Om, Nikahi Aku?

Om, Nikahi Aku?
Terlalu polos


__ADS_3

"Nona Diyah!"


Seseorang menghentikan langkah kaki Diyah dan Chika saat mereka akan memasuki lift turun dari perusahaan Rendra.


Seorang wanita berbaju kantor, rapi dengan lipstik dan make up-nya yang super menor, menghampiri Diyah dan Chika.


"Ada apa?" tanya Diyah to the point dan ada nada dingin dari suaranya. 


Sipat Diyah akan berubah dingin jika berhadapan dengan semua karyawan papi dan Om-nya. Wanita itu menunduk.


"Maaf Nona, sudah mengganggu waktu Nona. Saya cuma mau memberi tahu kalau pak Adrian masuk rumah sakit," ucap wanita itu sopan.


"Apa?" Chika terkejut, bahkan tubuhnya seperti ingin jatuh sangkin shok-nya dia.


"Kau serius?" Diyah bertanya, dia juga kaget mendengar berita ini.


"Iya Nona dan semua orang tengah mencari yang namanya Chika."


"Aku?" Chika nyaris terdengar seperti berteriak.


"Apa anda yang bernama Chika?" tanya wanita itu kembali mengangkat kepalanya.


"Di mana dia sekarang?" tanya Chika, ia tidak menjawab pertanyaan wanita itu.


"Saya tanya apa Nona yang ...."


"Apa kau tuli, sahabatku tanya di mana Om-ku," bentak Diyah emosi membuat wanita itu tertunduk lagi.


Air mata Chika sudah jatuh sekarang, ia merasa khwatir dan entah kenapa tiba-tiba dadanya terasa sesak.


"Maafkan saya Nona, pak Adrian di bawa ke rumah sakit Mutiara," ucap wanita itu.


Tanpa mengatakan apa-apa Diyah sudah pergi sambil merangkul sahabatnya, Chika hanya diam dan terus menangis.


"Sudahlah Chika, tenangkan dirimu."


"Apa dia masuk rumah sakit karna gue?" Dia menunjuk dirinya sendiri, serta air matanya yang terus mengalir.


"Enggaklah, gr lo. Mungkin om gue kecapean," ucap Diyah menenangkan padahal dia kurang yakin dengan jawaban yang di berikannya itu.


***


Sesampainya di rumah sakit Chika dan Diyah segera berlari menuju resepsionis.


"Mbak ada ...."


"Pak Adrian 'kan, Nona Diyah,?" potong penjaga resepsionis langsung bertanya.


Diyah menganguk. Ah, dia lupa pengaruh keluarga Rendra sangat lah kuat, sehingga siapa pun pasti akan mengenalnya.


"Di ruangan VIPno 123 di lantai 15 Nona," ucap penjaga itu sopan.


"Terima kasih," balas Diyah segera menarik kembali tangannya Chika yang masih diam.


Kedua gadis itu lantas menuju lift dan dengan cepat Diyah menekan tombol 15.


Empat detik kemudian pintu lift terbuka, segera Diyah mencari ruqngan om-nya.


"Evelyn, kenapa dokter itu gak keluar-luar?" Viona tampak panik, ia tidak tenang duduknya.


"Entahlah, Tante." Evelyn juga sama mereka menunggu dengan gelisah, sementara Jack masih tetap diam, ia juga cemas tapi dapat dia tutupi.


"Mami, Tante," seru Diyah dengan sedikit berlari menghampiri Evelyn dan Viona, dan juga ada Chika di belakang Diyah.


Evelyn dan Viona lantas berdiri melihat kedua gadis itu datang.

__ADS_1


"Om, kenapa Mi. Kenapa bisa masuk rumah sakit?" tanya Diyah saat sudah dekat dengan Viona.


"Kalian ke mana aja?" Viona balik bertanya, matanya ter arah ke Chika dan anaknya bergantian. Chika yang di pandang begitu langsung tertunduk, ia juga sempat melihat Evelyn yang menatapnya tajam.


"Apa itu penting Mami? Sekarang yang penting, Om ke ...."


"Gak penting kau bilang,!" potong Evelyn berseru, tampak dia tengah menahan emosi.


Diyah terdiam, ia melihat ke arah tantenya.


"Karna kalianlah adikku jadi begini," lanjut Evelyn dengan kata yang penuh penekanan.


Chika masih tertunduk dengan air matanya tanpa di perintah langsung turun.


'Dia sakit karna aku 'kan!' batin Chika menebak.


"Kami?" tanya Diyah kaget.


"Lebih tepatnya karna wanita itu," jawab Evelyn menatap Chika tajam. Dengan berani Chika mengangkat kepalanya, korneanya langsung mengarah ke Evelyn dan yang di pandang menatapnya membunuh dan otomatis gadis itu kembali tertunduk.


"Tante ini apaan sih, gak jelas banget. Kenapa sekarang Tante nyalahin Chika?" Suara Diyah terdengar marah.


Chika memegang tangan sahabatnya, bermaksud agar ia tidak ngomong terlalu kasar sama tante-nya.


"Diyah," ucapnya pelan dan air matanya masih terlihat berjatuhan.


"Lo diam aja Chika, enak aja Tante nyalahin lo. Ini gak adil."


"Ini gak adil juga buat Adrian!" seru Evelyn.


"Apa hubungannya dengan Chika, seharusnya marah di sini Chika bukan Tante. Tante apa tau masalah mereka?"


Evelyn terdiam, tampak ia mengepalkan tangannya kuat.


"Diyah!" bentak Chika marah juga.


"Gue gak suka lo marahi orang yang lebih tua," lanjutnya membuat Diyah terdiam.


"Gue gak papa Diyah, sekarang kita harus berdo'a bukannya bertengar," lanjut Chika lagi.


"Maaf kalau sakitnya om Adrian karna Chika," ucap Chika menunduk.


"Ini bukan sepenuhnya salah kamu sayang," Viona bersuara, ia sudah merangkul gadis menangis itu dan tangannya juga tengah mengusap air bening di pipi Chika.


"Mami," Chika semangkin terisak.


Tiba-tiba pintu ruangan VIP Adrian tampak terbuka dan dengan segera mereka bergerak mendatangi dokter yang baru keluar.


"Dok, bagaimana adik saya?" Evelyn bersuara.


"Apa om Adrian gak papa?" Diyah bertanya.


"Tenang Nona, pak Adrian tidak apa-apa hanya saja kalau dia terus-menerus tertekan dan tidak memakan sesuatu, itu sangat berbahaya."


"Berbahaya bagaimana, Dok?" Evelyn menyela dengan tidak sabarnya.


Dokter itu tersenyum kilas. "Maag akut yang di derita pak Adrian akan mengakibatkan kronis pada lambungnya juga bisa mengakibatkan kanker, tulang lambung, gastritis dan anemia tapi Nona semuanya dan Nyonya Viona jangan khwatir. Penyakit maag pak Adrian bisa di sembuhkan kalau selalu di pantau secara terus menerus dan juga pola makan sehat," jelas dokter di iringi senyuman.


Evelyn, Chika, Diyah, Viona dan Jack bernapas lega tampak mereka menebar senyum walaupun tipis.


"Jadi sekarang Adrian sudah tidak apa-apa, Dok?" tanya Viona.


"Tidak apa-apa, pak Adrian cuma belum sadar karna pengaruh obat yang kami berikan. Silahkan Nona dan Nyonya tunggu di dalam," ucap dokter menggeser tubuhnya agar tidak menghalangi pintu masuk.


"Terima kasih dokter," ucap Evelyn tulus.

__ADS_1


"Sama-sama, ini sudah tugas kami Nona," balas dokter dengan senyuman.


Dengan segera Evelyn dan Viona masuk ke kamar Adrian di rawat. Jack juga mengikuti dari belakang.


Diyah yang ingin masuk terhenti saat dia menyadari bahwa sahabatnya masih diam mematung di tempatnya.


"Ada apa Chika?" tanya Diyah dengan mengelus lembut bahu sahabatnya.


"Apa dia mau liat aku lagi?" Gadis itu tertunduk dan air matanya lantas menetes.


"Alasan apa yang membuat om Adrian tidak melihatmu, dia itu sangat mencintaimu Chika. Mana mungkin dia tidak mau melihatmu,"


Chika mengangkat kepala tertunduknya.


"Apa lo bilang?" tanyanya sambil tangannya mengusap air mata.


"Mana mungkun dia tidak mau melihatmu,"


"Sebelumnya."


"Yang mana? Oh, alasan apa tang membuat om Adrian tidak meluhatmu, yang itu?"


"Bukan, sesudahnya?


"Yang mana sih," Diyah mulai kesal. "Om Adrian mencintai lo, yang itu?" tanya Diyah menebak.


"Ah, iya. Mencintai gue?" ulang Chika bertanya. Dengan malas Diyah menjawab dengan anggukan saja.


"Dia mencintai gue?" Gadis itu bertanya lagi.


"Iya," jawab Diyah sabar.


"Adrian mencintai gue?" Ulang gadis itu dengan sedikit berteriak.


"Iya gobl*k plus budek," balas Diyah geram.


Chika terdiam dengan mata yang tampak melamun.


'Dia mencintai aku? Om Adrian mencintai aku? Apa ini kenyataan? Apa ini sungguhan?' batin Chika terus bertanya.


Masih belum percaya, gadis itu menepuk kuat kedua pipinya.


"Aw, sakit. Ini nyata," ucapnya berteriak.


"Woy, ini rumah sakit," Diyah memukul bahu kecil Chika membuat gadis itu maju beberapa langkah.


"Diyah!" seru Chika berbalik dan menangkup pipi sahabatnya membuat Diyah melotot.


"Lo serius 'kan, om Adrian mencintai gue?" tanya Chika melebarkan matanya yang berbinar walaupun setengah ia paksakan, sebab mata gadis itu tampak membengkak akibat kebanyakan menangis.


"Tanya aja sendiri."


Diyah melepas tangan Chika membuat gadis itu membuat napas berat.


"Kalau enggak bagaimana?" Gadis itu tertunduk.


"Lo itu percuma pintar tapi terlalu polos," ucap Diyah berlalu masuk membuat Chika berpikir keras.


'Polos? Aku bukan wanita polos Diyah,' batin Chika tampak geram.


Bersambung....


Maaf ya guys, lama up.


Hehehe, tetap dukung Author yah! 😀

__ADS_1


__ADS_2