Om, Nikahi Aku?

Om, Nikahi Aku?
Aku mencintaimu


__ADS_3

Perlahan namun pasti gadis itu menekan knop pintu, saat celahnya terbuka sedikit ia memberhentikan tangannya.


'Tenanglah jantung, kau ini kenapa berdetak cepat sekali,' batin gadis itu geram pada jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat.


"Masuklah, sayang."


Suara itu mengagetkan gadis itu dan secara otomatis tangannya refleks membuka lebar daun pintu dan tampaklah semua orang yang di dalam tengah mengelilingi satu pasien menatap ke arahnya.


Mata gadis itu menatap pasien itu, wajahnya pucat dengan mata sayu namun ketampanan lelaki itu tidak luntur, tetap terlihat genteng.


"Chika!"


"Iya," balas Chika cepat dan ia langsung sadar dari lamunannya, yang sedari tadi menatap sang pasien.


"Eh, maaf aku mengganggu. Kalau gitu aku keluar dulu."


Chika berbalik, ingin pergi.


"Jangan!" cegah seseorang dengan suara lemahnya.


Kaki Chika berhenti bergerak, ia ingin berbalik memastikan suara laki-laki itu.


"Biarkan aja dia pergi Adrian." Evelyn bersuara membuat Chika menahan tangis.


"Tente ini kenapanya, Om yang mau Chika di sini kok Tante pula yang sibuk," ucap Diyah sambil berjalan ke arah pintu dan langsung menarik tangan Chika tiba-tiba.


"Diyah, gue ...."


"Gak ada bantahan, Om gue yang mau ngomong sama lo."


Diyah menarik terus tangan sahabatnya, sampai tepat di samping Adrian barulah berhenti. Chika menunduk saat matanya sekilas menatap Evelyn tampak di wajah kakak laki-laki itu tengah menahan emosi.


"Kak!"


"Iya Dek, kenapa?" Suara Evelyn berubah lembut dan menatap sayang adik satu-satunya.


"Gak mau ada wanita itu, tenang biar ...."


"Kakak lebih tahu perasaanku dari pada aku sendiri, 'kan?" Potong Adrian dengan suara lemahnya.


"Tapi dia sudah ...."


"Apa sepenuhnya salahnya, Kak?"


Evelyn terdiam, ia menarik napas berat. Memang dia akui ini bukan sepenuhnya salah Chika, mungkin jika dia di posisi gadis itu bisa kemungkinan dirinya akan melakukan hal yang sama. Tapi ....


Lagi-lagi Evelyn menghela napas berat.


"Baiklah," ucap Evelyn akhirnya pasrah.


Chika masih tertunduk, ia masih bingung dengan keadaan ini sekaligus takut juga menyelimutinya. Adrian dan lainnya tersenyum kilas dengan Evelyn bisa menerima semua ini membuat mereka bernapas lega.


"Tapi sebelumnya." Evelyn bersuara lagi membuat semuanya jadi was-was.


"Kakak mau tanya samamu Chika."


Chika mengangkat wajah menunduknya.


"Kenapa kau tidak angkat panggilan telpon kami?" tanya Evelyn masih menatap Chika tajam.


"Panggilan telpon?" ulang Chika agak bingung.


"Iya panggilan telpon kami, coba kau cek handphone-mu sudah entah berapa ratus panggilan di handphone-mu itu."


"Oh itu ...."


"Kami hari ini tidak ada membawa ponsel Tante," potong Diyah cepat.

__ADS_1


"Mungkin Tante sama yang lainnya salah paham, kami satu harian ini tidak bawa ponsel jadi kami tidak tau kalau kalian semua menghubungi kami," lanjutnya menjelaskan.


"Benarkah?" tanya Evelyn menetap Chika.


"Iya benar," balas gadis itu agak takut.


"Ya ampun Chika, kau ini gadis macam apa!" seru Evelyn berteriak membuat semua terkejut dan menatap Evelyn marah.


"Evelyn!" seru Viona.


"Jangan ganggu aku," ucap Evelyn sambil berjalan ke arah Chika.


"Tante, jangan macam-macam. Bukannya sudah kami jelaskan kalau ini salah paham." Diyah menghalang Tante dan dia sudah melindungi sahabatnya yang tertunduk, air mata gadis itu sudah menetes dan tampak gadis itu tengah menahan ketakutannya.


"Kak jangan," ucap Adrian berusaha ingin bangun dari tidurnya.


"Kalian ini apa-apaan sih, apa aku terlihat seperti mau membunuhnya?"


Semuanya terdiam, dan dengan cepat Evelyn menarik tangan Chika yang masih ada di belakang Diyah dan langsung memeluknya.


"Kau ini wanita bodoh ya?" Evelyn mengelus punggung Chika lembut membuat Chika dan yang lainnya tercengang, kaget dan bingung yang bersamaan.


"Kalau kau tidak salah seharusnya melawan bukan diam aja," lanjutnya melepas pelukannya dan tangannya menangkup pipi gadis itu.


"Maafin kakak yah, karna anak laki-laki itu sakit membuat kakak khawatir setengah mati dan berpikir kalau kau yang sepenuhnya salah, apalagi kau tidak mengangat panggilan kami. Jadi kakak berpikir buruk tentangmu," ucap Evelyn dengan tersenyum dan tangannya mengusap sisa air mata Chika.


Chika hanya mengangguk dan ia paksa tersenyum, walaupun takutnya masih belum sepenuhnya hilang.


"Hah! Tante membuatku jantungan," ucap Diyah bernapas lega.


"Mami juga," tambah Viona, menghusap dadanya lega.


Adrian hanya tersenyum karna ia tahu kakaknya berhati lembut, dia tahu marahnya kakaknya itu tanda dia sangat menyayangi dirinya.


Lain halnya dengan Jack wajahnya masih diam dangan wajah datarnya, masih berdiri memperhatikan tanpa ikut berbicara. 


"Aku bukan wanita jahat kali," ucap Evelyn membuat semua tertawa kecil namun tidak dengan Jack yang masih diam.


"Baiklah aku akan keluar," ucap Evelyn sambil berjalan keluar dan sebelumnya mengelus pipi Chika dengan sayang.


"Adrian mencintaimu," bisik Evelyn di dekat telinga Chika membuat Chika terdiam setelahnya baru Evelyn keluar.


"Mami juga, ayo." Viona menarik tangan anaknya dan diikuti Jack di belakang mereka.


'Ah, jantung diamlah. Itu belum tentu benar, jadi jangan berlebihan,' batin Chika mengelus dadanya.


Setelah semuanya keluar Adrian dan Chika sama-sama diam, tampak tidak ada yang mau memulai pembicaraan.


"Apa kau masih marah padaku?" tanya Adrian sambil dia berusaha duduk.


"Jangan bergerak dulu, tidur aja kenapa!" seru Chika mencegah laki-laki itu yang ingin duduk.


"Aku bosan Chika,"


"Mau aku maafkan?"


"Iya mau, apa yang harus aku lakukan semuanya akan aku turuti," balas Adrian cepat.


"Turuti perintahku kalau begitu dan jangan bergerak,"


"Tapi aku ...."


"Kalau gitu aku gak akan memaafkanmu," potong gadis itu, mengancam membuat Adrian sontak langsung tidak mau berusaha duduk lagi.


"Apa dengan ini aku di maafkan?"


"Hemmz,"

__ADS_1


Mata gadis itu menatap nakas yang terdapat mangkuk berisi bubur yang masih utuh, tidak tersentuh. Tanganya mengambil mangkuk itu dan mata Adrian melihatnya. Gadis itu duduk di samping bangsal Adrian tidur.


"Chika ...."


"Om, sebenarnya mau aku maafkan apa enggaknya?" Gadis itu terdengar emosi.


"Mau," balas Adrian pelan.


"Buka mulut," perintah Chika, mulutnya Adrian langsung terbuka.


Dan dengan cepat Chika menyuapi Adrian dengan bubur penuh di sendok itu, terlihat Adrian menelan paksa bubur itu.


"Pait Chik."


"Jangan kayak anak kecil, Om," bantah Chika terus menyuapi Adrian.


"Udah tua juga," lanjut gadis itu, mengejek.


"Aku tidak terlalu tua, Chika."


"Kau sudah tua, Om."


"Aku masih 25 tahun, apa itu terlalu tua?"


"Iya bagiku, aku mau punya suami beda dua tahun dariku bukan 7 tahun,"


Adrian terdiam, ia memalingkan wajahnya saat Chika mau menyuapinya lagi.


"Cepatlah, Om. Ini sikit lagi juga,"


"Gak mau, aku mau mati aja."


"Apa-apaan kau ini, gak boleh bilang gitu Om."


"Untuk apa hidup kalau gadis yang aku cintai memilih orang lain," ucap Adrian terdengar serius.


"Aku bercanda kali, Om. Aku sih gak masalah ... eh, kau bilang apa tadi Om?"


Tiba-tiba Chika terkejut, kata cinta yang di ucapan Adrian membuat Chika sedikit tidak percaya.


'Apa aku salah dengar?'


"Kau terlalu polos atau apanya." Adrian menyentil hidung Chika, gemas. Gadis itu masih diam, otaknya masih berpikir keras.


"Aku mencintaimu, bocil," lanjut Adrian serius.


Chika masih diam, jantung dan pikirannya masih blank.


"Chika!" seru Adrian menepuk tangan gadis itu.


"Eh, apa?" Chika tersentak.


"Apa kau tidak mendengarku?" tanya Adrian geram, sekaligus gemas.


"Enggak," kekehnya.


"Aku mencintaimu, Chika," ulang Adrian serius sambil menggenggam tangan Chika lembut.


"Benarkah?" tanya gadis itu sedikit tidak percaya.


"Mau aku buktikan?" Adrian bertanya dengan seringai di bibirnya yang menurut Chika itu terlihat mengerikan sekali.


"Tidak," jawabnya cepat sambil melepas tangan Adrian yang memegangnya.


"Tenanglah, aku bukan maksud apa-apa Chika." Adrian terkekeh.


Bersambung....

__ADS_1


Maaf guys kalau ceritanya semangkin aneh, hehehe aku cuma seorang gadis yang kurang pengalaman jadi sebisaku aja yah.


Tetap dukung author yah! 😁😁


__ADS_2