangannya. "Dengarin gue," lanjutnya lagi sambil memegang bahu Chika dangan memasang wajah serius. "Bagi gue ini belum berarti apa-apa hanya untuk di kasi buat lo, gue masih belum bisa membelikan barang yang mewah jadi tolong terima hadiah murahan ini dari gue ... pliase," mohon Diyah sambil memasang wajah memelasnya.
"Diyah ini bukan barang murahan lagi, ini udah mahal banget buat gue dan ini berlebihan," balas Chika yang masih belum bisa menerima pemberian sahabatnya yang menurutnya itu berlebihan.
"Lo anggap gue apa sih, Chik?" tanya Diyah geram dengan menaikkan level suaranya yang membuat Chika terkejut. "Semua yang gue kasih lo tolak semuanya, gue merasa gak berguna jadi sahabat lo. Buat gue berguna sekali ini aja Chika," lanjut Diyah dengan mata yang sudah berair dan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Chika menarik pelan tubuh sahabatnya dan mendekap tubuh Diyah yang mulai bergetar, ia tidak menyangka jika selama ini Diyah kecewa kalau dia terus menolak pemberian Diyah. Maksudnya bukan itu, ia menolak semua pemberian Diyah karna dia gak mau buat sahabatnya itu boros dan dia merasa kehadiran Diyah selama ini, sudah lebih dari cukup tanpa harus dengan membelikan barang-barang mewah.
"Lo sahabat terbaik gue, Diyah. Maafin gue selama ini gak bisa nerima pemberian lo. Lo tau, kehadiran lo aja udah anugrah buat gue. Jadi jangan berpikir yang tidak-tidak," ucap Chika parau, entah sejak kapan air matanya juga sudah membasahi pipi mulusnya.
"Baiklah, gue akan menerima pemberian lo kali ini," lanjutnya lagi seraya melepas dekapannya dan menghapus air mata yang membasahi pipi sahabatnya.
Diyah tersenyum. "Beneran?" tanya Diyah memastikan, Chika mengangguk dan tiba-tiba Diyah memeluk Chika lagi. "Terima kasih, Chika," lanjutnya sambil melepaskan dekapannya.
"Harusnya gue yang terima kasih kali," sarkas Chika cepat membuat Diyah tertawa.
"Lo lupa di antara kita gak ada kata terima kasih," kata Diyah sedikit tertawa.
__ADS_1
"Lo yang mulai kali," balas Chika ikut tertawa. "Ok lah, pembicaraan ini cukup sampai di sini dan sekarang, lo harus pilih baju mana yang lo suka," ucap Diyah yang kini sudah mendorong Chika maju ke depan untuk memilih baju yang masih terjajar dengan rapi.
Manajer itu mendekati Chika dan Diyah dengan tersenyum ramah. "Silahkan dipilih, Nona," ucap manajer itu dengan sopan. "Terima kasih, Mbak," balas Chika tak kalah ramah.
Diyah mundur, ia ingin Chika yang memilih tanpa campur tangannya jika nanti yang di pilih Chika tidak sesuai tema barulah dia ikut campur. Mendudukkan tubuhnya di sofa tunggu dan merogoh tas mencari benda pipihnya.
Chika masih meneliti semua maju di depannya dan matanya terarah pada drees sabrina berwarna chery di bagian bahu sampai pergelangan tangan berbahan brokat, di ambilnya dan masuk ke ruang ganti. Selesai mengganti dengan seragam yang ia pakai lalu di lihatnya dari kaca besar di depannya.
Dia menutup mulutnya, tidak menyangka jika hanya memakai dress itu saja sudah membuatnya secantik ini. "Ini beneran aku 'kan?" Memutar tubuh ke belakang dan ia langsung cemberut saat menyadari dress yang ia pakai terlalu pendek sehingga memperlihatkan sedikit paha dan kaki jenjangnya. Ia keluar dan memperlihatkan pada Diyah.
"Gimana, cocok gak?" tanya Chika yang masih memegang ujung dress, berharap dress itu bertambah panjang agar paha tidak terliahat. Tapi itu mustahil bukan?
Diyah memperhatikan Chika, cantik sih tapi ini gak cocok pikirnya. "Ganti," perintah Diyah. "Kenapa emangnya?" tanya Chika heran. "Gak sesuai dengan tema, baby," jawab Diyah kembali pokus pada benda pipihnya.
20 menit kemudian ....
Chika sudah megganti 15 pakaian dan itu belum ada yang menarik di mata Diyah dengan geram bercampur kesal Chika menarik asal baju yang belum ia lirik sedikit pun dan dengan cepat ia ganti tanpa melihat ke arah cermin terlebih dahulu dan segera keluar memperlihatkan pada Diyah.
"Apa ini juga tidak cocok?" tanya Chika kesal seraya menatap geram pada sahabatnya. Diyah mengalihkan perhatiannya dari handphone-nya dan segera melihat ke arah Chika. Ia tiba-tiba langsung berdiri. Sama halnya dengan semua pegawai dan manajer itu pun tak kalah kagum melihat penampilan Chika. Dengan atasan memakai turtleneck sleevess crop top warna putih di padu mini pleated skirt garis kotak kecil dengan warna abu-abu gelap.
"Wah, kalau ini baru cocok. Perfeck, lo cantik banget pakai ini," ucap Diyah senang dan dengan malas Chika melihat seperti apa baju yang ia pakai. Ia sontak terkejut, bagaimana bisa dia tidak menyadari kalau rok mini yang ia pakai ini terlalu pendek di tambah baju yang ia pakai ini ketat dan tanpa lengan pula.
"Diyah boleh ganti gak, ini cantik sih. Tapi ini terlalu mencolok," tolak Chika halus, Diyah menggeleng. "Lo harus tetap makai itu, lo mau keren gak?" tanya Diyah, Chika mengangguk.
__ADS_1
"Bagus kalau gitu lo turuti perintah gue." Chika diam ia hanya bisa menurut, dia masuk lagi ke ruang ganti dan menganti kembali bajunya dengan seragam sekolah yang ia pakai tadi.
Setelah keluar dari ruang ganti, Chika di buat terkejut saat melihat beberapa paper bag di depan Diyah. "Itu punya siapa Diyah, kenapa banyak sekali?" tanya Chika penasaran seraya memberikan baju yang ia pakai tadi ke pada pegawai yang menunggunya dan dengan segera pegawai itu memasukkan ke paper bag yang kosong dan memberikannya kembali pada Chika.
"Punya lo semua," jawab Diyah enteng dan membawa pergi semua paper bag, meninggalkan Chika yang masih termenung.
Melihat Chika tak kunjung menyusulnya, wanita ini menghentikan langkahnya dan berputar ke belakang. "Apa lo mau nambah baju lagi?" tanya Diyah yang membuat Chika sontak melangkah pergi sebelum sahabatnya itu benar-benar membelikannya baju lagi. Chika mendahui Diyah tanpa berbicara.
***
"Ini kita mau ke mana lagi Diyah?" tanya Chika yang melihat Diyah melanjutkan mobilnya maju ke depan, bukan seharusnya Diyah membalik jika ingin mengantarnya pulang. "Lo diam aja, Chik," ucap Diyah membuat Chika sontak diam.
Lima menit kemudian, Diyah sudah memparkirkan mobilnya di Mall RENDRA CITY. Chika terkejut sekaligus heran kenapa Diyah membawanya ke sini? Chika tahu ini Mall keluarganya dan ini Mall terbesar di kota A.
"Diyah, kita mau nagapain ke sini?"
"Gue udah belikan lo baju dan sekarang gue mau belikan lo sepatu dan asesoris lainnya. Dan yah, adek-adek lo juga gue belikan," ucap Diyah cepat dan segera keluar dengan cepat pula. Chika sontak ikut keluar, ingin mencegah Diyah namun niatnya gagal saat melihat Diyah setengah berlari meninggalkannya. Dan Chika terkejut saat akan menyusul Diyah, dua laki-laki berbadan kekar menghalangi langkahnya dengan menarik pergelangan tangannya.
"Siapa kalian, lepaskan aku!" jerit Chika memberontak.
Bersambung...
Jangan lupa Vote, Like, Coment dan Favorit🤗 agar author-nya lebih semangat lagi.
__ADS_1
Dan terima kasih atas segala dukungannya🙏💝😁