
Nina menunjuk seseorang yang mereka maksud dan Chika sontak terkejut.
"Mami!" seru Chika senang dan menyalim tangan lembut Vina.
"Selamat ulang tahun, sayang," ucap Vina tulus sambil mengelus kepala Chika dengan penuh kasih sayang. Chika memeluk Vina erat, maminya Diyah sudah ia anggap seperti mamanya sendiri. Kebaikan dan kelembutan Vina membuat Chika selalu ingat mamanya.
"Aku anakmu, Mi," sindir Diyah, memasang wajah cemberutnya sontak membuat Chika, Vina, Nella dan Nina tertawa.
"Buang wajah jelekmu itu Diyah, karna mami kini punya empat anak gadis," ucap Vina senang, memeluk Nina dan Nella otomatis Chika ikut bergabung dan dengan senang hati Diyah menimpali. "Sayang kalian," ujar Diyah dengan mengecup satu persatu kepala wanita betiga yang tengah ia peluk itu.
"Ini terakhir kalinya mami lihat kalian memakai baju seperti ini," ucap Vina tegas setelah pelukan berlepas. "Iya Mi," rempak Chika dan Diyah tersenyum.
"Dan sekarang, kita rayakan pesta ini." Diyah bersorak gembira dan menarik Chika untuk meniup lilin serta memotong kuenya.
***
Tik ... tik ... tik ...
Bunyi jam di ruang kerja Adrian yang sunyi sajak tadi, ia masih ke pikiran tentang pesta yang keponakannya itu adakan. Berkas yang menunggunya terbengkalai begitu saja. Ia melirih jam kini sudah pukul 00:30.ia beralih melirih jam di pergelangan tangannya, masih sama jarum jam masih menunjukkan pukul segitu.
"Ah, kenapa aku tidak bisa tenang sih." Mengusap kasar wajahnya, merogoh kantong celana mengambil handphone-nya dan menelpon Vina.
"Hallo, Tante!" ucapnya saat panggilan sudah terangkat.
"Iya, Rian. Ada apa," sahun Vina yang di sebrang sana.
"Rian mau tanya Tante, Diyah udah pulang, Tan?" tanya Adrian ragu, ia khwatir tantenya merasa aneh dengannya, secara dirinya tidak pernah menanyakan hal ini.
"Oh, belum Rian. Diyah bilang tadi gak pulang malam ini, tapi ada apa Rian nanyain Diyah?" tanya Vina penasaran bukan seperti Adrian biasanya yang menanyakan anaknya tengah malam begini. Walaupun ia kini diserang rasa kantuk namum ia tahan.
"Gak papa, Tante. Rian tanya aja, maaf ya banguni Tante malam-malam. Kalau gitu Rian tutup dulu."
"Oh, iya gak papa, Rian," balas Vina, ia segera menutup panggilan Adrian saat matanya tidak dapat di tahan lagi.
Adrian meremas benda pipihnya geram. 'Ke mana kalian malam-malam begini?' tanya Adrian mengerutu. Ia mencari kontak nama Jack dan segara ia telpon.
__ADS_1
"Cari di mana keberadaan Diyah sekarang juga, dalam waktu lima menit harus sudah ada," ucap Adrian tegas setelah panggilannya terangkat dan sehabis mengucapkan itu secara sepihak Adrian memutuskan panggilan. Ia membanting tubuhnya ke sofa, merenggangkan tangannya yang terasa kaku.
"Aku gak akan maafin kau bocil jika kau bermain gila di luar sana," kata Adrian menyeringai.
Belum lagi lima menit handphone Adrian berdering. "Kau sudah menemukan alamat mereka?" tanya Adrian sontak berdiri dan segera mengambil kunci mobil lalu ke luar dengan cepat.
"Tunggu aku di persimpangam, kita akan pergi sama-sama," ucap Adrian sebelum mematikan handphone-nya.
'Setidaknya mereka bukan di bar, itu sudah membuatku senang,' gumam Adrian tersenyum dan mempercepat jalannya.
'Tunggu aku bocil, ngapain kalian tengah malam begini belum pulang juga?' Itu yang menjadi pertanyaan Adrian saat sampai di mobil dan dengan segara melajukan mobilnya.
***
"Aku mau lagi Diyah," ucap Chika yang kini memegang tangan Boby yang ia kira tangan sahabatnya.
"Hahahaha, kau sangat lucu kawan. Ini tanganku kenapa kau pegang tangan pria itu," balas Diyah yang duduk di samping Dimas.
Keadaan mereka sudah setengah mabuk. Awalnya Chika yang tidak tahu kalau jus jeruk yang ia minum tadi mengandung alkhol dan yah, ini kali pertama Chika menyentuh minuman itu.
"Chik, ini minum dulu. Kau dari tadi makan kue aja tapi gak ada minum." Diyah memberi jus jeruk yang sudah ia racik.
"Makasih, Diyah." Chika meminumnya dengan terburu-buru, memang sejak tadi ia mengambil minum tapi dia tidak berani bergerak sebab ia belum terbiasa dengan baju yang dia pakai itu.
"Kok kecutnya beda ya, Diyah," ucap Chika namun ia menghabiskan satu gelas ukuran yang lumayan basar.
"Gak papa, emang jeruk seperti itu. Ya udah aku ke sana yah," pamit Diyah ingin mengambil minuman yang sudah lama ia tidak minum. Chika hanya mengangguk dan kini ia merasa aneh pada tubuhnya.
"Hay, Chik!" sapa Boby sudah duduk di dekat Chika. "Hay!" balas Chika agak aneh, kini ia merasa pikirannya jadi enteng dan tenang.
"Chika sudah, kau sudah menghabiskan dua gelas," cegah Boby yang melihat Chika ingin menuang minuman memabukkan itu lagi.
"Ini bukan dua gelas, Bob," ucap Chika melihat gelas kecil yang ia pegang. "Ini gelas kecil, seperti gelas mainan anak bayi. Jadi kalau di gabungkan dengan gelas besar kita, ini hanya segini," lanjut Chika menunjukkan seberapa isi di gelas besar di depannya.
"Kan, ini sangat sedikit," racau Chika tertawa dan ingin mengambil lagi botol minuman namun saat tangannya tidak sampai. Ia memukul tangan Boby. "Kau menjauhkannya, 'kan?" Masih memukul tangan Boby.
__ADS_1
"Tidak Chik, kau yang mundur tadi," balas Boby lembut, ia sebenarnya geram melihat tingkah lucu Chika tengah mabuk. Namun ia biarkan dulu, melihat tingkah apa yang wanita itu lakukan jika mabuk.
"Benarkah?" tanya Chika nyengir membuat Boby mengangguk. "Tapi tunggu!" Chika melihat botol dan Boby bergantian sehingga membuat Boby menautkan kedua alisnya.
"Kau sama botol itu kembar," kata Chika tertawa. "Kau dua dan botol itu dua, apa kalian janjian?" Boby menggeleng dan mengkulum bibirnya agar tidak tertawa.
"Kau sudah mabuk berat, Chik. Sini gue bantu duduk di sofa." Boby merangkul bahu Chika berniat ingin mendudukkan di sofa namum tiba-tiba suara seseorang membuatnya diam.
"Lepaskan tanganmu dari tubuh pacarku!" jerit Adrian menggema, matanya sudah merah menahan amarah. Ia mendorong kuat tubuh Boby membuat lelaki itu terjungkal ke depan.
Diyah yang tengah bertengah kecil dengan Dion kini, menatap arah suara yang menggema itu. "Hah, ternyata dia buat ulah," ucap Diyah geram. Ia berusaha bangkit namun gagal dan saat Dion juga berniat ingin membantunya namun mereka sama-sama jatuh berdua ke sofa lagi membaut Jack yang melihatnya jadi geram dan merampas Nonanya ke pelukannya.
"Hahaha, kenapa kau jatuh? Apa kita main jatuh-jatuhan," kata Chika terus tertawa melihat Boby yang terpental dan Chika sampai memegang perutnya.
"Chika cukup! Sudah kubilang kau jangan tertawa di depan pria mana pun," ucap Adrian setengah membentak.
Chika menoleh dan mendekati Adrian dengan agak gontai, saat dirinya akan jatuh dengan sigap Adrian mamegang lengannya kuat. "Kau siapa? Apa kita pernah bertemu." Chika membuang mukanya dan menepis kasar tangan Adrian. "Ternyata kau pria itu," ucap Chika berjalan menghampiri Boby yang tengah menatap Adrian sayu. Ia terkejut kalau seorang pengusaha ramah seperti Adrian bisa sekasar tadi dan itu membuat Boby menciut.
"Kau jangan ladeni lelaki itu, ayo kita main jatuh-jatuhan," kata Chika yang sudah ingin menjatuhkan dirinya pada Boby namun tangan kekar Adrian lebih dulu menarik pinggangnya.
"Kau jangan sentuh aku!" jerit Chika menangis dan terus memukul tangan Adrian.
"Kita pulang sekarang," ucap Adrian yang sudah melapas tangannya dari tubuh Chika.
"Tidak mau," balas Chika berteriak.
Bersambung...
Gays, maaf lama up, jujur! Sebenarnya bukan Author yang kelamaan up tapi Adminnya lama lolosinnya. Yang paling penasaran sama cerita "Om, Nikahi Aku?"
Bisa baca di Watpad juga loh! Biar kalian gak kelamaan nunggu kayak gini dan aku juga gak merasa bersalah karna kelamaan Up. Ingat Guys, itu bukan mau aku menggantungkan cerita. Adminnya yang lama lolosin.
Nih yang mau baca di Watpad : Irna_Saragi
Aku tunggu kalian di Watpad aku. 😊
__ADS_1