
"Kita mau tidur, sayang," kata Adrian dengan santainya. Chika melotot dengan mata merah dan masih ada sisa air mata di pipinya. Tampak Chika yang ingin protes dengan cepat Adrian menimpalinya.
"Ya mau beli makanan untuk adikmu lah, pertanyaan apa kau ini. Jangan jadi bodoh jika sedang menangis." Mengacak ramput ikal Chika, yang membuat empunya merengut.
"Gak usah Om, aku beli di warung depan rumahku aja nanti. Kayaknya di sini mahal, aku gak punya uang banyak," protes Chika.
"Siapa yang menyurumu membelinya, aku yang akan membelikanmu."
"Aku gak mau merepotkan Om, gak usah aja Om." Mencegah tangan Adrian yang ingin keluar, perdebatan mereka memakan waktu kurang 5 menit. Chika yang begitu tidak mau berhutang budi pada Adrian, kalah akhirnya. Chika mengasih syarat yang membuat Adrian menyetujuinya dengan terpaksa.
"Aku akan bayar semua yang Om belanjakan hari ini, saat aku punya uang," ucap Chika mengucapkan ini untuk yang ketiga kalinya.
"Hmm," balas Adrian, sebelum ia keluar dari mobilnya, Niatnya baik dan tulus tidak diterima Chika, namun mungkin itu beda dengan pemikiran Chika.
Akan kubuat kau tidak bisa membayarnya, Bocil. Menarik garis bibirnya lebar dengan tatapan matanya yang sulit diartikan.
***
"Kakak!" teriakan itu berasal dari adik terkecilnya, berlari dan memeluk Chika. Chika membalas pelukan Nina dengan sayang, mencubit pipi tembabnya dan berkerut melihat wajah Nina yang aneh.
"Sayang kenapa Nina pucat sekali, Nina sakit?" Menempelkan punggung tangannya ke kening Nina, memperiksa suhu tubuh Nina.
"Tidak panas, tapi kok ...."
"Kakak, aku tidak apa-apa," Memotong cepat ucapan Chika, tidak mau kalau kakaknya khawatir. Nina memasang wajah yang begitu sumringah dengan menatap arah mobil yang tidak tahu siapa yang mempunyai mobil ini dan kenapa kakaknya naik mobil ini, pikir Nina penuh tanda tanya.
"Hai, Nina cantik," sapa Adrian yang kini sudah menenteng belanjaan yang begitu banyak dari kursi belakang, terbukti dari ia yang kerepotan memabawa semuanya sekaligus.
"Bang Adrian, ya?" tanya Nina polos dengan mata berbinar. Adrian mengangguk dengan tersenyum senang.
"Aaa, Bang Adrian!" jirit Nina dengan suara sangat tinggi, Chika dan Adrian hanya terkekeh dengan tingkah menggemaskan Nina.
"Nina, kenapa kau berteriak begitu. Kau membuat orang-orang yang mendengarnya bisa tu ...." Tidak melanjutkan ucapannya saat mata mengantuk Nella menangkap sosok Adrian di halaman rumahnya.
"Bang Adrian!" Kini giliran Nella pula yang menjerit kegirangan dan langsung menghampiri Adrian. Chika menatap heran pada kedua adiknya ini.
__ADS_1
Hei, aku yang kakak kalian. Kenapa kalian malah menyambutnya?
"Nella, Nina. Kalian mengabaikan kakak ni?" Berharap kedua adiknya melirihnya walaupun sesaat, tapi nihil saat kedua adiknya itu mengabaikan ucapan Chika. Justru Nina dan Nella membantu Adrian membawa sebagian kresek yang ia pegang setelahnya langsung mengajak Adrian masuk ke dalam rumah tanpa memperdulilan keberadaan Chika yang masih mematung.
Apa aku sekarang dicampakkan? Ingain rasanya Chika menjerit memaki Adrian yang sudah merebut perhatian kedua adik tercinta namun ia urungkan. Dengan langkah goyah Chika memasuki rumahnya.
"Assalamualaikum," Satu langkah masuk setelah mengucapkan salam, berharap kedua adiknya membalas menjawab salamnya. Langkah berikutnya membuat Chika sendu karna tidak ada dari ketiga manusia itu menyadari Chika yang mengucapkan salamnya, kedua adiknya asik dengan apa yang Adrian bawa dan langsung melahap makanan yang ada di depan mereka.
"Menyebalkan." Chika rebahan dan memeluk guling dengan erat, entah kenapa kini ia menangis sejadi-jadinya.
"Papa, Chika rindu," ucap Chika sendu dengan memegang gelang kecil yang kini semangkin tambah berkaratnya. Ia mengelus lembut gelang kecil itu, gelang yang pantasnya dibuang. Sudah 10 tahun kepergian papanya tapi ia masih sangat menyimpan gelang itu dengan baik, walaupun Chika tahu kalau tidak lama lagi gelang itu akan hancur. Gerang terakhir papanya yang slalu ia jaga, memori kepalanya kini sudah berputar secara otomatis dalam kepalanya.
Seorang gadis kecil cantik berusia delapan tahun yang tengah menangis tersedu, gadis itu tidak terima kalau permen lolipopnya terjatuh.
"Sayang, udah dong nangisnya. Papa minta maaf ya," Lelaki itu mengusap lembut punggung anak pertamanya dan terus mengucapkan kata maaf, saat tidak sengaja ia menyenggol tangan anaknya dan mengakibatkan permen yang di pegang anak itu terjatuh ke lumpur yang sangat jorok.
Lagi-lagi gadis itu menggeleng dengan tangisannya yang tidak mau berhenti. "Kembalikan lolipop Chika, Pa!" jerit Chika kecil di sela-sela tangisnya dengan menatap marah papanya.
Sang papa mengangkat Chika dengan gemas melihat anaknya menangis dengan pilu justru ia membuatnya tertawa, Chika terus berontak ingin diturunkan tapi Papanya semangkin terus mengeratkan gendongannya. Wajah Chika sangat menggemaskan saat menangis membuat sang papa brutal menciumi seluruh wajah anak pertamanya itu tanpa terlewat satu pun.
"Papa jahat kenapa papa mau pergi? Hiks ... sebelum papa pergi belikan dulu lolipop Chika yang udah papa jatuhkan tadi," ucapa Chika di isak tangisnya berpikir papanya akan pergi kerja lagi dan meninggalkan mereka dalam beberapa hari.
"Baiklah Papa akan membelikan anak Papa ini lolipop," mata chika berbinar.
"Papa serus?" Papa mengangguk dengan pasti. "Papa tidak bohong?" tanya Chika untuk memastikan apa yang diucapkan papanya, lagi-lagi papanya mengangguk membuat Chika memeluk sayang papanya.
"Ayo Pa sekarang, nanti keburu tukang jualannya pulang," rengek Chika dengan menggoyangkan sebelah tangan papanya.
"Ok, papa akan berangkat. Anak papa yang cantik ini tunggu di rumah ya." Chika menggeleng ingin ikut dan dengan terpaksa papanya menyetujuinya.
"Yee, beli lolipop." jerit Chika kegirangan dengan papanya yang terus mengayuh sepeda tuanya dan Chika yang dibangku depan dengan di modis papanya ada papan didepan bangkunya yang dibuat sejajar. "Pa, nanti kita beli empat lolilop ya, satu untuk mama, Nella, Nina dan terakhir untuk Chika." racau chika kegirangan.
"Untuk papa gak ada?" chika menggeleng cepat. Dengan bibir manyunnya berkata, "Papa udah jatuhin lolipop Chika jadi Papa dihukum gak akan dapat lolipop dari Chika," ucap Chika dengan nada marah, papanya hanya menanggapi dengan tertawa dan sesekali meminta maaf setelahnya mereka sampai ditukang jualan lolipop yang mulai berkemas ingin pulang karna waktu menunjukkan menjelang magrib tiba.
Setelah membeli lolipop Chika dan papanya kembali pulang, mereka asik berbincang ria tanpa mereka sadari mobil MBW putih melaju sangat kencang di depan mereka ditinggungan yang lumayan tajam, Papanya yang menyadari itu langsung melempar chika ke pinggir jalan dengan rumput yang lembab dan detik berikutnya tubuh papanya dihantam mobil itu dan terlempar beberapa meter di depan mata Chika.
__ADS_1
"Papa!" pekik Chika histeris melihat sepeda papanya yang kini menimpa tubuhnya yang sudah banyak mengeluarkan darah, sejenak Chika melirih mobil MBW yang sempat berhenti setelahnya langsung melaju dengan cepat meninggalkan Chika yang sudah menggoyangkan tubuh papanya.
"Pa bangun, kenapa kepala papa mengeluarkan banyak darah?" Pertanyaan polos yang keluar dari bibir mungil Chika di iringi tangisannya.
"Ga... gak papa sayang, ini ha... hanya mainan," ucap papanya terbata, papanya meraih tangan mungil Chika. "Maafin pa... pa sayang buat lolipop kamu jatuh,"
"Gak papa Pa, Chika udah maafin papa. Sekarang kita pulang Pa, Chika janji akan memberikan lolipop Chika untuk papa," racau Chika terus menangis, dia tahu ini bukan darah mainan. Papa berbohong! batinnya sebelum kesadarannya hilang diantara sakit yang kini ia tahan di dadanya.
"Papa bangun Papa, Chika gak mau lolipop lagi. Chika mau papa bangun." Chika histeris saat ia sadar di rumahnya sudah banyak orang dan yang membuat dia lebih sedih di tengahnya orang yang tengah mengaji ada seorang pria yang sangat ia kenal telah tertutup kain batik dari ujung kaki sampai ke bahu menyisakan kepalanya yang tampak sangat pucat. Chika tahu ini artinya apa, saat Mamanya pernah membawa ia bertemu untuk kerakhir kali pada neneknya. Mamanya berkata kalau neneknya akan pergi jauh di mana kita tidak bisa berjumpa untuk selamanya.
"Bangun pa, Chika gak mau lolipop lagi. Chika mau papa bangun." Ulang Chika lagi dan terus menggoyangkan badan papanya yang kaku berharap kalau ini hanya candaan papanya saja. Mamanya menyentuh bahu Chika lembut.
"Papa sudah pergi Nak, sabar ya." hanya itu yang mamanya mampu ucapkan. Karna ia tahu Chika bukanlah anak kecil yang biasa, kepintarannya membuatnya lebih dewasa dari umurnya.
"Enggak Ma, tadi papa bilangnya mau pergi bentar abis itu kembali lagi. Iya kan Pa." Papanya masih tidak bergerak, Chika menggigit bibir bawahnya. Tidak, ini tidak mungkin. Papa masih ada, papa hanya bercanda. Chika terus memukul dadanya yang terasa sesak.
"Pa, kenapa papa diam. Bangun Pa." Memukul dadanya yang kembali sesak.
"Papa bilang papa pahlawan kami, hiks ... bukannya pahlawan harus selalu ada dan tidak kemana-mana. Kenapa Papa bohong, bangun pa." Jerit Chika histeris tidak terima jika papanya meninggalkannya begitu saja.
Lamunan Chika terhenti saat Nina berterik histeris.
"Kak Chika!" jerit Nina dengan memeluknya. "Kenapa Kakak nangis, Nina ada salah ya?" racau Nina yang sudah ikut menangis.
Chika menghapus air matanya sesaknya kembali menghimpit dadanya dengan memeluk Nina tangis Chika kini pecah. Adrian dan Nella langsung berhambur ke kamar Chika.
"Kau kenapa?" tanya Andrian yang melihat wajah berantakan Chika, tersirat luka yang begitu dalam di wajah cantik itu.
Apa yang membuatmu begini?
Bersambung....
Jangan lupa Vote, Like, Coment dan Favorit🤗 agar author-nya lebih semangat lagi.
Dan terima kasih atas segala dukungannya🙏💝😁
__ADS_1