
Diyah memutar tubuhnya lagi memastikan bahwa penampilannya tidak ada yang mengecewakan "perfeck," pujinya melihat dirinya yang kini memakai crop top berwarna hitam serta rok mini tutu berwarna biru muda dengan kain tile warna senada dengan roknya yang menyisakan satu lapisan yang sangat pendek untuk menutupi pangkal pahanya ke atas, selebihnya ia biarkan terekspose memperlihatkan setengah paha dan kaki jenjangnya.
Tersenyum sebentar ke cermin lalu ia mengambil tasnya di atas nakas dan segera keluar kamar dengan terburu-buru ia merasa sudah sangat terlambat menjemput Chika.
"Mami, Diyah pergi yah!" jerit Diyah sudah berjalan keluar pintu utama.
"Sayang, apa mereka akan menerima Mami nantinya?" tanya Vina ragu mendekati anaknya yang mulai keluar pintu utama. Diyah tahu apa maksud maminya, ia berbalik dan menggenggam lembut tangan maminya.
"Nella dan Nina sangat baik orangnya, Mi. Mami tidak usah khwatir, kalau Mami sudah bertemu mereka. Mami gak akan sesungkan ini, nantinya,"
"Sungguh?" tanya Vina memastikan.
"Sungguh," jawab Diyah mantap. "Mami segera bersiap-siap karna lima menit lagi Nella dan Nina sudah akan sampai," lanjutnya seraya memasukkan handphone-nya ke dalam tas setelah ia melihat pesan dari Jack bersamaan dengan Vina langsung ngacir ke kamar, ingin segera mengganti pakaiannya.
"Mami!" jerit Diyah melengking saat matanya teralih sang mami tercinta tiba-tiba sudah tidak ada di depannya pantas maminya tidak merespon ucapannya . "Apa segitu senangnya dia? Ih, Mami bahkan gak lihat apa kalau bajuku seseksi ini. Biasanya juga rewel, tersaingi aku sama mereka," gerutu Diyah geram dan segara masuk ke dalam mobilnya.
***
Baru beberapa menit di perjalanan handphone Diyah berdering, ia memasukkan cermin yang dia gulati dari tadi dan mengambil benda pipih tersebut.
"Lakukan yang terbaik, iya kami akan segera datang." Diyah menutup benda pipihnya dan langsung mengakhiri panggilan saat pak Udin, supir maminya telah membuka pintu mobil untuk dia keluar.
"Terima kasih, Pak," ucapnya ramah.
"Iyaa, Nona. Jangan terlalu segan sama saya," balas pak Udin, ia tak mau Nona mudanya terlalu menganggapnya berlebihan. Diyah terkekeh. "Ok lah Pak, aku pergi dulu," pamit Diyah, pak Udin hanya mengangguk saja.
Diyah membuka pintu rumah Chika begitu saja saat mengetahui rumah sahabatnya tidak terkunci.
"Apa sudah selesai, kenapa kau lama ...." Kalimat Diyah tergantung saat matanya menatap kagum pada Chika yang sudah berdiri dengan gusar. "Waw! Kau sangat cantik kawan," puji Diyah berbinar ini kali pertama dia melihat sahabatnya berpenampilan dari biasanya, Chika kini menggunakan tube top dress bling-bling hitam setengah paha, terlihat seksi dengan memperlihatkan sedikit tonjolan dadanya yang berisi padat serta kalung Choker hitam dilapis kalung emas tipis peninggalan mamanya perpaduan yang sempurna dan telasik.
"Kau yang lebih cantik Diyah, jangan mengejekku begitu," kilah Chika sambil berputar melihat badannya di depan cermin. Ia marasa baju yang di pakainya sungguh keterlaluan.
__ADS_1
"Tidak Chik, untuk kali ini kau terlihat luar biasa," ucap Diyah yang tidak berhenti terpesona dengan gaya Chika serta rambut ikalnya yang di gulung sedikit dan anting panjang yang terlihat indah di tambah lipstik merah maron, tampak sedikit gelap namun itu membuat wajah imutnya terkesan fres dan terlihat lebih dewasa.
"Ini karna periasmu juga Diyah, kau tau ini bukan gayaku yang sebenarnya," kata Chika melihat kakak perias itu hanya tersenyum ramah. "Tapi apa ini tidak berlebihan?" lanjutnya bertanya pada Diyah yang masih terpesona dengan penampilannya.
"Berlebihan? Kau sudah gila yah, ini sama sekali tidak berlebihan," jawab Diyah cepat membuat Chika mengkerut, ia tidak tahu apa rencana sahabatnya sebenarnya. Jam 10 tadi Jack sudah menjemput kedua adiknya dengan beralasan membawa kedua adiknya ke rumah Diyah untuk menemani maminya Diyah dan saat kedua adiknya pergi bersamaan juga seorang gadis datang yang mungkin 3 tahun lebih tua darinya. Berkata akan menghiasinya dan memilih baju yang ia kenakan malam ini, padahal dia sudah memberi tahu sudah ada baju yang akan ia kenakan namun sayang si perias tidak mendengarkannya justru memberi baju tube top dress bling-bling hitam yang ia gunakan ini.
"Tapi aku tidak menyukainya, Diyah," keluh Chika sambil membuka lemari dan mengambil jaket kulit lalu memakainya untuk menutup lekuk tubuhnya yang terlalu terekspose.
"Chik, untuk malam ini aja. Please," mohon Diyah dengan membuka kembali jaket yang Chika kenakan. "Yah," lanjutnya lagi sudah membuang jaket ke atas kasur Chika dan menarik wanita itu ke luar.
Huh! Chika membuang napas kasar, biarlah untuk kali ini. Pikirnya.
Setelah merasa sahabatnya tidak mebantah, dengan segara Diyah menarik Chika menuju mobil yang masih setia menunggu mereka.
"Kau tidak macam-macam 'kan, Diyah?" tanya Chika saat mereka sudah di dalam mobil yang tengah melaju.
"Tidak, Chik," ucap Diyah cengengesan. Chika menarik napas lega. "Hanya satu macam saja," lanjut Diyah lagi membuat Chika memukul pelan lengan Diyah, yang dipukul hanya nyengir kuda.
***
"Ini acara apa sih, Bob?" tanya Dimas yang tidak tahu apa-apa, dirinya hanya disuruh membawa teman-teman yang penting, untuk menghadiri pesta saja naun ia tidak tahu pesta dalam rangka apa.
"Kalian liat aja nanti," jawab Boby malas. Ia masih pokus dengan game yang ia mainkan malam ini.
Tidak terasa setengah jam sudah berlalu namun yang punya pesta juga belum datang. Boby memberhentikan permainannya lalu membuka kontak mencari nama Diyah, berniat ingin menelpon wanita itu. Namun sebelum nama Diyah ia lihat tiba-tiba suara wanita mengagetkan mereka semua.
"Hello semua." Diyah sudah berdiri di ambang pintu gedung, dengan percaya diri dia tersenyum pada teman-teman yang ia undang. "Maaf yah, sudah menunggu kami lama. Kalian tahu 'kan kota A sangat padatnya minta ampun jadi saya mewakili yang punya pesta meminta maaf sebesar-besarnya," ucap Diyah panjang lebar sambil mebungkuk sedikit dan senyumnya tak bisa luput dari wajah cantiknya.
"Tidak apa-apa sayang, selama apa pun aku pasti akan menunggumu," goda Dimas tersenyum dengan pandangannya yang terus terkagum melihat penampilan Diyah malam ini.
"Cih, gue yang gak mau di tunggu lo," balas Diyah malas. "Ok lah teman-teman, princess kita sudah ada denganku. Jadi kita langsung saja, ini dia si imut Chika," lanjutnya dengan menarik tangan Chika yang masih bersembunyi di balik tembok.
__ADS_1
"Diyah gue gak mau," tolak Chika masih enggan bergerak. Diyah membesarkan matanya, menatap tajam ke arah Chika.
"Lo mau sia-siain apa yang gue buat?" tanya Diyah datar membuat Chika menggeleng. "Gue gak maksa, lo bisa pulang se ...."
"Hay, teman-teman," sapa Chika cepat dengan muncul di depan Diyah, membuat Diyah tidak meneruskan kalimatnya dan dia tersenyum.
'Ini baru Chika, gue,' batinnya.
Jantung Chika seolah ingin keluar sekarang, walaupun hanya beberapa teman-temannya yang diundang namun tidak membuatnya tidak gugup. Apalagi dengan pakaiannya yang seperti ini, itu membuat Chika tambah berdebar. Barsamaan dengan ke munculan Chika membuat semua mata menatapnya kagum, terpesona. Apalagi Boby matanya terus menatap Chika dari atas sampai bawah.
"Wah, gila!" jerit Wahyu, dia tadinya hanya duduk santai tapi begitu Chika menyapa secara otomatis tubuhnya berdiri. "Lo Chika, bukan?" tanyanya tidak percaya.
"I ... iya, aku Chika," kata Chika terbata dengan berdebar tapi ia paksa tersenyum.
"Hey ... hey, tidak boleh memandanganya begitu, itu membuatnya tidak nyaman," ucap Diyah, ia merangkul sahabatnya yang gugup itu dan membawanya ke tengah meja penuh makanan.
"Kami memang begitu cantik malam ini, jadi mata kalian jangan lebay begitu," ucap Diyah, sebab pergerakan mereka selalu di ikuti mata teman-temannya.
"Saatnya kita pesta, ini untuk merayakan kelulusan kita sekaligus hari penting Chika," kata Diyah membuat Chika terbengong.
Hari penting! Ulangnya dalam hati.
Chika yang ingin bertanya tidak jadi sebab sudah ada dua orang yang membawa kue ulang tahun beserta musik ulang tahun juga, ia menutup mulutnya yang terkagum.
"Diyah!" panggilnya manja, ia melupakan hari kelahirannya sendiri.
"Nanti bilang makasihnya, sekarang kita akan rayakan ini," ucap Diyah sombong dengan menarik Chika mendekati meja kue yang sudah di beri nama happy birthday baby-ku. Chika menghalus air mata yang entah sejak kapan sudah jatuh.
"Happy birthday, Kak!" teriak kedua adiknya, Chika terpaku dan tidak menyangka kedua adiknya juga sudah ada dengan menggunakan drees sabrina yang sangat cantik.
"Kalian kapan datang?" tanya Chika haru, memeluk kedua adiknya.
__ADS_1
"Baru aja Kak, Tante cantik itu yang bawa kami,"
Bersambung...