Om, Nikahi Aku?

Om, Nikahi Aku?
Kenyataan yang mengejutkan


__ADS_3

Apa yang membuatmu begini? Adrian terus menatap Chika yang tengah duduk di halaman belakang rumahnya yang sangat sempit di bawah pohon besar terdapat bangku lebar yang terbuat dari papan, sesekali Chika menepis air matanya yang terus ingin keluar dan itu tidak luput dari pandangan Adrian.


Beberapa menit yang lalu membuatnya tidak percaya begitu saja dengan jawaban gadis yang telah membuatnya beberapa hari ini gundah, entah gundah karna apa Adrian belum bisa memastikannya.


"Kau kenapa?" tanya Andrian yang melihat wajah berantakan Chika, tersirat luka yang begitu dalam di wajah cantik itu.


Chika melirih Adrian sejenak.


"Iya, Kakak kenapa?" Kini Nella yang bertanya, sangat khawatir dengan kakaknya. Belum pernah ia lihat wajah kakaknya sekacau ini.


Chika menggeleng. "Tidak apa-apa, tadi Kakak kesal sama kalian," jawab Chika dusta, sambil melihat Nina dan Nella bergantian. "Kakak seolah gak di anggap lagi, jadi Kakak nangis," lanjut Chika dusta lagi.


Kau berbohong bocil! Tebak Adrian dalam hati, sangat terlihat jelas mata Chika yang tidak bisa berbohong.


"Maafin Nina kak," pinta Nina dengan terus terisak sambil mengeratkan pelukannya. Nella ikut juga memeluk kakaknya di hati mereka tidak ada niatan melakukan itu. Chika membalas pelukan kedua adiknya sayang.


'Maaf sayang, kalian berdua gak harus tau,' ucap Chika dalam hati.


Hah, Adrian membuang kasar napasnya. Dengan membawa napan berisi makanan, Adrian menghampiri Chika yang masih setia sendiri.


Ehemz! Merasa tidak dihiraukan, Adrian menyentuh kepala Chika menggunakan telunjuknya.


"Tok ... tok ... tok!" Adrian menirukan suara seolah ia mengetuk pintu. Chika mendengak, menatap Adrian tajam.


"Om kira aku pintu apa?" Memutar tubuhnya agar menghadap dengan Adrian yang sudah duduk.


"Bukan pintu, hanya kau seperti kaca. Bersih jika di pandang dari jauh tapi saat di dekati ada kotoran yang menempel di kaca itu."


"Hatiku kotor maksudnya?" Sedikit berteriak.


"Tidak, hanya kau tidak dapat berbohong jika di depanku," Adrian duduk dan meletakkan napan. Chika mengerutkan alisnya, tidak mengerti dengan apa yang Adrian katakan.


"Om, gak nyambung nih. Tadi bilangnya aku seperti kaca, maksudnya apa?"

__ADS_1


"Gak usah dipikirkan itu ucapan ngawut," ujar Adrian dengan mata yang melihat ke arah lain, malu dan itu terlihat menggemaskan bagi Chika sontak Chika tertawa. Membuat Adrian terpana akan suara tawa sekaligus cara Chika tertawa.


"Sudah puas tertawanya princes?" Chika tersipu malu dan langsung berhenti tertawa, dengan malu Chika mengangguk.


"Kau sangat menggemaskan jika tertawa, jangan lakukan itu di depan orang lain selain aku, jika tidak kau akan tahu apa yang bisa aku lakukan," ucap Adrian terdengar seperti ancaman.


"Apa kau mengancamku?"


"Mana tuturmu, aku lebih tua darimu,"


"Maaf, apa Mas mengancamku?" Dengan suara yang di buat secentil mungkin dan juga menahan tawa saat dia memanggil Adrian Mas. Adrian yang mendengarnya justru tertekun.


"Iya," balas Adrian sedikit malu.


Ah, Om gantengku ini bisa malu juga. Batin Chika dengan masih menahan tawa.


"Sekarang kau makan, tidak kasihan apa sama cacingmu yang sudah dari tadi demo," ucap Adrian berkilah.


"Buka mulutmu, aku yang akan menyuapimu." Chika yang berniat ingin memprotes tidak jadi saat Adrian berkata, "Tidak ada bantahan, Dek," lanjutnya. Panggilan 'Dek' sukses membuat jantung Chika berdetak cepat dan dengan malu-malu Chika membuka mulutnya menerima suapan pertama yang Adrian berikan.


Di tengah asiknya Adrian menyuapi Chika tanpa mereka sadari Nina dan Nella sudah memperhatikan sedari tadi kedua manusia itu. Senyum keduanya tidak luput dari wajah cantik Nella dan Nina memperhatikan kakaknya yang terlihat bahagia.


"Apa kau menyukai bang Adrian, sama sepertiku, Dek?" tanya Nella dengan mata tak mau menoleh ke mana pun, masih setia menatap Adrian dan kakaknya itu. Nina mengangguk dengan senyum yang tidak pernah surut.


"Apa kau tidak mendengarnya, Nin?" Menoleh adiknya karna merasa di cuekin.


"Aku sudah menjawabnya, Kak. Dengan mengangguk," balas Nina dan menarik tatapannya yang kini menatap Nella.


"Manaku tau kalau kau tadi mengangguk, mataku dari tadi hanya melihat mereka." Kembali melihat sepasang manusia di depan mereka.


"Hahaha, pantaslah. Nina juga dari tadi hanya melihat mereka," ucap Nina dengan kembali menatap Chika dan Adrian. "Sangat serasi, dan aku sangat menyukai bang Adrian yang membuat kak Chika kita kembali ceria," lanjut Nina. Nella menanggapi perkataan adiknya dengan mengangguk saja.


"Ya sudah, ayo kita kembali belajar," ajak Nella yang kini sudah berputar. Saat merasa Nina tidak mengikutinya, Nella kembali membalikkan badannya.

__ADS_1


"Nina apa lagi," ucap Nella yang berniat menarik baju adiknya agar tidak melihat kakaknya terus, belum sempat Nella menarik baju Nina.


"Iya, gak usah tarik-tarik." Tahu akan apa yang ingin kakaknya lakukan. Dengan cemberut Nina mengikuti kakaknya sebelum sang kakak mengeluarkan kata-katanya yang panjang kali lebar hanya membahas tidak boleh mengintip orang yang tengah berduaan dan sebelum itu terjadi Nina sudah mendahului kakaknya.


***


Chika menolak suapan terakhir Adrian. "Udah Om, aku udah kenyang," tolak Chika halus.


"Ini suapaan terakhir, Chik. Buka mulutmu!" perintah Adrian tegas yang tidak mau dibantah. Chika menggeleng masih tidak mau membuka mulutnya, Adrian memberikan porsi makan yang sangat banyak di piring yang ia bawa, kalau Chika menerima suapannya lagi, bisa-bisa semua isi di perutnya keluar karna kekenyangan.


Chika yang terus menolak suapannya membuat Adrian menyerah, meletakkan kembali sisa yang satu sendok ke atas piring dan mengeluarkan handphone-nya di letakkannya depan Chika.


Melihat Adrian yang hanya diam dan terus memutar-mutar benda pipihnya. Membuat Chika berpikir. Apa dia marah? Tanya Chika dalam hati. Namun pemikiran itu langsung ia gubris sekarang ada hal yang lebih penting dan itu sangat membebani pikirannya. Menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, Chika memberanikan diri untuk bertanya.


"Om aku mau tanya, Om beneran udah ...." Sengaja menggantungkan kalimat, mempersiapkan hati akan apa yang akan Adrian jawab nantinya.


"Sudah," jawab Adrian tanpa mengalihkan pandangannya dari handphone yang terus ia putar dan tanpa menunggu Chika yang menuntaskan kalimatnya yang menggantung itu.


Jawabnya singkat dan tiba-tiba itu sukses membuat Chika terbatuk, dan sontak Adrian memberikan Chika minum yang langsung di teguk sampai tak tersisa sedikit pun olehnya.


Gila yah dia! Enteng bener tuh mulut, gak mikirin apa perasaan orang yang udah mau nangis, ucap Chika dalam hati.


Dengan susuh payah Chika mengontrol dadanya yang mulai sesak.


"Kau kenapa?" tanya Adrian, khawatir melihat wajah Chika yang kini kembali pucat. Adrian menyentuh kening Chika, berniat memperiksa keadaannya tapi saat satu detik tangannya menyentuh kening Chika dengan cepat gadis itu menepisnya.


"Aku tidak apa-apa, sebaiknya Om pulang sekarang," usir Chika secara halus.


Bersambung....


Jangan lupa Vote, Like, Coment dan Favorit🤗 agar author-nya lebih semangat lagi.


Dan terima kasih atas segala dukungannya🙏💝😁

__ADS_1


__ADS_2