
"Apaan kau ini, berdiri!" Gadis itu melirih kanan kiri, dia gugup.
Takut jika ada yang melihat mereka seperti ini, ia bernapas lega saat lingkungan sekitar gang kecilnya tampak sunyi.
"Aku gak mau." Laki-laki itu masih kukuh tidak mau berdiri dan kini laki-laki itu menunduk.
"Om, berdiri. Jangan buat aku malu." Gadis itu memegang bahu Adrian.
"Jangan paksa aku, Chika."
"Kau ini kenapa, Om?"
"Kau yang kenapa Chika, kenapa kau jauhi Mas." Suara laki-laki itu pelan.
"Kenapa kau benci sama Mas, kalau Mas punya salah tolong bicara Chika, kasih tau Mas," lanjutnya, suara itu tampak bergetar.
"Apa yang salah di Mas, Chika?" laki-laki itu menangis, masih dengan posisi yang sama.
Gadis itu tercekat, dadanya mulai sesak. Kemudian ia berjongkok.
"Om, jangan kayak gini." Tangannya terulur menyentuh bahu lebar Adrian.
"Kasih tau Mas, jangan hindari Mas Chika. Sakit rasanya," aku laki-laki itu jujur.
Sudah dua hari ini Chika terus menghidarinya bahkan mengabaikannya. Rasanya ada yang hilang dari hatinya dan itu sangatlah sakit. Laki-laki itu sudah tidak tahan, dia ingin penjelasan sekarang.
"Aku akan bilang kalau om berdiri," ucap Chika yang sudah berdiri kembali.
Laki-laki itu mendengak, terlihat jelas oleh Chika air matanya yang masih basah dan tatapan itu terlihat sendu.
"Jangan hindari Mas lagi," pintanya seperti memohon.
Gadis itu mengangguk. Adrian berdiri lalu tangannya menaut tangan Chika membawanya ke dalam mobil dan gadis itu hanya pasrah, mengikuti dari belakang.
Adrian menghidupkan mesin mobil dan melajukannya, meninggalkan perkarangan rumah kecil gadis itu.
10 menit sudah berlalu namun dua manusia itu tidak ada yang memulai pembicaraan, keduanya saling diam dengan pemikiran masing-masing.
"Ch," gadis itu berdesis dengan pandangan yang ia buang keluar jendela. Tidak tahu Adrian mau membawanya ke mana, mau bertanya pun dia enggan. Serasa ada yang aneh diantara mereka.
"Kenapa?" tanya Adrian bingung.
"Tidak papa, aku cuma ke ingat aja."
"Ingat apa?"
"Ada cowok yang nangis tadi." Gadis itu tertawa kecil.
Wajah Adrian memerah, menahan malu. "Kau bilangkan aku?"
"Enggak, ah." Gadis itu mengkulum bibirnya, agar tidak tertawa.
'Gak nyangka kalau dia bisa nangis juga,' batinnya, ia menutup mulutnya dengan tangan kanan, saat tawanya benar-benar tidak dapat di tahan.
"Kau ternyata lucu juga, Om." Lagi-lagi gadis itu tertawa, mungkin sekarang wajahnya memerah, sangkin lucunya.
"Udah Chika, jangan di bahas lagi."
"Gak bisa, Om. Ah, kenapa tidak kuabadikan tadi yah," ucapnya kesal, namun tawanya masih belum reda.
"Apa selucu itu?"
__ADS_1
Chika mengangguk, tangannya sudah memegang perut sekarang.
"Ah, perutku bisa keram kalau kebanyaan ketawa," protes gadis itu tapi bibirnya masih melebar, wajah Adrian yang menangis tadi masih sangat jelas di ingatannya, dan itu terlihat sangat lucu sekaligus menggemaskan, bagi Chika.
"Aku senang akhirnya kau tertawa juga."
Chika diam, dia benar-benar diam tidak berkutik dah yah tawanya yang tadi sontak lenyap. Ucapan Adrian membuatnya tercekat.
"Jauhi Adrian jika kau ingin selamat."
"Kau tak pantas untuknya."
"Plis jangan ambil Adrian dariku."
"Jangan ambil dia."
"Aku miliknya bukan kau, Adrian milikku."
"Adrian milikku."
Semua suara-suara itu tiba-tiba mengingatkannya kembali pada sosok gadis pucat, cantik yang hadir di mimpinya kala itu.
"Jangan hindari Mas lagi Chika."
Gadis itu tersentak, kaget. Korneanya melihat Adrian. Namun setelah itu ia baru sadar bahwa mereka sudah berhenti di....
"Wah, danau!" jerit gadis itu histeris.
Adrian sempat menutup kedua telinganya namun ia lepas lagi saat matanya melihat Chika yang tampak bahagia.
"Apa aku boleh turun?" tanyanya polos tanpa mengurangi tatapannya yang berbinar.
Adrian mengangguk, dengan cepat gadis itu turun.
"Ah, aku sangat menyukai ini."
Gadis itu berlari kecil ke depan, mulutnya mangkin terbuka lebar saat ia sudah sangat dekat dengan danau sejuk itu.Terlihat di sana beberapa bentuk bebek-bebekan yang bisa di naiki.
"Kau mau naik itu?"
Chika terkejut, Adrian sudah berada di belakangnya dan kini ia sudah ada di sampingnya saat langkahnya baru sampai.
Chika menggeleng. "Aku gak mau."
"Kenapa?"
"Karna kalau aku naik bebek-bebek itu, aku gak akan berhenti menangis nantinya," jelasnya.
"Kok bisa?"
Chika menghela napas berat.
"Aku akan ingat saat terakhir kali aku dan papa naiki bebek-bebekan itu." Suaranya pelan dengan mata yang tampak berkaca-kaca.
Adrian merangkul bahu gadis itu membuatnya menoleh ke samping.
"Tenang, cuma begini aja kok, gak lebih," jelas laki-laki itu.
Gadis itu diam, membiarkan dirinya dirangkul. Dia kembali menatap danau yang indah itu.
"Apa kau sedekat itu dengan papa-mu?" tanya Adrian bersuara saat sebelumnya mereka saling membisu.
"Iya, bahkan aku sering di bawa ke mana-mana,"
__ADS_1
"Ah, iya aku gak pernah liat orang tua-mu, Om." Gadis itu mengalihkan pembicaraan, Adrian melihatnya sekilas lalu kembali menatap ke depan lagi.
"Ke mana emangnya, Om?" Lanjutnya bertanya.
"Pergi," balas Adrian singkat.
"Keluar Negeri?"
"Enggak!"
"Jadi?" Gadis itu mangkin penasaran.
"Kau ini banyak tanya sekali." Adrian melepaskan rangkulannya membuat Chika mendengus pelan, tidak rela di lepas.
Laki-laki itu berjalan ke arah mobil, mata Chika mengikuti pergerakannya. Adrian membuka bagasi mobil lalu menutupnya kembali, terlihat di tangannya sudah membawa tikar camping lipat dengan ukuran besar 150 cm x 200 cm.
Kemudian membentangnya di depan Chika, setelah itu dia berbaring dengan nyamannya. Gadis itu masih diam, masih memperhatikan Adrian yang sudah memejamkan matanya.
Beberapa detik kemudian tangan lelaki itu menepuk bagian tikar yang masih kosong.
"Duduk sini," titah Adrian tanpa membuka matanya. Chika masih diam, bingung sekaligus ragu.
'Ngapain tidur di sini?' batinnya, lalu matanya melihat ke sekeliling.
Danau ini terlihat sepi, apa tidak apa-apa tidur di sini, pikirnya.
"Apa kau akan jadi patung saja di situ?"
Adrian sudah membuka matanya dan kini menatap Chika dengan kening berkerut.
"Iya-iya, ini mau duduk juga," katanya pelan, ia lihat Adrian kembali memejamkan matanya.
Dengan perlahan Chika duduk di samping Adrian yang berbaring, ia letakkan tasnya ke samping dan matanya kini melihat wajah lelaki itu.
"Banguni aku setengah jam lagi." Laki-laki itu bersuara namun matanya masih terpejam.
"Hmm," balas Chika singkat.
Chika mengambil benda pipihnya di dalam tas, lantas memainkan permainan di sana. Membuang ke bosanan.
Sangkin keasikannya bermain games, tanpa ia sadari waktu sudah berlalu 20 menit. Gadis itu menghentikan pemainan games-nya, ia masukkan benda pipihnya ke dalam tas.
Matanya kini terarah melihat wajah Adrian yang sempurna, bulu mata yang sedikit panjang dengan tulang pipi yang bagus serta bibir tipisnya yang berwarna maron. Sangat tampan, tidur pun terlihat tampan.
Laki-laki itu bergerak, mambuat gadis itu berpaling ke arah lain. Demi Tuhan rasanya jantung Chika ingin melompat keluar sangkin kagetnya.
Adrian tidak bangun justru lelaki itu memiringkan badannya dalam tidur ke arah Chika. Gadis itu membuang napasnya lega.
'Ah, aku pikir dia bangun,' Tangannya memegang dadanya yang masih belum berjalan dengan normal, kemudian dia membaringkan badannya di samping Adrian, menatap lekat wajah tampan laki-laki itu.
'Boleh aku pinta sesuatu,' gadis itu mendengak menatap cercah langit biru yang tampak sangat indah, tertutup daun pohon.
'Tolong, berhentikan waktu,' pintannya dalam hati lagi.
'Berhentikan waktu, aku mohon. Aku ingin seperti ini saja. Aku masih ingin memandangnya dengan jarak sedekat ini." telunjuknya mengikuti garis hidung Adrian, membuat sang empunya menggeliat kecil.
"Waktu aku mohon, jangan bergerak. Aku masih ingin begini. Wajah ini, inginku pandang setiap saat." Bola mata gadis itu tidak berkedip, menatap wajah sempurna Adrian yang tengah tidur pulas.
"Jangan bangun, Mas. Tetaplah tidur seperti ini," gumamnya lagi.
Bersambung....
Apa pendapat kalian tentang cerita ini?
__ADS_1
Comment ya! Dan vote juga. 😁