Om, Nikahi Aku?

Om, Nikahi Aku?
Kami bahagia Ma, Pa


__ADS_3

Adrian sontak melihat ke arah Chika, ia baru sadar jika Diyah bersama temannya. Mata mereka saling bersitatap dan segera buyar saat Diyah bersura.


"Ehemz!" Diyah menatap Chika dan omnya bergantian, merasa seperti ada sesuatu diantara mereka.


"Eh, Diyah," ucap Chika yang mengalihkan pandangannya. "Lo tadi ini om gue apa enggak, 'kan?" tanya Diyah memastikan pertanyaannya sahabatnya, Chika mengangguk pelan.


"Iya, lo benar Chik. Dia Om gue yang gue ceritakan sama lo tadi."


'Oh, berarati yang Diyah ceritakan tadi Omnya yang tampan ini. Ya ampun, kok ada sih mahkuk setampan dia.'


"Woy!" Diyah menyikut lengan Chika, membuat lamunan Chika buyar dan kini dia jadi salah tingkah saat matanya tidak sengaja mertabrakan pada mata teduh Adrian.


"Jadi lo nyeritain gue dari tadi?" tanya Adrian yang sejak tadi diam. Diyah mengangguk cepat.


Memangnya kenapa? Di sini tak ada orang tua gue, jadi gue bebas memarahinya sekarang. Pikir Diyah.


"Om tau, gara-gara Om. Liburan Diyah terganggu, Om harus minta maaf. Diyah udah lama pengen ke sana tapi karna Om, Diyah ...." kalimat Diyah tidak lagi berlanjut saat Adrian memotongnya.


"Oh, jadi lo gak mau nerima pemberian gue?" Diyah bingung, apa maksud pertanyaan omnya ini. Chika masih setia mematung, diam mendengarkan mereka berbicara.


"Maksud, Om Rian?"


'Oh, namanya Rian!' seru Chika dalam hati dan mengangguk pelan, seperti orang gila.


Ansell Adrian Rendra pria tampan, tajir, diusianya yang masih terbilang muda. Sudah menjadi pemimpin perusahan Rendra Group sekarang. Study-nya yang sudah lulus di luar negri membuatnya dengan mudah ditunjuk Riswan papanya Diyah untuk meneruskan perusahan besar itu.

__ADS_1


Adrian mrngeluarkan kunci mobil sport keluaran baru yang bernama Maybach Exelero , Diyah dan Chika tercengang. Diyah mendekati Adrian dan dengan manja ia bergelayut di tangan omnya, layaknya seperti anak kecil.


"Hehehe, Om genteng. Masak ngambek sih, 'kan Diyah cuma bercanda. Maaf, yah." rengek Diyah manja membuat Adrian luluh, wajah memelas Diyah membuatnya tak tega. Diyah adalah keponakan yang paling Adrian sayangi, apa pun yang ia pinta akan dituruti oleh Adrian.


Diyah berhambur memeluk Chika, Diyah senang karna sekarang dia mempunyai mobil yang ia impi-impikan selama ini. Chika juga ikut senang saat melihat sahabatnya senang pula.


"CHIKA!" pangil pemilik kafe, yang sudah sejak tadi berdiri melihat Chika. Sudah cukup rasanya dari tadi membiarkan Chika ngobrol. Chika tersentak kaget, ia melepaskan pelukan Diyah dan berlari mendekati bossnya.


"Maafkan saya, bos. Maafkan saya." Chika terus mengatupkan tangan dangan menunduk beberapa kali.


"Ok lah, cepat sana kerja." Chika tersenyum, bosnya selalu baik padanya. Berulang kali Chika membuat kesalahan tapi bosnya selalau memaafkannya. Chika berputar menatap sahabatnya dan om Adrian yang masih melihatnya dari tadi.


"Diyah, gue kerja yah." Diyah menggangguk dan melambaikan tangannya, Chika pu. membalasnya juga.


"Siapa dia?" tanya Adrian penasaran dengan mata yang tak luput memperhatikan Chika yang sudah melenggang masuk kedalam kafe.


"Sekarang waktunya mencoba mobil baru!" seru Diyah, menarik lengan Adrian dengan antusias. Adrian menggeleng, sikap manja Diyah tak pernah berubah dari dulu.


***


Entah kenapa waktu begitu cepat berlalu, jam pulang kerja sudah berakhir kini Chika melangkah dengan gontai memasuki halaman rumahnya yang kecil namun bersih itulah kondisi rumah peninggalan orang tuanya. Chika menenteng dua bungkus makanan, sepulang kerja ia selalu begitu membawa makanan untuknya dan adik-adiknya.


Chika bersyukur karna di tempat ia kerja tidak membuat gaji perbulan tapi perhari. Karna itu mereka bisa makan, jika gajinya perbulan. Maka Chika pastikan mereka tidak bisa makan tiap hari seperti ini.


"Assalamualikum, Dek," ucap Chika tatkala ia membuka rumah tua itu. Kedua adiknya berhambur memeluknya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam, Kak." rempak keduanya.


"Kak, kok malam pulangnya?" Nella, Adik keduanya bertanya.


"Iya nih Kakak, 'kan Nina laper nungguin Kakak." timpal adik terakhirnya.


Nella Wiranti berusia 14 tahun dan sekarang kelas 3 SMP. Sedangkan adik terakhirnya Gaizka Nina Kayyisah berusia 11 tahun sekarang kelas enam SD. Semenjak mamanya meninggal Chika melarang adik-adiknya keluyuran, sepulang sekolah mereka akan langsung pulang ke ruamah dan patuh akan apa yang Chika perintahkan. Chika sudah seperti ayah sekaligus ibu bagi mereka.


"Maafin Kakak, ya. Udah buat adek-adek Kakak ini kelaparan. Kakak lembur, biar dapat gaji tambahan. Dan sekarang Kakak beli sayur yang spesial." Mata keduanya berbinar.


"Benarkah?" Chika mengangguk dan langsung membuka bungkusan yan ia beli tadi.


"Wah, ayam!" seru Nina dengan senang. Ya! selama mamanya meninggal mereka jarang beli sayur ayam seperti ini. Karna harga sayur ayam cukup mahal, kalau Chika membelinya maka gajinya yang hanya 40 ribu perhari akan habis dan tidak akan ada sisanya lagi buat jajan adik-adiknya sekolah besok.


"Kak, apa ini tidak berlebihan?" tanya Nella sedih, Nella yang tumbuh menjadi gadis dewasa sebelum umurnya itu selalu paham akan kondisi keluarganya.


"Enggak sayang, tadi Kakak dapat gaji lebih. Liat nih, masih banyakkan sisanya." Chika menunjjukkan sisa uang yang hari ini ia dapatkan, 60 ribu sisa uangnya. Itu cukup untuk sayur pagi, jajan adik-adiknya dan menabung sedikit kedalam celengan ayamnya.


"Ya udah yuk kita makan, liat tuh ayamnya liatin kita." Canda Chika membuat kedua adiknya tertawa.


'Ma, Pa. Liat kami, kami bahagia walaupun papa sama mama gak bersama kami lagi. Jangan khawatirkan kami lagi, kami akan baik-baik saja. Love you, Pa, Ma.' batin Chika melanjutkan makannya.


Bersambung...


Jangan lupa Vote, Like, Coment dan Favorit🤗 agar author-nya lebih semangat lagi.

__ADS_1


Dan terima kasih atas segala dukungannya🙏💝😁


27-02-2020


__ADS_2