
"Sa ... saya Chika, Kak," ucap Chika terbata dengan mengukir senyum yang di paksakan. Tuatkan dirimu, Chik. Bukankah kau sudah mulai melupakannya.
"Wah, nama yang cantik seperti orangnya tak kalah cantik juga, kenalkan saya Evelyn." mengulurkan tangan dan langsung di terima Chika. cewek cantik bak model wanita tercantik menurutnya, bisa Chika tebak itu pasti istri Adrian. Huh! Chika menahan sesak di dadanya.
"Benerkan Mom, Kak Chika cantik?" tanya Reyhan yang kini menggenggam tangan Chika. Evelyn mengangguk, tapi tunggu! Mengapa anaknya mengenal gadis SMA ini. Pikir Evelyn.
"Iya sayang, Reyhan kok bisa kenal sama Kak Chika?"
"Maafkan saya Kak, tadi saya menendang batu dan gak sengaja mengenai kaki Reyhan," jawab Chika cepat sambil menunduk, merasa bersalah.
"Tapi Reyhan gak papa kok, Mom," sambung Reyhan tak kalah cepat. "Batunya hanya kecil dan itu tidak terlalu sakit," lanjutnya lagi saat melihat wajah daddy dan mommy-nya khwatir.
"Syukurlah, tidak terlalu bahaya," kata Evelyn saat memperiksa kaki putranya tidak apa-apa, hanya goresan kecil. "Dan untuk Chika tidak usah merasa bersalah begitu, saya sudah memaafkanmu."
"Terima kasih, Kak. Kalau begitu saya pulang dulu," pamitnya dusta, sejenak Chika melirik Adrian kilas yang masih menatapnya dengan diam. Setelah Evelyn mengangguk dengan cepat langkahnya meninggalkan Adrian dan Evelyn, jika ia berlama-lama takutnya dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis.
Kenapa dia begitu menatapku, tidak segankah dia saat ada istrinya di sampingnya? Jujur perasaan yang Chika miliki belum hilang sepenuhnya bahkan belum ada hilang sedikit pun. Chika terus berjalan lurus dan saat ia melihat pamplet yang tertulis kata perpustakaan, ia segera masuk ke dalam perpustakaan itu.
Konsentrasinya buyar, pikirannya entah ke mana. Chika menutup kembali bukunya.
"Argh ... kenapa aku gak bisa melupakannya!" teriak Chika prustasi, beberapa pengunjung menoleh padanya. Ada yang mengatainya, ada pula yang menasehatinya tapi bukan Chika namanya jika ia tidak menggubris perkataan mereka.
"Gue tahu, gue super cantik. Gak usah di gosipi juga pesona gue udah ke mana-mana," ucap Chika percaya diri.
Jangan jadi gila kau Chika! Memukul kepalanya pelan lalu keluar, sudah tidak bersemangat untuk belajar.
***
"Daddy, kakak tadi cantik 'kan?" tanya Reyhan yang tiba-tiba bersamaan dengan Adrian yang tengah menyantap jusnya, terbatuk lalu menatap Reyhan heran.
"Kakak yang mana, sayang?" tanya Adrian pura-pura bodoh.
"Kak Chika, Daddy," jawab Reyahan cepat mebuat Evelyn yang tengah mendengarkan diam saja.
"Hahaha, iya cantik." Memaksakan untuk terus tertawa, padahal ia merasa itu tidak lucu. Evelyn terus terdiam masih setia menjadi pendengar yang baik, namun sesekali dia menoleh Adrian. Adrian mengambil jusnya dan mengesapnya kuat. Mata Evelyn terlihat seperti minta penjelasan.
"Reyhan suka sama kak, Chika." ucap Reyhan tiba-tiba.
__ADS_1
Uhuk... Uhuk... lagi-lagi Adrian terbatuk, meletakkan gelasnya yang mulai kosong. Namun ia tidak menanggapi perkataan anaknya.
***
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu dan hari ini adalah hari di mana Chika dan Diyah tengah was-was menunggu keluarnya hasil UN yang sudah mereka selesaikan tiga hari yang lalu.
"Kalau gue gak dapet giman, Diyah?" tanya Chika parau, ia merasa hasil UN-nya tidak akan sesuai dengan harapannya. Sebab pikirannya di penuhi nama suami orang. Adrian.
"Hey, kau harus percaya diri kawan. Mana Chika-ku yang centil dan selalu tegar, dan percaya diri," ucap Diyah menyemangati dengan memegang bahu Chika.
"Ayolah, Chika yang gue kenal bukan ini." Menepuk pelan bahu Chika, namun dia harus lesu sebab Chika tidak mendanggapinya.
"Kita hanya bisa pasrah, Chik." Jujur, Diyah juga kurang percaya diri saat mengucapkan tegar, karna Diyah tahu walaupun Chika-nya pintar di ruang kelas mereka. Tapi ada yang melebihi khualitas Chika, Diyah tahu itu.
"Gue gak tau, mau jadi apa kalau gue gak dapat kesempatan beasiswa ini," ungkap Chika parau. Diyah merangkul Chika.
"Lo pikir gue akan diam, saat lo gak dapat beasisiwa?" Chika menoleh, menaikkan sebelah alisnya.
"Maksudnya?"
"Hanya senang?" tanya Chika dengan tampang polos. Diyah menggeleng. "Jadi?" Kembali bertanya.
"Lo akan dapet yang lebih dari senang," balas Diyah berbinar. Chika menautkan kedua alisnya.
"Contohnya?
"No ... no ... no, lo akan tau nantinya," balas Diyah cepat dengan dia sudah berdiri melirih kerumunan di papan mading. "Chik, hasilnya udah keluar tuh kayaknya." Menunjuk kerumunan banyak siswa.
"Huh! Oklah, gue akan pasrah dengan apa yang terjadi nantinya," ucap Chika dengan menguatkan diri, sebenarnya ucapan Diyah yang membuatnya kembali bersemangat. Walaupun dia belum tahu apa tujuan sahabatnya itu. Chika percaya akan ada jalan yang membuat dirinya berubah dan bangkit dari kepahitan hidup yang ia jalani kini.
"Ayo bro, gue udah siap,!" ucap Chika nyaris seperti jeritan.
"Waw, ini baru Chika gue," balas Diyah sama menjerit pula. Kedua gadis cantik itu tengah bergandeng menyusuri kerumunan siswa-siswa yang berdesakan ingin melihat hasil ujian mereka.
"Heh, minggir. Sang ratu Diyah dan Chika mau lewat," Perintah Diyah tegas membuat semua siswa yang di depan mereka minggir ke samping kiri kanan membirkan kedua gadis itu jalan dengan tenang di tengah-tengah mereka. Chika sempat terkekeh dengan aksi sahabatnya itu, tapi ia merasa bersyukur. Setidaknya gak ada yang merendahkannya saat dirinya berada dekat dengan sahabatnya itu.
Dengan melenggang sombong mereka menyusuri jalan yang di buat siswa itu.
__ADS_1
Kayak artis gue sekarang, banyak yang penggemar sehingga gue di tatap kagum seperti ini. Hahah, aneh lu chik. Ucap Chika pada pikirannya yang kini melayang, entau ke mana.
Tibanya mereka di depan mading itu, mata Chika segera menatap namanya yang berada di atas, dan. Yah, setelah nama Juan, barulah namanya. Mau di bilang kecawa, pasti. Mau di bilang tidak kecewa, itu sangat tidak mungkin. Nyatanya Chika benar-benar kecewa, pupus sudah harapannya. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Hey, sobat. Tidak perlu sedih, bukankah udah gue bilang. Gue gak akan buat sahabat gue melarat." Menggenggam tangan Chika, agar ia merasa bahwa itu bukanlah akhir dari segalanya.
"Hahaa, iya gue percaya sama lo. Gue semangkin menyayangi lo." Memeluk Diyah, terharu. Semua murid melihat mereka geli-geli senang.
"Dih, mereka lesbi. Cantik-cantik kok lesbi," seru Gia, musuh bebuyutan Diyah.
"Walaupun Chika lesbi, hati gue akan tetap tertuju padanya," ucap siswa cowok yang terus memandang lekat wajah Chika dari kejauhan.
"Gue juga," sambung siswa cowok lainnya.
Semua pujian dan hinaan untuk Chika dan Diyah tidak luput dari pendengaran Juan, merasa risih kini dia menghampiri kedua gadis cantik yang kini mulai beranjak dari papan mading.
"Chika, tunggu!" jerit Juan yang kini sudah berada di belakang kedua gadis itu. Keduanya memutar.
"Ada apa?" tanya Diyah posesif, menatap tajam wajah tampan Juan.
"Gue gak ngomong sama lo, gue tidak membutuhkan beasiswa itu. Jika lo mau ambil aja," ucap Juan menatap wajah Chika.
Semua siswa yang masih menyaksikan mereka, pada berseru. Heran beasiswa yang Juna dapatkan kini ia serahkan pada Chika. Sama halnya dengan Chika, ia terkejut dengan akal pikir Juan. Belum sempat Chika menjawab, Diyah lebih dulu menjawab.
"Gue tidak terlalu miskin hanya karna biayayi Chika sampai sukses." Ucapan Diyah sukses membuat keributan semua siswa. Ada yang bilang jika Juan suka dengan Chika, ada yang bilang juga kalau Diyah cemburu dan banyak lagi.
Juan diam dan kini tatapannya menatap Diyah lekat.
"Gue cuma menawarkan, jika tidak mau ya sudah." Selepas itu Juan segera pergi. Dan di dalam langkahnya ia tersenyum tipis.
"Gue kejar lo sampai lo luluh nantinya," ucap Juan mantap akan janjinya.
Bersambung....
Jangan lupa Vote, Like, Coment dan Favorit🤗 agar author-nya lebih semangat lagi.
Dan terima kasih atas segala dukungannya🙏💝😁
__ADS_1