
Mereka sama-sama menuju dapur, Chika segera membuka lemari penyimpan makanan. Matanya seolah ingin keluar.
"Diyah, kau yang melakuka ini?"
Sahabatnya itu nyengir. "Sesekali," kilanya ketakutan.
'Matanya seperti ingin keluar saja,' batin Diyah.
"Tapi semua makanan ini terlalu banyak Diyah,"
"Enggak Chika, lagian gue akan bawa setiap hari."
"Jangan lakukan itu Diyah."
"Gue gak bisa Chika, ini perintah mami."
Chika terdiam, tidak mengucapkan apapun jika itu sudah atas perintah mami-nya Diyah.
"Udahlah terima aja, lo kayak sama siapa aja sih," ucap Diyah, ia mengambil cemilan yang ia bawa lalu memakannya.
"Bukan gitu Diyah, gue malu aja. Kalian selalu baik sama keluarga gue. Nah gue, gak ada ngasih apa-apa." Chika tertunduk.
"Dengan kehadiran kalian aja, udah buat gue, mami dan Om Adrian senang kok, jadi lo gak usah mikir yang enggak-enggak," jelas Diyah.
"Beneran?"
"Hmm, jadi jangan pasang wajah jelek lo itu. Jijik gue liatnya," Diyah tertawa.
"Tenang aja, gue bakal buat wajah ini setiap hari kalau gue udah jadi tante lo," ungkap Chika tanpa sadar, ia juga tertawa.
Diyah terdiam. "Beneran lo mau jadi tante gue?" tanyanya berbinar.
"Hah, apa? Tante? Hahaha," Chika tertawa paksa.
"Gue cuma bercanda," lanjutnya. Ia memukul mulutnya yang mudah keceplosan ini.
"Tapi gue berharap itu tidak candaan Chika," ucap Diyah terdengar serius membuat Chika langsung terdiam.
***
"Cukup Tuan."
Jack menahan tangan Adrian yang terus memukul badannya sendiri. Sudah berjam-jam laki-laki itu mengamuk, menyalahkan dirinya dan bahkan memukul dirinya sendiri.
"Aku harus bagaimana, aku gak bermaksud mempermainkannya. Aku cuma bercanda, tapi kenapa dia menanggapinya seperti itu."
Laki-laki itu terduduk di lantai dengan tangan Jack yang masih memegang tangan Tuannya, takut kalau Tuannya memukul dirinya sendiri lagi.
"Jelaskan sama Nona Tuan, saya yakin Nona Chika akan mengerti," saran Jack, sebenarnya dia juga bingung mau mengatakan apa, cuma itulah yang dia dapat katakan.
__ADS_1
"Apa dia mau mendengarkanku?"
"Coba saja Tuan," jawab Jack.
Keadaan Adrian saat ini benar-benar kacau, penampilan yang tidak karuan lagi dan isi kantornya juga berantakan.
Hari sudah menjelang malam namun Adrian tetap tidak mau makan walaupun sedikit, Jack sudah membujuknya berapa kali tapi tidak berhasil.
Evelyn, kakaknya laki-laki itu juga sudah membujuknya makan namun gagal dan harus diam, tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aku mau Chika, kenapa dia tidak mengangkat telponku," ucap Adrian pelan.
Ia terus-terusan menelpon Chika namun tidak satu pun di angkatnya. Sudah lebih dari 80 panggilan dan Chika sama sekali tidak mengangkatnya.
"Arrgg, kenapa ponselnya sudah tidak bisa di hubungi," ucap Adrian seperti orang gila.
Jack dan Evelyn cuma bisa diam, mereka juga berusaha ikut menghubungi Chika namun sama tidak di angkat dan sekarang nomor gadis itu sudah tidak aktif.
"Aku harus ke rumahnya." Adrian berdiri.
"Tidak Tuan, kau terlihat pucat. Sebaiknya Tuan makan terlebih dahulu, saya takut mag Tuan akan kambuh." Jack mencegah Adrian yang mau bangkit.
"Lepaskan aku Jack, aku tidak peduli dengan mag-ku," ucap Adrian memberontak.
"Jangan egois Adrian." Evelyn yang bersuara. Wanita itu mendekati adiknya dan memegang bahu laki-laki itu.
"Kak!" seru Adrian lemas.
"Aku gak mau," bantah laki-laki itu. Ia terduduk, selera makannya kini hilang.
Tidak tahan melihat adiknya seperti ini, Evelyn keluar dari ruangannya Adrian.
"Angkat Diyah, apa kau juga sekongkol dengan gadis itu." Suara Evelyn terdengar geram.
Evelyn membuang napas kasar saat Diyah juga tidak mengangkatnya, tidak berhenti menyerah Evelyn menghubungi mami-nya Diyah.
"Hallo, Evelyn,"
"Hallo tante, apa Diyah di rumah sekarang tante?" tanya Evelyn tanpa basa basi.
"Enggak, dia di rumahnya Chika. Emangnya ada apa Evelyn?"
"Adrian sakit tante dan dia tidak mau makan, apa tante mau membujuknya, siapa tau dia mau," pinta Evelyn memelas.
Terdengar di sebrang sana tampak kaget.
"Apa? Dia sakit? Gak mau makan? Kenapa gak di paksa Evelyn, kau tau 'kan dia ...."
"Iya tante aku tau, akan ngedrop karna mag akut yang ia derita," potong Evelyn, air matanya tanpa terasa sudah jatuh tanpa di perintah.
__ADS_1
"Kalau tau begitu kenapa dia gak makan." Viona terdengar marah.
"Dia mau Chika tante, wanita itu ...."
Evelyn tidak melanjutkan kalimatnya dengan tangan yang terkepal, geram.
"Apa yang terjadi?" tanya Viona, saat sebelumnya sempat berpikir.
"Aku gak tau pastinya tante, datanglah tante aku akan mencoba menghubungi gadis itu lagi."
Evelyn memutuskan sambungannya, yang di maksud gadis itu adalah Chika. Ada perasaan kesal sekarang menyelimuti hati Evelyn terhadap Chika.
***
"Chika, ayo kita pulang. Ini sudah hampir tengah malam Chik," rayu Diyah namun matanya masih memandang kota malam A dengan kagum.
"Gue masih pengen di sini, Diyah. Rasanya semua beban gue terangkat," ucapnya, menghirup udara malam di atas gedung Rendra.
Yah, mereka saat ini berada di gedung paling atas perusahaan Rendra, keluarga Diyah. Sudah hampir 9 jam mereka berada di atas gedung ini, sebelumnya Chika memaksa di ajak ke tempat yang sepi dan indah, alhasil tempat ini lah yang Diyah pikirkan dan tanpa membawa ponsel, itu permintaan Chika tentunya dan Diyah menuruti semua permintaan sahabatnya itu.
Nella dan Nina sudah dari tadi pagi di rumah Diyah, mami-nya Diyah yang meminta, membuat Chika tidak terlalu memikirkan kedua adiknya.
Dua gadis itu sudah melakukan banyak hal yang mereka suka dari makan, bermain gitar walaupun mereka tidak bisa memainkannya, bernyanyi seperti orang gila dan menjerit sekuat-kuatnya bahkan tertawa dengan cerita yang mereka karang sendiri.
Kini mereka hanya menghirup udara malam di kota A tersebut, dari atas gedung perusahaan Rendra terlihat semua rumah-rumah yang indah jika malam hari.
Tanpa mereka sadari bahwa di kantor Adrian sudah terjadi keributan, sebab Adrian yang pingsan tidak sadarkan diri dan langsung di larikan ke rumah sakit.
Viona sudah ada di sana, di rumah sakit. Jack dan Evelyn turut berada di sana dan Nina, Nella masih di rumah Viona, karna kedua adiknya Chika sudah tidur.
"Apa Chika sudah bisa di hubungi?" tanya Viona cemas.
Jack dan Evelyn menggeleng.
"Apa mereka sudah pulang ke rumah Chika?" tanya Viona lagi.
Jack dan Evelyn menggeleng lagi. Jack sudah menugaskan bawahannya melihat-lihat rumah Chika, jika sang tuan rumah sudah pulang maka mereka akan segera melaporkan, namun sampai saat ini belum ada laporan yang sampai di telinga Jack.
"Aku gak akan biarkan wanita itu hidup kalau terjadi apa-apa dengan adikku," ucap Evelyn emosi.
"Tenanglah, ini bukan sepenuhnya salah Chika," bela Viona.
"Aku gak perduli Tante, bagaimana pun dia tetap salah. Tidak seharusnya dia menghilang seperti ini, apa dia sengaja mau buat Adrian meninggal!"
"Evelyn!" bentak Viona melotot pada Evelyn.
'Cih, banyak sekali yang membelanya,' batin Evelyn, tangannya sudah terkepal, dia benar-benar menahan amarah. Dia tidak mau melawan ucapan tante-nya biarlah dia mengalah saat ini tapi tidak jika nanti dia bertemu perempuan yang membuat adiknya seperti ini.
Bersambung....
__ADS_1
Terus dukung Author yah, jangan lupa tinggalkan coment dan Vote-nya. Makasih, tetap nantikan kelanjutan dari cerita \= Om, Nikahi Aku?
Ok! 😁